Politik - April 8th, 2009
PDI Perjuangan
PDI (dulu tanpa imbuhan Perjuangan) bukanlah partai yang diperhitungkan. Dalam pemilu Orde Baru, partai ini hanyalah underdog yang selalu menempat posisi bontot setelah Golkar dan PPP.
Nasib PDI berubah 13 tahun lalu. Sore 27 Juli 1996, Kantor DPP PDI yang dihuni oleh kubu PDI pro Megawati diserang oleh kubu PDI Suryadi yang dibeking pemerintah. Serangan ini, kabarnya adalah langkah terakhir pemerintah yang kewalahan menggulingkan Megawati dari posisi ketua umum PDI. Menurut catatan Komas HAM 5 orang tewas, 149 orang luka-luka.
Serangan ini tiba-tiba mengangkat Megawati menjadi bintang perpolitikan nasional. Ibarat tokoh telenovela Maria Mercedes yang selalu dizholimi, Megawati yang juga dizholimi menarik simpati wong cilik, rakyat kecil. Semua langkahnya selalu mendapat dukungan kalangan bawah, walaupun Mega sendiri tidak pernah membela atau melakukan apapun bagi mereka.
Pasca reformasi, kubu Megawati mendirikan PDI Perjuangan. Partai ini keluar menjadi jawara Pemilu ‘99 dengan mengantongi 33% suara. Prestasi yang luar biasa mengingat andil Megawati dalam reformasi bisa dibilang tidak dominan.
Sayangnya partai banteng ini tidak terampil berpolitik. Walaupun memegang suara mayoritas di DPR, PDIP gagal membangun koalisi. Akibatnya posisi Ketua MPR, Ketua DPR, dan Presiden diserobot tokoh partai lain. Megawati harus puas dengan posisi Wakil Presiden.
Kekecewaan ini terobati dengan turunnya Gusdur dari kursi kepresidenan pada tahun 2001 dan menempatkan Mega sebagai orang nomor satu Republik Indonesia. Akan tetapi, pemerintahan Mega juga tidak luput dari kontroversi. Salah satu yang sering menjadi sorotan adalah penjualan saham BUMN ke investor asing. Langkah ini bukan sebuah dosa, tetapi tetap sebuah kebijakan yang buruk dalam jangka panjang.
Ketidakmampuan memelihara aset juga terlihat dalam sikap PDIP kepada pendukungnya yang paling loyal. Partai ini tidak pernah menunjukkan kepedulian pada peringatan 27 Juli. Dalam pemilihan Gubernur DKI, PDIP justru mendukung Sutiyoso. Padahal mantan Panglima Kodam Jaya ini adalah pemimpin serangan 27 Juli ke kantor PDI Pro Mega.
Awalnya Golkar adalah partai gabungan dari 63 ormas-ormas kecil untuk mengimbangi PKI. Tahun 1967, presiden baru bernama Soeharto yang (waktu itu) belum punya backing parpol hendak merapat ke PNI. Oleh karena khawatir citra Soekarno yang melekat di PNI, akhirnya ia berjodoh dengan Golkar.
Dilahirkan tanpa tokoh yang memadai, Partai Keadilan Sejahtera bisa naik pamor menjadi salah satu partai yang diperhitungkan. Ini tentu saja berkat dukungan kader dan manajemen yang handal. Pantas saja jika kemudian PKS dilabeli sebagai partai Islam modern, karena manajemennya memang rapih dan profesional.
Bisa dibilang Gerindra adalah partai baru yang gaungnya paling moncer di Pemilu 09. Dengan iklan-iklan yang merakyat dan spesifik, Gerindra berhasil meraih hati masyarakat. Biayanya tentu tidak murah: partai nomer urut 5 ini menggelontorkan dana sebesar 15 Milyar untuk mengibarkan diri di kancah pemilihan umum.