hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for September, 2007

September 29th, 2007

Tanggung Jawab Blogger

Kalau saya boleh bingung, sebetulnya apa sih blog itu? Kalau anda menjawab blog adalah the new media, wadah bagi orang-orang yang sebelumnya cuma penonton untuk turut menyatakan opini dan memberitakan kabar-kabar; saya akan manggut-manggut setuju.

Anda juga boleh jawab kalau blog adalah medium opini dan kritik yang sangat subyektif; tetapi kesubyektifan itu justru ciri khas yang membuatnya begitu menarik. Toh, adanya fasilitas komen justru menghadirkan diskusi yang membuat tuturan subyektif menjadi berimbang. Apakah jawaban anda seperti itu? Kalau iya, saya juga akan manggut-manggut setuju kok.

Atau mungkin menurut anda, blog adalah media generasi baru yang akan menggeser, atau setidaknya menandingi, mainstream media? Tentu saya akan manggut-manggut senang. Akan tetapi, menyandingkan blogging dengan jurnalisme-pada-umumnya, apa itu tidak terlalu berat?

Benar, banyak blogger yang tulisannya bagus-bagus, dan obyektif, tetapi kebanyakan dari mereka memblogging di saat senggang (atau di saat atasan tidak di ruangan). Orang-orang ini tidak mungkin memiliki waktu dan suberdaya yang cukup untuk mengecek tiap fakta dan mericek tiap kata seperti layaknya pabrik koran dan majalah, sehingga tulisan mereka lebih rentan berkesalahan. Lantas, kalau disomasi gimana dunks?

Atau… dengan keterbatasan itu, mungkin blogger cukup menulis hal-hal yang ‘aman’ saja? Seperti betapa hebatnya piknik mereka di puncak? Tapi bukankah itu sedikit mengingkari semangat menjadi the new media? Ya? Atau tidak?

Bagaimana menurut anda, harus bagaimana blog itu?

September 27th, 2007

Sunu dan Somasinya

Seperti yang kita ketahui bersama, somasi seorang Ustad atas mahasiswa UGM nampaknya berujung ke jalan damai. Mirip dengan kasus yang lain, permasalahannya memang bermula dari sebuah tulisan kecil di sebuah weblog, lantas ada yang ndak terima, ngirim email, dan tulisan di blog itu harus lenyap. Tapi memang, dalam suasana Ramadhan (dan pendadaran), perdamaian menjadi preferensi yang menarik.

Menurut hemat saya, sebetulnya Sunu tidak perlu merespon tuntutan via email tersebut, apalagi tulisan Sunu tentang dakwah komersil itu sama sekali tidak menyebutkan nama orang secara langsung. Bagi saya, tuduhan dalam email tersebut tidak berdasar dan justru terasa mengancam perlindungan yang diberikan kepada warga negara dalam mengutarakan pendapatnya.

Pilihan untuk menempuh somasi juga terasa tidak pas, karena untuk kasus yang sedemikan lemah, kerepotan untuk memperbaiki opini massa akan lebih berat daripada hasil dari somasi itu sendiri. Selain itu, somasi untuk artikel yang ‘aman’ semacam tulisan Sunu, justru akan menimbulkan kekhawatiran dalam mengutarakan pendapat di ruang publik. Seperti ndorokakung bilang, “Sekarang giliran Sunu, besok mungkin saya, lusa sampean, dan siapa lagi berikutnya.”

Dalam perjalanan menjadi negara demokrasi yang matang, kebebasan berpendapat memang menjadi sebuah isu yang serba abu-abu. Yang jelas, bagi saya ini bukan momen untuk takut berpendapat, tapi momen untuk lebih terampil mengutarakan pandangan kita.