Reviews - November 20th, 2011
Twilight: Breaking Dawn
Bella Swan masih ragu-ragu ketika digandeng ayahnya menuju pelaminan. Tapi di ujung sana ada Edward Cullen yang pucat. Dan cemberut di wajah Bella berkurang sedikit, lalu langkahnya menjadi semakin pasti. Bella tahu, Edward adalah lelaki yang akan menemaninya sepanjang hidupnya. Atau sepanjang masa, jika Bella akhirnya menjadi vampir.
Tentu adalah impian kebanyakan gadis belia untuk menemukan lelakinya, di mana kebahagiaan dan kegusaran akan selalu dijalani berdua dan bersama-sama. Dan tak lupa, pesta pernikahan yang indah dan sempurna. Resep inilah yang nampaknya rahasia kenapa seri Twilight—romansa segitiga antara manusia, vampir, dan serigala jadi-jadian—sukses membius jutaan ABG di seluruh dunia, melalui buku dan film. Stephanie Mayer, sang pengarang, tahu betul apa yang diinginkan seorang gadis yang baru gede.
Akan tetapi, menikah dengan Bella tidak ada kebahagiaan. Bella lebih banyak bersedih, termenung, dan merengut; dan Edward tetap bisa mengerti dan memahami. Saya tidak mengerti, kenapa Edward begitu tahan? Ini misteri yang tidak terjawab sampai akhir film.
Pada dasarnya sudah tidak ada yang baru di seri ke-4 Twilight ini, karena Bella, Edward, dan Jacob sang manusia serigala, masih sama seperti dulu. Jika ada yang berbeda, tentu karena akhirnya Bella dan Edward melakukan hubungan suami-istri setelah menikah. Ini poin moral yang pertama. Poin moral kedua adalah Bella tidak mau mengaborsi janin yang dikandungnya, walaupun bayi itu berpotensi melahirkan monster yang lebih berbahaya daripada vampir.
Dan disinilah alur cerita menjadi mirip horor kacangan Indonesia. Adegan Bella minum darah segar supaya bayinya tetap sehat mengingatkan adegan Diperkosa Setan, di mana ada sang ibu kalap makan daging mentah.
Untunglah sinematografinya bagus, alurnya bernalar, dan aktingnya bolehlah. Jika tidak, selesai nonton saya pasti akan berpikir: “Lho sekarang Nayato Fio Nuala bikin film bahasa Inggris??”





