Herman Saksono

Indonesia matters

Posts Tagged ‘Politik’

Health - February 19th, 2016

dr. Fidiansjah Tentang LGBT: Salah atau Benar?

dr Fidiansjah psikiater

Dalam episode Indonesian Lawyers Club (ILC) berjudul “LGBT Marak, Apa Sikap Kita?”, dr. Fidiansjah mengatakan bahwa homoseksualitas adalah gangguan jiwa. Tulisan ini akan membuktikan benar salahnya ucapan dr. Fidiansjah.

Kronologisnya, pada ILC episode 16/2/2016,  dr. Fidiansjah mengatakan bahwa homoseksualitas merupakan gangguan. Ketika ditanya Karni Ilyas gangguan apa yang dimaksud, dr. Fidiansjah menjelaskan bahwa homoseksualitas adalah gangguan jiwa. Kesimpulan ini dia ambil setelah membacakan buku diagnosis PPDJG III versi “textbook” yang ilmiah. Menurut dr. Fidiansjah, buku versi textbook lebih lengkap daripada buku saku yang dipakai masyarakat.

Untuk menguji benar salahnya dr. Fidiansjah, saya akan membandingkan ucapan beliau dengan buku PPDGJ III versi “textbook”. Pada tanggal 18 Februari 2016, saya mendapatkan PPDGJ III dari perpustakaan Fakultas Psikologi UGM. Buku ini bernomor 616.89 Ind p-c4. Jika pernyataan dr. Fidiansjah sesuai dengan isi buku textbook, maka kita bisa menyimpulkan bahwa dr. Fidiansjah mengatakan kebenaran.

Sampul PPDGJ III Fakultas Psikologi UGM

Gambar 1. Sampul PPDGJ III

PPDGJ III Fakultas Psikologi UGM bagian sisi

Gambar 2. Sampul sisi PPDGJ III

Mari kita mulai. dr. Fidiansjah mengatakan bahwa definisi gangguan jiwa yang dimaksud bisa dilihat di halaman 288. dr. Fidiansjah kemudian membacakan isi halaman tersebut:

Gangguan psikologis dan perilaku yang berhubungan dengan perkembangan dan perilaku seksual …
Adalah …
F66.x01 Homoseksualitas
F66.x02 Biseksualitas

Tertulis jelas!

Sekarang, mari kita bandingkan dengan salinan buku PPDGJ III (Gambar 3) yang dibaca dr. Fidiansjah pada ILC:

PPDGJ_III-288

Gambar 3. PPDGJ III halaman 288

Kita bisa lihat bahwa, entah karena alasan apa, dr Fidiansjah tidak menyebutkan dua baris penting dari buku PPDGJ III:

  1. “Orientasi seksual sendiri jangan dianggap sebagai gangguan”
  2. F66.x00 Heteroseksualitas

Saya memperoleh foto PPDGJ dari dua sumber lain, dan isinya sama dengan PPDGJ III yang saya peroleh dari perpustakaan Fakultas Psikologi UGM.

Terlihat jelas bahwa PPDGJ III mengatakan orientasi homoseksual tidak dianggap sebagai gangguan. Selain itu, buku diagnosis ini menyetarakan homoseksualitas dan biseksualitas dengan heteroseksualitas. Akan tetapi, dr. Fidiansjah tidak menyebutkan 2 kalimat penting itu sehingga homoseksualitas dan biseksualitas seolah-olah adalah gangguan jiwa.

Ini bertentangan dengan pernyataan dr. Fidiansjah bahwa membaca teks itu tidak boleh sepotong-sepotong. Oleh karena ada dua kalimat yang hilang, dr. Fidiansjah tidak nampak mengatakan kebenaran.

Kesalahan ini tidak dapat diterima. dr. Fidiansjah harus mengkoreksi ucapannya kepada publik dan meminta maaf karena tindakannya berpotensi melanggengkan diskriminasi dan kekerasan terhadap kaum marginal homoseksual, biseksual, dan LGBT pada umumnya.

Menariknya, dr Fidiansjah mengutip Einstein untuk menekankan bahwa ilmu harus mengacu kepada ajaran agama: “Ilmu tanpa agama itu buta, tapi agama tanpa ilmu lumpuh”.

Ucapan Einstein tersebut memang sering dipakai untuk melegitimasi bahwa agama harus mengatur sains. Padahal, maksud Einstein, ilmu hanya bisa tumbuh dari orang-orang yang jujur dan peduli. Di sini agama menjadi sangat penting karena mengajarkan kejujuran dan kepedulian.

Oleh karena itu, dr. Fidiansjah harus jujur dan peduli, termasuk ke kelompok minoritas LGBT.

Gambar 4. PPDGJ III halaman 288

Gambar 4. PPDGJ III halaman 289

Tambahan:

  • 19 Feb 2016: Paido Siahaan mengingatkan saya bahwa mungkin dr. Fidiansjah memakai buku teks PPDGJ edisi lama yang masih menggolongkan homoseksualitas sebagai gangguan. Ini menimbulkan pertanyaan mengapa memakai buku kuno dipakai untuk mendiagnosa gangguan jiwa, jika ada buku edisi baru yang mencerminkan perkembangan ilmu pengetahuan? Oleh karena itu, dr. Fidiansjah tetap harus mengkoreksi ucapannya.
  • 20 Feb 2016: UU No 14/2014 tentang Kesehatan Jiwa, Pasal 68.a, mengatakan bahwa ODMK berhak mendapatkan informasi yang tepat mengenai kesehatan jiwa.
  • 21 Feb 2016: PP PDSKJI menyatakan bahwa homoseksualitas bukan gangguan jiwa. Silakan cek butir 2 pada halaman 1. Di situ disebutkan bahwa orang homoseksual adalah orang yang beresiko mengalami masalah kejiwaan, tetapi bukan orang dengan gangguan jiwa.PDSKJI-LGBT-1PDSKJI-LGBT-2

Indonesiana - January 15th, 2016

Five Things That Prove the Terror Attack in Indonesia is a Failure

Terror group fired gunshots and explosives in downtown Jakarta, Indonesia on Thursday (01/14). Indonesian people fight back by taking the attention away from the terrorists, albeit unintentionally.

1. Girls are more interested to the handsome police officer deployed on site

Polisi Ganteng Bom Sarinah

Twitter user Andika Prameshwara said “This cop should be a model” with hashtag #kaminaksir. It means “we hava a crush” in Indonesian. Other female Twitter user expressed her curiosity with the tan slicked-back-hair officer with ironic eyeglasses. She said “I’m very curious about this guy. Any possible identification is highly appreciated.”

Later she expressed her disappointment to find out that the officer is happily married with two kids: “SO it’s true. He’s married with two kids. That’s Indonesia, things can be too perfect ;’)”.

2. Others are more interested with the sling bag worn by the police officer

Debbie Nasta Coach Police Bag

 

Debbie Nasta said on Path that the Coach sling bag worn by the officer is only $800 bucks. Other Twitter user dissected the wardrobe. A leading fashion designer Ivan Gunawan praised the officer’s sartorial style. He said “I love their style. They look really good and really tough. Please protect us, Mr Policeman.”

3. One satay vendor decided stick around and serve satays even if he’s only 300 feet away

Satay Vendor Jakarta Sarinah Terrorist And people continue ordering his delicious char-grilled chicken skewers with peanut sauce. But seriously, Indonesian chicken satay is THAT good: Chicken Satay, Penang
When interviewed by Kompas, the satay vendor decided not to leave the cart because they don’t want their satays (and the peanut sauce) to be looted.

“When we heard the second bomb and saw people ran away, I was going to follow. Then I remember my satays and I decided to stick around,” said Heni.

4. Street vendors are selling goods like nothing actually happened

Cigarette, bottled water, and steamed peanut vendors are making quick bucks from curious people who gathered a few feet away from the bombing site. Including the obviously thirsty police squad.

Jakarta Bomb Peanuts Kacang

Twitter user Frederic A. Ferry said that terrorists in Indonesia are “treated like nuts” which is a slang for “being ignored”.

Twitter user @Bebiben joked if the ISIS commander saw how Indonesians are unaffected by the terror attack, he will cry in tears because his self-worth will drop to zero.

Other Twitter user Mega Simarmata said that bombs can explode, terrorist can hide, but street vendors can only be busy selling their goods.

5. People are more interested to selfie at the attack site

Rather than dwelling in fear and anger, like what the terrorists actually wanted.
jakarta terror sarinah selfie

 

This is one of the largest terror attack in the world’s largest muslim country since 2009. However, people in Indonesia refused to be intimidated by fear and terror. They decided to laugh at the terrorists and move on with their life. WE ARE NOT AFRAID.
Jakarta We Are Not Afraid

Opinion - June 26th, 2015

Miripnya Libur Idul Fitri New York dan Pernikahan Gay

Gay Marriage and Idul Fitri

Idul Fitri tahun ini spesial bagi umat muslim di New York. Ihwalnya, mulai 2015 walikota DeBlasio meliburkan sekolah pada hari besar umat muslim. Ribuan siswa di kota New York bisa merayakan Idul Fitri dengan khusuk bersama keluarganya dan orang-orang terdekatnya.

“Umat Muslim memang minoritas, tapi keberadaan kami harus diakui,” ujar Ilham Atmani, warga Brooklyn dari Moroko. Siswa juga menyuarakan kegembiraannya. “Ini kemajuan besar,” ujar Helal Chowdhury, siswa SMK di Brooklyn.

Jadi, libur Idul Fitri di New York tidak sekadar anak-anak tidak harus masuk sekolah untuk merayakan hari besar agamanya. Libur ini merupakan pengakuan bahwa umat muslim adalah bagian sah dari masyarakat di kota New York. Mereka bukan warga kelas dua. Mereka adalah umat yang kegiatan beragamanya diakui oleh pemerintah.

Di sinilah pernikahan gay sangat mirip dengan libur Idul Fitri. Pagi ini, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa pernikahan sejenis diakui secara nasional. Negara bagian tidak bisa lagi melarang pernikahan gay. Tidak ada lagi diskriminasi.

Putusan MA AS itu monumental, karena pengakuan terhadap pernikahan gay tidak sekadar urusan remeh-temeh tentang dua laki-laki melangkah bersama ke pelaminan. Legalnya pernikahan gay merupakan pengakuan bahwa masyarakat gay, lesbian, dan transgender juga bagian sah dari masyarakat. Mereka bukan lagi warga kelas dua. Mereka adalah manusia normal yang perferensi berpasangannya diakui oleh pemerintah.

Libur Idul Fitri dapat membantu mengurangi stigma negatif dan diskriminasi terhadap umat muslim di New York, terutama pasca teror 9/11 pada tahun 2001. Stigma negatif bahwa semua muslim adalah teroris dan pendukung aksi yang keji. Dalam hati, umat muslim bisa berkata dengan mantap bahwa “saya muslim, dan ibadah saya diakui oleh pemerintah”.

Sama halnya dengan libur Idul Fitri, legalnya pernikahan gay dapat mengurangi stigma negatif dan diskriminasi terhadap kalangan gay, lesbian, dan transgender. Stigma negatif bahwa homoseksual adalah penyakit menular dan merusak masyarakat. Studi menunjukkan bahwa homoseksualitas hanya sekadar variasi dari preferensi seksual, dan seorang gay/lesbian/transgender bisa berfungsi sosial secara normal di masyarakat.

Ini mirip juga dengan hak memilih untuk kulit hitam. Undang-undang hak memilih 1965 tidak sekadar melindungi ras kulit hitam untuk memilih, tapi juga mengakui bahwa warga kulit hitam derajatnya sama di depan negara. Diskriminasi terhadap kulit hitam memang masih ada dan meluas, tapi tanpa legislasi itu, perjuangan itu akan lebih berat. Perjuangan umat muslim juga masih panjang, tapi libur Idul Fitri adalah kemajuan yang bagus.

Di Indonesia, banyak kelompok yang diperlakukan seolah derajatnya lebih rendah. Kelompok Ahmadiyah dan Syiah misalnya, mereka didiskriminasikan seolah-olah mereka umat yang tidak berhak untuk ada di Indonesia. Bahwa mereka kelompok racun yang harus diubah atau disingkirkan. Padahal mereka lahir di Indonesia, bicara bahasa Indonesia, dan turut membayar pajak untuk membangun jalan dan infrastrukur yang tiap hari kita lewati ketika ke kantor atau sekolah. Saya rasa mereka mencintai negara ini seperti halnya saya mencintai Indonesia.

Kadang-kadang saya bertanya, apakah saya sudah cukup banyak berbuat untuk melindungi orang-orang yang terdiskriminasi.

Politik - April 28th, 2015

Refleksi sebelum eksekusi hukuman mati

Mary Jane Veloso

Tulisan ini telah diupdate. Scroll ke bawah untuk rincinya.

Sebetulnya, sebagai masyarakat, apa yang kita inginkan dari hukuman mati? Apakah karena ingin menunjukkan kedaulatan Indonesia atas bangsa2 lain? Nanti tengah malam, peluru panas akan menembus Mary Jane Veloso dan mengambil nyawanya. Esok harinya, Indonesia mungkin akan sedikit lebih berdaulat daripada kemarin, tapi apakah itu kita mengambil langkah yang tepat untuk menunjukkan kedaulatan?

Hukuman mati itu ekstrim, karena nyawa yang sudah diambil tidak bisa diganti ataupun dikembalikan. Maka ketika mendukung hukuman mati, sebagai masyarakat kita perlu memperimbangkan apakah kita sudah mengambil jalan yang tepat untuk mencapai tujuan kita. Dalam kasus Mary Jane Veloso, kita ingin kejahatan narkoba dibuat jera dengan hukuman mati. Akan tetapi, studi menunjukkan bahwa hukuman mati tidak tentu menurunkan tingkat kejahatan.

Di sini repotnya hukuman mati: hasilnya tidak tentu, tapi eksekusinya tentu akan mengambil nyawa orang untuk selama-lamanya. Apakah kita sedang bereksperimen dengan nyawa?

Lalu kenapa kita masih mendukung hukuman mati? Apakah karena agama mengatakan demikian? Tapi apakah semua umat beragama (yang diakui Indonesia) mendukung hukuman mati? Apakah kita berhak menghilangkan nyawa orang atas keyakinan pribadi kita terhadap penafsiran agama?

Pro-kontra hukuman mati sering terjebak dalam asumsi-asumi tak terverifikasi, padahal dampak hukuman mati itu permanen. Sedihnya, pro-kontra ini justru melupakan masalah nyata yang mendorong terjadinya kriminalitas: kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kemandulan penegak hukum.

 

Update: Eksekusi Mary Jane Veloso telah ditunda.

Politik - June 17th, 2014

Antara Prabowo dan Jokowi

prabowo-jokowi

Update: baca juga tulisan adik saya apakah Jokowi melanggar sumpahnya.

Prabowo adalah sosok yang memikat ketika muncul lagi tahun 2009. Ia menunjukkan kepedulian kepada rakyat lewat konsep ekonomi kerakyatan dan juga pemberdayaaan petani serta nelayan. Dengan lantang, ia mengkritik kebocoran kekayaan negara karena pengaruh asing.

Kalah di tahun 2009, Prabowo muncul lagi tahun 2014. Ia digambarkan sebagai pemimpin yang tegas dan berani. Kampanye Gerindra berbuah manis. Partai nasionalis di bawah pimpinan Prabowo menang 11% suara, naik dari 4% pada Pemilu 2009.

Akan tetapi, semakin mendekati pilpres, Prabowo dan partainya terlihat tidak tegas dalam bersikap. Continue reading …

Politik - June 21st, 2010

Tifatul Sembiring dan Mirip Isa/Yesus

tifatul sembiring menanggapi video mesum

Dalam konferensi pers menanggapi video seks artis (17/06), Menkominfo Tifatul Sembiring meminta pihak Kepolisian agar segera menuntaskan kasus video porno supaya kasus mirip-mirip ini menjadi clear. Kemudian dia menggunakan analogi penyaliban dalam agama Islam dan Kristen:

Tanpa kejelasan, persoalan ini akan terus menggantung. Dan jika soal mirip-mirip ini tak dapat ditegaskan berdasarkan penyelidikan aparat hukum, maka ini dapat menghabiskan energi masyarakat ketika banyak persoalan lain yang tak kalah penting perlu mendapat perhatian dari seluruh komponen bangsa.

Berkait dengan isitlah “mirip” ini, tanpa berpretensi apa-apa saya sampaikan dalam forum, ada pelajaran dari sejarah yang juga menjadi pengetahuan kita bersama. Dalam soal analogi mirip ini saya katakan dalam sejarah terjadi dimana ummat Islam meyakini bukan Nabi Isa as. yang disalib, melainkan seseorang yang mirip Nabi Isa-ah yg disalib. Sementara ummat Nasrani meyakini bahwa Yesus-lah yg disalib. Dengan tidak bermaksud mengaitkan aspek teologi, soal mirip-mirip ini ternyata berimplikasi panjang dalam sejarah.

—dari Facebook Page Tifatul Sembiring

Pernyataan ini menuai kritik tajam dari berbagai kalangan karena analogi itu mengatakan siapa yg disalib sebaiknya tidak menggantung. Harus diclearkan, apakah yang disalib itu mirip Isa atau Yesus. Harus diclearkan perbedaan Islam & Kristen dalam melihat penyaliban, karena implikasinya panjang.

Inilah sejatinya yang melukai umat beragama, karena semestinya perbedaan ajaran agama tidak diselesaikan. Ummat Islam punya keyakinan sendiri, demikian juga ummat Kristiani, karena negara melindungi kita untuk memeluk agama yang kita yakini.

Bagi beberapa umat muslim, pernyataan Tifatul tidak salah. Tentu mereka benar, karena Islam memang memiliki perspektif sendiri melihat kejadian penyaliban tersebut. Hal seperti ini biasa dipercakapkan di kalangan internal muslim. Yang menjadi masalah adalah ketika pernyataan itu dilempar ke ruang publik, oleh seorang negarawan. Tentu saja itu memancing kemarahan, karena pernyataan internal itu telah mengancam rasa aman dalam beragama.

Pernyataan Tifatul juga bisa menyeret Menkominfo ke pasal penodaan agama yang kontroversial itu. Tapi saya rasa itu tidak perlu. Yang diperlukan adalah Tifatul Sembiring meminta maaf dengan tulus atas analogi yang insensitif itu. Lagipula saat ini PKS sedang merubah citra dari partai Islam ke partai inklusif.

UPDATE: Bijaklah dalam berkomentar, jangan melemparkan kebencian ke agama lain. Yang melanggar akan dihapus.