Buy Soma Online Without Prescription

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for November, 2009

Reviews - November 30th, 2009

Ninja Assassin

200px-ninja_assassin_poster Dalam tahun-tahun ini penonton dimanjakan dengan film-film gebrakan. Film tidak lagi sekadar laga saja, efek saja, atau cerita saja, tetapi kombinasi yang keren antara ketiganya. Saya tidak mengerti mengapa Wachowsky bersaudara—mereka yang bikin The Matrix—membuat film Ninja Assassin yang biasa-biasa saja. Ceritanya tidak baru. Raizo (dimainkan  oleh Rain) adalah seorang ninja paling top yang memberontak dari klan-nya, lalu mau balas dendam. Setiap beberapa menit ada adegan kelahi yang oke, tapi saya pernah nonton yang lebih mengigit. Akting? Rain sama sekali tidak akting di film ini. Tidak disarankan untuk mereka yang membayangkan The Matrix atau Kill Bill.

Reviews - November 29th, 2009

New Moon

new-moon-poster2-692x1024

Bella Swan memang memiliki selera romansa yang ekletik. Setelah ditinggal oleh Edward Cullen—pacarnya yang vampir—supaya mereka tidak saling menyakiti (cerita yang familiar sekali), Bella menjadi frustasi. Untunglah ada Jacob Black yang hangat sehingga Bella bisa melupakan Edward (juga sangat familiar). Jacob, yang merupakan penduduk asli desanya Bella, ternyata setali dua uang dengan vampir.

Cewek-cewek—kemungkinan besar—bakal menyukai New Moon karena inilah kisah romans yang susah mereka dapatkan. Cowok-cowok akan membencinya, karena ini adalah kisah romans yang tidak mungkin kami lakukan.

Jika saya boleh jujur, New Moon adalah perbaikan yang lumayan dari Twilight. Memang benar bahwa film ini mengandalkan narasi visual, dan bukan karakter maupun akting, tetapi minusnya adegan heroik dan lebay membuatnya menjadi film yang biasa-biasa saja, bukan film jelek.

Politik - November 23rd, 2009

Dimanakah Pemberhentian Kapolri dan Jakgung?

Pernyataan SBYAda banyak hal yang diharapkan masyarakat dalam pernyataan SBY semalam. Pertama adalah menghentikan kasus Bibit-Chandra (entah bagaimana caranya, presiden dan tim ahlinya pasti punya solusi yang lebih baik); dan kedua memberhentikan petinggi-petinggi Polri dan Kejaksaan yang "bermasalah". Harapan pertama dipenuhi dengan samar-samar melalui sound bite malam ini:
Opsi lain yang lebih baik yang dapat ditempuh adalah pihak kepolisian dan kejaksaan tidak membawa kasus ini ke pengadilan—detikcom.
Sementara itu, harapan kedua tidak dipenuhi, bahkan secara implistpun. Bayangkan saja ribuan rakyat menonton TV, siap melihat tokoh antagonis dibinasakan, dan tiba-tiba pahlawannya meneriakkan "Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh" lalu disambung "Sekian". #Cuih! Ada sebuah resiko ketika presiden memberhentikan seorang pejabat karena tidak sesuai dengan kehendaknya, karena akan selamanya itu tercatat dalam sejarah. Tentu saja, kita memaknai pemberhentian itu dengan pas, karena kita mengerti konteksnya. Tapi generasi depan tidak. Kejadian ini bisa dimanfaatkan menjadi argumen presiden di tahun-tahun ke depan untuk membenarkan tindakan serupa, tapi dalam dalam konteks yang tidak tepat. Atau lebih buruk lagi: untuk melindungi kepentingannya sendiri. Tentu saja, presiden masa depan yang baik akan menggunakan preseden itu untuk hal bagus, tetapi apakah tidak ada jalan lain yang lebih aman? Seperti misalnya melakukan pendekatan balik layar ke kejaksaan/polri untuk menghentikan kasus ini sehingga sejarah mencatat Kejasaan atau Polri menghentikan kasus ini karena buktinya kurang.

Politik - November 4th, 2009

Bibit-Chandra, Anggodo, Anggoro, KPK, Susno

Anggodo Saya senang sekali dalam hari-hari ini, karena tiba-tiba masyarakat begitu peduli mengikuti proses hukum negara ini. Tentu saja, nantinya—pelan-pelan—kasus ini akan dikupas, dan—pelan-pelan—akan semakin pedih. Beberapa dari kita mungkin akan kecewa dengan hasilnya, karena bisa saja ini tidak sehitam-putih yang kita kira; atau minimal orang-orang ternyata tidak berlaku hitam putih. Tapi nggak masalah, bahwa kita semua jadi terlibat dalam proses politik ini adalah sebuah sekolah penting bagi bayi demokrasi gendut bernama Indonesia.

Reviews - November 3rd, 2009

This Is It Michael Jackson

200px-michael_jacksons_this_is_it_poster The Greatest Concert That Never Was—konser terhebat yang tidak akan pernah dipentaskan. Ada rasa miris ketika melihat "Michael Jackson This is it" di bioskop: konser ini telah disiapkan dengan sempurna dan terpaksa harus batal lantaran bintang utamanya Michael Jackson menemui ajalnya pada tanggal 25 Juni lalu. Melalui teknik editing yang rapih, sang Sutradara Kenny Ortega mengemas potongan-potongan rekaman gladi bersih MJ menjadi seperti sebuah konser betulan. Tentu saja gladi bersihnya tidak sempurna 100%, tapi untuk seniman sekaliber MJ, tampil 40% saja sudah bagus banget. Dan apa ya ... gerakannya enteng dan tarikan suaranya natural, bukan hasil hapalan. Gayanya mengarahkan tim-nya juga bisa menjadi sorotan khusus, MJ cenderung menggunakan kata sederhana untuk mengarahkan timnya. Seperti ketika mengarahkan music directornya dalam menggarap The Way You Make Me Feel, MJ berkata "let it [the music] simmer"—biarkan musiknya matang pelan-pelan—maksudnya temponya jangan terburu-buru dinaikkan. Kalau Anda suka lagu-lagunya Michael Jackson, ini adalah konser farewell terakhir dia. Sedih memang harus kehilangan musiknya, apalagi melihat stamina Michael yang nampak kurang tenaga di bagian-bagian akhir film ini. Update... beberapa review lain:

Politik - November 2nd, 2009

Saya Pake Baju Hitam

dukungkpk Hari ini saya pakai baju hitam, untuk memperlihatkan ke publik kalau dukungan ke KPK itu masif. Apakah saya ikut-ikut euforia? Iya, karena semakin banyak yang ikut euforia ini maka hangat-hangat-tahi-ayamnya akan semakin longlasting. Bagus kan?