hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Posts Tagged ‘movies’

Reviews - December 1st, 2010

Rapunzel Tangled

Disney Rapunzel Tangled

Menonton Rapunzel seperti kembali ke era Beauty and the Beast. Era film animasi yang hidup oleh dongeng klasik, putri, musik, binatang berkarakter, dan keajaiban. Setelah bertahun-tahun merilis film-film dongeng yang payah, akhirnya keajaiban Disney kembali lagi dengan Rapunzel.

Dongeng ini dimulai dengan seorang raja, permaisurinya yang sakit, dan setangkai bunga ajaib. Ketika bunga itu dipakai untuk menyembuhkan sang permaisuri, kemampuan ajaibnya menurun pada putri mereka. Pada suatu malam, seorang nenek sihir menculik sang putri, menyembunyikannya di menara tinggi, dan menamainya Rapunzel.

Delapan belas tahun kemudian, Rapunzel masih terkurung di menara itu. Dongeng si penyihir tentang betapa seramnya dunia bawah membuat Rapunzel tidak pernah turun. Namun, ketika maling kelas teri bernama Flynn Ryder menyusup masuk ke menara itu, rencana sang nenek sihir menjadi runyam.

Film animasi Disney ke 50 ini digarap dengan mengesankan, walaupun karakter-karakternya tidak sedalam Beast ataupun Ariel. Animator dua tokoh klasik itu, Glenn Keane, sempat menjadi sutradara film ini, sebelum akhirnya mundur dan digantikan oleh sutradara pilihan John Lasseter. Akan tetapi energi Keane masih hidup di Rapunzel. Animasinya sehalus animasi 2D, dan mengagumkan seperti film 3D, apalagi jika ditonton 3D.

Sayangnya, komposer handal Alan Menken seperti kehilangan kemampuannya menyihir penonton. Lagu dan musik pengiring garapannya terasa tanpa tenaga, dan mudah terlupakan. Padahal musik selalu menjadi bintang di film-film Disney. Apakah Menken sudah kehilangan pamornya, sepertinya tidak juga, karena musik garapannya di Enchanted begitu luar biasa.

Walaupun begitu, dengan segala kekurangannya, Rapunzel layak menjadi masuk ke deretan film Disney klasik. Tidak mendobrak, tapi klasik.

Reviews - November 14th, 2010

The House of Sand and Fog

House of Sand and Fog

Kathy Nicolo tidak mengindahkan sebuah amplop. Ia tidak tahu, kalau esok harinya petugas pajak akan datang, menyita rumahnya, dan meninggalkan Kathy tanpa apa-apa. Kesalahan birokrasi membuat Kathy harus pergi menuju entah ke mana.

Massoud Behrani, imigran Iran, membeli rumah itu dengan harga sangat miring. Setelah direnovasi, ia akan menjualnya sesuai harga pasar, untuk mengisi tabungannya yang mulai tipis. Sang mantan kolonel Iran harus terus menjaga gengsi keluarganya. Tak ada yang tahu kalau Massoud adalah pekerja bangunan: pagi hari ia berangkat memakai mercy dan mengenakan setelan, dan sesampainya di lahan konstruksi, ia ganti baju tukang batu.

Saat dinas pajak mengakui kalau penyitaan rumah Kathy (Jennifer Conelly) ternyata adalah salah, situasinya telah terlambat. Massoud (Ben Kingsley) sudah terlanjur pindah, merenovasi rumah, dan melepas pekerjaan tukangnya. Rumah itu tidak bisa dikembalikan dengan harga miringnya. Sementara tanpa rumah itu, Kathy yang tanpa keluarga ataupun pekerjaan tetap, tidak tahu harus hidup di mana.

Konflik kemudian bergulir pelan-pelan, berlapis dan semakin tajam. Tetapi film adapatasi novel Andre Dubus III tidak lantas menjadi panggung emosi yang vulgar. Sutradara Vadim Palerman mengijinkan konflik bernafas dengan wajar, tanpa laku atau dialog yang teatrikal. The House of Sand and Fog telah menyajikan hasrat dan kebutuhan dasar manusia, serta cara-cara kita untuk mengejarnya, yang kadang membuat lupa apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Reviews - November 12th, 2010

Megamind

Megamind

Apa yang terjadi ketika seorang supervillain berhasil mematikan seorang superhero?

Dengan bantuan sinar matahari yang difokuskan, Megamind sang supervillain berhasil membunuh Metroman, superhero kota Metrocity. Setelah menang, apakah Megamind bahagia? Tidak juga. Beberapa minggu kemudian, Megamind mulai bosan, karena kejahatannya tanpa tantangan. Supaya kejahatannya menjadi berarti, Megamind membuat superhero baru sebagai tandingannya. Nah, keadaan memburuk ketika superhero baru itu, tidak bekerja sebagaimana diharapkan.

Ide dari film produksi Dreamworks Animation ini sebetulnya keren sekali. Namun entah kenapa, ketika menjadi film, Megamind menjadi sangat mudah ditebak. Studio di bawah naungan Jeffrey Katzenberg ini mengulang-ulang resep lama Dreamworks yang pernah manjur: pengisi suara aktor top, parodi pop culture, dan protagonis yang konyol. Agak sayang menyia-nyakan aktor sebeken Will Ferrel, untuk karakter yang mirip dengan villain Monsters vs. Aliens.

Jika How to Train Your Dragon menyajikan film yang mendobrak pakem Dreamworks, maka Megamind seperti upaya seadanya untuk mengisi target produksi 3 film animasi dalam setahun.

Reviews - October 21st, 2010

Eat Pray Love

Eat Pray Love - Julia Roberts

Pada sepiring spaghetti bersaus tomat Itali, Liz Gilbert menancapkan garpunya, menarik sesuap besar, lalu melahapnya; menyeruput setiap inci pasta berbalut tomat, basil, dan keju parmigiano reggiano. Seize the day. Melahap harinya, hidupnya, nikmat-nikmat. Di restoran alfresco itu, Liz, menemukan kembali satu potong gairahnya dengan EAT—makan—gairah untuk hidup.

Eat Pray Love adalah tentang pesiar seorang wanita untuk memulihkan hidupnya yang telah kosong. Dirundung proses perceraian yang pahit, Gilbert melepas diri ke tiga tempat: Italia untuk eat, menikmati hidup. Kemudian ke India, untuk pray, mencari kejernihan spiritual. Dan berakhir di Bali untuk mencari keseimbangan antara keduanya. Di pulau dewata ini juga, Liz juga menemukan cinta, love.

Walaupun penggambaran penemuan hidup di kota Roma, Italia—termasuk berbicara dengan mulut dan tangan—mendefinisikan apa itu hidup yang basah bergairah, tetapi India tidak terasa istimewa. Bahkan nyaris tanpa makna. Dan Bali, yang semestinya menjadi closing pesiar ini, terasa asing di mata orang Indonesia. Bali menjadi sekadar potret-potret cantik yang dijahit satu sama lain, tanpa nafas Bali. Javier Bardem sebagai kekasih baru Liz, menyajikan akting yang bagus, tetapi masih belum bisa mengangkat suspension of disbelief yang terlanjur hilang, terutama di bagian dermaga pantai yang terlihat baru dibangun kemarin.

Tapi mungkin orang luar Indonesia tidak merasakannya, sama seperti—mungkin—orang Indonesia tidak merasakan “panggung” Italia di Eat Pray Love.

Reviews - October 19th, 2010

Madame X

Madame X

Hak menikah bagi gay dan lesbian itu ibarat hak memilih untuk kaum kulit hitam. Ketika kulit hitam memilih, maka eksistensinya sebagai warga negara diakui oleh negara. Demikian juga dengan hak menikah. Ketika negara merestui pernikahan sesama jenis, maka negara mengakui keberadan homoseksual. Mereka menjadi warga negara biasa, tidak spesial, cuma berbeda.

Madame X nampaknya ingin jadi persuasi untuk mengakui eksistensi kalangan waria. Tersebutlah seorang waria bernama Adam (Aming), yang diciduk oleh kelompok mirip FPI yang dipimpin oleh sosok yang mirip mantan presiden parpol konservatif kanan. Berhasil melarikan diri, ia terdampar di sebuah padepokan tari yang dipimpin oleh pasangan homoseks. Di padepokan itu Adam ditempa menjadi seorang superhero waria yang membinasakan penindasan atas kaum waria.

Walaupun gagasan film ini bagus dan aktual, tetapi eksekusinya buruk sekali. Alur cerita bergerak tanpa tujuan dalam separo awal film. Kemudian separo sisanya diisi oleh adegan laga yang stagingnya kacau, sehingga apa yang semestinya bisa mengesankan justru menjadi memalukan.

Jika sineas film ini bermaksud memberdayakan waria dan mengkritik FPI, maka Madame X justru menghina semua perjuangan ke arah itu. Saya tidak percaya Nia Dinata memproduseri film ini.

Reviews - September 10th, 2010

Sang Pencerah

Sang Pencerah

Di antara pekatnya malam, belasan laki-laki berbondong-bondong menuju Langgar Kidul Kauman. Sambil memekikkan asma Allah, gerombolan itu mengangkat obor tinggi-tinggi, dan sesampainya di surau milik Ahmad Dahlan, mereka meringsekkan tempat ibadah itu hingga rata dengan tanah. Mereka memang dibakar kebencian. Gagasan pembaruan Islam oleh Ahmad Dahlan telah membuat gusar para penghulu Masjid Gede Jogja. Dan kegusaran itu kemudian berkembang menjadi benci yang ditularkan.

Itulah sepenggal adegan di awal Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo. Nampaknya Hanung dan keluarga Punjabi memang bermaksud membawa isu kerukunan beragama seabad lalu ke dalam konteks jaman sekarang. Dalam film ini, kasus Ahmadiyah, JIL, FPI; nampak seperti perulangan sejarah dengan pemain yang berbeda. Niat baik Hanung memberikan sentilan sosial dalam suasana kekakuan beragama abad 21, tentu harus diberi pujian.

Tapi sayangnya, Hanung cuma berhasil di aspek itu aja. Ahmad Dahlan yang diklaim sebagai “Sang Pencerah” tidak nampak cerah di film ini. Kemutakhiran pemikirannya tidak dikontraskan dengan konteks masyarakat Jawa zaman itu yang abangan dan kejawen. Akibatnya Dahlan nampak biasa bagi penonton jaman sekarang, pemikirannya tidak mendobrak dan tidak cerah.

Walaupun memang, tidak redup juga.

Di sini, Lukman Sardi membawakan Ahmad Dahlan yang hati-hati, dan sesekali rapuh. Dakwahnya biasa, tidak menggugah. Tutur katanya lempeng. Ini tentu menimbulkan pertanyaan, apakah pendiri Muhammadiyah itu memang sosok yang lemah, ataukah ini cuma imbas dari kehati-hatian yang berlebihan ketika mereka-cipta tokoh legendaris. Jika Ahmad Dahlan memang lemah, leadership seperti apakah yang ia gunakan ketika merintis organisasi islam yang sebesar Muhammadiyah?

Sang Pencerah tidak menjawab pertanyaan itu.

Pada akhirnya, ia memang sekadar film-film pendek bagus yang disambung-sambung, tetapi tanpa kesan tunggal yang kuat. Ia memang masih jauh dari film yang akan membanggakan Indonesia, tetapi sebuah langkah besar untuk ke sana.

Baca juga: