Apa yang Fulan lakukan ketika ingin beli barang bagus senilai 1 juta rupiah, sementara uang di kocek cuma 100 ribu rupiah? Urung membeli barang itu dong! Namanya juga nggak mampu. Ya, mungkin cari pinjaman atau cari obyekan. Yang jelas perlu usaha keras untuk menggenapi sisanya yang 900 ribu itu.

Logika yang mudah diterima, betul?

Masalahnya jadi beda ketika Fulan tidak ingin membeli, tapi Fulan ingin berkomunikasi. Misalnya ingin cerita si bos yang killer, atau cerita fitur Produk A di secarik leaflet. Seperti halnya barang yang tidak cuma-cuma, berkomunikasi juga berbatas. Pendengar cerita tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan backstory bos si Fulan. Daftar fitur produk A-pun tidak mungkin dimampatkan pada secarik A5 bolak-balik. Kalau dipaksa, pesan justru tidak sampai. Toh Fulan-Fulan ini tetap saja melakukannya.

Kenapa ya, yang pertama mudah diterima, dan yang kedua tidak?

Tamak Dalam Bertutur
Tagged on:

11 thoughts on “Tamak Dalam Bertutur

  • March 14, 2007 at 9:56 pm
    Permalink

    Yang pertama biasanya menimbulkan kesan, bisa jelek, bisa juga bagus. Makanya yang kedua ga terlalu digubris.

    Ini mirip teori kepuasan yang menurun (ilmu ekonomi).

    Reply
  • March 14, 2007 at 11:22 pm
    Permalink

    Cerita pertama – Fulan yang mempunyai ‘materi’ terbatas..

    Cerita kedua – pendengar dan kertas A5 yang mempunyai ‘materi’ terbatas.. (sementara Fulan di sisi lain)

    Kalo di cerita pertama ditambah peran seorang “Sales”…mungkin spt peran Fulan di cerita kedua, sang Sales akan menjadi orang yang tidak mengerti bahwa duit Fulan terbatas…

    Kenapa yang kedua sulit dimengerti? ..karena posisi Fulan dikedua cerita berbeda, yang pertama minta dimengerti, yang kedua – gak perlu merasa mengerti…

    Mudah2an saya gak salah menangkap ‘moral’ cerita ini.. ;-)

    Reply
  • March 15, 2007 at 8:03 am
    Permalink

    takerane bedo mas, sing pertama keliatan duitnya 100 ewu, lha yang kedua kan ga keliatan wong unine lambe je

    Reply
  • March 15, 2007 at 8:45 am
    Permalink

    Karna yg pertama menuntut pengorbanan/usaha dari diri sendiri, sementara yg kedua menuntut pengorbanan/usaha dari org lain.

    Jelas antara yang pertama dan kedua itu gak relevan dan signifikan. Gitu aja kok repot! Gak high tech, ah.

    Reply
  • March 15, 2007 at 9:01 am
    Permalink

    arina:
    Cerita pertama – Fulan yang mempunyai ‘materi’ terbatas..

    Cerita kedua – pendengar dan kertas A5 yang mempunyai ‘materi’ terbatas.. (sementara Fulan di sisi lain)

    Berarti, yang pertama itu batas ada pada diri sendiri, sementara yang kedua batas ada pada pihak lain. Begitu ya? :)

    Tetapi pada hakekeatnya pada kedua kasus tadi ada sesuatu yang disebut batas bukan? Kenapa Fulan lebih mudah menerima batas internal dan lebih sulit menerima batas eksternal?

    iway:
    takerane bedo mas, sing pertama keliatan duitnya 100 ewu, lha yang kedua kan ga keliatan wong unine lambe je
    Berarti, batas yang kasat mata lebih mudah diterima daripada batas yang tidak kasat mata. Begitu?

    doc wong:
    Jelas antara yang pertama dan kedua itu gak relevan dan signifikan. Gitu aja kok repot! Gak high tech, ah.
    Bukannya adanya batas membuat keduanya jadi relevan?

    Reply
  • March 15, 2007 at 10:33 am
    Permalink

    ah kayak guru bahasa indonesiaku waktu smp aja, suka pake nama fulan

    Reply
  • March 15, 2007 at 11:35 am
    Permalink

    Kenapa Fulan lebih mudah menerima batas internal dan lebih sulit menerima batas eksternal?

    –> jelas, karena Fulan sendiri yang mengerti batas yang dia miliki… untuk mengerti batas yang dimiliki pihak lain, ya harus ada effort lebih, yaitu: mengerti orang lain dan mengerti kenapa pihak lain punya batas itu..

    Seperti Okky Asokawati-mu itu…cuma dia yang bisa mengerti batasnya shg dia harus mengatakan ‘jangan menoleh ke belakang’ ….coba kamu punya kesempatan ketemu dia, pasti kamu akan memaksa melihat bagian belakangnya (=kamu sulit memahami batas yang dimiliki Okky)…begitu dgn susah payah kamu berhasil melihat dan ternyata belakangnya bolong… “ooh…bolong, pantesan”.. baru deh bisa mengerti dan menerima..(=menerima batas pihak lain, setelah melalui proses yang ‘agak’ panjang)

    Reply
  • March 15, 2007 at 2:19 pm
    Permalink

    wealah…. saya ga mudeng ini

    Reply
  • March 15, 2007 at 8:37 pm
    Permalink

    Jelas yang kedua sulit diterima, karena emang dipersulit. :-D
    Klo yang pertama sikonnya jelas si Om Fulan mo beli tapi duitnya gak cukup, jauh lagi.
    Mudah-mudahan gak salah, abis muter2 saya bacanya

    Reply
  • March 16, 2007 at 2:50 pm
    Permalink

    si fulan itu….lu ya, man?

    Reply
  • March 22, 2007 at 9:15 am
    Permalink

    doc wong:
    Jelas antara yang pertama dan kedua itu gak relevan dan signifikan. Gitu aja kok repot! Gak high tech, ah.

    momon:
    Bukannya adanya batas membuat keduanya jadi relevan?

    haduuhh, momon gak nonton Republik Mimpi nih…*merasa jadi pelawak gagal*

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *