200px-posterfilmkcb

Sebagai negara yang populasi muslimnya terbanyak sedunia, jumlah hiburan bernuansa Islami di Indonesia bisa dibilang minim. “Ketika Cinta Bertasbih” adalah salah satu film yang berusaha menjawab kehausan tersebut.

Film hasil adaptasi novel Habiburrahman El Shirazi ini terpusat pada Azzam, mahasiswa asal Indonesia yang sudah kuliah S1 9 tahun di Universitas Al Ahzar, Mesir. Perjaka soleh dan sederhana ini kenal dengan Eliana, putri dubes yang suka memberi french-kiss pada orang yang baru ia kenal (sesuatu yang absurd, bahkan untuk standar bule, kecuali hippie, tapi itu 40 tahun yang lalu). Azzam juga naksir seorang anak kyai yang ia sendiri belum pernah lihat fotonya, apalagi ketemu langsung. Azzam juga memiliki kenalan seorang anak konglomerat bernama Furqon, yang menginap di presidential suite hotel untuk mempersiapkan ujian skripsi.

Menterjemahkan buku menjadi film memang tidak pernah gampang. Memang ada beberapa novel yang sukses difilmkan. “Ketika Cinta Bertasbih” termasuk yang gagal karena tidak memanfaatkan kekhasan medium film. KCB terpaku pada dialog-dialog gamblang dan alur yang bergerak ngalor-ngidul tak terarah. Penggarapannya juga terasa tidak serius karena sinematografinya menyia-nyiakan keindahan Mesir. Efek bluescreen-nya juga payah.

Saya melihat “Ketika Cinta Bertasbih” sebagai penghinaan kepada umat muslim karena pesan-pesan dakwah yang disajikan segamblang-gamblangnya ini seperti meragukan kemampuan pemirsanya untuk berpikir sendiri.

Review yang ikut nonton bareng:

Ketika Cinta Bertasbih
Tagged on:

56 thoughts on “Ketika Cinta Bertasbih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *