Cerita Foto: Hadiah Camdessus untuk Soeharto

Michael Camdessus, direktur IMF, bersedekap sambil mengawasi Soeharto yang menunduk menandatangani perjanjian IMF.

IMF Soeharto Camdessus

Tangan Michael Camdessus, direktur IMF, bersedekap sambil mengawasi Soeharto yang menunduk menandatangani perjanjian IMF. Perjanjian itu memberikan dana bailout untuk Indonesia menghadapi krismon (krisis moneter), dengan syarat Harto harus menjalankan austerity: mengencangkan anggaran nasional.

Walaupun banyak ekonom dunia meragukan keampuhan austerity untuk pemulihan ekonomi, perjanjian itu juga menghapus monopoli, potongan pajak, subsidi yang hanya dinikmati oleh anak, keluarga, dan teman Harto.

Foto ini diambil 15 Januari 1998. Namun lima bulan kemudian kepercayaan ekonomi tak kunjung membaik dan diktator orde baru itu akhirnya jatuh setelah berkuasa 32 tahun.

Cerita Foto: Biarawan Buddha Membakar Diri

Seorang pendeta Buddha membakar diri di jalan raya kota Saigon pada 11 Juni ’63.

Biarawan Buddha Membakar Diri

Seorang pendeta Buddha membakar diri di jalan raya kota Saigon pada 11 Juni ’63. Ia, Thích Quảng Đức, memprotes penganiayaan umat Buddha oleh pemerintah Vietnam Selatan yang Katolik-Roma. Đức akhirnya meninggal dunia.

Pagi hari itu beredar kabar kalau akan ada kejadian penting di depan kedutaan Kamboja di Saigon. Tak  lama kemudian, sekitar 350 biarawan dan biarawati berarak-arak datang. Mereka memprotes kebijakan pemerintahan presiden Ngô Đình Diệm yang mendiskriminasi umat Buddha.

Aksi bakar diri itu terjadi di perempatan jalan Nguyễn Đình Chiểu Street dan jalan Cách Mạng Tháng Tám.

Đức keluar dari mobil, ditemani oleh dua biarawan lain. Salah satu dari mereka meletakkan bantal di jalan, dan satu lagi membuka bagasi mobil kemudian menurunkan drigen berisi 5 galon bensin. Đức duduk dengan tenang. Ia mengambil posisi meditasi lotus di atas bantal. Kemudian seorang biarawan menuangkan bensin sampai habis di atas Đức. Lalu Đức memutar tasbih sambil mengucapkan doa pendek, menyalakan korek api dan menjatuhkannya.

Api berkibar, membakar jubah dan badannya. Asap hitam mengepul dari Đức.

Orang di sekeliling kejadian itu terkejut hingga hening, tapi beberapa menjerit dan beberapa berdoa. David Halberstam, jurnalis pemenang Pulitzer menuliskan:

Api itu memancar dari seorang manusia. Badannya mengering dan berkerut, kepalanya hangus dan menjadi arang. Udara penuh dengan bau daging manusia yang terbakar; manusia terbakar begitu cepat. Saya dapat mendengar suara orang-orang vietnam yang menangis. Saya terlalu terkejut untuk menangis, terlalu bingung untuk membuat catatan atau mewawancara, bahkan terlalu limbung untuk berpikir … Ia terbakar tanpa menggerakan otot sedikitpun, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, ia memancarkan ketenangan yang sangat kontras dengan tangisan yang mengelilinginya.

Jasad Đức dikremasi ulang namun jantungnya disimpan di pagoda Xá Lợi sebagai lambang welas asih seorang Buddha.

Di Vietnam Selatan tahun 1963, “Krisis Buddha” sudah panas sejak satu bulan sebelumnya. Saat itu sembilan warga tak bersenjata di kota Hué ditembak oleh tentara saat memprotes kebijakan pemerintahan Ngô Đình Diệm yang melarang pengibaran bendera Buddha.

Aksi Dúc memulai serangkaian kejadian demi kejadian yang bergulir seperti kartu domino, hingga akhirnya menjatuhkan kekuasaan presiden Ngô Đình Diệm. Jatuhnya Diệm kemudian berlanjut pada jatuhnya Vietnam Selatan ke republik komunis Vietnam Utara pada 30 April 1975.

Saya tidak tahu dan saya tidak bisa menjawab andai ditanya apakah aksi Đức adalah heroik atau menyia-nyiakan. Namun dari foto ini saya tahu, lalu kemudian menjadi ingat bahwa rakyat Vietnam Selatan pernah disia-siakan oleh negaranya sendiri hanya karena mereka menganut agama lain. Foto ini, dan aksi Thích Quảng Đức, tidak akan mengubah masa lalu. Tapi ia mengingatkan agar dosa masa lalu tidak berulang-ulang lagi.

Cerita Foto: Ketika Kulit Hitam Masuk Sekolah

Hari pertama pelajar kulit hitam masuk sekolah kulit putih di Little Rock, Arkansas, AS tahun 1957. Massa kulit putih menentang bergabungnya kulit hitam dengan sekolah mereka.

Ini adalah seri Cerita Foto.

Desegregasi Little Rock

Hari pertama pelajar kulit hitam masuk sekolah kulit putih di Arkansas, AS tahun 1957.

Pada tahun 1954, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa pemisahan sekolah berdasar ras adalah inkonstitusional. Walaupun sejumlah daerah sudah berusaha menggabungkan sekolah kulit putih dengan sekolah kulit hitam, namun di beberapa negara bagian di selatan justru aktif melawan putusan tersebut.

Salah satunya di Arkansas, di mana gubernur Orval Faubus bergabung dengan warga kulit putih setempat menentang masuknya kulit hitam ke sekolah kulit putih. Gubernur Faubus menempatkan pasukan garda nasional untuk menghalangi 9 siswa kulit hitam untuk masuk ke gedung sekolah menengah Little Rock.

Presiden Dwight Eisenhower kemudian menempatkan tentara federal untuk melindungi warga kulit hitam tersebut.

Di akhir tahun ajaran, delapan dari kesembilan siswa kulit hitam dinyatakan naik kelas, walaupun cercaaan dan kebencian terus berdatangan bertubi-tubi.

Gadis kulit hitam di foto itu adalah Elizabeth Eckford, yang terpisah dari delapan siswa kulit hitam lainnya ketika menuju gedung sekolah Little Rock. Perempuan kulit putih yang berteriak di belakang Eckford adalah Hazel Massery, juga pelajar Little Rock. Perhatikan kebencian yang memancar dari Massery.

Ada sedikit paralel antara kasus ini dengan GKI Yasmin yang hari Minggu besok tidak bisa merayakan Natal di rumah ibadah mereka. Walaupun Mahkamah Agung Indonesia (dan juga Ombudsman RI) sudah memutuskan bahwa perijinan gereja tersebut sah, namun walikota Bogor, Diani Budiarto tetap bersikeras menyegel bangunan gereja tersebut.

Sikap Diani juga didukung oleh sebagian masyarakat. Seperti misalnya Keluarga Muslim Bogor  yang mengancam akan mengadakan aksi tandingan jika jemaah GKI Yasmin tetap mengadakan misa natal.

Eisenhower adalah salah satu presiden yang berpengaruh dalam sejarah AS. Ia mengambil keputusan tegas menurunkan pasukan federal ke Little Rock untuk menegakkan keputusan Mahkamah Agung AS, yang kemudian menandai langkah-langkah menuju diberantasnya diskiriminasi di Amerika Serikat.

Jika SBY ingin menjadi tokoh berpengaruh dalam sejarah Indonesia, setidaknya dia juga bisa mulai tegas menegakkan keputusan Mahkamah Agung.

Foto diambil oleh Will Counts.