hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Reviews - February 27th, 2011

Black Swan

“Melihat kekasihnya direnggut oleh buaian Angsa Hitam, sang Angsa Putih yang putus asa berlari ke jurang, meloncat untuk bunuh diri. Dan dalam kematianlah, ia menjadi terbebaskan.”

Begitulah penafsiran baru balet The Swan Lake yang tengah digarap oleh Thomas (Vincent Cassel) di film Black Swan. Dalam audisinya, Thomas mencari balerina muda untuk memerankan Angsa Putih sekaligus Angsa Hitam karena dua tokoh itu selalu dibawakan oleh balerina yang sama.

Peran itu jatuh ke Nina (Natalie Portman), seorang balerina muda. Ketika mengabari ibunya tentang kabar gembira itu, Nina masih dalam kondisi setengah tidak percaya karena audisinya sebagai Angsa Hitam payah total. Ia memang menarikan kerapuhan sang Angsa Putih dengan cermat, tetapi Nina menjadi seperti tanpa nafas saat membawakan gairah dan nafsu sang Angsa Hitam.

Latihan-latihan ballet berikutnya membuktikan bahwa Nina memang tidak bisa menjadi sosok “lepas”. Ia selalu terbatasi oleh ketakutan dan keteraturan, lawan dari karakter sang Angsa Hitam. Thomas sampai menyuruh Nina untuk masturbasi, supaya ia bisa meresapi apa itu “hidup”.

Nina yang diliputi kekhawatiran akan gagal membawakan tokoh Black Swan, semakin terancam saat Thomas terus membandingkan dia dengan Lily (Mila Kunis), balerina berambut hitam, berwajah latin, dan berdarah panas.

Dan cerita bergulir menjadi psychological thriller yang digiring hingga detik terakhir Black Swan. Dengan sempurna, Natalie Portman membawakan tokoh Nina yang rapuh dan takut. Keraguan Nina untuk berhasil, dan ketakutannya akan gagal, diperlihatkan Portman dengan halus dan menyesakkan.

Saya acungi jempol juga untuk sutradara Darren Afnofsky. Dengan mood film yang serba kelam, Afnofsky menuntun adegan-adegan yang tidak horror menjadi thriller melodik yang menusuk.

6 Comments


Leave a Reply