In the last part of my interview with MrBrown, we discussed politics, free speech, and living in Singapore. We also touched Pesta Blogger a bit. While our session was conducted via Skype, still, it was a great and inspiring experience. Big thanks to MrBrown for sparing his time for us, Shirley of King Content Studio for arranging everything, and Nana for the cool advices.

Due to its length, some part of this interview was edited. The unedited podcast will be available sometime after today :D. Photo courtesy of Rony.

Dalam bagian terakhir interview dengan MrBrown, kami berdiskusi soal politik, kemerdekaan berekspresi, dan kehidupan di Singapura. Kami juga membahas Pesta Blogger sedikit. Walaupun interviewnya cuma lewat Skype, tapi tetap asyik dan inspiratif. Terima kasih untuk MrBrown yang sudah meluangkan waktu, Shirley dari King Content Studio yang menyiapkan segalanya, dan Nana untuk saran-sarannya yang keren.

Oleh karena cukup panjang, beberapa bagian wawancara ini telah dipotong. Podcast versi tidak diedit akan diunggahkan setelah hari ini :D. Foto dipinjami Rony.

Apakah Anda melihat blog sebagai tren yang suatu saat akan mati?

Menurut saya blogging akan berevolusi. Blog sudah beredar cukup lama, dan masih ada sampai sekarang. Ia menjadi mainstream. Aneh kalau ada orang yang bilang blog adalah media alternatif.

Sekarang blog sudah berevolusi menjadi bentuk-bentuk lain, seperti microblogging… Twitter… tumblr. Teknologi memungkinkan hal-hal baru, dan mereka menyatu. Sebagai contoh, saya pernah menyiarkan laporan langsung via video, saya mengumumkannya di twitter, lalu saya mempublishnya di blog. Ini menjadi fenomena multiplatform yang ‘menakutkan’. Tapi pada intinya itu adalah tentang komunikasi.

Blog Anda, mrbrown.com dikenal memakai satir untuk mengkritik pemerintah Singapura. Apakah ada maksud tertentu memakai gaya satir?

Saya tidak yakin sekarang Anda bisa menyebut mrbrown.com sebagai situs satir. Awalnya memang berisi tulisan-tulisan satir, tapi sekarang isinya soal anak-anak saya, tentang satire di Singapore dan sesekali tentang AS. Saya juga menulis soal gadget dan juga soal wisata. Jadi agak susah bilang situs itu tentang apa. Tapi saya nggak masalah, itulah saya, saya tertarik dengan banyak hal.

Tapi sekali lagi, tidak ada tujuan khusus memakai gaya itu. Saya tidak bersatir untuk menyatakan pandangan politik saya. Saya melakukannya karena lucu, supaya Anda ketawa. Politik di Singapura membungkus kehidupan masyarakatnya. Ia menjadi sasaran empuk untuk humor dan menjadi sumber lelucon-lelucon saya.

Anda harus paham, politik di Singapura—yang notabene dikuasai oleh satu partai—telah masuk ke semua aspek kehidupan rakyatnya. Tidak mungkin menatap ke kanan atau ke kiri tanpa melihat ikut campur negara pada sesuatu.

Seekstrim itu?

Iya. 80% penduduk kami tinggal di perumahan pemerintah (apartemen yang dimiliki pemerintah). Rumah pribadi sangat mahal dan sangat langka di Singapura. Di lain sisi, perumahan pemerintah standarnya bagus, tidak kumuh.

Tempat kami tinggal dan atap kepala kami dibangun oleh negara. Jadi ketika Anda bercanda tentang lift yang rusak, apakah itu politik? Jawabannya iya, karena pemerintahlah yang mendirikan lift itu.

Pemerintah juga penyerap tenaga kerja terbesar. Tapi ini bukan soal buruk atau baik. Pada kenyataannya pemerintah menyentuh semua aspek kehidupan kami. Ketika Anda mencemooh sesuatu, pasti ada kaitannya dengan negara.

Mengerikan sekali ya. Mirip dengan Big Brother dong? (Big Brother adalah sosok diktator yang mengawasi gerak-gerik warganya dalam novel George Orwell)

Mmmm iya… tapi tidak seseram yang Anda bayangkan. Beberapa orang melihat itu menyeramkan, tapi di lain sisi kami memiliki stabilitas dan keamanan. Saya pikir lebih tepat kalau disebut…. Big Brother Berhati Emas.

Ada banyak hal yang patut kami syukuri, kami memiliki tempat yang stabil untuk ditinggali. Selalu ada positif dan negatifnya. Jika pemerintahmu relatif tidak korup, menggajimu dengan layak, dan mampu menekan KKN; maka masyarakat tidak banyak mengeluh walaupun kehidupan mereka banyak diatur. Bagi mereka itu adil.

Tapi ketika pemerintahmu dipilih langsung tapi korup, omongannya nonsense, dan tidak kompeten. Lalu buat apa jika kita punya 10 parpol tapi masyarakat masih terjerat kemiskinan? Itu tradeoff saya rasa…

Indonesia ada sekitar 40 parpol untuk pemilu 2009 lho.

Oh ya? Wow! Saya akan berbahagia kalau ada dua parpol di sini. Hahaha. Empat puluh parpol itu cukup menarik, toh negara kalian besar.

Apakah Anda pernah ditangkap atau diintimidasi karena blog?

Hehehe. Belum. Selama sepuluh tahun di online saya belum pernah ditangkap. Tapi kolom surat kabar saya pernah dicekal gara-gara tulisan saya. Kolom itu sudah berjalan selama tiga tahun, dari Juli 2003 sampai sekitar Juli 2006. Itu adalah kolom humor, tayang tiap Jum’at di salah satu koran besar di sini. Tulisan terakhir saya rupanya membuat berang Kementrian Informasi, Komunikasi, dan Kesenian. Akhirnya kolom saya dicekal. Dan begitulah.

Ada teori kalau pemerintah tidak begitu peduli dengan dunia online, tapi sangat sensitif terhadap media mainstream, seperti Radio, TV, dan Koran. Sekarang saya sudah tidak punya kolom lagi.

Apakah Anda tidak takut kalau suatu saat terjadi apa-apa?

Mmm… saya harap tidak. Tidaklah sehat kalau kita terus menerus hidup dalam ketakutan. Itu membatasimu melakukan hal-hal yang seru dan menikmati hidup. Saya tidak terlalu sering memikiran itu. Saya yakin akal sehat akan selalu menang.

Ketika saya mulai menulis online tahun 96, orang sering menasehati saya ‘Hei Brown, kamu harus ati-ati, nanti kena masalah…’. Sepuluh tahun kemudian orang masih mengatakan ke saya ‘Hei Brown, podcast-mu, kamu harus ati-ati, nanti kena masalah…’

Saya sudah mendengar nyanyian itu sebelas tahun lebih. Jadi ya begitulah.

Mungkin Anda akan mendengarnya sepanjang hidup.

Iya. Selama saya masih tinggal di Singapura, pastinya. Selama kita bermain-main di tepi batas, orang akan selalu memperingatkan. Saya rasa itu harga yang harus dibayar seseorang yang mencoba-coba batas dan bercanda.

Tapi mestinya kita harus paham hukum ketika menjajal batas-batas?

Ya dan tidak.

Kita mesti hati-hati kepada pasal pencemaran nama baik dan pasal-pasal lain. Kita juga harus bertanggung jawab atas apa yang kita tulis. Tapi di lain sisi, hukum di Singapura itu sangat luas. Jika pemerintah ingin menangkap saya, ada 26 pasal yang dapat menjerat saya. Anda bisa waspada terhadap hukum, tapi kalau pemerintah ingin menangkapmu, mereka punya banyak cara.

Memang benar kita harus melek hukum. Mungkin kita sudah mentaati pasal tertentu. Akan tetapi jangan lupa masih ada 25 pasal lain yang bisa digunakan untuk menahanmu jika pemerintah tidak suka dengan apa yang kau tulis.

Pokoknya jangan berpikir terlalu keras, akhirnya Anda tidak menulis apapun.

Di sini ada undang-undang subversif yang sangat luas. Terakhir digunakan untuk menjerat dua blogger karena dua komentar rasial di internet. Itu satu dari banyak palu raksasa yang bisa menghajarmu.

Bagaimana pandangan Anda tentang Pesta Blogger, perlukah diadakan lagi setiap tahun?

Tentu saja, kenapa tidak? Tapi saya yakin formatnya akan berkembang. Itu adalah kesempatan yang sangat baik. Orang Indonesia kan suka kumpul-kumpul offline kan? Istilahnya apa itu?

Kopdar?

Iya. Itu budaya yang bagus. Perlu dilakukan tiap tahun, mungkin pindah-pindah kota. Tahun ini di Jakarta, tahun depan di Jogja, sehingga tiap orang bisa saling mengunjungi kotanya. Saya juga suka nama ‘Pesta’. Itu adalah nama yang bagus. Demi tuhan, jangan sampai diganti jadi “Seminar Blogger” atau “Konferensi Blogger”! Mungkin tetap ada sesi diskusi dan panel yang serius, tapi ‘pesta’ itu menyenangkan.

Mungkin kita perlu lebih banyak musik.

Oh iya! Endah dan Rheza itu bagus sekali! Kenapa kok tidak ada yang memberi tahu saya soal pertunjukan itu? Kalau saya tidak terlalu iseng kemana-mana, mungkin saya tidak akan tahu. Mungkin harusnya ada sesi ‘Music Blogging’, dimana ada panel tentang musik, lalu ngerock sampai malam. Pasti akan sangat seru!

Pertanyaan terakhir. Ada banyak blogger Indonesia yang tulisan dan karyanya dikenal luas di masyarakat. Apakah ada tip untuk blogger-blogger muda ini?

Jangan berusaha jadi terkenal! Jika Anda punya konten yang diminati orang, menyentuh kehidupan, kualitasnya bagus dan konsisten… pembaca akan datang dengan sendirinya. Tapi kalau Anda menulis dan memproduksi konten untuk blog, dengan semangat ingin ngetop… berapa lama Anda bisa bertahan? Saya tidak tahu.

Sangatlah mudah terkenal dengan singkat, tapi tidaklah mudah membangun basis pembaca yang loyal. Caranya cuma satu, menjalin keakraban dengan pembacamu hari demi hari. Dan itu lebih penting daripada berniat menjadi ngetop.

Ada beberapa orang yang berhasil menjadi ngetop. Tapi lebih menyenangkan kalau kita bisa menemukan blog yang tulisannya bagus, konsisten, dan sehati dengan saya. Hal-hal semacam itu harus dibangun pelan-pelan, tidak bisa instan. Zaman sekarang orang memang mencari cara cepat untuk ngetop, tapi saya rasa itu adalah jalan yang tidak menuju ke mana-mana. Bahkan di Twitter, perhatikan orang-orang yang follower-nya banyak, mereka bisa begitu karena konsisten memproduksi konten yang menarik dan menggugah. Itu tidak dicapai dengan melakukan hal-hal heboh, atau menulis hal-hal yang menurutmu akan disukai pembacamu.

Saya membangun audiens saya bertahun-tahun. Saya sudah menganggap mereka sahabat, bukan fans. Sekarang ini, tiap saya ke mana, selalu ada email atau telepon masuk yang mengajak makan-makan bareng. Saya belum pernah ketemu orang itu, tapi kami sudah kenal melalui blog saya. Mereka tidak menganggap saya seleb. Walaupun mungkin unsur keseleban selalu ada, tapi mereka menganggapm saya seorang kawan lama. Itu rasanya menyenangkan. Dan kita tidak bisa mendapatkan itu melalui popularitas, kita hanya bisa membangunnya pelan-pelan.

Okey, Terimakasih MrBrown!

Terima kasih sudah ngobrol dengan saya. Asyik sekali.

Mr Brown: Hidup dalam ketakutan itu tidak sehat

23 thoughts on “Mr Brown: Hidup dalam ketakutan itu tidak sehat

  • December 24, 2008 at 12:21 pm
    Permalink

    wah… sangat menarik :)

    Iya, sosok yang penuh warna.

    Reply
  • December 24, 2008 at 12:26 pm
    Permalink

    wow…
    seperti mendengar seorang tetua bloger negeri sendiri sedang memberi wejangan, Mon…

    MANTAP!
    kamu benar2 ketua kelas sejati.. selamanya!
    *selamanya jadi ketua kelas, ketok2 palu

    Lalu Leksa jadi apa? Dosen UPN? :D

    Reply
  • December 24, 2008 at 12:30 pm
    Permalink

    Terjemahan yang sudah diadaptasi ke bahasa “kita”, jadi enak sekali untuk dibaca.

    Nasehatnya tentang bermain di tepian juga menarik. Yang bisa membuat bertahan mungkin hanya keberanian dan kebutuhan :D

    Dan berakhir renungan? Apakah saya blogging demi jadi “seleb”? Apakah itu salah? Apa sebenarnya tujuan saya ngeblog?

    Aku nangkepnya sih nggak salah, tapi kalau niatnya tulus, menjalaninya lebih enteng.

    Reply
  • December 24, 2008 at 12:32 pm
    Permalink

    ternyata ada phoenix lain yg gak ada matinye..

    Reply
  • December 24, 2008 at 12:56 pm
    Permalink

    Woow..mr brown keren! Menarik skali mon interviewnya :D

    Terimakasih ke MrBrown donks :D

    Reply
  • December 24, 2008 at 12:58 pm
    Permalink

    Responnya waktu denger Indonesia punya 40 Parpol menarik, ada benernya juga, kita negara besar jadi banyak ide yang harus ditampung dan diapresiasi, asal sistem politiknya udah bener aja. :P

    Btw gak nanya pendapat dia soal UU Pornografi nih? Kan ketidakbebasan untuk menjadi gila dan lari telanjang di tengah jalan adala bentuk ketakutan juga :D

    Reply
  • December 24, 2008 at 2:39 pm
    Permalink

    selesai sudah akhirnya.
    gak salah kamu wawancarai dia mon.
    emang keren orangnya.

    Reply
  • December 24, 2008 at 7:42 pm
    Permalink

    aku suka bagian yg ngetop2 itu.

    aku setuju. rasanya rendah sekali jika ngeblog krn haus akan eksistensi. kata choro : sok eksis. jayus banget blogger yg seperti itu.

    Reply
  • December 24, 2008 at 10:17 pm
    Permalink

    Wow, pesan terakhirnya sebelum penutup menohok saya, mengingat dulu saya suka iri sama Joe dkk yang jadi seleblog, sedangkan saya dulu sepi komentator :mrgreen:

    Untung sekarang sudah sadar :P

    Reply
  • December 25, 2008 at 12:53 am
    Permalink

    @mas iman
    menginterview Mark bukannya jd domain Gun?

    Reply
  • December 25, 2008 at 9:04 am
    Permalink

    inspiratip.
    sepakat banget sama ini :
    Jangan berusaha jadi terkenal! Jika Anda punya konten yang diminati orang, menyentuh kehidupan, kualitasnya bagus dan konsisten… pembaca akan datang dengan sendirinya.

    biarkan postingan yang memilih pembacanya :)

    Reply
  • December 29, 2008 at 6:41 am
    Permalink

    since i know how you feel about false modesty, so … YEAAAAACH hihihhii….

    pas nyentil puluhan partai itu, kamu cerita juga ga soal ‘pesta’ demokrasi? :D

    Reply
  • December 30, 2008 at 2:53 am
    Permalink

    Hm, kalau sy ngeblog for a living.
    :D

    Yah, representasi gedung kantor gitu. Bahkan ada resepsionisnya segala, meski mereka hanya berwujud Hyper Link sih.

    But it’s work fine. Very fine :)

    Alhamdulillah

    Reply
  • January 5, 2009 at 7:28 am
    Permalink

    Wawancara yang sangat menggugah sekali!
    Thanks, Mas Momon. Inilah pencerahan yang harus sering2 saya baca.

    Btw, Mr. Brown itu siapa ya?
    *kabuuurrrr…*

    Reply
  • January 6, 2009 at 8:24 am
    Permalink

    Barusan mampir dulu kesana, sebelum wawancara. Jadi kebayang bahwa ketika anda berbicara mengenai apapun, bercanda, mengkritik maka anda sedang berpolitik. Saya sekilas nangkapnya begitu. Saya tidak melihat itu hanya relevan di negara Mr Brown, di Indonesia juga, seharusnya lebih banyak penulis kritis sekaligus blogger, karena kita punya banyak masalah. Menertawakan masalah adalah kearifan tersendiri. Seperti menyalakan lampu ditengah gelap, lebih baik dari mencaci kegelapan..
    dinegeri yang hidup, kesejahraan, pendidikannya dijamin negara (versi UUD) maka justru kita ini batuknya saja politis, semua masalah harus jadi kritik buat negara. Kadang orang Indonesia agak2 aneh juga tapinya, kalau sudah salah negara terkadang kita masih merasa perlu bijak dengan mekatakan ‘tapi kan semua pemerintahan bisa salah’ atau ‘ya wajar kalau… bla..bla..’
    Mr.Brown dari yang saya baca diatas sangat menikmati setiap permasalahan, khususnya menyadari bahwa semua itu politis. Dia menikmati twitter, blog, youtube sebagai media komunikasi, lebih dari sekedar alternatif, namun seperti lekat sekali, seperti berfikir dan menulis, menyiarkan video…
    Kesadaran pada perkembangan teknologi yang begitu dekat menjadikannya sangat biasa dengan publisitas. Jika memiliki blog yang dibaca 5000orang itu berarti terkenal, maka tidak begitu jika media2 seperti blog dll itu dekat, maka itu bukan terkenal. Itu sama seperti ngobrol dengan orang ditengah jalan, bertemu teman dan menyapa di kafe, berbicara dengan supir bus, menyiarkan video mengenai keluarga, ini seperti menelpon saudara ketika lebaran…
    jadi bisa secara tidak langsung dikatakan, jika dijalani dengan menyenangkan maka menjadi terkenal adalah efek saja. Anda tidak dapat menolak menjadi terkenal jika anda sangat bersahabat dengan semua orang, bahkan ketika anda melontarkan kritik pedas sekalipun…
    *komen sok tau*

    Terima kasih untuk komentar yang sangat bagus :D

    Reply
  • January 6, 2009 at 8:34 am
    Permalink

    Wah Mas, lupa, salam kenal, kebiasaan baru mas, komen kayak bikin posting, maaf ya Mas, semoga komen saya tidak OOT..
    Ralat : Barusan mampir dulu kesana, sebelum wawancara.
    seharusnya : barusan mampir kesana sekilas, sebelum komentar di wawancara yang sangat menarik diatas :) Sekali lagi, salam kenal Mas…
    tabik…

    Reply
  • January 7, 2009 at 6:15 pm
    Permalink

    keren, mon!!! :) seru bacanya. gak mau interview yang lain dari rombongan? jeff? mark? hehehe bisa teleponan via skype :D

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *