Tulisan ini telah diupdate. Scroll ke bawah untuk rincinya.

Sebetulnya, sebagai masyarakat, apa yang kita inginkan dari hukuman mati? Apakah karena ingin menunjukkan kedaulatan Indonesia atas bangsa2 lain? Nanti tengah malam, peluru panas akan menembus Mary Jane Veloso dan mengambil nyawanya. Esok harinya, Indonesia mungkin akan sedikit lebih berdaulat daripada kemarin, tapi apakah itu kita mengambil langkah yang tepat untuk menunjukkan kedaulatan?

Hukuman mati itu ekstrim, karena nyawa yang sudah diambil tidak bisa diganti ataupun dikembalikan. Maka ketika mendukung hukuman mati, sebagai masyarakat kita perlu memperimbangkan apakah kita sudah mengambil jalan yang tepat untuk mencapai tujuan kita. Dalam kasus Mary Jane Veloso, kita ingin kejahatan narkoba dibuat jera dengan hukuman mati. Akan tetapi, studi menunjukkan bahwa hukuman mati tidak tentu menurunkan tingkat kejahatan.

Di sini repotnya hukuman mati: hasilnya tidak tentu, tapi eksekusinya tentu akan mengambil nyawa orang untuk selama-lamanya. Apakah kita sedang bereksperimen dengan nyawa?

Lalu kenapa kita masih mendukung hukuman mati? Apakah karena agama mengatakan demikian? Tapi apakah semua umat beragama (yang diakui Indonesia) mendukung hukuman mati? Apakah kita berhak menghilangkan nyawa orang atas keyakinan pribadi kita terhadap penafsiran agama?

Pro-kontra hukuman mati sering terjebak dalam asumsi-asumi tak terverifikasi, padahal dampak hukuman mati itu permanen. Sedihnya, pro-kontra ini justru melupakan masalah nyata yang mendorong terjadinya kriminalitas: kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kemandulan penegak hukum.

 

Update: Eksekusi Mary Jane Veloso telah ditunda.

Refleksi sebelum eksekusi hukuman mati
Tagged on:     

5 thoughts on “Refleksi sebelum eksekusi hukuman mati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *