Gay Marriage and Idul Fitri

Idul Fitri tahun ini spesial bagi umat muslim di New York. Ihwalnya, mulai 2015 walikota DeBlasio meliburkan sekolah pada hari besar umat muslim. Ribuan siswa di kota New York bisa merayakan Idul Fitri dengan khusuk bersama keluarganya dan orang-orang terdekatnya.

“Umat Muslim memang minoritas, tapi keberadaan kami harus diakui,” ujar Ilham Atmani, warga Brooklyn dari Moroko. Siswa juga menyuarakan kegembiraannya. “Ini kemajuan besar,” ujar Helal Chowdhury, siswa SMK di Brooklyn.

Jadi, libur Idul Fitri di New York tidak sekadar anak-anak tidak harus masuk sekolah untuk merayakan hari besar agamanya. Libur ini merupakan pengakuan bahwa umat muslim adalah bagian sah dari masyarakat di kota New York. Mereka bukan warga kelas dua. Mereka adalah umat yang kegiatan beragamanya diakui oleh pemerintah.

Di sinilah pernikahan gay sangat mirip dengan libur Idul Fitri. Pagi ini, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa pernikahan sejenis diakui secara nasional. Negara bagian tidak bisa lagi melarang pernikahan gay. Tidak ada lagi diskriminasi.

Putusan MA AS itu monumental, karena pengakuan terhadap pernikahan gay tidak sekadar urusan remeh-temeh tentang dua laki-laki melangkah bersama ke pelaminan. Legalnya pernikahan gay merupakan pengakuan bahwa masyarakat gay, lesbian, dan transgender juga bagian sah dari masyarakat. Mereka bukan lagi warga kelas dua. Mereka adalah manusia normal yang perferensi berpasangannya diakui oleh pemerintah.

Libur Idul Fitri dapat membantu mengurangi stigma negatif dan diskriminasi terhadap umat muslim di New York, terutama pasca teror 9/11 pada tahun 2001. Stigma negatif bahwa semua muslim adalah teroris dan pendukung aksi yang keji. Dalam hati, umat muslim bisa berkata dengan mantap bahwa “saya muslim, dan ibadah saya diakui oleh pemerintah”.

Sama halnya dengan libur Idul Fitri, legalnya pernikahan gay dapat mengurangi stigma negatif dan diskriminasi terhadap kalangan gay, lesbian, dan transgender. Stigma negatif bahwa homoseksual adalah penyakit menular dan merusak masyarakat. Studi menunjukkan bahwa homoseksualitas hanya sekadar variasi dari preferensi seksual, dan seorang gay/lesbian/transgender bisa berfungsi sosial secara normal di masyarakat.

Ini mirip juga dengan hak memilih untuk kulit hitam. Undang-undang hak memilih 1965 tidak sekadar melindungi ras kulit hitam untuk memilih, tapi juga mengakui bahwa warga kulit hitam derajatnya sama di depan negara. Diskriminasi terhadap kulit hitam memang masih ada dan meluas, tapi tanpa legislasi itu, perjuangan itu akan lebih berat. Perjuangan umat muslim juga masih panjang, tapi libur Idul Fitri adalah kemajuan yang bagus.

Di Indonesia, banyak kelompok yang diperlakukan seolah derajatnya lebih rendah. Kelompok Ahmadiyah dan Syiah misalnya, mereka didiskriminasikan seolah-olah mereka umat yang tidak berhak untuk ada di Indonesia. Bahwa mereka kelompok racun yang harus diubah atau disingkirkan. Padahal mereka lahir di Indonesia, bicara bahasa Indonesia, dan turut membayar pajak untuk membangun jalan dan infrastrukur yang tiap hari kita lewati ketika ke kantor atau sekolah. Saya rasa mereka mencintai negara ini seperti halnya saya mencintai Indonesia.

Kadang-kadang saya bertanya, apakah saya sudah cukup banyak berbuat untuk melindungi orang-orang yang terdiskriminasi.

Miripnya Libur Idul Fitri New York dan Pernikahan Gay
Tagged on:

22 thoughts on “Miripnya Libur Idul Fitri New York dan Pernikahan Gay

  • June 28, 2015 at 3:21 pm
    Permalink

    Karena islam hanya satu didunia tidak dikelompokan Ahmadiyah atau Syiah misalnya

    Reply
  • June 28, 2015 at 4:44 pm
    Permalink

    He..he… Klo ga tau apa2 jgn asal jeplak deh.. Ahmadiyah dan syiah itu syahadatnya aja berbeda, tata cara ibadahnya berbeda.. Klo mereka menyatakan sebagai agama tersendiri, ya ga akan d ganggu masbro..

    Reply
  • June 28, 2015 at 4:52 pm
    Permalink

    kalau islam cmn satu, lalu bagaimana dgn mazhab??

    Saya rasa urusan syiah dn ahmadiyah harus di pikirkan dengan bijak sebelum kita mengambil sikap, jangan hanya men”quote” kata salah seorang ulama, dan menjadikannya dasar untuk bertindak barbar

    Reply
  • June 28, 2015 at 8:37 pm
    Permalink

    Saya rasa Herman saksono tidak mencintai indonesia tapi amerika.
    Orang indonesia yg cinta indonesia pasti lebih kagum dengan kebijakan negaranya terhadap ahmadiyah dan syiah dibandingkam dengan kebijakan amerika yg melegalkan pernikahan pria dengan pria.

    Reply
  • June 29, 2015 at 5:04 am
    Permalink

    Saya muslim. Maka sudut pandang pemikiran saya adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jadi saya tidak sepakat dengan tulisan Anda, Pak Herman Saksono. Islam tidak membicarakan mayoritas atau minoritas. Standar benar-salah adalah halal & haram. Allah SWT Pencipta manusia. Sebagaimana seorang ilmuwan penemu robot, maka Dia-lah yg Paling Tahu kebutuhan yg baik utk ciptaan-Nya.
    Kritik saya terhadap tulisan ini adalah, jika Anda memilih menjadi sekuler berawal dari pengabaian thd keharaman gay, jangan gunakan liburnya Idul Fitri di New York seolah sebagai dalih utk menerima pelegalan gay. Karena logika ini tidak akan berlaku di negeri mayoritas muslim. Sebagaimana HAM yg dikritik bermata-ganda.
    Tapi saya tidak menyarankan Anda menjadi sekuler sejati. Saya menasehati & mendoakan Anda menjadi muslim yg berilmu dengan penuh keberkahan, dengan taat pada syariat Pencipta Anda.
    Salam.

    Reply
  • June 29, 2015 at 8:58 pm
    Permalink

    Saudara Herman….

    Terus terang saya tadinya tidak terlalu ingin menanggapi mengenai tulisan anda yang dangkal dan menunjukan anda tidak memiliki dasar keilmuan yang cukup mengenai kesetaraan dan persamaan derajat dalam kehidupan bersosial.
    Mungkin anda tidak akan memperdulikan semua tanggapan yang masuk akibat dari tulisan yang anda buat, karena saya sangat memahami orang2 yang berkarakter seperti anda akan selalu merasa paling benar di karenakan ego yang sudah menutupi logika berfikir anda dengan di tutupi senyuman sinis ketika membaca tanggapan yang masuk.
    Menyamakan hari raya keagamaan dengan kegiatan yang note bene sebenarnya melanggar norma dan etika yang berlaku di dalam masyarakat dimana pun di dunia ini adalah sebuah kekeliruan besar, meskipun anda berpendapat bahwa keduanya sama atas dasar “PENGAKUAN” dari sebuah negara.
    Sebuah kebenaran menjadi tidak mutlak apabila kebenaran itu tidak diakui secara mufakat dalam sebuah struktur masyarakat.
    Contoh : Kenapa seseorang dikatakan gila ketika dia tidak memakai baju dan keluyuran di tengah jalan?…karena ada sebuah kemufakatan bahwa orang waras adalah yang memakai baju. Jika kondisi kemufakatan itu di balik maka orang gila adalah orang yang memakai baju.
    kolerasinya adalah : jika suatu hari nanti ada sekumpulan orang yang meminta hak untuk menikahi ibunya sendiri atas dasar cinta apakah anda akan menjadi salah seorang yang menyetujui hal itu atas dasar persamaan derajat dan anti diskriminasi?
    Ahmadiyah tidak bisa di katakan sebagai masalah diskriminasi karena mereka melenceng dari agama yang ada yaitu Islam, jika mereka ingin di akui bentuklah agama baru dengan kitab yang baru, bagaimana seandainya jika ada sempalan dari nasrani yang menyatakai yesus itu gay dan mereka ingin di akui eksistensinya apakah umat nasrani rela?…Jadi masalahnya bukan pengakuan akan tetapi esensi dari pengakuan itu, saya tanya balik kepada anda jika ada orang2gay , homo, lesbi di Indonesia menuntut hak persamaan untuk di kawinkan dan meminta hari libur khusus…APAKAH ANDA AKAN ADA DI BARISAN DEPAN UNTUK MENDUKUNGNYA???

    Reply
    • October 16, 2016 at 9:38 am
      Permalink

      Bnr mas.. Ini lama kelamaan blunder.. Komparasi yg absurd

      Reply
  • June 30, 2015 at 11:19 am
    Permalink

    Republik indonesia…
    Pancasila dan undang2x dasar 1945

    Reply
  • February 8, 2016 at 3:18 pm
    Permalink

    Kritik saya terhadap tulisan ini adalah, jika Anda memilih menjadi sekuler berawal dari pengabaian thd keharaman gay, jangan gunakan liburnya Idul Fitri di New York seolah sebagai dalih utk menerima pelegalan gay. Karena logika ini tidak akan berlaku di negeri mayoritas muslim. Sebagaimana HAM yg dikritik bermata-ganda.

    Reply
    • February 8, 2016 at 11:03 pm
      Permalink

      Kenapa tidak berlaku di negara mayoritas muslim? Apakah karena muslim adalah mayoritas lalu berhak mendiskriminasi orang2 minoritas? Tidak bisa begitu mikinya.

      Saya memakai contoh libur idul fitri untuk menunjukkan betapa berharganya menghargai minoritas muslim di AS. Oleh karena itu, muslim yang mayoritas di Indonesia juga sewajarnya menghargai kelompok minoritas.

      Reply
  • October 6, 2016 at 4:13 pm
    Permalink

    Itulah rakyat Indoneisa, hanya bisa minta dihargai, tapi gak bisa menghargai pihak lain.

    Pemahaman agama adalah masalah tafsir dan yg menafsirkan adalah manusia, yg bisa jadi salah atau benar. Jadi aliran manapun sama sama ada dua kemungkinan itu, salah atau benar.

    Karena itu yg bijak adalah saling menghargai keyakinan masing2. Jangan karena mayoritas, lalu mentang mentang mau membasmi yg minoritas.

    Yg tahu pasti benar hanya Tuhan, Dia lah pemilik kebenaran sejati. Bukan klaim kebenaran versi kalian mayoritas.

    Kebenaran dunia ini hanyalah tafsir penguasa, siapa yg berkuasa inillah yg menerjemahklan kebenaran dunia. Pemikiran2 versi minoritas sejak jaman dulu dibungkam, orangnya dibunuh karena tidak sesuai dengan pemikiran pemguasa. Akibatnya pemikiran minoritas tidak berkembang.

    Karena itu yg berkembang kemudian adalah kebenaran mayoritas, jangan lantas menganggap kebenaran mayorias adalah paling benar dan kebenaran minoritas harus ditumpas.

    Sekarang jaman sudah maju dengan tehnologi tinggi,ada internat dan lain lain. pemikiran2 baru yg lebih manusiawi dan sesuai ilmu pengetahuan bisa tersebar kemana mana tanpa bisa dibendung lagi.

    Sudah saatnya kebenaran versi baru yg sesuai ilmu pengetahuan dan manusiawi disebarkan keseluruh dunia, agar manusia tidak terkungkung dalam tempurung.

    Lihat negara2 di Timur Tengah yg kacau balau , perang dan bunuh membunuh tiada henti hingga kini, itu karena peimikirannya terkungkung dengan pemahaman yg sudah kadaluarsa dan merasa paling benar sendiri dan pihak lain sesat yg harus ditumpas. Hadirnya negara asing (barat) lebih karena diundang, jangan dijadikan kambing hitam atas terkungkunga pemikiran lama.

    Sudah saatnya rakyat Indonesia terbuka bagi pemikiran pemikiran baru yg manusiawi & dan sesuai Ilmu pengetahuan.

    Reply
    • June 13, 2017 at 2:56 pm
      Permalink

      ngacapruk kemana-mana ini…melebar…

      Reply
  • October 24, 2016 at 1:43 pm
    Permalink

    memang kalo ngobrolin gay ini gak ada habis-habisnya, semoga saja kita semua diberi petunjuk

    Reply
  • June 13, 2017 at 2:54 pm
    Permalink

    subhanallah, ane curiga MAHO nih orang.. semoga mendapat hidayah lah dik herman..
    ..jadi begini, ” communist until you rich, feminist until you married, atheist until the plane failed..”

    Reply
  • November 10, 2017 at 6:21 am
    Permalink

    Di Indonesia, banyak kelompok yang diperlakukan seolah derajatnya lebih rendah. Kelompok Ahmadiyah dan Syiah misalnya, mereka didiskriminasikan seolah-olah mereka umat yang tidak berhak untuk ada di Indonesia. Bahwa mereka kelompok racun yang harus diubah atau disingkirkan. Padahal mereka lahir di Indonesia, bicara bahasa Indonesia, dan turut membayar pajak untuk membangun jalan dan infrastrukur yang tiap hari kita lewati ketika ke kantor atau sekolah

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *