Tentu saja ini bukan masalah Lady Gaga. Saya bukan penggemarnya. Saya tidak rugi.

Indonesia yang rugi, karena kejadian akhir-akhir ini menunjukkan sikap konservatisme agama sudah terlalu banyak mencampuri  urusan pribadi masyarakat, hingga seolah-olah Indonesia itu negara Islam. Tentu tidak ada yang salah menjadi relijius yang konservatif. Yang menjadi masalah adalah ketika kelompok relijius konservatif meyakini bahwa yang tidak sama dengan mereka harus tidak ada. Adalah salah jika mereka yakin bahwa Indonesia adalah milik mereka sendiri.

Kejadian akhir-akhir ini membuat orang-orang yang tidak sepaham dengan kelompok-kelompok itu merasa tersingkir dari negaranya sendiri. Awalnya cuma yang cukup mendasar seperti Ahmadiyah yang disisihkan, lalu kemudian Syiah. Saya tidak tahu umat seperti apa lagi yang akan disingkirkan. Mungkin muslim yang membaca bukunya Irshad Manji, muslim yang suka Lady Gaga, atau muslimah yang tidak memakai kerudung? Itu baru dari kalangan muslim, belum dari agama lain. Penyingkiran seperti ini susah berhenti jika sudah keterusan.

Saya dan teman-teman yang berpikir merdeka meyakini bahwa kita bisa coexist. Hidup bersama-sama, dengan tidak mencampuri perbedaan-perbedaan di urusan pribadi seperti urusan pakaian dan musik, hingga orientasi seksual dan agama. Indonesia dimulai dari perbedaan-perbedaan, dan semua gerakan untuk menolak perbedaan adalah pengkhianatan.

Akan tetapi pendulum masih bergoyang. Berubahnya hasil akhir kasus-kasus yang menyangkut urusan pribadi ini adalah pertanda bahwa Indonesia masih bisa menjadi lebih baik.

Konser Lady Gaga adalah bentuk lain dari urusan pribadi. Konser itu sedianya akan diadakan di tempat tertutup dari umum. Jika Anda merasa konsernya tidak patut, jangan ditonton. Sesederhana itu.

***

Ada banyak yang bisa kita lakukan. Sebagai masyarakat merdeka, kita harus menghargai bahwa adalah hak FPI dkk. untuk menolak Lady Gaga, Irshad Manji, diskusi agama, dan lain sebagainya. FPI dkk viagra generique acheter. menjadi salah karena mereka sudah mengancam akan membuat kerusuhan. Segala bentuk ancaman adalah pelanggaran pidana, dan keabaian Polri membiarkan FPI main ancam sana-sini menunjukkan bahwa ada yang tidak beres di lembaga itu. Dalih Polri bahwa suatu acara harus batal karena ada ancaman menunjukkan kemalasan Polri untuk melindungi rakyat.

Teman-teman dari Indonesia Tanpa FPI sedang dalam proses menuntut Kapolri karena melakukan pembiaran terhadap FPI dan ormas sebangsanya. Jika Anda peduli dengan masalah ini, Anda bisa ikut menuntut/mensomasi Kapolri karena lembaga itulah yang paling bersalah terhadap perkembangan akhir-akhir ini. Sudah ada 2507 orang yang ikut dalam somasi ini, termasuk saya. Menolak kekerasan FPI bukan tindakan anti islam, karena kita hanya menolak kekerasan dan ancaman yang mereka lakukan.

Yang kedua, kita harus berhenti memilih partai politik yang akhir-akhir ini tidak menunjukkan itikad untuk melindungi perbedaan. Dengan suara mereka yang relatif kecil, kebijakan publik sudah tidak memihak terhadap perbedaan. Apalagi jika partai-partai tersebut memiliki suara mayoritas. Tidak memilih partai, tidak sama dengan jadi golput. Dengan tidak ikut mencontreng, kita justru membiarkan nasib Indonesia diputuskan orang lain.

Saya rasa masih ada harapan untuk berbagai macam orang Indonesia bisa hidup rukun berdampingan, tanpa ada satu kelompok mengalahkan yang lain. Saat ini rasanya memang lebih sulit daripada 5 tahun yang lalu, tapi saya memilih tidak pesimis, karena pesimis itu menular.

Batalnya Konser Lady Gaga dan Apa Yang Bisa Dipetik

64 thoughts on “Batalnya Konser Lady Gaga dan Apa Yang Bisa Dipetik

  • May 29, 2012 at 12:41 am
    Permalink

    A very good note. A noble wish to make this country a “unity in diversity”. Thanks and post more up.

    Reply
  • May 29, 2012 at 2:40 am
    Permalink

    Saya bukan penggemar lady gaga maupun irshad manji tp sy akan mendukung penuh indonesia tanpa FPI karena sbg rakyat indonesia sy malu dng ke pengecutan polri dan pemerintah thd FPI.di islam tdk pernah mengajarkan utk berbuat kekerasan dan memusuhi agama lain.mereka membawa nama agama utk kepentingan bersama padahal utk kepentingan mereka sendiri.dr pengalaman teman sy yg prnh berurusan dng FPI.FPI berusaha memeras teman sy yg bekerja sbg manager suatu tempat hiburan.yg mana FPI mengancam utk membayar uang keamanan atau tempat teman sy didemo utk ditutup.tdk heran para ketua FPI memakai perhiasan cincin berlian,pny mbl mewah.dan yg begonya mereka kl mereka bener2 mendalami islam bknnya di islam pria tdk diperbolehkan memakai emas?? Dan knapa mereka tdk mendemo utk menutup tempat2 maksiat yg ada di indonesia??balik lg kepada kepentingan FPI itu sdr tempat2 hiburan tsb membayar uang keamanan ke FPI shingga aman dr demo dll.

    Reply
  • May 29, 2012 at 2:46 am
    Permalink

    di filipina umat nasrani pun menolak lady gaga mon. lirik lagunya sesat dan menistakan agama… plus mengumbar aurat di tiap konsernya… showbiz.infospesial.net/read/2830/umat-kristen-filipina-tolak-konser-lady-gaga.html

    Reply
    • May 29, 2012 at 5:53 pm
      Permalink

      Kalau gak suka gak usah di tonton.

      Meski sya juga gak suka lady Gaga, saya gak mau orang seperti anda mengatur untuk saya apa yang bisa dan apa yg gak bisa buat di tonton.

      Emang siapa lu?

      Reply
    • May 29, 2012 at 6:38 pm
      Permalink

      Memang ada yang menolak juga, tetapi bukan itu masalahnya menurutku. Saya katolik, dan saya tidak merasa terganggu dengan lirik lagunya atau apapun itu. Saya yakin dengan iman saya, dan saya bisa memilih untuk menonton atau tidak menonton. Sesederhana itu. Bukan mengancam atau menistakan yang memilih menonton.

      Reply
  • May 29, 2012 at 6:48 am
    Permalink

    Aku menulis juga soal Lady Gaga di blogku, tapi kupikir itu tak penting karena toh tak bisa mengubah keadaan :)

    Penolakan Lady Gaga sebenarnya tak terkait pada ormas tertentu, tapi menurutku lebih pada radikalisme yang bersemayam di otak masing-masing orang tak peduli apapun agamanya. Contohnya,ya Philipina itu juga…

    Aku setuju denganmu, ganti partai, Mon! :) Jangan yang itu lagi, pilih yang lain :)

    Reply
  • May 29, 2012 at 9:06 am
    Permalink

    Selama ini memang aku kurang ngeh masalah partai, politik, dan sebagainya. Tapi 1 yang aku tahu, bumi hangus tidak pernah menyelesaikan masalah. Mungkin suggestion dari dirimu bisa kuterapkan, yaitu dengan tidak memilih partai itu lagi, yang sudah jelas tidak cepat & tegas dalam bertindak.

    Reply
    • May 31, 2012 at 12:52 pm
      Permalink

      hanya bisa prihatin.. tanpa bersikap tegas. hukum di negara ini sudah gak bagus kinerja nya,.

      Reply
  • May 29, 2012 at 9:22 am
    Permalink

    FPI-nya silakan saja bernapas. Tapi radikalisme yang memanfaatkan kebebasan sepihak untuk menindas kebebasan pihak lain itulah yang berbahaya.

    Masalah ada pada negara yang.sering absen dan memilih membiarkan.rakyatnya tak terlindungi.

    Asas oportunitas dalam hukum dijadikan tameng penegak hukum ketika hrs mengalah kepada ancaman kelompok radikal. Atas nama ketertiban umum dalam arti supaya kelompok radikal tdk ngamuk. Kalau aparat ketakutan, warga biasa atau kelompok warga juga bisa ketakutan.

    Apakah kita hrs pesimis? Tentu tidak. Minimal pada tingkat individual harus bersuara.

    Reply
  • May 29, 2012 at 9:23 am
    Permalink

    Saya nemu link nya via twitter.

    Saya sangat agree dan menghighlight bahwa actually kita bisa hidup tenang side-by-side.
    Tapi kenyataannya skrg FPI sungguhpun merasa bhw mrk memiliki negara ini dan yg lain cuman ngotrak, sehingga whatever they ask would be the others’ command. Some people might think that, sing waras ngalah wae, tapi sampe kapan??
    Diajak dialog jg kesannya keminter kyk wes paling pinter njedhok langit. Wondering who are behind these morons?

    Secara tak langsung mrk menganggap bangsa sendiri semacam bangsa jahiliyah yg kalo liat Lady Gaga bakal kepengaruh (sexually or secara paham yg katanya pemuja setan). Paham opoooo?? Mrk gak realize kalo di masing2 individu punya family value. Emangnya mereka yg gak ngerti opo2 ning njeplak sak penake dewe.

    I’m not one of Gaga’s fan. Tapi it’s not about Lady Gaga. It’s something bigger than that. It is an obvious example that the government, the police just can’t (or won’t) do anything terhadap perilaku semena2. FPI lho cuman piro wong e paklik? Kok kalah? Mau sampe kapan?

    Duh, nuwunsewu saya esmosi. Kudu diapain mrk ini?

    Btw, abs gini nkotb & bsb manggung. Mrk bikin kericuhan lg tak ya? Sapa tau dinilai membuat wanita2 jejeritankesetanan?

    Reply
  • May 29, 2012 at 9:28 am
    Permalink

    Hamba Allah:
    menolak itu hak. begitu pula memboikot dalam arti mengajak pengikut untuk tidak nonton, itu baru keren. hanya berdoa spt di filipina? juga bagus.

    yang gak bener itu mengancamkan terjadinya kerusuhan. apalagi membeli ratusan karcis dengan niat mengacau.

    lebih energi berlebih dipakai untuk membantu penegak hukun menangkap.koruptor.buron. atau mencegah perusakan sumber daya alam. ini heroik dan sesuai akhlak :P

    Reply
  • May 29, 2012 at 10:29 am
    Permalink

    maaf tadi ada yg terpotongshg hrs ketik.ulang di ponsel.
    ttg menangkap koruptor, kl dilakukan, tentu anarkis. gak beda dgn menyerbu tmpt hibutan.
    mksd saya kl mau tegakkan akhlak dan syariat.tanamkanlah.nilai-nilai antikorupsi.dan antiperusakan lingkungan.
    misalnya jangan korup, jgn mau disumbang duit.oleh.pihak yg sumber hartanya diragukan, jgn bergaul dgn koruptor.kelas teri maupun kakap, dst.
    juga jgn merusak lingkungan, jgn.abai.sama.got mampet, menyebarkan ide resapan air, gak mau kerja di penambang liar maupun penambang resmi yg abai libgkungan, dst. :D

    Reply
  • May 29, 2012 at 11:13 am
    Permalink

    Abaikan kata2 saya, karena saya tetap simpati dgn ekistensi FPI. Sisi umat yg spt FPI, tak akan ada jika kemaksiatan tidak seterang2an spt skrg. Sangat vulgar. Niatan awal FPI tentu murni. Kalau ada oknum yg mengatasnamakan FPI untuk memeras, sy yakin (baca: berharap) itu hanya oknum, bukan dari ADART keorganisasian.

    Tidak. Indonesia yg skrg bukan Indonesia yg dideklarasikan pendiri bangsa. Perbedaan ideologi diterima : Islam, Hindu, Budha, Kristen dan agama besar yg lain tentu diterima. Tapi, penistannya jelas tidak bs diterima. Anda mengincludekan jg gay,lesbi, freesex sbg bagian dari keragaman yg harus dilindungi negara? Aduh, saya tidak pintar. Tapi saya tidak terlalu.bodoh untuk

    Reply
  • May 29, 2012 at 11:20 am
    Permalink

    … bisa menilai budaya seks tersebut tidak bs diterima semua agama.

    Anda katakan keberagaman adalah ciri kita? Tidak. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah ciri kita. Maaf, kalau Anda beragama, Anda tidak akan menempatkan orientasi seks yg menyimpang, sbg bagian keberagamaan yg dibiarkan luas penyebarannya. Ia adalah penyakit bangsa yg harus disembuhkan. Jujur, rasanya tidak mungkin melakukan itu.

    Saya rasa kok sederhana ya permasalahannya, yaitu jika Anda letakkan sesuatu pada tempatnya. Tidak mengagungkan sesuatu yang hina, pada tempat yang mulia, hanya demi kata-kata kemerdekaan. Huf, tidak untuk mereka pahlawan-pahlawan Bangsa ini gugur….

    Sedih aku Mon…

    Reply
    • May 29, 2012 at 3:43 pm
      Permalink

      Sedikit koreksi, orientasi seks bukan penyakit, sehingga tidak dapat dan tidak perlu disembuhkan.

      Sekali lagi, tidak ada yang memaksa Eko untuk setuju seks bebas, homoseksualitas, dan dsb dsb. Tapi kalau Eko menuntut negara untuk mengatur itu, maka Eko memberi negara hak untuk melakukan apa yang tidak dapat dia lakukan.

      Reply
      • May 29, 2012 at 6:19 pm
        Permalink

        tp pancen ono mas lembaga sing membantu untuk merubah arah orientasi tersebut

      • May 29, 2012 at 6:50 pm
        Permalink

        Btw, entah Valid atau tidak, FPI sebenarnya berdiri dengan bantuan polisi, dulu….sebagai salah satu “kelanjutan” dari Pam Swakarsa. Di Indonesia, militer dan polisi rentan jika harus menindak rakyat sipil, maka mereka menjadikan “rakyat sipil lain” sebagai alat penindakan. Jikalau huruf “I” di FPI ditanggalkan, mungkin akan lain beritanya. Mungkin nggak bakalan segede berita yang ada saat ini. Itu cerita dari salah seorang saudara yang pernah bekerja di media besar, yang dulu pernah dibredel masa Soeharto :).

        Untuk yang gay dan lesbi, no comment untuk mengatakan itu penyakit atau bukan. Cuman dari pengalamanku di Thailand selama 2 tahun (yang jumlah transgendernya cukup banyak, dan disana seperti terlihat “lazim”), ada usaha untuk mengembalikan mereka menjadi normal dan itu dilembagakan. Artinya, ketidakrelaan orang tua pada sikap menyimpang anaknya bukan kemudian dibiarkan, tapi ada ikhtiar untuk disembuhkan dan itu difasilitasi pemerintah. Cara penanganannya rata-rata dengan konseling, dan memompa potensi yang ada pada diri mereka sehingga mereka bisa lepas dari masalah tersebut. Masalah sembuh atau tidaknya, atau malah ada yang kemudian mengkomersilkan “potensi aneh” itu, itu urusan lain lagi. Bahkan kalau mau operasi kelamin pun ada sarananya di Thailand. Pratunam Hospital :))

      • May 30, 2012 at 2:20 pm
        Permalink

        orientasi seks bukan penyakit yang anda maksudkan, orientasi seks yang mana????? dari pembicaraan anda yang saya fahami berarti yang anda maksudkan orientasi seks bukan penyakit adalah seks bebas, homoseks, lesbi dan gay
        karna anda membela itu.

        ini adalah masalah keyakinan anda harus menjawab dan menegaskan bahwa hal itu benar atau salah menurut keyakinan anda? (silahkan jawab yang mana yang benar)….anda membela mati-matian hal tersebut berarti anda membenarkan penyimpangann seks tersebut sedangkan agama islam tidak! dan Tuhan dari agama islam membenci hal tersebut…

        berarti intinya adalah anda tidak setuju dengan Tuhan orang Islam karna Tuhan yang diyakini oleh umat islam memcenci penyimpangan seks tersebut.

        ini pemikiran saya yang sederhana saja:
        negara berhak kok membuat peraturan-peraturan untuk membawa masyarakatnya menuju masyarakat yang lebih baik,itu adalah yang harus dilakukan oleh sebuah negara bukan malah membiarkan dan membenarkan penyimpangan2

        saya kira bukan mas EKO SW yg menuntut negara untuk diatur, tapi anda sendiri yang berusaha mengatur negara dengan mengkerdilkannya bahwa negara tidak mampu megatur penyimpangan-penyimpangan tidak normal yang anda bela mati-matian tersebut.

        MAS EKO SW membela yang benar dan anda membela yang tidak benar dan tidak normal! perbedaannya sudah jelas.

    • May 30, 2012 at 3:21 pm
      Permalink

      Bung “Herman Goblok” salah memahami sikap saya.

      Anda menuntut homoseksual ditiadakan di Indonesia. Saya hanya bilang bahwa bukan hak negara untuk meniadakan homoseksual.

      Perihal homoseksual bukan penyakit, lha memang bukan penyakit. Mau digimanakan lagi?

      Reply
  • May 29, 2012 at 12:50 pm
    Permalink

    setuju dengan bang Eko SW,

    intinya jika orang itu beragama, dan meyakini agama adalah benar. pasti tau dan bisa membedakan mana yang harus di bela dan mana yang harus di tentang. (ini kalo yang mau ngaji lho ya…, klo cuma beragama thok gak pernah ngaji ya jadinya sama aja dengan yang tak beragama) :D

    kemaksiatan, apapun bentuknya wajib di perangi.

    Reply
    • May 29, 2012 at 3:46 pm
      Permalink

      Tidak ada yang melarang Chung untuk meyakini cara dia meyakini agamanya, karena pada intinya kita harus co-exist.

      Yang menjadi masalah adalah ketika orang yang tidak sepaham harus diperangi. Baik melalui intimidasi, ancaman, kekerasan, atau bahkan secara struktural melalui hukum. Ini tidak bisa diterima di Indonesia, dan mengamini segala bentuk intimidasi sudah cukup buruk.

      Reply
  • May 29, 2012 at 3:03 pm
    Permalink

    indonesia ga berhenti di masalah ketuhanan & kemanusiaan saja, masih ada kerakyatan yg dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan (huft, panjang bener sila ini)
    dalam musyawarah, pihak yg kalah (pendapatnya tidak 100% digunakan) harus legowo
    nah, yg terjadi krmn khan ngga ada musyawarah sama skali antara pihak pro & pihak kontra
    blm lagi pihak kontra pake acara menebar ancaman klo kehendaknya tdk diikuti akan membuat rusuh, dsb

    sebenernya konser bisa aja tetep jalan (sama kyk “oknum” pondok pesantren yg tidak terusik meskipun didalamnya terdapat praktek homoseksualitas/lesbian)
    tinggal diatur siapa yg boleh nonton (pembatasan usia) dan bagaimana tampilan penyanyi pada saat konser

    2jam bersama lady gaga ga akan berpengaruh signifikan thd kepribadian seseorang
    tinggal bagaimana kesehariannya dia aja
    (masyarakat hindu bali ttp kental dg upacara adat keagamaannya meski tiap hari berdampingan dg budaya asing)

    Reply
  • May 29, 2012 at 3:22 pm
    Permalink

    1 kata buat Polri dan FPI “TERLALU”.
    Polri TERLALU berlebihan dalam manyikapi ancaman FPI sehingga membuat Polri TERLALU takut dalam hal apapun yg sudah menyangkut FPI.
    FPI terlalu dangkal dalam mengartikan amar ma’ruf nahi munkar yang tersirat dalam Al-quran dan FPI TERLALU sempit mengartikan konsep kebebasan beragama dlm Islam “lakum dinukum walyadin” sehingga membuat menambah keyakinan khalayak bahwa Islam seperti dalam menyikapi perbedaan…padahal Rasulullah SAW:
    “Sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat pada manusia lain dan sejelek-jeleknya manusia ialah yang mengakibatkan kesengsaraan orang lain”.
    memang dalam islam ada kewajiban untuk memerangi kemunkaran seperti Nabi SAW bersabda:
    “Barangsiapa diantara kalian melihat kemunkaran, maka rubahlah (cegahlah) dengan tanganmu (kekuasaanmu), kalau tidak mampu hendaklah dengan lidahmu, dan kalau tidak mampu hendaklah dengan hatimu; demikian ini menunjukkan lemahnya iman”.
    Maksudnya Lemah dari segi perbuatan orang-orang beriman. Kata sebagian ulama:
    “Maksud mencegah dengan tangan ialah khusus bagi para pemimpin, yang dengan lisan untuk para ulama, dan dengan hati untuk orang-orang awam (umum). Katanya:
    “Dan orang yang mampu melakukannya sama dengan punya kewajiban memberantas kemunkaran”.
    itu sebabnya saya mengatakan FPI TERLALU.
    Wassalam

    Reply
  • May 29, 2012 at 3:31 pm
    Permalink

    Yusuf Islam boleh, Opick boleh, ungu boleh, lady Gaga ngga boleh?

    Seriously? Munafik lah orang-orang bedebah disini

    Reply
  • May 29, 2012 at 4:16 pm
    Permalink

    Cuman mekomentari saudara eko , gay lesbi itu bukan penyakit yg bisa disembuhkan , mereka mengidapnya pun udah takdir dari yg maha kuasa

    Reply
  • May 29, 2012 at 4:16 pm
    Permalink

    Cuman mekomentari saudara eko , gay lesbi itu bukan penyakit yg bisa disembuhkan , mereka mengidapnya pun udah takdir dari yg maha kuasa dan nggak bisa disembuhkan

    Reply
  • May 29, 2012 at 5:02 pm
    Permalink

    @rovan : yg lo sebutin (trutama yusuf islam + opick, i dont like the last one ’cause he said something horrible about gaga & her fans) jelas boleh lah
    khan mereka absolutely ga buka2an + ga seronok

    yg mengherankan itu justru artis2 dangdut di panggung kampung yg terbuka & seronok bisa tetep tampil krn dpt ijin dari berbagai pihak

    anw, NKOTB & BSB sebenernya ga kalah memancingnya lho ma gaga
    banyak cewek2 (cowok juga) yg jadi basah gara2 ngeliat mereka nyanyi & bergoyang

    Reply
  • May 29, 2012 at 6:20 pm
    Permalink

    @khafie : Sila keempat itu ya? Hm, sy bukan ahli yg mendalam ttg pancasila, namun scr mudh kata kuncinya terletak pada “hikmat kebijaksanaan”, yaitu bijaksana: meletakkan sesuatu sesuai proporsi scr adil, tanpa berlebih. Bukan hanya lady gaga: semua. Semua kultur hedonis sngat tidak bijaksana jika diselenggarakan di negara yg begitu pincang keadilan sosialnya. Dan Jakarta tempat yang sempurna untuk menunjukkan ketimpangan itu. Itu harus diperbaiki. Meski begitu panjang jalan ke arah itu, semua komponen bangsa harus optimis. Menyetop lady gaga, amin, smoga menjadi momen untuk menyetop yg lain. Utopia? Mungkin. Layak diperjuangkan? Ya!

    Sila ini, lebih cocok diarahkan ke musyawarah ttg kebijakan apa yg harus dilakukan untuk mewujudkan Indonesia yang bebas gizi buruk. Bukannya kebijakan boleh tidk lady gaga konser disini, si kota yg saat Anda menyaksikan konser tsb, sangat boleh jadi ada bbrp penduduk yg sdg mengais tong sampah untuk sekedar menghalau lapar.

    Apakah pendeskripsian saya berlebihan? Saya kira tidak

    Reply
  • May 29, 2012 at 6:35 pm
    Permalink

    @herman : mungkinkah pada perjalanan pemikiranmu tidak ada pertarungan? Cmiiw, namun saya simpulkan dirimu terlahir muslim, tetap sholat dan yakin akan kebenaran Islam. Artinya, setidak2nya nilai-nilai qurani, pernah menjadi pertimbanganmu dalam pemilihan kubu pemikiran. Bagaimana caranya, setelah pernah kusampaikan ttg kisah kaum nabi luth yg melazimkan (baca: demokrasi, biggest count) gay dan lesbi di musnahkan Allah dengan adzab yg begitu dahsyat, dirimu tetap memilih berada pada kubu pemikiran yang mengatakan gay/lesb is normal? Sedikit banyak, saya paham ttg pemikiran yg mnyatakan gay/lesb is normal. Namun, jawabannya sederhana: jangan ikuti hawa nafsu. Bukannya dilazimkan dan diinstitusikan. Dengan kata2 yg lebih singkat, dimana dirimu meletakkan Quran? I think I know: agnostic. Dirimu terima, tapi cukup segitu saja. Tidak diseriusi lebih lanjut.

    @Bimo : takdir? Kalao begitu, takdir selanjutnya bagi yg tetep tidak mau berhenti dari kemaksiatan tsb adalah adzab. Gamblang d quran.

    Reply
    • May 29, 2012 at 9:03 pm
      Permalink

      Mantab pak Eko SW. saya dukung pernyataan anda. smg itu memberi pencerahan bagi yg lain. bagi saya, so simple. bagi mereka yg berpikir liberal dan menggugat al-Qur’an: buatlah satu ayat saja yg semisal al_qur’an jika anda benar2 habt dan cerdas spt yg anda kira. saya yakin kalian ga akan sanggup. tantangan ini sdh dibuat Allah kpd Quraisy dan ahli2 syair dr arab dan mereka ga bisa. apalagi kalian. lalu kenapa masih mengatakan kalau al-Qur’an perlu direvisi dan kisah2nya ditentang??? tentu hanya hawa nafsu dan kesombongan yg membuat orang liberal mengatakan begitu. saya yakin, orang yg paling ahli dlm pemikiran liberalnya ga akan bisa menang hujahnya kalo bener2 diadu debat sama seorang ustadz apalagi syaikh, krn pemikiran mereka ga ilmiah dan hanya berdasar hawa nafsu …

      Reply
    • May 30, 2012 at 9:21 am
      Permalink

      Herman dan orang2 liberal itu hnya seperti orang yg suka cari kambing hitam saja. mereka tidak adil dlm bersikap. yg mereka bela itu hnya kasus2 yg sejalan dg pemikiran dia, misal Ahmadiyah, Syiah, dll. coba kalo kaum Muslimin yg jd korban, mereka ga akan berkomentar apalagi membela. coba kasus poso dan ambon dimana lebih 3000 umat Islam dibantai oleh orang nasrani. kurang besar dan kurang sadis apa korban kasus ini, tp mereka ga bersuara apa2. sementara kasus ahmadiyah dan yg lain2nya yg ada indikasi rekayasa (misal pelakunya bukan orang FPI, tp warga sekitar. di media beritanya pelaku FPI dan diblowup habis2an). dari situ, akal sehat bisa tahu siapa mereka (termasuk media yg mendukung mereka) sebenarnya dan siapa yg berada di belakang mereka. mereka berbicara atas nama kebebasan, HAM, sok cinta perdamaian, dll hnya untuk dalih saja. padahal di hati mereka ada ‘kebencian’ yg mendalam.

      Reply
      • May 30, 2012 at 11:59 am
        Permalink

        @Winoto: inti masalahnya apa nih?

    • May 30, 2012 at 11:50 am
      Permalink

      Menurut saya Mas Eko salah paham tentang sikap saya.

      Apakah melakukan tindakan homoseksual itu salah dari sudut pandang agama yang saya yakini, saya tidak perlu menjawab karena itu urusan pribadi saya, dan urusan pribadi tidak saya bawa ke ruang publik.

      Namun apakah negara harus menyisihkan homoseksual? Apakah negara harus melabeli mereka tidak normal hingga memaksa mereka untuk berubah?

      Itu sudah di luar kewajiban negara Mas. Tidak perlu dilakukan negara, dan akan sangat salah jika dilakukan. Seperti yang terus menerus saya tekankan, itu adalah urusan pribadi.

      Reply
  • May 29, 2012 at 8:22 pm
    Permalink

    Sepaham dengan anda,,,NKRI dibentuk dengan bhinneka tunggal ika berazaskan Pancasila & UUD’45 sebagai dasar negara, ideologi falsafah bangsa, yg sangat menghargai & melindungi keaneka-ragaman suku bangsa, agama, adat-istiadat & budaya dgn semboyan tepa-selira,,,setiap org yg menginjak bumi Indonesia wajib menghormati & mengimplementasikannya dlm setiap aspek kehidupannya. Bagi yg tidak melaksanakannya, berarti PENGKHIANAT Pancasila & UUD’45 !

    Reply
  • May 29, 2012 at 8:32 pm
    Permalink

    “putra pemimpin negara yang punya promotor konser kalah tender dengan promotor yang sekarang. sekian.”

    Reply
  • May 29, 2012 at 11:44 pm
    Permalink

    wah sebenarnya sih tidak perlu report report buat somasi segala.. wong sudah terlanjur ga bisa diapa apa in lagi…

    biarin ajalah… kita sudah harus berhenti membuat iklan gratis buat si lady gaga… :)

    Reply
  • May 30, 2012 at 12:21 am
    Permalink

    @Eko SW terus yang punya hak mengazab siapa? anda? fpi? apa gak pada keblinger merasa hebat udah merasa mampu menggantikan Allah?

    Reply
  • May 30, 2012 at 9:41 am
    Permalink

    Wah wah…doktrin2 FPI tetap mengarah pada cari mangsa dgn dalih kemurnian lahir.kepercayaan yg dbawa sjak lahir.
    Apakah Tuhanmu perlu dibela?bukankah rakyat2 miskin yg tertindas pejabat korup tdk ada di mata km FPI-followers?

    Reply
  • May 30, 2012 at 9:45 am
    Permalink

    Tuhan,disini di jauh perputaran bumimu,aku bertanya,Tuhan,agamaMu apa?
    Ridho kah dgn teror2,perbencian,tdk lg ada damai di bumi ini Tuhan?

    Reply
  • May 30, 2012 at 6:03 pm
    Permalink

    Maaf,tp apa yg Bimo blg itu salah besar buat saya.Gay lesbi memang penyakit..penyakit hati namany.Karena apa yg mereka perbuat berawal dari adanya niat dari hati dan sangat jelas itu bukan takdir tetapi nasib.Takdir adalah ketentuan dari اللّه yg sudah tidak bisa dirubah lagi.Sedangkan nasib,apabila kita punya niat untuk merubahnya maka semuanya akan berubah.Seperti halnya firman اللّه : “اللّه tidak akan merubah keadaan(nasib) suatu kaum hingga kaum itu merubah (nasib)nya sendiri.”

    Reply
  • May 30, 2012 at 6:30 pm
    Permalink

    Setuju dengan sudut pandang Mas Eko SW.

    Bayangkan kalau kita punya saudara/i yang menyimpang (Apabila anda muslim, seratus persen, Islam yang asli mengharamkan homoseksualitas), hak dan kewajiban kita untuk saling mengingatkan.

    Ibarat anak kecil yang sakit gigi, tentu dia akan menolak opsi ke dokter gigi karena sudah pasti perlakuan untuk kesembuhannya akan menyeramkan dan sakit. Dia akan membenci Ibunya yang memaksa ke dokter gigi untuk untuk cabut / tambal gigi.

    Tapi kita tahu bahwa Ibu yang baik adalah yang membawa anaknya ke dokter gigi untuk memperoleh pengobatan. Bukan yang membiarkan gigi anaknya membusuk dengan alasan sayang dan kasihan :)

    Mengutip sebuah artikel yang pernah saya baca, teman2 liberal ini seperti orang yang diberhentikan Polisi di tengah jalan karena mengemudi dalam keadaan mabuk tapi menolak berhenti. Mereka tidak peduli bahwa banyak masyarakat muslim (dan sebagian teman2 kristen) yang menolak irshad manji dan lady gaga. Mereka merasa menjadi orang paling berhak berbuat bebas sekehendaknya di Republik ini, barangkali karena orang-orang lain di luar itu mereka anggap kolot, tak berbudaya, kaum terbelakang, ekstrimis, teroris dan lain sebagainya

    Janganlah kita terpesona oleh kemegahan, gagap melihat kemajuan ilmu pengetahuan, lalu tersesat jalan. Umat Islam Indonesia tidak menjadi berkurang pluralitasnya sebelum muncul orang-orang yang menamakan diri Islam liberal itu. Sudah lama umat Islam Indonesia hidup dalam diversifikasi keyakinan dan pemikiran. Tidak ada permasalahan dengan pluralitas dan kebebasan selama itu, selama tidak ada yang mabuk dan melanggar aturan.

    Reply
    • May 30, 2012 at 9:38 pm
      Permalink

      Adinda, mengingatkan tentu saja boleh. Tapi jika Anda menginginkan negara ikut campur dengan melarang homoseksual, maka *sekali lagi* Anda mengijinkan negara untuk melanggar urusan pribadi penduduknya.

      Kemudian, analogi sakit gigi hanya pas jika homoseksual adalah penyakit. Oleh karena bukan, maka analogi Anda tidak tepat.

      Kemudian, liberalisme juga tidak membebaskan semua orang bebas sekehendaknya. Adinda salah persepsi. Liberalisme membebaskan setiap orang untuk berlaku apapun selama itu di ruang pribadinya. Jika orang mulai melanggar pribadi orang lain, atau melanggar di ruang umum, maka dia telah berbuat salah.

      Reply
      • May 31, 2012 at 12:19 pm
        Permalink

        Herman :

        Ah, bukan penyakit kan menurut Anda saja, menurut saya & puluhan juta manusia lainnya (jutaan di antaranya adalah ahli di bidangnya)
        homoseksualitas = penyakit.

        Mari ramai2 kita dukung penyembuhannya dan cegah penyebarannya :)

        Peace for all ^^

      • May 31, 2012 at 6:02 pm
        Permalink

        Adinda:
        Homoseksual bukan penyakit itu tidak menurut saya, melainkan menurut mayoritas psikolog. Jadi ini bukan opini tanpa dasar (seperti Adinda), melainkan putusan orang-orang yang ahli di bidang kejiwaan.

      • June 2, 2012 at 2:09 am
        Permalink

        Perilaku Homosexual pada dasarnya dapat dibagi menjadi 2 golongan. 1) disebabkan karena kelainan psikologi, dan 2) adalah kesalahan pada sel genetika.

        Pada saat orang tersebut masuk ke golongan 1), orang ini disebut sebagai orang yang sakit (i.e. sakit kejiwaan, setara dengan skizofrenia) dan ini dapat disembuhkan melalu terapi. Tetapi pada saat orang tersebut masuk ke golongan 2), maka di dunia tidak ada obatnya.
        Kalo yang gol 1) udah jelas jadi ga perlu dibahas.

        Tetapi untuk golongan 2) ini adalah mengenai hak azasi manusia. Menurut literatur yang beredar (silakan googling) kesalahan ini disebabkan karena secara umum jenis kelamin gender diklasifikasikan berdasarkan fisik kelamin SAJA. Padahal si orang yang punya alat kelamin perempuan (dan fisik perempuan), genetikanya bisa saja sebetulnya adalah terlahir dengan karakter dan psikologi laki2. jadi secara psikologis, orang ini harusnya digolongkan sebagai laki dan bukan perempuan.

        Memaksakan si laki2 dengan kelainan gen fisik perempuan ini apabila harus dipaksakan untuk tertarik dengan laki2 adalah seperti halnya meminta kawan laki2 normal yang anda kenal untuk tertarik dengan laki2. Tentunya malah aneh.

        Hanya saja menurut statistik, mayoritas homoseksual adalah golongan 1. (kalo ga salah lebih dari 70%). Tapi kasian aja yang 30% namanya juga cacat bawaan lahir.

  • May 30, 2012 at 7:18 pm
    Permalink

    Saya seringkali bingung membaca komentar2 kawan2 disini. Seringkali berpendapat menyerang seolah2 pendapat orang lain yg tidak sesuai pikirnya adalah mesiu yang seketika dapat menghancurkan iman.

    Saya rasa sudah jelas Mas Herman telah berpendapat tidak ada yg salah dengan FPI dan hak menolaknya, tapi menjadi salah ketika hal tersebut berbuntut ancaman. Lalu dimana yg bermasalah dgn pendapat ini?

    Mengenai penyimpangan orientasi seksual, saya sendiri gak kebayang gimana wujudnya kalo negara turut campur urusan ini. Didoktrin satu2 gitu biar “normal” lagi? Terus kalo dia gak mau lantas bgmana? Dipenjara? Atau diazab saja seperti Kaum Nabi Luth? Saya percaya untuk hal tersebut kita tahu Siapa Yang Paling Berhak Melakukannya. Selebihnya biarlah hal yang masuk rana pribadi tetap menjadi hal yg privat, seberapapun gatalnya kita ingin mengobati hal yg masih kita anggap “penyakit” tsb.

    Reply
  • June 1, 2012 at 1:07 pm
    Permalink

    INTINYA INI NEGARA BUKAN NEGARA ARAB. INI NEGARA DEMOKRASI.

    Reply
  • June 1, 2012 at 2:51 pm
    Permalink

    mengutip opini salah satu pembaca yg dimuat salah satu harian nasional bbrp hari yg lalu, batalnya konser lady gaga ini harus jadi momentum bangsa ini utk bangkit memerangi kemaksiatan, ketidakberadaban, keanti-agama-an, dsb yg dituduhkan kepada lady gaga
    klo sampe kondisinya tetep sperti skr (pornoaksi dimana2, hedonis, jauh dari agama, dsb), lady gaga akan tertawa lebar sambil menunjuk bangsa ini

    Reply
  • June 2, 2012 at 3:27 pm
    Permalink

    sangat setuju dengan pendapat bung Khafie. Masyarakat Indonesia terlalu banyak protes, sedikit2 ngeluh “Indonesia ga maju maju”, tapi toh hal hal simpel seperti lampu merah di jalanan protokol masih sering diterobos. Elit elit yang bermobil masih sering buang sampah sembarangan di jalanan. Orang-orang yang “katanya kurang mampu sehabis makan masih buang sampah ke sungai.
    Intinya jangan ga usah ngejudge orang ini-itu . gausah merasa menjadi yang paling bener. dan satu ini negara bukan negara Islam. dan saya sangat menghormati setiap individu yang beragama.

    Reply
  • June 4, 2012 at 4:35 pm
    Permalink

    Hm, bnyk masukan yg sm2 kita baca. Point2nya :

    Satu: Benarkah negara tdk berhak mengatur masalah gay/lesbi?
    Sy sdh memiliki putri dan putra. Dan di buku akad nikah saya, ada jelas peraturan atau definisi apa yg disebut dgn pernikahan, dimana point yg jelas adalah pernikahan dlakukan oleh pria dan wanita. Jadi hal tsb, pelembagaan pernikahan, diatur, dan gay/lesbi jelas tdk didefinisikan.
    Kalau skrg gay/lesbi menuntut u dilembagakan… aduh, hancur tatanan kehidupan kita : tidak akan ada lagi kemuliaan nasab, tdk ada lagi larangan hubungan ayah anak dan makna kesucian pernikahan… anda harus hapus itu semua.

    Bottom line, negara mengatur hal tsb. Dan wajib bagi negara dalam melakukannya.

    Reply
  • June 4, 2012 at 5:14 pm
    Permalink

    Dua : apakah dasar negara membolehkan kita melarang gay/lesbi?

    Dan…. berakhirlah kita di pertentangan tak berkesudahan dan kompromi2 yg berupa tarik ulur. Betul sekali, yg berargumen bahwa Indonesia bukan negara arab/islam. Sehingga, dengan hukum positif warisan penjajah belanda (yg masih dipertahankan), zina pun cm (cmiiw) dihukum 3 bulan penjara. Membunuh? Tidak akan mendapat hukuman mati, meskipun itu tidak memberi rasa keadilan bagi handai taulan yg dtgglkan. Apatah lg, kalau kita kedepankan pancasila, yg begitu luas tafsirannya, maka rasanya baik yg pro konser lady gaga atau sebaliknya, merasa akan sama2 benarnya.

    Kita tahu, bahwa pendiri bangsa ini mencari common grround yg bs mmpersatukan. Dan itu terbukti benar2 bs menyatukan sabang – merauke, meski ada bbrp gejolak separatisme. Namun overall, kita sukses berdiri sbg negara kesatuan. Nah, kita lanjutkan itu semua. Meski, apa boleh buat, berbagai perbedaan yg bertentangan pasti akan muncul sbg buah kemajemukan itu. Kita sungguh2 berharap pemerintah lebih tegas lagi mengedepankan perlindungan dan penjagaan identitas kita dengan dasar yg sdh kita sepakati, pancasila dan uud 45.

    Solusi?
    Rubah negara ini menuju penyempurnaan. Siapapun Anda : FPI, Liberal dsb. Namun dgn satu syarat : mencapai kesejahteraan masyarakat secara sempurna. Bukan mengejar pelampiasan nafsu hedonisme yg mengabaikan jeritan kaum papa.

    * ah, sptnya sy mulai memimpikan hal2 yg utopis….

    Reply
  • June 4, 2012 at 5:28 pm
    Permalink

    Terakhir, … berarti cara berpikir Tuan Herman bukan agnostic. Tapi lebih condong ke sekuler. Dan itu memang buah dari kelelahan sejarah agama yg tidak laku lagi sbg pengatur kehidupan bernegara. Maaf kalau dinilai menyudutkan Mas Herman scr pribadi. Sama sekali tidak. Cuman saya sering terheran-heran dengan cara berpikir yg meletakkan nilai2 agamanya dibawah nilai2 kebebasan dan demokrasi. Dan saya harus menetapkan penilaian sy ttg itu, dan terbukti, Anda sekuler. Apakah itu benar/tidak secara agama, Anda jawab sendiri. Dunia selalu berubah: Anda, dan juga saya. Only God knows..

    Thanks!

    Reply
  • June 11, 2012 at 12:13 am
    Permalink

    saya sangat tidak suka dengan lady gaga, karena memperlihatkan aurat perempuan yang mengumbar nafsu syahwat laki-laki, diamerika yang mengagungkan, mengumbar aurat, setiap menit terjadi pemerkosaan terhadap perempuan, bagaimana jika terjadi pada anak anda, atau saudara anda, yang hamil dari orang yang tidak di inginkan, yang tidak dicintai, dari orang-orang yang tidak bertangguna jawab karena menonton lady gaga, mungkin orang yang sudah menikah telah merasakan, jadi tidak manjadi berpengaruh, bagaimana dengan anda yang belum menikah, yang belum merasakan,, takutnya, karena tidak tahan bisa2 keluarga sendiri yang diambil, jadi saya sangat senang jika konser2 yang mengumbar hawa nafsu, itu dibatalkan… tidak terkecuali…. awas,,bisa2 terjadi pada keluarga anda

    Reply
  • June 18, 2012 at 7:54 pm
    Permalink

    yang jelas lady gaga itu telah menistakan agama, dan menistakan agama melanggar hukum di Indonesia. Indonesia melindungi 5 agama besar… sedangkan lady gaga menghina salah satu Nabi dari dua agama besar di Indonesia, itu sudah cukup sebagai alasan untuk menolak konser lady gaga, mohon diingat Indonesia mengakui perbedaan tapi tapi pancasila melarang komunis (non agama)…. oke

    Reply
    • June 21, 2012 at 8:59 am
      Permalink

      Indonesia melindungi 6 umat beragama untuk beribadah sesuai keyakinannya, Indonesia tidak dalam posisi melindungi ajaran agama. Jadi yang dilakukan Lady Gaga adalah sah.

      Reply
  • July 6, 2012 at 2:28 pm
    Permalink

    Pasal 156a KUHP tersebut tidak berasal dari Wetboek van Strafrecht (WvS) Belanda, melainkan dari UU No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama. Pasal 1 UU ini berbunyi:
    Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang utama di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran dari agama itu.”

    Reply
  • July 6, 2012 at 2:31 pm
    Permalink

    KUHP Pasal 156 a

    Barangsiapa di muka umum menyatakan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap SESUATU atau beberapa penduduk negara Indonesia dihukum penjara selama-lamanya 5 tahun.

    Reply
  • August 15, 2012 at 2:03 pm
    Permalink

    Nice post. I used to be checking continuously this weblog and I am impressed! Very useful information specially the remaining phase :) I maintain such information a lot. I was seeking this certain info for a very long time. Thank you and good luck.

    Reply
  • October 23, 2012 at 11:03 pm
    Permalink

    sebenarnya gaga kesini juga gpp, toh konsernya cuma 2 jam aja. gak ngaruh tuh, cuma FPI aja yang sok suci ! nolak gaga tapi pikiran FPI malah diperbudak nafsu. contoh: dedengkot FPI itu kebanyakan istrinya lebih dari 2 !

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *