hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for January, 2006

January 30th, 2006

Sedang lucu-lucunya

Kalau kenalan anda punya anak kecil, lalu anda beramah-tamah dengan bertanya:

“Putrinya sekarang apakabar mas?”

Pasti jawabannya…

“Sedang lucu-lucunya! Kamu kalau ketemu pasti gemes…”

Hmmm… oke. 3 bulan kemudian kalau kita kembali beramah tamah. Jawabannya juga…

“Sedang lucu-lucunya!”

Satu tahun kemudian, lagi-lagi ketemu lagi, dan lagi-lagi beramah-tamah. Dan jawabannya:

“Sedang lucu-lucunya!”

Ya ampuuunnn!!… anak kecil kok lucu terus ya. Masa sih bisa lucu 24 jam, nggak pernah jayus? Padahal tidak semua anak itu lucu lho. Ada yang berbakat lucu, dan ada yang berbakat menyebalkan. Coba perhatikan foto-foto bayi yang saya temukan lewat Google:


Bayi ini udah ketahuan kalau nanti gede akan memiliki masalah kepribadian karena alisnya nyambung. Tapi alis nyambung tidak menjamin seorang bayi menjadi preman lho. Buktinya:


Beda lagi dengan bayi yang dibawah ini, belum umur 17 tahun udah berani nyoblos di Pemilu 2004:


Mungkin orang tuanya tokoh partai yang kekurangan suara, sampai-sampai anaknya yang baru seumur jagung dipaksa nyoblos. Tapi bayi-bayi tadi bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan yang ini:


Dari gayanya, udah keliatan banget kalau bayi ini belagu. Masih kecil aja udah pelihara kumis.

January 29th, 2006

Tahun Baru Imlek

Apa tahun baru favorit saya?

Tahun baru Masehi itu terlalu membosankan, tujuannya gak jelas dan terlalu banyak hype. Tahun baru Muharam… terlalu spiritual. Tahun baru Jawa… terlalu mistis.

Jadi?

Yap betul! Tahun baru favorit saya adalah tahun baru Imlek. Walaupun saya bukan keturunan Tionghoa, tahun baru Imlek mengingatkan saya 2 hal yang cukup penting yang harus diraih selama hidup: kekayaan dan kesuksesan. Apalagi ucapan selamat tahun baru Imlek yang terkenal memiliki arti: ‘congratulations and be prosperous.’

Jadi, saya ingin mencoba mengucapkan: 恭喜发财 . Semoga anda sukses dan kaya raya!

January 28th, 2006

Seperti Phoenix II


Ada orang bertanya, kenapa postingan saya setelah diijinkan meninggalkan Poltabes Yogyakarta berjudul Seperti Phoenix.

Waktu itu, jujur saja, saya broken-heart luar biasa gara-gara candaan saya terpaksa dihapus karena ancaman pasal karet yang tanpa delik aduan. Kemudian saya sempat berpikir, walaupun semangat ngeblog saya terasa mati, kasus itu seharusnya bukan akhir bagi saya. Seperti phoenix yang mati, dia akan lahir kembali menjadi phoenix yang lebih baik dan semoga… lebih kuat.

Saya nyaris menyebutkan penjelasan itu. Tapi, malam itu, Roy Suryo diduga mengirim SMS ke polisi, memberitahukan kalau pentolan blogger yang bernama Priyadi (yang konon lebih berbahaya) diduga sedang mengerahkan massa.

Waduh! Kalau saya nulis akan lahir ’sesuatu yang baru yang lebih kuat’, polisi dapat serta merta mengartikan kalau Mas Priyadi sedang menggalang massa. Seperti ngasih umpan aja dong. Akhirnya postingan saya di Seperti Phoenix saya buat menjadi kabur dan tidak jelas.

Paranoid ya?

January 27th, 2006

Jeruk makan jeruk

Ada blog yang berisi komentar tentang tatabahasa yang salah. Ada juga yang isinya ngomentari toilet. Dan ada pula yang isinya komentar seputar sepak terjang Roy Suryo™.

Tapi yang ini beda, blog ini isinya ngomentari blog-blog yang lain. Lucu ya? Seperti jeruk makan jeruk :P Sayang isinya belum banyak. Coba kalau isinya banyak, pasti lebih seru.

Karena blog ini memang blog, maka reviewnya-pun tentunya sangat subyektif. Tapi justru itu menariknya. Heck, saya aja dipanggil kiri-wannabe kok. Xexexexe.

January 24th, 2006

Produk mengendorse atau diendorse?

Sekitar awal tahun 2000-an, artis-artis sering menamai industri mereka bekerja dengan sebutan ‘dunia entertain‘, yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti ‘dunia menghibur’. Aneh ya? Seharusnya kan ‘Dunia Hiburan.’ :P

Yang jelas keanehan akibat misunderstanding tidak berhenti disini. Misalnya, di beberapa lingkungan pemusik dikenal istilah ‘root manager’. Yang dimaksud root manager disini bukan manajer yang bertugas mengelola account root di komputer mereka, melainkan manajer yang mengelola artis ketika manggung. Kalau ndak salah, istilah yang lebih pas adalah road manager.

Tapi, kesalahan di majalah Gadis versi cetak edisi kemarin lebih lucu:

Gals, baju model pinstripe sekarang lagi hype banget. Makanya kalian harus mulai mengkoleksinya… (kurang lebih seperti itu)

Hype berarti seseorang atau sesuatu yang dipublikasikan secara berlebihan. Hype bukanlah kata yang memiliki makna positif, tetapi majalah Gadis dengan polosnya menggunakan kata tersebut untuk mendeskripsikan sesuatu yang positif (lagipula hype adalah kata benda, bukan kata sifat). Mungkin… kata yang dimaksud Gadis adalah hip, yang artinya ‘lagi ngetrend’. Tapi ini bukan kesalahan Gadis semata. Majalah Hai yang masih satu grup, ternyata juga melakukan kesalahan yang sama.

Lucu lagi adalah penggunaan istilah endorse. Misalnya Tika, pernah bilang kalau band-nya di-endorse oleh merek clothing tertentu. CMIIW, tapi apa nggak kebalik ya? Michael Jordan setahu saya tidak pernah di-endorse oleh Nike. Halle Berry seumur hidup belum pernah di-endorse oleh Revlon. Yang terjadi adalah, Nike dan Revlon membayar Michael Jordan dan Halle Berry untuk meng-endorse produk mereka, karena kedua orang tersebut adalah public figure, dimana endorsement-nya dapat membantu meningkatkan goodwill atas merchandhise mereka. Bahkan, menurut rekan saya Thomas, penggunaan kata endorse yang terbalik sudah lazim digunakan di industri periklanan.


Sepertinya kalau dirunut, daftarnya bisa puanjanngg. Mulai dari ‘worthed‘ hingga ‘No Woman No Cry‘ . Saya sendiri heran, bagaimana meme kesalahan-modern seperti ini dapat terjadi, ketika informasi begitu aksesibel dan mudah didapat. Lain halnya kalau kesalahan terjadi di tahun 70-an, misalnya.

Atau jangan-jangan, kesalahan seperti itu terjadi karena informasi terlalu mudah didapat?

January 23rd, 2006

Disleksia

Tadi malam pas lagi baca Harry Potter 6, kok saya merasakan ada kelainan pada diri saya: saya kesulitan memahami tulisan di buku tersebut. Paragraf-paragraf itu sepertinya… tidak ada artinya. Tiba-tiba suster tersebut mengajak saya untuk masuk ruangan. Perawat itu melayani saya layaknya seorang pasien yang akan operasi, Baju saya dibuka dan rambut kaki saya dicukur habis…. kok jadi kayak sHa gini ya :P

Tapi ini beneran lho, kemarin saya mengalami kesulitan memahami blok-blok tulisan di buku itu. Jangan jangan:

a. Saya ternyata pengidap disleksia
b. Mbak Listiana Srisanti nerjemahinnya memang bikin pusing
c. Saya kebanyakan baca blog

Semoga bukan yang disleksia :(

January 22nd, 2006

Nama Playboy

Masih ingat komentar anggota Dewan Pers, Leo Batubara:

“Playboy itu ya kayak yang terbit di AS. Kalau isinya santun, sesuai dengan budaya ketimuran, ya kenapa nggak ganti saja namanya. Misalnya jadi Majalah Gatotkaca.” (detikcom)

Dan komentar Ketua Umum FPI Habib: Muhammad Rizieq Shihab:

“Mengapa tidak menggunakan nama lain saja. Saya mengusulkan nama Pria, Gentlemen atau Jantan.” (Kompas)


Dengan meminjam logika kedua tokoh tersebut saya meminta pemegang franchise McDonald Indonesia untuk mengganti namanya menjadi MacMohan karena McDonald Indonesia menjual ayam goreng dan nasi. Isinya kan sudah beda dan disesuaikan dengan budaya Indonesia.
Lagipula, nama McDonald kan konotasinya tidak bisa dipisahkan dari unsur burger dan kentang goreng, kok jualan ayam dan nasi?

Jadi ini cuma soal nama ya? Xexexexe! Saya kok jadi posting gak bermutu gini ya, padahal ada polemik nasional lain yang menarik untuk diamati.