Dalam Mihrab Cinta

God works in mysterious way. Tapi bagi Habiburahman El Shirazy, God works in sinetron’s way. Dan pengarang Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih itu kembali mengulang resep yang identik di film Dalam Mihrab Cinta.

DMC dimulai dengan Syamsul (Dude Herlino) yang diusir dari pesantren karena difitnah mencuri oleh Burhan (Boy Hamzah). Pulang ke keluarganya, alih-alih dibela, Syamsul justru dimarahi Ayahnya dan ditempeleng oleh kedua kakak laki-lakinya dengan sound effect semutakhir film kung fu. Perlakuan ini akhirnya memaksa Syamsul melarikan diri ke Semarang, dan kemudian Jakarta. Di sana, Syamsul benar-benar menjadi copet, hingga suatu hari dia mendapatkan dompet milik Sylvie (Asmirandah) yang kelak akan mengubah hidupnya 180 derajat.

Film yang disutradari oleh pengarangnya ini terlalu banyak mengandung  kebodohan blooper dan kebodohan plot. Tidak ada salahnya berusaha memaafkan Habiburahman yang masih hijau di bidang penyutradaraan melakukan kebodohan blooper, walaupun beberapa—seperti berita copet di Semarang masuk headline koran Jawa Timur—terlalu absurd. Akan tetapi kebodohan plot sangat susah diterima.

Seperti misalnya nasib Syamsul yang bisa berubah dari copet menjadi ustad dengan sangat cepat dan ajaib, tanpa kerja keras yang istimewa. Seperti juga asmara segitiga Syamsul, Sylvie, dan Zizi yang diselesaikan dengan praktis oleh Habiburahman. Pernikahan memang kembali menjadi tema sentral film ini, setelah semua masalah Syamsul terselesaikan di pertengahan film, maka Dalam Mihrab Cinta dilanjutkan dengan episode Syamsul mencari istri. Dan sama seperti AAC dan KCB, pernikahan itu memang tanpa pacaran.

Nampaknya nikah tanpa pacaraan inilah yang selalu menjadi benang merah semua dongeng Habiburahman. Dan anak muda jaman sekarang harus waspada dari propaganda ideologi yang semacam itu.

Dalam Mihrab Cinta
Tagged on:

32 thoughts on “Dalam Mihrab Cinta

  • January 4, 2011 at 10:37 am
    Permalink

    Benang merah Habiburahman: lelaki yg digandrungi banyak wanita :p

    Reply
  • January 4, 2011 at 10:42 am
    Permalink

    semoga filmnya bisa menginspirasi orang dalam mencari jodho :D

    syukron ya akhi herman

    Reply
  • January 4, 2011 at 12:02 pm
    Permalink

    istilahmu ki lho mooon … “propaganda ideologi” wakakakakakakakak …

    Reply
  • January 4, 2011 at 3:06 pm
    Permalink

    Apakah mungkin Habiburahman bikin cerita bertema pernikahan beda agama? :D

    Reply
  • January 4, 2011 at 3:16 pm
    Permalink

    “Dan anak muda jaman sekarang harus waspada dari propaganda ideologi yang semacam itu.”

    kenapa harus diwaspadai akhi, itu kan ajaran agama?

    #eaaaaaa

    Reply
  • January 5, 2011 at 1:46 pm
    Permalink

    diagamamu diharuskan pacaran dulu mon?

    Reply
      • January 7, 2011 at 10:59 am
        Permalink

        ‘Nampaknya nikah tanpa pacaraan inilah yang selalu menjadi benang merah semua dongeng Habiburahman. Dan anak muda jaman sekarang harus waspada dari propaganda ideologi yang semacam itu.’
        =))
        asyeem asyem…. =D
        Ngakak sambil misuh2 aku bacanya mon…

        Count it, sptnya kau akan dapat angka tetep lebih bagus ga pacaran, tapi punya kesepahaman akan suatu pola pikir ketimbang berusaha menyamakan pola pikir dengan pacaran.

      • January 7, 2011 at 11:04 am
        Permalink

        Bagaimana tahu kesepahaman pola pikir kalau nggak ada proses pacaran? :D

      • January 8, 2011 at 9:01 am
        Permalink

        Keems contradict? :)

        kan (utopianya) kita ada pegangan hadits dan qur’an mon. sepaham ke kedua pegangan itu aja. maka, tanpa jatuh bangun menyamakan pola pikir, kita sudah akan punya satu arah pemikiran yang sama kok.

        memang, u hal ini kita akan menjadi bergolong2an, karena memang ada perbedaan pemahaman antara golongan dalam memahami quran dan sunnah. Namun, spt dalam kisah2 Habiburrahman itu, itu mereka satu golongan besar. Tanpa penamaan golongan, mereka dari golongan yang sudah seide akan tidak pacaran sebelum menikah.

        simpel kan? :)

  • January 5, 2011 at 3:33 pm
    Permalink

    kalimat terakhir paragraf keempat dan keseluruhan kalimat paragraf kelima kayaknya menjadi inti yang ingin kamu sampaikan, herman. :p

    Reply
    • January 5, 2011 at 7:47 pm
      Permalink

      Lha gimana lagi, selain menulis tema besar film2 Abik, tidak ada hal layak yang bisa dibahas.

      Reply
  • January 6, 2011 at 2:15 pm
    Permalink

    mungkin si habiburahman percaya dengan “pacaran setelah nikah” bukannya “pacaran sebelum nikah” :D

    Reply
  • January 6, 2011 at 4:17 pm
    Permalink

    sebenarnya aku sih setuju ajah sama tema dimana pacaran setelah nikah menjauhkan kita dari fitnah dan godaan syetan tapiii jenuh juga sama alur film2 kang abik yang monoton itu2 ajah. gitu2 ajah. harusnya ada pesan2 lain yang nggak ditemui di film2 sebelumnya. jadi wawasan keagamaan kita bertambah. ohya sesekali merasa filmnya kang abik ini semua rata2 lebay. tokoh utama pasti sosok yang luar biasa baik dan mendekati sempurna. pdhl di dunia ini kan nggak ada yang kek gitu. #ngosh

    Reply
  • January 6, 2011 at 4:19 pm
    Permalink

    Kayaknya benang merahnya:
    “Kalau suka sama cewek, kawini! Kalau ada yang disukai lagi, ya kawin lagi!”

    :))

    Reply
  • January 7, 2011 at 10:49 am
    Permalink

    Kalo sampe gw nonton ini pasti gara2 Asmirandah :))

    “propaganda ideologi”… huahahahahahahaha! Kang Abik berasa Goebbels :))

    Reply
  • January 8, 2011 at 2:18 pm
    Permalink

    Betul kata mas Eko, mereka berasal dari satu golongan besar yang sudah seide dalam hal nikah tanpa pacaran..dan kelihatannya bahagia juga.
    Yang kita tunggu film yang tidak itu-itu aja (temanya) biar ga bosen.:)

    Reply
  • January 9, 2011 at 3:59 am
    Permalink

    hoiii….

    smua yang ditulis Pak Habib bukan dongeng…
    dan sungguh jika kau tetap ingin menjaga para pemuda dengan kata kata mu “Dan anak muda jaman sekarang harus waspada dari propaganda ideologi yang semacam itu” …. tetep aja kayak gitu.
    hidup itu pilihan brooo…memilih untuk berpegang pada Al-Qur’an yang akan menuntun mu di sempitnya kuburmu yang disana tidak akan ada pertolongan kecuali pertolongan Allah Swt semata atau memilih selalu mendewa-dewakan akal sehat. sungguh segala sesuatu tak bisa hanya dinalar dengan akal sehat.
    atoo kalau kalian memang tergila-gila sama asmirandah,, sekali lagii saya bertanya…MEMANGNYA ASMIRANDAH BISA MENYELAMATKANMU DI AKHIRAT BEROOOOOO????”

    yahhh…nikmatilah asmirandah…
    jangan pernah bilang semua karya pak Habib hanya dongeng…buktikan kalau kamu bisa jadi penulis novel best seller no 1 di Indonesia..silahkan tulis kalau karya pak Habib DONGENG dan SAMPAH….

    Talkless do More berooooooo…..

    Reply
  • January 9, 2011 at 3:14 pm
    Permalink

    kalau novel jadi pilem, emang akan bayak kemungkinan yang bagus (termasuk nilai yg disampaikan tanpa bermaksut menggurui-karena pakai sudut pandang penulis)yg terbuang. The result is : pilem gak seenak wktu kita baca novelnya..seprti laskar pelangi movie, berubah tidak sekeren novelnya….seperti juga Ketika Cinta Bertasbih….pdhl ketika baca novelnya ada byk pesan yg tersampaikan…ttg fiqih dll….
    dan tentang klimaks review ini :
    Nampaknya nikah tanpa pacaraan inilah yang selalu menjadi benang merah semua dongeng Habiburahman. Dan anak muda jaman sekarang harus waspada dari propaganda ideologi yang semacam itu.
    please deh….kalau orang luar ramai-ramai propaganda sex before merit, knp pula kita harus waspada dengan pacaran after merit….?

    Reply
  • January 9, 2011 at 3:18 pm
    Permalink

    kalau novel jadi pilem, emang akan bayak kemungkinan yang bagus (termasuk nilai yg disampaikan tanpa bermaksut menggurui-karena pakai sudut pandang penulis)yg terbuang. The result is : pilem gak seenak wktu kita baca novelnya..seprti laskar pelangi movie, berubah tidak sekeren novelnya….seperti juga Ketika Cinta Bertasbih….pdhl ketika baca novelnya ada byk pesan yg tersampaikan…ttg fiqih dll….
    dan tentang klimaks review ini :
    Nampaknya nikah tanpa pacaraan inilah yang selalu menjadi benang merah semua dongeng Habiburahman. Dan anak muda jaman sekarang harus waspada dari propaganda ideologi yang semacam itu.
    please deh….mestinya yg diwaspadai kan propaganda sex before merit, kok ribut dgn yg sebaliknya?

    Reply
  • January 10, 2011 at 1:47 pm
    Permalink

    kayak nya mas herman saksonono ini menganggab semua agama yang ada ini tidak sesuai akal sehat manusia ya ?
    Atau malah menurut anda adanya agama-agama ini tidak sesuai dengan akal sehat ya ?

    Reply
  • January 14, 2011 at 8:53 am
    Permalink

    tema sama yg selalu diulang2… tinggal ganti setting dan karakter… plus bumbu2 ga masuk akal… benar2 membosankan

    Reply
  • January 19, 2011 at 2:30 pm
    Permalink

    dongeng yg Mon, ah Rusa gak suka dongeng Mon :D

    Reply
  • February 2, 2011 at 5:43 am
    Permalink

    Rung tau nonton filem-filem sing disebut kuwi mau. Ketoke kok mung ngono-ngono wae.

    Reply
  • February 20, 2011 at 1:18 pm
    Permalink

    ndak perlu nntn film ini, aku dah dpt propaganda ideologi yg begitu gencaarrr pas awal2 kuliah,, meskipun labelnya sama2 Islam, tp keislaman setiap org ya tergntung hati nuraninya,, dan nuraniku jelas menolak ideologi ini! #curcol

    Reply
  • March 7, 2011 at 9:59 pm
    Permalink

    Nikah tanpa pacaran = beli kucing dalam karung :). Cuma mungkin menurut Habiburrahman, kita beli saja karungnya dan kemudian berdo’a semoga isinya kucing yg cantik dan baik (koq kayak gambling yah).

    Reply
  • April 9, 2011 at 8:52 pm
    Permalink

    kalau definisi pacaran itu adalah saling mengenal latar belakang, keluarganya, dan pekerjaannya, ow itu sangat saya dukung. nah setelah itu, ndak usah pake lama2, langsung eksyen alias lamarlah gadis pilihannya. ;)

    Untuk semua gadis yang membaca tulisan ini (hihi), tanyakan ke pacar Anda apakah mereka berani melamar Anda a.s.a.p! bila pacar Anda gelagapan, pake sejuta alasan untuk ngeles, tinggalin saja, dia ndak serius dengan Anda. Tinggalin ajah. :D

    Reply
    • April 10, 2011 at 10:21 am
      Permalink

      Pacaran kan bukan seperti cari ternak yang cukup lihat silsilah saja, jadi kalau kenal sebentar lalu diajak kawin, itu bodoh seperti membeli kucing dalam karung.

      Untuk semua gadis, kalau belum kenal betul, jangan langsung ajak kawin pacar Anda. Daripada menderita belakangan.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *