Apakah Obama akan terpilih menjadi presiden AS?

Setelah penampilan debat yang tidak memuaskan, Presiden Obama berhadapan dengan Mitt Romney dalam pertarungan paling ketat dalam sejarah Amerika Serikat.

Obama Romney Debat Presiden AS

Obama nampak membuang muka, sementara Mitt Romney dari partai Republikan melemparkan serangan-serangan jitu. Pada malam debat pilpres di Denver, Romney tiba-tiba bersinar dan Obama meredup. Akan tetapi yang terburuk datang seminggu kemudian.

Setelah Obama memimpin jajak pendapat di atas 3% selama berbulan-bulan, pada tanggal 10 Oktober angka-angka polling berbalik menjagokan Romney. Untuk pertama kalinya, Romney memimpin 3% di atas Obama. Tiba-tiba ia menjadi calon presiden yang harus dipertimbangkan.

Perjalanan Romney menuju gedung putih bukanlah jalan yang mulus. Selama berbulan-bulan ia menjadi sorotan karena menolak menunjukan perhitungan pajaknya. Bulan Juli dia mengatakan London tidak siap menjadi tuan rumah Olimpiade, sehingga membuat sekutu dekat AS naik pitam. Bulan Agustus, pidato pencalonannya di konvensi Partai Republikan tidak berhasil menggenjot angka jajak pendapat. Yang terburuk adalah video pidato Romney yang direkam sembunyi-sembunyi. Dalam video itu Romney berpidato di ruangan tertutup, mengatakan bahwa ia tidak peduli 47% warga Amerika.

Obama, di lain sisi, menikmati bulan Juli dan Agustus yang indah. Walaupun kondisi perekonomian AS masih belum membaik—tingkat pengangguran masih di atas 8%—hasil jajak pendapat nampak lebih mempercayai Obama. Pidatonya di konvensi partai Demokrat tidak mengelegar seperti tahun 2008. Namun pidato ibu negara Michelle Obama dan orasi Bill Clinton sukses membakar massa pendukungnya.

Denver

Denver adalah titik balik. Romney yang selama ini digambarkan sebagai investor kaya raya dan pionir outsourcing ke  Cina, tiba-tiba muncul sebagai sosok yang peduli terhadap rakyat kecil Amerika. Argumen Obama yang kompleks: jaminan kesehatan, aborsi, subsidi, energi alternatif, keringanan pajak, pendidikan; mentah oleh janji Romney yang sangat sederhana. Romney menjanjikan pekerjaan bagi rakyat Amerika.

Beberapa janji Romney memang seperti melenceng dari sikap konservatifnya pada awal kampanye. New York Times mengatakan perubahan Romney beresiko membuat pemilih mempertanyakan konsistensi dan keaslian sikapnya.

Kubu Obama berusaha menahan laju popularitas Romney dengan menembakkan iklan-iklan negatif di udara. Di Ohio, yang diprediksi akan menjadi penentu kemenangan pilpres AS, Obama menghabiskan dana 62 juta dolar untuk membeli slot iklan tv. Kubu Romney menghabiskan 65 juta dolar. Di skala nasional, Obama membeli 347 juta dolar di mana 85% diantaranya adalah iklan negatif. Romney menghabiskan 386 juta dolar dan 91% dipakai untuk iklan negatif.

Libya

Pada debat kedua di New York, Obama tampil agresif menyerang Romney. Obama menyerang Romney yang tidak konsisten dan tidak rinci memaparkan rencana ekonominya. Romney menyerang pemerintahan Obama yang gagal mengangkat lapangan kerja. Puncaknya terjadi ketika debat menyentuh serangan di kedutaan AS di Libya.

Berdiri di depan Obama, Romney menudingkan telunjuknya dan mengatakan Obama gagal mengidentifikasi bahwa serangan tersebut adalah tindakan terorisme. Sebelum Romney menyelesaikan kalimatnya, Obama memotong. “Saya mengatakan itu adalah aksi teror.”

Romney tampak terkejut.

Dan sebelum Romney bisa melanjutkan bantahannya, moderator Candy Crowley memotong, “Sebetulnya ia [Obama] mengatakan bahwa itu adalah aksi teror.” Suara tawa hadirin terdengar sayup-sayup.

Sandy

Walaupun pengamat menilai Obama memenangkan debat kedua, namun polling tidak bisa kembali pada angka sebelum debat Denver. Obama hanya bisa mengerem Romney, tapi tidak bisa lagi memimpin jajak pendapat. Debat ketiga dan terakhir di Florida juga tidak mampu membalik polling Romney yang selalu memimpin di 1 persen.

Hingga kemudian datanglah Hurricane Sandy.

Obama menghentikan kampanyenya selama 3 hari untuk fokus menangani badai Sandy.

Chris Christie, Gubernur New Jersey—negara bagian yang terkena dampak paling parah dari badai Sandy, memuji kesigapan Obama dalam memutus rantai birokrasi penanganan bencana. Christie adalah gubernur dari partai Republikan dan juga suporter Mitt Romney. Walikota New York, Michael Bloomberg, juga memberikan endorsement kepada Obama. Bloomberg mengatakan bahwa intensitas badai Sandy adalah salah satu akibat dari perubahan iklim, dan Obama adalah calon presiden yang lebih peduli terhadap perubahan iklim.

Pengamat statistik politik Nate Silver, mengatakan bahwa studi ilmiah belum bisa menjawab apakah bencana alam berpengaruh terhadap pilpres. Namun, sejak badai Sandy, polling memang berbalik mendukung Obama, walaupun hanya berbalik tipis.

6 November

Hingga 5 November, polling belum bisa menjawab siapakah yang akan menjadi presiden AS hingga tahun 2016. Kebanyakan polling hanya menempatkan Obama 1% di atas Romney. Angka ini masih di dalam margin of error, sehingga kedua kandidat berpeluang memenangkan kontes kepresidenan AS.

Polling di tingkat negara bagian juga menunjukkan pertarungan yang ketat. Sehari sebelum hari pemungutan suara, Real Clear Politics menunjukkan bahwa Obama memimpin dengan mengumpulkan 201 suara negara bagian, sementara Romney tertinggal di angka 191. Untuk memenangkan pilpres, seorang kandidat harus mengumpulkan 270 dari 538 suara negara bagian. Dengan demikian, pilpres 2012 ini ditentukan hanya oleh 12 negara bagian yang pertarungan suaranya masih ketat.

Jika Romney dan Obama sama-sama memperoleh 269 suara negara bagian, maka presiden akan dipilih oleh DPR AS (yang dikuasai oleh partai Republikan) sementara wakil presiden akan dipilih oleh Senat AS (yang dikuasai oleh Demokrat).

Dengan demikian bukan tidak mungkin Amerika akan dipimpin oleh Mitt Romney dan Joe Biden—wakil presiden Obama.

Haruskan Internet Tetap Merdeka?

Haruskah internet menjadi forum merdeka untuk berekpresi, atau haruskah itu dikendalikan oleh pemerintah? Konferensi Internet at Liberty di Washington DC berusaha menjawab itu.

Pertanyaan ini berusaha dijawab dalam konferensi Internet At Liberty, minggu lalu di Washington DC. Merdeka yang dimaksud adalah memberi kebebasan bagi masyarakat dari kendali kekuasaan sehingga dapat berekspresi dengan luas. Kebangkitan Arab yang dimulai akhir 2010 dan awal 2011, menunjukkan bagaimana internet yang merdeka mempermudah rakyat untuk saling tersambung dan bergerak bersama-sama menyelamatkan negaranya dari kekuasaan Ben Ali di Tunisia dan Hosni Mubarak di Mesir.

Dalam debat sesi pertama tentang “Haruskah peraturan internet memihak warga, atau negara?”, John Kevner (advisor untuk Google) menunjukkan keprihatinannya tentang banyaknya pemerintahan yang memberangus hak berekspresi warganya dengan dalih keamanan dan keharmonisan. Kevner juga mempertanyakan mengapa banyak masyarakat yang rela melepaskan kemerdekaan berekspresinya, dengan harapan sebuah keamanan dan keteraturan umum?

Stewart Baker (ahli hukum bidang TI), berpendapat sebaliknya. Dia mengatakan bahwa peraturan internet harus memihak negara. Menurut Baker, UU lalu-lintas, UU pornografi anak, UU perpajakan tidak bisa memihak individu, demikian juga UU yang mengatur Internet.

Pendapat Baker dibantah oleh Renata Avilla, seorang pengacara HAM dari Guatemala. Perempuan berlogat Spanyol itu memberi contoh pada tahun 80-an, pemerintah Guatemala mengawasi, menganiaya, dan menghilangkan warganya dengan dalih melindungi negara.

Anggota tim konstitusi Tunisia, Nooman Fehri sependapat dengan Baker bahwa peraturan harus memihak negara, tapi tidak boleh memihak pemerintah. Negara adalah cerminan masyarakat, menurut Fehri.

Terlihat bahwa perdebatan terdiri dari kubu kiri, yang menuntut kemerdekaan berekspresi di internet tidak diatur karena memberi ruang bagi pemerintah untuk menganiaya rakyatnya; dan kubu tengah yang yakin bahwa aturan itu harus ada.

Kevner mengatakan bahwa dengan mengihklaskan negara untuk membatasi hak berekspresi, maka kita memberi hak bagi negara untuk melakukan apa yang tidak bisa dia lakukan.

Baker tidak setuju dengan pernyataan Kevner itu. “Anda tidak bisa memiliki masyarakat tanpa adanya peraturan.” Walaupun begitu, Beker mengaku sebagai rombongan pertama yang menolak UU SOPA dan PIPA yang membatasi internet di AS.

Kemudian Fehri melengkapi perdebatan bahwa kemerdekaan di internet harus pada norma-norma yang disepakati bersama. Namun, pria Tunisia menjelaskan bahwa kita belum menemukan kesepakatan itu.

Avilla yang banyak tidak sepaham dengan Fehri, nampak sepaham bahwa perdebatan peraturan internet perlu menemukan equilibrium. Wanita itu yakin bahwa pendidikan adalah kuncinya, orang dengan pendidikan tinggi lebih dapat menerima perbedaan, sementara yang berpendidikan rendah tidak.

Baker kemudian menyerang Kevner yang sebelumnya mengatakan bahwa aspek kehandalan/reliability dan bertanggung-jawab/responsibility sering dipakai dalih pemerintah untuk memojokkan kemerdekaan berekspresi di Internet. “Bagaimana caranya kita dapat menjamin informasi di internet handal dan bertanggung jawab pada forum yang crowdsourced?” tanya Baker.

Kevner menjawab dengan enteng, “Internet punya reliability dan responsibility yang crowdsourced.”

Fehri juga menyerang Kevner dengan menanyakan “Kalau bukan pemerintah, siapa yang akan menangani penjahat?”

“Penjahat suatu pemerintahan, adalah pejuang kemerdekaan dari pemerintah itu,” tukas Kevner kalem.

***

Walaupun diskusi hanya melibatkan kubu kanan dan tengah, namun banyaknya perbedaan selama perdebatan adalah tanda bahwa peraturan di internet masih harus lebih spesifik dan melibatkan perdebatan publik yang tuntas. Dan yang lebih penting lagi, peraturan harus dibuat dengan tujuan melindungi hak individu, bukan pemerintah, kelompok, budaya, agama, dan penguasa. UU ITE adalah contoh UU cacat buatan parlemen yang abai.

Sebagai catatan akhir, di saat banyak negara berusaha menyusun peraturan untuk membatasi internet, prestasi Chile menggolkan Undang-Undang Netralitas Internet adalah terobosan maju bagi dunia. UU ini (1) melarang ISP memblokir dan mendiskriminasi konten, (2) mewajibkan ISP menjamin semua pengguna dapat mengakses semua jenis informasi yang tersedia, dan (3) mengharuskan ISP menyediakan layanan parental-control.

Indonesia harus mencoba menjadi Chile.

Pembatalan Diskusi Irshad Manji di UGM

Diskusi Irshad Manji yang sedianya diadakan di UGM dibatalkan Rektorat. Setelah dipindah ke LKiS Jogja, gerombolan dari Majels Mujahiddin Indonesia datang menyerbu. Ada apa dengan negara ini.

Hari ini kemajuan mundur satu langkah. UGM yang semestinya menjadi tempat lahirnya pemikiran-pemikiran baru, harus membatalkan rencana diskusi Irshad Mandji. Perguruan tinggi itu takut, mungkin takut mahasiswanya diserang, atau parah lagi dianiaya. Lagipula, bukan pertama kalinya FPI dan kelompoknya memakai kekerasan.

Saya memang mengharap UGM lebih berani, walaupun kenyataannya tidak. UGM memang institusi yang lebih besar daripada FPI, akan tetapi UGM tidak cukup kuat untuk meminta polisi mengamankan UGM.

Diskusi Manji itu kemudian diadakan juga di LKiS Yogya. Dan belum lama dimulai, gerombolan Majelis Mujahiddin Indonesia menyerbu diskusi itu. Mereka memecahkan kaca perpustakaan dan menginjak-injak makanan sambil meneriakkan “Allah Maha Besar”. Adik saya yang berada di sana tidak bisa keluar karena dikepung.

Di telepon, adik saya menangis sambil mengatakan “Aku sedih banget negaraku dirusak orang-orang kayak gini.”

Malam itu pendopo LKiS, Irshad Manji hanya bisa duduk bersila menundukkan kepalanya, sementara preman-preman bertabir agama itu memaki-maki, merasa bahwa kebenaran adalah milik mereka. Dan malam itu juga, Jogja yang selama ini menjadi oase dari hingar-bingar intoleransi, akhirnya kalah oleh gelombang radikalisme.

***

Kita semua sudah muak dengan ini. Walaupun topik lesbian bukanlah flagship dari pemikiran Irshad Manji, tetapi dalam beberapa hari ini diskusi telah disederhanakan menjadi itu. Pandangan Manji soal ijtihad (atau mungkin yang sedikit lebih kontroversial seperti jilbab) tidak pernah disentuh dalam perdebatan. Manji telah direduksi menjadi seorang lesbian pembawa penyakit.

Tapi apa yang salah dengan lesbian menyuarakan pendapatnya? Ini Indonesia. Menjadi lesbian, banci, straight adalah pilihan, dan pilihan mereka harus dilindungi negara, seperti negara harus melindungi penduduknya yang ingin beribadah di masjid, bekerja dengan upah layak, belajar di sekolah yang terbaik. Kita boleh berargumentasi bahwa pilihan menjadi lesbian adalah salah, tapi tolong pertahankan ketidaksetujuan itu dalam diskusi saja. Memakai ancaman dan kekerasan justru membuat FPI terlihat menyerah, karena tidak memiliki counter-argument yang cerdas.

Dan jangan lupa, argumentasi berdasar penafsiran atas kitab suci selalu bisa salah, seperti Manji yang juga bisa salah memahami Al-Quran. Manusia hanya bisa mencari kebenaran, namun tidak pernah bisa mendapatkan sepenuhnya kebenaran.

***

Bagaimana menghentikan ini?

Pertama kita harus melihat Indonesia sebagai negara hukum, di mana aturan yang berlaku adalah hukum yang memfasilitasi seluruh warganya, bukan agama tertentu. Tindakan yang salah di mata hukum agama, tidak harus salah dalam hukum Indonesia. Kita bukan negara agama.

Kedua, kita harus membiasakan diskusi publik yang sehat, bukan diskusi yang bermain tuduh, serang sisi pribadi, dan main plintir-kiri-dan-kanan seperti yang biasa dilakukan petinggi FPI. Diskusi seperti FPI yang sangat menyederhanakan masalah memang memudahkan orang untuk berpihak, namun justru membuat pilihan yang kita ambil menjadi tidak sustainable karena tidak didasari pemikiran yang mantap dan mendalam.

Ketiga, kita harus menunjukkan bahwa FPI adalah kelompok kecil. Polisi dan pemerintah selalu dalam posisi sulit karena menindak FPI justru beresiko melukai umat islam. Faktanya adalah, FPI tidak mencerminkan umat Islam Indonesia secara keseluruhan. Mereka yang mendukung tujuan FPI juga tidak harus mendukung kekerasan FPI, karena tujuan FPI dan kekerasannya adalah dua hal yang terpisah. Kita boleh mendukung tujuan FPI, tetapi tidak boleh mendukung semua kekerasan yang mereka lakukan.

***

Para ekstermis ini selangkah lebih maju daripada kelompok moderat dalam menguasai pemikiran publik. Tapi masih belum terlambat, masih ada waktu untuk mencegah sebelum terlambat. Jika ancaman masa lalu Indonesia adalah rezim diktator dan ancaman masa kini adalah korupsi, maka ancaman masa depan Indonesia ada pada intoleransi dan radikalisme agama. Dan kita masih bisa mencegah itu benar-benar terjadi dengan mengubah sekeliling kita terlebih dahulu dulu.

Kita tidak berharap FPI dan pendukung loyalnya akan berubah, tapi kita bisa berharap masyarakat moderat menyelamatkan Indonesia dengan mencegah mereka terjebak dalam kesesatan FPI, MMI, dan kawan-kawannya.

Saya yakin setelah ini saya akan dimaki-maki kafir, murtad, pendukung homoseks, zionis, dan seterusnya dan seterusnya. Tapi tidak masalah. Dituduh kafir, murtad, maupun homoseks (yang saya bukan ketiganya) tidak membuat pemikiran saya menjadi salah. Pribadi saya tidak ada hubungannya dengan pendapat saya, dan itu adalah pelajaran pertama tentang diskusi yang sehat.

***

Baca Juga

Kim Jong-Il Meninggalkan Dunia Dengan Keanehannya

Kim Jong-Il adalah diktator yang sukses menciptakan kultus individu dalam kadar sangat lebay. Tentu dengan bantuan represi sistemik oleh sipil dan militer.

Selesai menulis judul di atas saya berhenti sebentar.

Jika tulisan ini dilanjutkan, maka kesempatan saya memperoleh visa Korea Utara akan pupus sudah. Akan tetapi almarhum Kim Jong-Il adalah diktator yang sukses menciptakan kultus individu dalam kadar sangat lebay. Tentu dengan bantuan represi sistematis oleh sipil dan militer yang membuat pemerintahan Soeharto terlihat humanis.

Seperti misalnya bagaimana TV Nasional Korut memberitakan kematian sang Pemimpin Tercinta:

“Pemimpin berusia 69 tahun itu meninggal karena kelelahan fisik dan mental setelah bekerja terlalu keras untuk memberi ‘bimbingan di lapangan'”

Bagi rakyat Korut yang telah dicuci otak, Kim Jong-Il bukan sekedar pemimpin besar, tapi dewa. Bahkan Tuhan. Dalam biografi resminya, kelahiran Kim Jong Il diramalkan oleh burung layang-layang. Dan pada hari kelahirannya, dua pelangi terbit dari puncak pegunungan dan sebuah bintang lahir dari surga.

Kim Jong-Il menduduki pangkat tertinggi pemerintahan Korea Utara pada tahun 1994, saat sang ayah, Kim Il-Sung mangkat. Jong-Il mengambil gelar Pemimpin Tercinta, dan sang ayah tetap memegang gelar Pemimpin Agung serta ditetapkan menjadi presiden abadi Korea Utara. Pada setiap peringatan ulang tahun Kim Il-Sung, penduduk diharapkan (baca: diwajibkan) menyetor uang sumbangan.

Klaim-klaim fantastis selalu mengelilingi sang Pemimpin Tercinta ini. Ada keyakinan di masyarakat Korut bahwa Kim Jong-Il bisa mengendalikan cuaca dengan moodnya. Kemampuan seninya juga dikabarkan luar biasa hebat: Jong-Il mengklaim telah menggubah enam opera hanya dalam dua tahun. Genius? Kabarnya di usia 3 bulan, dia sudah bisa berjalan; dan di usia 8 bulan sudah bisa berbicara.

Gaya fashionnya juga diklaim telah menjadi tren global dan digandrungi orang-orang sedunia.

Tahun 1978, Kim Jong-il yang maniak film, pernah menculik sineas Korea Shin Sang-ok dan istrinya, Choe Eun-hui. Setelah memamerkan 15.000 film koleksinya, Jong-Il meminta sang sutradara untuk membuat film yang “bagus”. Shin Sang-ok menghabiskan 2 tahun membuat 20 film propaganda atas arahan Jong-Il. Ia dua kali mencoba meloloskan diri, gagal, dan dihukum penjara selama 5 tahun. Pasangan itu akhirnya meloloskan diri tahun 1986 di Wina.

Si Pemimpin Tercinta itu juga memiliki keahlian berinovasi dengan teknologi. Untuk memenangkan Piala Dunia, Kim Jong-il mengaku telah merancang sebuah hanphone ajaib yang tidak terlihat mata. Handphone itu dipakai untuk mengarahkan timnas Korea Utara.

Namun akhirnya Korut kalah memalukan 7-0 dengan Portugal pada Piala Dunia di Afsel 2010. Sepulangnya dari Johannesburg, Timnas Korut dipajang pada sebuah panggung di alun-alun Pyongyang untuk dimaki-maki di depan umum selama 6 jam. Setelah itu, timnas Korut harus balik menyalahkan sang pelatih karena telah mengkhianati putera Kim Jong-Il. Si pelatih akhirnya dipecat dari partai, dan dihukum menjadi buruh bangunan.

Akan tetapi pengamat politik Korea Utara menilai hukuman itu termasuk ringan. Di masa lalu, atlit dan pelatih Korut yang kalah akan dikirim ke penjara.

Mungkin, Kim Jong-Il menuntut lebih, karena dia sendiri adalah atlit yang luar biasa. Pada saat main golf untuk pertama kalinya tahun 1994, ia langsung 11 kali hole-in-one. Setelah itu ia memutuskan untuk pensiun dari golf.

Simpati dan prihatin saya untuk rakyat Korea Utara.

Mereka tidak cuma ditindas oleh pemerintahnya sendiri tapi juga harus menelan dan meyakini kebohongan semacam ini. Dalam kelaparan mereka harus memuja-muji sang diktator, sementara Kim Jong-Il menikmati bergelas-gelas sampanye Hennesy senilai 7 miliar. Mudah-mudahan angin perubahan segara datang, apalagi setelah remaja Korea Utara (yang telah terpapar drama Korea) mulai menyadari bahwa di luar sana kondisinya lebih baik.

Korban-Korban Mesuji

Kakak Wayan Sukadana ditembak, pelurunya menembus bokong ke lambung. Ia meninggal dalam tahanan. Ini terjadi pada bentrokan di Mesuji, Lampung, April 2011

Pembantaian di Mesuji Lampung Tengah

“Di Kalimantan demi perluasan lahan kelapa sawit orang utan dibantai karena dianggap hama. Di Sumatera manusia dibantai karena dianggap hama,” kata Amir Fauzi melalui Twitter.

Saya tuliskan sebagian dari nama dan kisah mereka yang tewas pada konflik di Mesuji, Sumatera Selatan dan Lampung:

Kakak dari Wayan Sukadana ditembak, pelurunya menembus dari bokong ke lambung. Ia akhirnya meninggal dalam tahanan. Kejadian ini terjadi  bentrokan yang terjadi di Mesuji, Lampung pada April 2011 —Republika

Indra Syafei dan Syaktu Macan meninggal dibacok karyawan perusahaan kelapa sawit PT SWA. Korban dibunuh di sekitar perkebunan kelapa sawit saat hendak kembali ke desanya. 21 April 2011. Keesokan harinya, warga balas mendatangi PT SWA, dan membunuh lima karyawan PT SWA.—MetroTV

Jaelani, 45 tahun, ditembak polisi 10 Nov 2011 di Mesuji, Lampung. Peluru tajam bersarang di kepalanya. Dalam perjalanan ke RS, Jaelani meninggal.—Republika

Made Asta, 38 tahun, warga Pelita Jaya, saat menerjang aparat dan disambut dengan tembakan yang mengenai selengkangan hingga tembus perut. Korban tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.—Tempo

Saya menuliskan ini, supaya tidak terlupakan, supaya tidak sekedar menjadi angka, dan supaya kita berusaha agar tidak membiarkan ini terulang lagi. Apapun itu sumber konfliknya, one death is too many.

Swasensor Perciuman Obama dan PM Australia

Berkat UU Pornografi dan UU ITE, foto Obama berciuman dengan PM Australia terpaksa disensor. Akibatnya, berita memberi kesan yang melenceng dari faktanya.

Tempo: Obama Cium Gillard, Perdana Menteri Australia

Salah satu alasan mengapa UU Pornografi (dan UU ITE) tidak baik bagi kemerdekaan berekpresi ialah batasan pornografinya yang terlalu luas. Pasal ini menjadi karet, karena sesuatu yang sebetulnya tidak asusila bisa ditarik-tarik sehingga menjadi asusila. Akibatnya: sanksi pidana.

Dan efeknya adalah: orang jadi terlalu khawatir, dan melakukan swasensor yang tidak perlu.

Tempo.co termasuk media besar yang melakukan swasensor ketika menerbitkan berita “Obama Cium ‘Mesra’ Perdana Menteri Australia“. Foto Obama dan Gillard yang sedang berciuman itu dikaburkan, mungkin agar tidak dijerat pasal karet di UU Pornografi dan UU ITE.

Padahal ciuman dua kepala pemerintahan yang di depan umum itu tidak seksual dan tidak asusila. Malah kalau kita lihat foto aslinya, bibir Obama hanya menyentuh pipi Gillard. Akan tetapi sensor justru berpotensi membuat pembaca berpikir aneh-aneh. Akibatnya, berita dimaknai melenceng dari faktanya.

Cepat atau lambat, UU Pornografi dan UU ITE harus direvisi dengan membuat batasan pornografi sejelas mungkin. Selain itu, pornografi haruslah hanya dibatasi pada anak-anak saja, karena orang dewasa memiliki hak untuk mengakses pornografi.