hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for January, 2007

January 31st, 2007

3 Bunga Merah Besar

Tiga Bunga MerahDulu, waktu main ke Singapura, saya beli tiga kuntum bunga plastik yang besar buat ibu saya. Bentuknya bagus, kayak bunga betulan, warnanya merah. Repotnya, sepanjang Orchard Road saya terpaksa menenteng tiga bunga feminim yang panjangnya 70 senti itu. Memang bikin penat, tapi minimal tidak serasa orang sinting, karena tidak ada tatapan aneh ataupun lirikan menghakimi dari para singapurawan maupun singapurawati. Tidak seperti kalau di tempat kelahiran saya. Lagipula, udara Singapura segar dan trotoarnya luas bersih. Nyaman sekali buat pejalan kaki yang menenteng 3 bunga merah besar seperti saya.

Sepulangnya di bandara Semarang, lagi-lagi saya harus menenteng tiga bunga yang mencolok mata tadi, walaupun kali ini lebih repot karena bawaan saya ditambah sebuah koper yang berat. Suasananya juga beda, airport Ahmad Yani tentu saja bertolak belakang dengan Changi. Sudut-sudut yang kumuh disesaki wajah prihatin—plus bau-bau anehnya—rupanya mengingatkan halus kalau saya sudah kembali ke dunia nyata.

Dalam perjalanan menuju parkiran, ada tiga orang bapak sopir taksi yang sedang bersandar di pagar. Dengan gerakan tiba-tiba, salah satu bapak itu dengan lancang menyentuh bunga plastik saya. Lho apa ini, pikir saya. Kemudian dia tersenyum, bersandar ke pagar dan bilang ke teman-temannya, “Tenan to! Mung kembang apus-apusan kok.” Artinya, “Benar kan! Cuma bunga palsu kok.”

Oalah, bapak ini cuma mau memastikan itu bunga palsu, bukan bunga betulan.

Entah kenapa, tapi saya malah senang bapak tadi tidak enggan memastikan bunga itu bukan betulan. Mungkin, si bapak merasa kalau saya dan dia itu cuma saudara jauh. Kalau saudara buat apa enggan?

Dalam hati saya tersenyum simpul dan berpikir, “I am home

January 29th, 2007

Let’s Judge Books by Its Cover


Jangan Menoleh Ke Belakang, oleh Okky Asokawati. Wajar kan kalau kita bergumam kenapa tidak boleh menoleh ke belakang? Apakah rambut Okky Asokawati yang menutupi bagian armpit Okky mengisyaratkan bagian back yang lebih parah lagi?

Resep Puding Susu Kedelai. 38 halaman tentang cara membuat satu macam puding. Jangan-jangan nonfiksi.

Cara Mencegah Kebotakan. Buku teknik mencegah kebotakan dengan sampul pria yang sudah botak.

January 27th, 2007

Silit

Andai negeriku sudah makmur,
Ekonomi tumbuh, kokoh dan subur.
Para sarjana berjejal berebut membangun negara,
Dan tiap manusia sehat sentosa bahagia,
Aku mau punya silit yang ada lapisan anti-bakterinya.

Lihat juga

January 27th, 2007

Perjudian DPR

January 26th, 2007

Anekdot Membeli Makanan Bonus Binatang

Kalau misalnya pesan es teh manis, benak kita tentu membayangkan dikasih satu gelas air seduhan daun teh, gula dan es batu. Kalau misalnya dikasih tambahan rambut atau potongan kuku, mestinya kita menolak. Jijay gituloh. Tapi bagaimana kalau benar-benar terjadi?

Pecel Lele + Belatung

Mungkin ini kisah kandungan proteinnya paling tinggi. Kemarin, adik saya beli lele bakar di warung pinggir jalan. Setelah makan selesai, di piring ada sesosok putih bergerak meliuk-liuk. Jelas bukan Inul. Ternyata itu adalah belatung, entah dari nasi apa lele. Akhirnya sih adik saya digratisi, cuman ya… sekali belatung tetap belatung. Makan lele dengan belatung; nol rupiah. Jijik dan muntah-muntah karena belatung: priceless.

Caramel Frappe + Rambut Barista

Membeli minuman di cafe franchise itu seharusnya rasa, layanannya sama. Beda dengan cafe franchise ini. Saya beli Caramel Frappe, saya minum sampai habis dan kering, lalu dengan rakusnya saya juga membuka tutupnya untuk menghabiskan es batu yang tersisa. Apa yang saya dapati sodara-sodara? Sehelai rambut panjang! Dengan berakting marah saya menunjukkan ke mbak yang jaga kasir. “Gimana sih kok ada rambutnya!” Akhirnya frappe yang sudah saya habiskan diganti dengan 1 gelas frappe baru. “Acikk! 2 for the price of 1!”

Es Teh + Semut

Ini pengalamannya Oggy, teman kuliah. Dia pesan satu gelas es teh manis di warung pinggir jalan. Mbak yang melayani rupanya overworked dan underpaid sehingga tampangnya bersungut-sungut. Waktu es tehnya datang dan diaduk, Oggy mendapati seekor semut terapung di es tehnya, sehingga Oggy minta es tehnya diganti. Mbak yang sudah bersungut-sungut tentunya tambah bersungut-sungut, walaupun akhirnya mengambil es teh Oggy dan membuatkan es teh baru karena tidak tahan beradu argumentasi dengan Oggy. Setelah sekian lama, si Mbak Sungut datang kembali, membawa es teh manis yang baru. Oggy mengaduk lagi es teh barunya, dan ternyata… ada semutnya lagi!

Anda ingin berbagi kisah yang lain?

January 25th, 2007

Refleksi Blood Diamond

Blood Diamond bukanlah film yang historically significant. Ceritanya sesederhana sebuah road movie biasa, walaupun mengoyak hati. Tokoh pertama adalah Solomon Vandy, seorang nelayan di Sierra Leone yang keluarganya tercerai-berai ketika desanya diserang kelompok front revolusi. Solomon akhirnya disekap dan dijadikan tukang tambang berlian untuk mendanai persenjataan revolusi. Tokoh kedua, Danny Archer, seorang penyelundup berlian yang mengetahui kalau Solomon menemukan sebuah berlian besar. Danny, yang nyawanya terancam karena operasi penyelundupan terakhirnya gagal, membujuk Solomon untuk membantu menyelundupkan berlian itu. Sebagai imbalan, jika penyelundupannya sukses, Solomon dapat menyatukan dan berkumpul lagi dengan keluarganya. Dengan menyeret segudang konflik dan perbedaan, mereka berdua memulai perjalanannya.

Menonton film ini rasanya seperti dejavu, seperti nonton film holiwut lain. Akan tetapi, film ini menyentuh kita melalui backstorynya tentang pemberontakan di Sierra Leone. Bagaimana kaum pemberontak radikal dengan keji membunuh penduduk satu kampung dengan bedil, sementara yang tersisa dipotong tangannya. Juga bagaimana para pemberontak mendidik anak-anak kecil menjadi militan berdarah dingin, yang antara lain dengan mengajari tangan-tangan kecil itu membunuh tawanan dengan bedil. Film ini mempertanyakan kemanusiaan manusia, kenapa nyawa menjadi remeh temeh?

Sebetulnya Blood Diamond punya misi sekunder, yaitu mengajak kita bepikir dua kali sebelum membeli berlian. Boleh jadi, berlian tersebut dipakai untuk mendanai persenjataan. Tetapi, karena penduduk negara kita cukup miskin dan jarang nonton film —apalagi beli berlian—pesan yang satu ini lebih nyantol: bagi sebagian besar kita, ketentraman sudah menjadi bagian hidup yang lazim. Taken for granted.

Pasti ada yang membantah. “Negara kita ini penuh gonjang-ganjing kok!”

Betul, tetapi mari kita ingat sekali lagi kapan kita pernah merasa was-was akan ditembak oleh militan sewaktu sedang asyik jalan-jalan. Atau was-was tangan kita akan dipotong tanpa alasan yang jelas. Atau tiba-tiba disekap dan disuruh kerja paksa dibawah acungan bedil. Saya cukup percaya kalau rasa aman dari ancaman sudah lazim kok di negara kita.

Saya mikir lagi…

Ah siapa bilang. Tentu saja nyawa kita tidak terancam oleh gerakan revolusi bodoh seperti di Sierra Leone. Tetapi pemerintah masa lalu dan sekarang telah menghasilkan sebuah sistem kacau-balau yang mengancam nyawa rakyatnya. Bedanya dengan Sierra Leone, sekarang kita bisa berteriak sebelum segalnya jadi lebih runyam.

January 24th, 2007

8 Pertanyaan Selama Anda Hidup

Capeknya tinggal di Indonesia yang menganut budaya kolektif itu satu: semua orang ngurusi setiap aspek kehidupan, termasuk yang sangat pribadi. Mulai dari potongan rambut, kebiasaan makan, hingga pekerjaan dan perkawinan. Hasil diskusi dengan Mbak Sushartami menyebabkan saya nulis daftar 8 pertanyaan wajib yang harus anda lalui selama hidup:

  1. Untuk yang masih SD dan SMP, pertanyaan yang biasanya ditanyakan orang adalah:

    “Ranking berapa?”

  2. Kalau sudah agak gede, 19 tahun lah, pertanyaannya jadi:”

    “Mana pacarnya?”

  3. Kalau sudah kuliah, biasanya diikuti dengan pertanyaan perihal akademik:

    “Sudah skripsi belum?”

  4. Yang baru saja lulus, masih fresh-graduate, tentunya mendapat pertanyaan:

    “Sekarang kerja di mana?”

  5. Lalu kalau udah tuaan dikit, sekitar 25 tahun-an, pertanyaannya jadi:

    “Kapan nih nikahnya?”

  6. Setelah nikah sekian bulan, pertanyaanya berubah jadi:

    “Kapan nih punya momongan?”

  7. Kalau sudah punya momongan, pertanyaannya jadi:

    “Kapan si kakak dikasih adik?”

  8. Kalau anak udah gede-gede dan udah lulus kuliah, orang nanya lagi:

    “Kapan mantu?”

Yah itulah, kurang lebih, kodrat wajib orang Indonesia. Mungkin, kalau kedelapan pertanyaan tadi masih dijawab dengan senyum kecut, anda belum jadi orang Indonesia sepenuhnya. Pertanyaannya, apakah kodrat orang harus seperti orang yang ain? Yang jelas, ada satu pertanyaan yang bikin saya senyum kecut, terjadi pada arisan trah Nenek saya, satu tahun yang lalu:

“Masak kamu sudah kuliah?? Tinggimu berapa?”