Sembari menulis review partai yang lain, ijinkan saya memposting sebuah kisah pendek dari seorang penulis tamu—guest blogger—Bung Budi_santoso.

***

Saya harus mengakui saya seorang sekuler. Saya biasa membedakan urusan agama dengan sektor kehidupan yang lain. Sebagai muslim, saya juga mungkin teramat sangat toleran. Ketika aksi demo pluralisme di Monas digebuki anak buah Munarman, mulut saya betul-betul sukar dikendalikan untuk menyumpahi orang satu itu.

Tapi itu, saya… istri saya beda. Ia punya pandangan yang amat bertolak belakang. Biarpun tidak berkerudung, kalau sudah membahas hal yang berkaitan dengan agama, maka apapun adalah benar di matanya. Peristiwa kecil saja, ia mendukung penuh kalau ada ormas-ormas agama yang menggrebek kafe-kafe atau tempat hiburan. Bagi saya itu anarkis, bagi dia itulah jihad.

Suatu hari, saya terpaksa mengalah dengan berdiam diri hanya karena goyangan Inul dan Undang-undang AntiPornogrofi. Sebagai orang yang (sok) openminded, saya tentu menentang keras UU tersebut. Sebaliknya istri… wah mendukung sekali, sampai memojokkan saya tak sanggup berkata-kata lagi… haha…ha.

Saya sendiri heran, koq sampai hari ini saya bisa cocok ya. Tapi sudahlah, saya pikir-pikir jodoh mungkin bekerja dengan cara yang tidak kita mengerti.

Kembali ke soal tadi. Atas dasar karakter istri itulah, dalam konteks Pemilu 2009 ini, saya menduga istri tentu akan memilih PKS (dalam soal prinsipil, kami memang tak pernah memaksakan pilihan masing-masing). Saya kira, dalam banyak hal ia cocok dengan PKS. Karenanya, dalam sebuah pagi saat bersama-sama pergi ke kantor, iseng-iseng saya tanyakan kepadanya. “Nanti bakal pilih PKS ma?”

Jawabannya ternyata mengagetkan saya. Pendek saja, “Tidak.” Langsung saya sambar, “Lho kenapa?” “Habis Tifatul-nya istrinya dua…,” jawabnya. Saya hampir tak bisa menahan tawa. Saya tidak tahu kabar poligami Tifatul itu isapan jempol atau fakta, tapi bagi saya itu tidak lah penting. Ternyata wanita tetaplah wanita…

Saya, Istri dan PKS
Tagged on:

23 thoughts on “Saya, Istri dan PKS

  • April 3, 2009 at 2:09 pm
    Permalink

    wolah! kowe wis lamaran to? kok ra undang-undang?

    *sengaja lost pokus*

    Reply
  • April 3, 2009 at 3:39 pm
    Permalink

    Pasti ada yang pro poligami, Mon. Bersabarlah.

    Reply
  • April 3, 2009 at 4:33 pm
    Permalink

    tyt..secuek²nya or setegar²nya cewek…teteplah cewek….

    Reply
  • April 3, 2009 at 6:31 pm
    Permalink

    HUaaaaaaa apik tenan iki postingane mas Budi…

    Reply
  • April 4, 2009 at 9:27 am
    Permalink

    berarti PKS masih dianggap sangat eksklusif ya….susah juga bisa dapetin 15% suara nanti… :(

    Reply
  • April 4, 2009 at 1:20 pm
    Permalink

    hahahaha. terkait poligami ini, ada yg nggantung di otak. kalo anggota DPR/Menteri/Presiden punya istri lbh dr 1, tunjangan yg hrs dbayar negara berapa? kalo tunjangannya jg lbh dr 1, memang kita wajib menolak caleg/capres/camenteri yg poligami.

    Reply
  • April 6, 2009 at 9:58 am
    Permalink

    kemarin saya ikut ceramah kebetulan ustadzah-nya caleg dari PKS, disitu dia terang2an menentang nikah siri dan poligami, tapi kok ketuanya malah poligami gimana ini…?
    oh, karena dia wanita ya…?

    Reply
  • April 15, 2009 at 12:56 pm
    Permalink

    Inilah pedofilia Muhammad:

    Dikisahkan Jabir bin ‘Abdullah: Ketika aku menikah, Rasullah bersabda kepadaku, perempuan macam apa yang kamu nikahi? Aku menjawab, aku menikahi seorang janda muda? Beliau bersabda, Mengapa kamu tidak bernafsu pada para perawan dan memanjakannya? Jabir juga berkisah: Rasullah bersabda, mengapa kamu tidak menikahi seorang perawan muda sehingga kamu dapat memuaskan nafsumu dengannya dan dia denganmu?

    Hadits Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 17.

    A’isyah (Allah dibuatnya bahagia) diceritakan bahwa Rasullah (semoga damai sejahtera atas beliau) dinikahi ketika usianya tujuh tahun, dan diambilnya untuk rumahnya sebagai pengantin ketika dia sembilan tahun, dan bonekanya masih bersamanya; dan ketika beliau (Nabi Yang Kudus) mampus usianya delapan belas tahun.

    Kitab Sahih Muslim 8, Pasal 3311.

    Dikisahkan A’isyah: bahwa Nabi menikahinya ketika dia berusia enam tahun dan menikmati pernikahannya ketika berusia sembilan tahun. Hisham berkata: Aku telah menceritakan bahwa A’isyah menghabiskan waktunya dengan Nabi selama sembilan tahun (yaitu hingga kematiannya).

    Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 65.

    Muhammad telah bernasu birahi kepada anak berusia enam tahun. Apa yang tersimpan di dalam otak Muhammad? Apa pikiran mesum nabi merupakan perbuatan suci? Seorang anak kecil Muhammad nodai dalam nama allah. Dalam ilmu psikologi moderen, yang dilakukan Muhammad disebut pedofilia, dan seorang yang melakukan pedofilia dapat dikenakan sanksi hukuman mati, karena telah merampas masa depan anak-anak, dan membuat anak-anak menderita trauma kejiwaan.

    Reply
  • April 27, 2009 at 1:49 am
    Permalink

    Tulisan Mas Budi seru, asyik. Sang empunya blog juga gitu. Tapi, sangkebenaran? Huahahaha …. gak jelas.

    Reply
  • May 17, 2009 at 2:30 pm
    Permalink

    Ga usah di percaya tuh omongan sangkebenaran. Dia hanya orang yang membenci islam dan bermaksud memecah belah bangsa indonesia.

    Dia juga banyak memberikan komentar yang sama di mana2. Blog saya juga kena komentarnya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.