Herman Saksono

Indonesia matters

Posts Tagged ‘dimsum’

Travel - December 15th, 2010

Kuliner Hong Kong dan Macau

Hong Kong adalah surga seafood dan masakan kanton. Seafood yang segar dari samudera itu dimasak dengan presisi kanton tapi memakai bumbu-bumbu yang aromanya kuat. Agak sedikit berbeda dengan masakan chinese yang biasa kita temui di tanah air

Fun Guo, Lin Heung Tea House

Lin Heung Tea House penuh oleh orang setempat. Ini adalah pertanda yang baik, dan memang terbukti demikian. Walaupun pilihan dim sumnya tidak banyak (tidak ada har gau), tetapi semua yang ada enak. Seperti pangsit kukus isi udangnya. Udangnya getas segar, dan ketika digigit mengelurkan sari daging yang sudah diraciki bumbu khas.

160-164 Wellington Street, Central, Hong Kong. Dim sum disajikan dari 6.00 sampai 11.30. HKD 30 per orang.

Wonton with Fresh Sea Shrimp Fillings, Chee Kee

Chee Kee, walaupun tempatnya kecil, adalah restoran yang mendapat satu bintang Michelin (tertinggi tiga bintang). Walaupun kuahnya bukan jenis yang fantastis, tetapi wonton udangnya benar-benar enak berkat suplai seafood yang tak terbatas di Hong Kong. Kelezatan kuahnya akan teraktivasi setelah kita menambahkan kecap asin dan minyak cabe.

84 Percival Street, Causeway Bay, Hong Kong. MTR Causeway Bay, Exit A, belok kanan. HKD 50 per orang.

Cart Noodles with Chicken Wing Tips, Cuttlefish Heads and Turnips, Wing Kee
Wing Kee menyediakan mie dengan sayap ayam yang dimasak empuk, gurita, dan turnip. Kuahnya memakai kecap, manis legit melengkap cita rasa semua isinya. Mengenyangkan dan memuaskan.

27 A Sugar Street, Causeway Bay, Hong Kong. HKD 40 per orang.

Roast Goose, Joy Hing Food Shop
Joy Hing Food Shop menyediakan ayam, bebek, dan angsa pangang ala kanton. Angsa panggangnya empuk dan bumbunya meresap. Sementara kulitnya gurih dan legit membuat satu porsi terasa kurang.

Shop C, 265-267 Hennessy Road, Wan Chai, Hong Kong. MTR Wan Chai Exit A2. HKD30 per orang.

Congee with Fishballs, Beef, and Snakehead Fillets, San Kee

San Kee Congee menyediakan congee (bubur) kanton yang hangat untuk sarapan. Saya memesan bubur premiumnya yang berisi bakso ikan, daing sapi, dan fillet ayam. Setelah kecap asin dituangkan ke bubur untuk mengaktivasi kelezatannya, saya mulai menyantap bubur hangat itu. Fillet ikannya lumat dan bercampur dengan tiap suap bubur. Potongan daging sapinya matang dengan pas, lembut, dan penuh cita rasa. Ini wajib dilengkapi dengan teh susu ala Hong Kong.

Saya makan ini sebelum ke Disneyland, dan tidak merasa lapar sampai malam.

7-9 Burd Street, Sheung Wan, Hong Kong. MTR Sheung Wan Exit A2 Belok Kanan. HKD $30 per orang.

Egg Tart, Lord Stow's Bakery

Lord Stow’s Egg Tart adalah kue khas Macau yang berupa pie crispy dan berisi custard susu yang sangat lembut. Sangat enak dan wajib dicoba baik kalau di Macau atau di Hong Kong. Versi Lord Stow menggunakan kulit pai ala Portugis, tetapi custardnya ala Inggris.

1 Rua da Tassara, Coloane Town Square, Macau. MOP 8 untuk satu egg tart.

Travel - December 14th, 2010

Macau Siang Sampai Pagi

Largo de Senado

Selamat datang di Macau, surga perjudian di timur jauh.

Bahkan ketika feri dari Hong Kong masih di air lepas, beberapa penumpang sudah sibuk latihan main kartu. Apalagi begitu kau mendarat di pelabuhan, kasino demi kasino tidak akan luput dari pandangan. Akan tetapi, kemegahan impor dari Las Vegas ini hanya menjadi tempelan yang janggal. Perjudian memang penting untuk menjaga denyut turisme Macau (turisme menyumbang lebih dari 80% pendapatan negara), tetapi jantung hati negara kecil ini tetap ada di kota-tuanya: Largo do Senado.

Setelah menurunkan bagasi di pulau Coloane, kami langsung naik taksi ke Largo do Senado. Berbeda dengan Hong Kong yang tergesa-gesa, ritme di Macau lebih tenang dan kalem. Sepanjang jalan dijajari bangunan-bangunan klasik yang nampak belum siap menerima kasino-kasino modern dengan kemegahan artifisialnya.

Kita harus bersyukur Largo do Senado masih selamat dari perusakan arsitektur modern. Ini adalah pusat kota yang dibangun oleh Portugis ketika mereka masih berkoloni di Macau. Jalanannya yang berliku-liku dipaving batu kapur, membentuk motif binatang dan tumbuhan, sangat khas Portugis. Demikian juga bangunan-bangunanya yang dicat pastel kuning, hijau, dan merah jambu. Terasa seperti Eropa, walaupun kebanyakan adalah orang Asia yang tidak bisa membaca alfabet latin.

Largo do Senado, Macau

Dua jam bisa dihabiskan berjalan-jalan menelusuri lika-liku gang sempit Largo do Senado. Selama di jalan, mata akan dimanjakan oleh rumah dan gedung yang bercat pastel; seperti Gereja St. Dominic, Katedral Macau, dan Mansion Lau Ka. Konon mansion milik taipun itu tidak ada dapurnya, karena tugas utama gundik-gundik yang tinggal di situ bukanlah memasak.

Jalan-jalan kami berhenti di reruntuhan katedral St. Paul yang dibangun tahun 1582, dan gerbangnya masih berdiri tegak hingga sekarang. Di dekat katedral itu berdiri Museu de Macau. Seperti Largo do Senado, museum ini memanjakan pengunjungnya dengan beraneka display yang cantik. Replika rumah-rumah Macau, beserta isinya, memberikan gambaran bagaimana rupa Macau tempo doloe.

Satu jam tidak terasa di dalam museum. Ketika kami keluar, langit Macau sudah gelap dan Katedral St. Paul bersinar oleh lampu-lampu di sekitarnya. Kami menjadi saksi adanya Eropa di Asia.

St. Paul Ruins, Macau

Setelah sukses menerobos kerumunan turis yang berlapis-lapis (dan tak lupa membeli suvenir), akhirnya kami mendapatkan taksi untuk pulang ke pulau Coloane. Coloane ada di selatan pulau Macau, mengapit pulau Taipa yang di tengah-tengah. Ketiga pulau itu terhubung oleh jembatan.

Pagi hari di Coloane

Coloane Town Square

Bersyukurlah bahwa Coloane tidak dipadati turis ataupunkasino.

Pagi itu, sambil menghirup udara sejuk, saya dan Hanny sarapan di Coloane town square yang tenang. Setelah membeli egg tart dan croissant dari Lord Stow Bakery, kami mengambil duduk pada bangku kecil di dekatnya. Menikmati pie eggtart yang crispy, dan isi custard susunya yang lembut dan manis; sambil sesekali menyeruput kopi susu panas.

Breakfast at Coloane Town Square

Lord Stow Macau Egg Tart

Coloane mirip seperti Macau ukuran mini. Chapel St. Francis Xavier yang tidak jauh dari town square, sebentuk sewarna dengan Gereja St. Dominic yang kuning. Termasuk jalanannya yang dipaving gaya Portugis. Saya sempat sebel ketika segerombolan anak-anak datang mendekati kapel. Saya tidak mau ketenangan minggu pagi itu rusak oleh turis, apalagi yang anak-anak. Ternyata… mereka mau ke kapel untuk mengikuti sekolah minggu.

Chapel St Francis Xaver, Coloane

Meninggalkan kapel dan air mancurnya, kami berjalan terus menelusuri trotoarnya yang di pinggir pantai; duduk sebentar di perpustakaan Biblioteca; kemudian masuk ke gang-gang kampung yang berwarna warni pastel.

Coloane Village, Macau

Perkampungan itu tenang dan ramah, jauh dari nuansa turis. Bapak-bapak menyapa anggukan saya, sementara ibu yang sedang mencuci kursi tersenyum senang ketika dijepret foto. Sayangnya kuil Kun Lam tidak berhasil ditemukan, karena ketika gang utama itu mencapai ujungnya, kami telah kembali di Town Square Coloane, tempat sarapan yang enak itu.

Dan waktu sudah mendekati 10.00, tanda bahwa harus segera melepas Macau dan kembali ke Hong Kong untuk berbelanja.

A Dog in Coloane, Macau

Travel - December 13th, 2010

Hong Kong Disneyland

Sleeping Beauty Castle, Disneyland

Salah satu cita-cita saya adalah ke Disneyland sebelum terlalu tua untuk kekanak-kanakan. Dan minggu lalu mimpi itu akhirnya terlaksana. Tanpa bermaksud lebay, tetapi ketika kastil Sleeping Beauty terlihat dari ujung Main Street, mata saya basah.

Dan Main Street benar-benar seperti yang terbayangkan. Kota midwest Amerika dari awal abad 20 itu terasa hidup, dengan bakery yang terus menerus mengepulkan wangi aroma roti dan tram yang meluncur pelan melintasi jalannya. Tidak ada kesan façade buatan seperti di Universal Singapura.

Main Street USA, Hong Kong Disneyland

Di ujung Main Street, jalan terbagi menjadi tiga. Ini adalah hub Disneyland. Belok ke kiri akan membawa kita ke Adventureland, ke kanan membawa kita ke masa depan di Tommorowland. Sementara kalau lurus kita akan melewati kastil Sleeping Beauty yang menuju ke Fantasyland. Continue reading …

Travel - December 10th, 2010

Sehari di Hong Kong

Ding-ding couple

Ding-ding

Pagi di Hong Kong dimulai dengan menaiki tram Ding-ding yang bertingkat dua. Dari jendelanya yang terbuka lebar, angin pelabuhan akan menerpa wajahmu sampai sejuk. Dari jendela yang sama, terlihat jalanan Causeway Bay dipenuhi oleh orang-orang yang sigap bekerja dan menggerakkan ekonomi kota.

Stanley Street, Hong Kong

Kamu tahu betul tram sudah sampai di Central ketika toko-toko dan restoran warna-warni telah berubah menjadi kantor dan butik yang gagah dan modern. Di perempatan Gilman Street kami turun, lalu berjalan kaki melalui Wong Wo St menuju Stanley St. Di perempatan itu Hong Kong berubah lagi. Pemandangan gedung-gedung gagah telah lenyap, dan digantikan oleh deretan toko-toko kecil yang sering kita lihat di film-film Jackie Chan.

Tak jauh dari perempatan itu berdirilah Lin Heung Tea House.

Lin Heung Tea House

Lin Heung Tea House, Hong Kong

Kedai teh Lin Heung ngetop karena dim sum.

Ini bukan jenis kedai yang dikunjungi turis. Kanton adalah satu-satunya bahasa yang terdengar di tempat kecil dan ramai itu. Demikian juga pegawainya. Mereka juga hanya bisa Kanton. Di antara meja-meja yang diatur padat, tiga ibu-ibu setengah baya berkeliling mendorong gerobak besi berisi bakul dim sum yang mengepulkan uap hangat.

Kau tidak memesan dim sum di Lin Heung. Kau menunjuk salah satu bakul, melihat isinya. Jika terlihat enak maka mengangguklah, si ibu penjaja dim sum akan menyerahkan satu kukusan dimsum lalu menstempel kertas pemesananmu dengan tanda bermakna entah. Berlama-lama memilih tidak disarankan. Orang Hong Kong mengharapkan pelayan bekerja sigap, dan pelanggan juga diharapkan sigap memesan.

Walaupun memesan bukan proses yang mengasyikkan, tetapi urusan menyantap dim sum Lin Heung itu nikmat luar biasa. Har gau-nya terasa basah dan segar, apalagi ketika daging udang yang gemuk dan getas terpotong dengan sempurna dalam satu kali gigitan. Rasa gurih yang tersisa di lidah itu kemudian dicuci dengan seruputan teh china yang hangat. Perut langsung kembali dalam keseimbangan Yin dan Yang.

Dim Sum Lin Heung, Hong Kong

Victoria Peak

Dari Central Hong Kong, perjalanan dilanjutkan menuju puncak tertinggi di Victoria Peak. Perbukitan ini dicapai dengan menaiki Peak Tram yang membawa kita menuju ketinggian 400 meter dalam waktu 20 menit. Sambil menembus pepohonan yang rindang, sesekali kepala penumpang akan ketarik ke belakang, ketika gerbong tram mencapai kemiringan 27 derajat.

Peak Tram

Di puncak Victoria gradasi geografis negara kecil ini terlihat dengan jelas. Dari perbukitan hijau yang turun menuju jajaran gedung-gedung pencakar langit dan berakhir di perairan pelabuhan. Hong Kong adalah tentang perubahan-perubahan yang drastis. Seperti dari modernitas Causeway Bay dan Central yang berubah menjadi toko-toko klasik di Sheung Wan.

Maka tidaklah lengkap ke Hong Kong jika tidak merasakan sisi perairannya. Tetapi, sebelum turun menyeberangi Victoria Harbour memakai feri, sayang jika tidak mengunjungi museum lilin Madame Tussaud’s di menara The Peak. Kapan lagi kita bisa berfoto bersama Brangelina, Einstein, dan Mao Zedong?

Madame Tussaud's, Hong Kong

Menyebrang dengan Star Ferry

Feri antik berwarna hijau itu menghubungkan pulau Hong Kong dengan daratan Kowloon. Perjalanan ditempuh dalam 20 menitan, tetapi untuk jalan kaki ke dermaganya dibutuhkan waktu sekitar 25 menit dari stasiun Peak Tram. Itu termasuk tersesat, dan 60 menit tambahan lagi kalau mampir makan dim sum di Maxim’s Palace City Hall lantai 2.

Star Ferry Girl

Sesampainya di sisi Kowloon, maka kita bisa menelusuri Avenue of Stars, tempat bintang-bintang film Hong Kong diabadikan namanya di jalan. Mirip “Walk of Fame” Holywood, tapi berisi bintang-bintang Asia yang tidak saya kenal. Dan pada pukul 8 malam, selalu ada pertunjukan laser Symphony of Lights yang dapat ditonton di situ. Akan tetapi sisi Kowloon yang lebih menarik berada di di Mong Kok yang hanya terpaut dua stasiun MTR dari Tsim Tsa Sui.

Mong Kok, Hong Kong

Di Mong Kok, bilboard toko yang berwarna-warni menutupi langit, persis ketika film Hollywood hendak menggambarkan Asia. Satu blok dari situ adalah ladies market, sebuah jalan panjang yang diisi kios-kios yang menjual tas imitasi, dompet, dan suvenir. Koleksi tas imitasinya tidak sefantastis Mangga Dua, tetapi menelusuri jalan-jalan itu sendiri adalah pengalaman baru yang Hong Kong sekali.

Hong Kong Malam

Perut kosong dan kaki letih akan memberikan sinyal bahwa ini saatnya pulang, walaupun Kowloon malam masih sibuk dan hidup. Perjalanan kembali ke Hong Kong Island tetap menggunakan Star Ferry yang antik itu.

Victoria Harbour

Dari jendela feri, angin malam meniup wajah-wajah yang sedang mengamati kilauan cahaya dari gedung-gedung tinggi Hong Kong. Mendarat di dermaga Star Ferry pada sisi Island, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju stasiun MTR Central. Kereta bawah tanah ini membawa kita ke Wan Chai untuk menemukan sebuah warung kecil yang menjajakan Bebek Peking yang enak: Joy Hing Food Shop.

Dan mirip seperti pagi harinya, perjalanan ditutup dengan mengendarai Ding-Ding menuju Tin Hau, sambil mengamati orang-orang Hong Kong menutup malamnya di bawah pendaran lampu-lampu neon aneka warna.

***

Esok harinya adalah Hong Kong Disneyland.