hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for March, 2007

March 29th, 2007

Koran Tertipu Gucci Palsu


Konyol tapi nyata
. Seorang pria membuat foto dirinya, shirtless, lalu memasang logo Gucci dan gambar botol parfum di sudut kanan bawah. Kemudian dia mengirimkan artwork itu ke koran Swiss, SonntagsZeitung, untuk dipasang di edisi Minggu. Dia juga meminta agar tagihan biaya pemasangan iklan yang sebesar 60.000 Swiss-franc (sekitar Rp 500 juta) dikirim langsung ke rumah mode Gucci. Tanpa cek dan ricek, iklan tersebut langsung dipasang, dan naik cetak.

Lesson learned? Rumah mode jangan terlalu ekperimental dalam membuat iklan? Atau koran harus lebih hati-hati, tidak cuma dalam menulis berita, tapi juga memasang iklan?

March 22nd, 2007

Tutup Kok Dibom?


…target sementara : HUGOS, TJ, TC, JJ, Tropis, Embassy, Q Club, Liquid, BOSHE, silahkan tunggu tanggal mainnya…

Begitu ancaman pengeboman di situs Pemprov DIY. Kalau ancaman ini berasal kelompok teroris betulan, seharusnya tidak menyebutkan TJ’s, karena nightclub itu sudah tutup sebulan yang lalu. Sementara klub billiard Q Club malah sudah tutup setahun lebih. Ecuapedeee!

March 21st, 2007

Budaya & Melepas Alas Kaki


Kalau sudah lama tinggal di Indonesia, semestinya familer dengan kebiasaan melepas alas kaki ketika masuk ke rumah orang lain. Begitu kata orang. Tapi bagaimana kalau lantainya kotor? Masak ya harus dilepas? Andaikata memang harus dilepas, sementara lantainya jorok, berarti si pemilik rumah justru membuat kaki si tamu kotor. Kalau begini caranya, kebiasaan ini malah menjadi budaya yang negatif.

Saya sering lupa: ketika kita menjalankan budaya, tradisi, atau kebiasaan, tentunya ada syarat yang harus ditepati. Dalam kasus melepas alas kaki, syaratnya: lantai harus bersih, karena tujuan utamanya adalah tidak membuat lantai pemilik rumah yang bersih jadi kotor. Kalau syarat tidak dipenuhi, ya kebiasaan itu tidak berlaku. Itu untuk melepas alas kaki, untuk budaya-budaya dan kebiasaan yang lain, ya nanti bisa dibikin daftarnya

Acapkali, saya merasa terjebak melakukan hal-hal yang saya sendiri tidak tahu kenapa harus dilakukan. Hal-hal yang dilakukan hanya karena harus dilakukan. Jika boleh berandai, sepertinya akan cukup menyejukkan ketika budaya kita lakukan bukan demi ritualnya, tetapi karena esensinya.

Gambar sandal ngambilnya dari sini.

March 18th, 2007

Burung Indonesia

Image Hosted by ImageShack.us

Waktu kecil, saya gemar melihat peta Indonesia karena pulau-pulau Indonesia bentuknya lucu. Favorit saya adalah pulau Kalimantan yang bentuknya mirip burung gemuk besar. Ketika saya bilang temuan saya itu ke Ibu saya, eh malah langsung dibantah sama beliau.

“Lho, bukannya yang mirip burung itu pulau Sulawesi?” ujar Ibu saya.

Oiya ya, pulau Sulawesi kalau diputar jadi terlihat seperti burung yang sedang terbang mengepakkan sayapnya. Tetapi, bagi saya, Kalimantan tetap nampak seperti burung, seperti ayam betina yang sedang mengerami telur, tepatnya. Tapi kalau diperhatikan pulau Irian bentuknya juga seperti burung lho. Hebat juga ya Indonesia, tiga pulaunya mirip burung.

March 14th, 2007

Tamak Dalam Bertutur

Apa yang Fulan lakukan ketika ingin beli barang bagus senilai 1 juta rupiah, sementara uang di kocek cuma 100 ribu rupiah? Urung membeli barang itu dong! Namanya juga nggak mampu. Ya, mungkin cari pinjaman atau cari obyekan. Yang jelas perlu usaha keras untuk menggenapi sisanya yang 900 ribu itu.

Logika yang mudah diterima, betul?

Masalahnya jadi beda ketika Fulan tidak ingin membeli, tapi Fulan ingin berkomunikasi. Misalnya ingin cerita si bos yang killer, atau cerita fitur Produk A di secarik leaflet. Seperti halnya barang yang tidak cuma-cuma, berkomunikasi juga berbatas. Pendengar cerita tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan backstory bos si Fulan. Daftar fitur produk A-pun tidak mungkin dimampatkan pada secarik A5 bolak-balik. Kalau dipaksa, pesan justru tidak sampai. Toh Fulan-Fulan ini tetap saja melakukannya.

Kenapa ya, yang pertama mudah diterima, dan yang kedua tidak?

March 12th, 2007

Sombong Dalam Kekurangan

Kalau ada orang yang bercerita pagerank blognya 7 dan mobilnya banyak, ada BMW ada Jaguar, dan keluaran baru semua, sewajarnya kita yang mendengarkan merasa eneg. “Sombong sekali sih?”, mungkin akan terbersit di dalam pikiran kita.

Tetapi, sombong tidak selalu tentang meninggikan diri sendiri. Orang juga bisa sombong dalam kekurangan. Entah memamerkan kemiskinannya. Atau kekurangannya. Atau pageranknya yang cuma 3. Atau suami yang sering dzholim. Ironis sekali: bahwa ketidakberdayaan dan ketidakmampuan-pun, ternyata, bisa menjadi sebuah aset untuk diceritakan, dengan tinggi hati. Dan itu terjadi di bawah sadar.

Tapi biarlah, tinggi hati adalah atribut manusiawi manusia.

March 8th, 2007

Yunani untuk Greece

Gara-gara dikasih tahu kw, saya menyadari kalau Indonesia itu hanya sekian sedikit negara yang menyebut negara yang di ujung selatan semenanjung Balkan dengan istilah Yunani. Selain Indonesia dan negara berbahasa arab, dunia mengenal Yunani dengan sebutan Greece, Grecia, Griechenland, Griekeland atau semacamnya. Sisanya—termasuk bangsa Yunani sendiri—memanggilnya Hellas. Malaysia, yang secara geografis dan historis mirip dengan Indonesia, dulunya menyebut Yunani dengan nama Yunani, tapi entah kenapa sekarang memakai Greece.

Sekian factoid of the week hari ini.