The King's Speech

Pangeran Albert (Colin Firth) sebetulnya bukan pangeran yang berbakat menjadi raja, ataupun ditakdirkan menjadi raja. Anak kedua Raja Inggris George V ini sosok yang hati-hati, lembut, dan gagap. Ia mempermalukan kerajaan saat tergagap menyelesaikan kalimat pertama pidato di depan ribuan orang yang memenuhi stadion Wembley pada tahun 1952.

Adalah istrinya Elizabeth (Helena Bonham Carter) yang mencarikan berbagai dokter dan terapis untuk menyembuhkan gagapnya. Setelah semua cara tidak membuahkan hasil, Elizabeth menemukan Lionel Logue (Geoffrey Rush), seorang terapis gagap yang unorthodox.

Terapi pertama inilah yang mengantarkan penonton ke kisah sejarah tentang seorang karakter lembut yang diangkat menjadi reluctant king di era perang dunia 2, menggantikan tugas kakaknya, Pangeran Edward. Edward memilih melepas tanggung jawab raja demi menikahi seorang janda Amerika.

Premis film ini adalah bisakah seorang raja gagap membawakan pidato untuk menenangkan rakyat Inggris yang membutuhkan seorang pemimpin dalam ancaman perang.

Yang mengagumkan dari script David Seidler adalah bagaimana kejadian-kejadian sejarah anekdotal diramu menjadi adegan-adegan anekdotal yang lantunannya santai. Dialog antara Pangeran Albert dan Lionel begitu lincah dan lucu sehingga mustahil terabaikan. Melalui dialog dengan Lionel, penonton menemukan berbagai sisi karakter si pangeran. Dualisme dalam Pangeran Albert yang rapuh dan yang bertanggung-jawab, dibawakan Firth secara alami.

Akan tetapi, pesona King’s Speech ada di Helena Bonham Carter sebagai istri Albert, yang telaten mendampingi suaminya menjadi raja. Elizabeth bukan jenis tante jahat yang mengejar kedudukan ratu. Anda melihatnya ketika Elizabeth menghela nafas lega setelah suaminya menyelesaikan pidato. Itu adalah kelegaan karena kepedulian dengan suami, bukan kepedulian dengan tahta. Citra tokoh jerk memang terlanjur terpancang di dahi Helena Bonham Carter, tapi kali ini ia menjadi sangat simpatik. Sebelumnya, Carter memerankan Marla Singer di Fight Club dan juga sebagai musuh bebuyutan Harry Potter, Bellatrix Lestrange.

Rush yang memerankan terapis Australia yang nranyak, apa mau dikata, selalu berakting bagus. Walaupun kali ini dia agak “biasa” untuk standar Geoffrey Rush. Seperti halnya Rush, King’s Speech ini terasa kurang satu langkah membawa emosi penonton. Ibarat secangkir kopi yang enak, masih ada seteguk lagi di dasar cangkir, dan penonton tidak bisa menghabiskannya.

Apakah film ini layak mendapatkan Oscar tanggal 28 Februari besok? Film seperti ini memang selalu menjadi favorit juri Oscar yang kesemuanya adalah pekerja film.

The King’s Speech
Tagged on:

7 thoughts on “The King’s Speech

  • February 18, 2011 at 1:06 pm
    Permalink

    “ibarat secangkir kopi yang enak, masih ada seteguk lagi di dasar cangkir, dan penonton tidak bisa menghabiskannya.”

    woghh.. pengibaratannya kewl banget

    Reply
  • February 18, 2011 at 7:27 pm
    Permalink

    Emang bagus sih film ini, komedinya juga mantab. Tapi saya lebih memilih the fighter jadi pemenang oscar :D

    Reply
  • February 18, 2011 at 11:11 pm
    Permalink

    Bellatrix Lestrange, mas…

    *komen gak penting*

    Film ini masi diputer di XXI Jogja gak yah?

    Reply
  • February 21, 2011 at 9:40 am
    Permalink

    ini filem keren abiz… MUST SEE… perasaan kita dibuat mengharu biru antara komedi, kesedihan, kekaguman akan kehidupan istana yg kolot dan mewah..
    2 thumbs up buat collin firth dan geoffrey rush, pantas dapat Oscar …

    Reply
  • March 4, 2011 at 8:33 pm
    Permalink

    ” Ibarat secangkir kopi yang enak, masih ada seteguk lagi di dasar cangkir, dan penonton tidak bisa menghabiskannya.”

    Saya kebayangnya ibarat kopi enak yang tapinya kehilangan kafein. Jadinya ngantuk juga, meski enak. (berapa kali hampir ketiduran selama nonton)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.