Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1

Sembilan tahun yang lalu, Harry Potter cilik meninggalkan kamarnya—lemari sempit bawah tangga—di Privet Drive. Hagrid si raksasa membawanya ke ke peron 9¾, di mana sebuah kereta api siap mengantar Harry ke sekolah sihir Hogwarts. Di kastil Hogwarts inilah, Harry bersama Ron dan Hermione menemukan petualangan-petualangan ajaib yang fantastis.

Di Harry Potter and the Deathly Hallows, Harry yang remaja beranjak dari Privet Drive, meninggalkan rumah kecil itu, menghindari kejaran Lord Voldemort yang menginginkan ia mati. Zaman telah berubah. Selepas mangkatnya Dumblodore, jalanan dikuasai oleh penyihir dari kubu Voldemort, sementara Hogwarts dikuasai oleh Snape yang juga mengabdi untuk Voldemort. Harry tidak punya pilihan selain meninggalkan sekolah dan berburu lima Horcrux untuk menghancurkan kekuatan sang Dark Lord. Selama masih ada Horcrux, maka Voldemort tidak terkalahkan.

Jika film-film pendahulu Deathly Hallows ibarat es krim berlapis coklat manis yang harus dinikmati tergesa-gesa, maka film ketujuh ini mengalir seperti novelnya. Tenang dan leluasa. Hilang sudah efek-efek komputer yang dipasang untuk memastikan penonton tidak jemu. Sihir membaur ke dalam road movie ini, membiarkan alur film dibangun oleh konflik tiga sekawan Harry, Hermione, dan Ron; serta ketegangan selama dalam pengejaran para penyihir kubu Voldemort. Dengan suasana serba suram dan gelap, Deathly Hallows lepas dari film Harry Potter yang biasanya semanis gula-gula.

Entah bagaimana nantinya Deathly Hallows bagian kedua. Sutradara David Yates memang menjanjikan bagian pertama film ini mirip road movie, sementara bagian kedua berformat heist movie yang menjadi war movie. Di film kedua tersebut, Harry dan Voldemort akan menyelesaikan pertarungan mereka untuk terakhir kalinya. Dapatkah Yates terhindar dari jebakan klise ala perang Lord of The Ring? Semua akan terjawab pada tanggal 15 Juli 2011. Akan tetapi, untuk saat ini, Deathly Hallows Part 1 adalah film Harry Potter yang terbaik.

Harry Potter and the Deathly Hallows, Part 1

26 thoughts on “Harry Potter and the Deathly Hallows, Part 1

  • November 19, 2010 at 10:35 pm
    Permalink

    Tujuh tahun mon… Petualangan HP dimulai saat usia 11 dan berakhir di sweet seventeen :D

    Dari sekian banyak penonton yg menghujat Yates, saya termasuk yang menyukai gaya penyutradaraan beliau. HP 6 memang sudah seharusnya banyak ngobrol dalam suasana yg suram dengan nuansa warna hijau kelam, sayang durasinya terbatas.

    Hm jadi penasaran nih sama seri ke 7.

    Reply
    • November 19, 2010 at 10:38 pm
      Permalink

      Maksudku filmnya yang pertama tahun kan 2001 :D

      Aku suka Yates. Film Harry Potter membaik di tangannya.

      Reply
  • November 19, 2010 at 10:45 pm
    Permalink

    ummm, tp katanya emang jadi bukan film anak anak lagi ya mon? anak2 yg nonton film HarryPotter I jg udah gede2 kan ya … kasian anak2 sekarang. Aku lebih suka Pooh yg nonsense filosofis lah.

    Reply
    • November 19, 2010 at 11:58 pm
      Permalink

      Harry Potter tumbuh bersama pembaca dan penontonnya ya? JKR butuh 10 utk nulisnya ya?

      Bener, kasian future readernya HP. Mereka menyantap apa yang semestinya dibaca/tonton selama 10 tahun, dalam jangka waktu yg lebih pendek.

      Reply
  • November 19, 2010 at 11:21 pm
    Permalink

    Eh part 2 nya 15 juli 2011? Waaaw pas ulangtaun kita, maaass!! :D

    Reply
  • November 20, 2010 at 12:33 am
    Permalink

    Wah tadi gak kebagian tiket, antrinya panjang mengular…

    tapi senang juga bila film ini lebih dijubeli penonton ketimbang seri Twilight :) *peace*

    Reply
  • November 20, 2010 at 7:21 pm
    Permalink

    Nanti di Harry Potter 8 , Harry potter bakalan nyari Bola naga, buat idupin Sirius, Dumbledore, James, dan Lily Potter

    Reply
  • November 20, 2010 at 9:16 pm
    Permalink

    Padahal aku nggak terlalu berminat lagi atas apa pun yang berkait dengan Potter. Paling nunggu versi DVD. Tapi review Cak Momon ini bikin aku beneran berubah pikiran.
    Nonton ah …

    Reply
    • November 22, 2010 at 11:54 pm
      Permalink

      kalao gt hati2, jangan2 momon dah dikontak WB u/ iklanin HP ^^

      Reply
  • November 22, 2010 at 4:14 pm
    Permalink

    saya ga prnh ntn harpot di bioskop, dan harpot 7 ini brhasil mbuat saya ke bioskop bwt nonton, good review mon

    Reply
  • November 22, 2010 at 4:41 pm
    Permalink

    Ho oh, ini bener-bener film Harpot paling enak untuk dinikmati. Meski aneh nonton Harpot tanpa keliatan kastil Hogwarts sedikitpun :|

    Reply
  • November 22, 2010 at 5:38 pm
    Permalink

    film hp 6 bagus, hp 7 pertama bagus kok, senang lihat banyak adegan di luar hogwart :D

    adegan pornonya ga penting bangeeeeeet, adegan dansanya harry dgn hermione aku suka :mrgreen:

    Reply
  • November 22, 2010 at 11:56 pm
    Permalink

    maka film ketujuh ini mengalir seperti novelnya.
    ========
    ow gitu ya mon?
    luar biasa kalau begitu.
    Mungkin sutradara benar2 fans/penikmat Saptalogi kisah ini..

    Reply
  • November 24, 2010 at 7:29 am
    Permalink

    saya setuju sama statement terakhir…
    best HP movie till now… :D

    Reply
  • November 24, 2010 at 8:16 am
    Permalink

    wah… beneran nih…!! keren nih…!!!

    Reply
  • November 25, 2010 at 2:35 pm
    Permalink

    hmmm… i hv to say, i ‘feel’ disagree w u this time, Mon.. :) the only thing i enjoyed watching this movie is just the grown up Harry.. and i just fell for his eyes.. ;)

    Reply
  • December 16, 2010 at 3:47 pm
    Permalink

    seruu abis.
    bener aku jg pertamakali ke bioskop yg HP7 ini.
    emang gokiil deh.
    yg adegan dansa kurang mantaap ahh harry nya keliatan bgt ga bs dansa ,
    truus yg aku kagumin bellatrix jahaat abiis! pas banget ama aktingnya.

    Reply
  • Pingback: Harry Potter and the Deathly Hallows, Part 2 - Reviews - hermansaksono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *