hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Life - September 15th, 2005

Petulangan Surat Ijin

Amplop surat ijin tidak masuk sekolahMenulis surat ijin ternyata lebih susah dari yang saya kira.

Tadi pagi, adik saya mengeluh pusing-pusing dan mual sehingga tidak dapat masuk sekolah. Kebetulan Ibu saya sedang ke luar kota dan Bapak saya sudah berangkat, sehingga saya terpaksa membuatkan surat ijin sakit untuk wali kelas adik saya. Dengan time-constraint yang cukup ketat pula: harus sampai di sekolah sebelum jam 10.00 karena guru yang mengajar jam 10 sangat galak.

Sungguh sebuah timing yang sangat tepat. Sudah jam 8.00 dan kuliah saya mulai 1 jam yang lalu. Berarti telatnya nambah 30-40 menit.

Ok…. Sebelum mulai menulis ada beberapa goal yang ingin saya capai dalam surat tersebut:
1. Surat ijin harus singkat dan padat. Kalau perlu impersonal dan tidak terlalu banyak menggunakan kata-kata pemanis supaya terkesan profesional dan… impesonal. Saya tidak ingin terkesan seperti wali kelas dari tahun 70-an.
2. Surat ijin harus sebisa mungkin menggunakan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi harus tetap mudah dipahami.

Hal pertama yang saya lakukan tentunya mengganti font dari Times New Roman menjadi Myriad supaya nampak lebih menarik tapi tetap terkesan profesional. Dan tidak seperti aturan menulis surat klasik yang diajarkan sewaktu SD, semua tulisan saya buat rata kanan, termasuk tanggal dan tanda tangan.

Oiya, semua paragraf tidak saya justify.

Setelah itu saya mulai memikirkan hal yang paling penting. Isi surat. Wakz! Walaupun ibu say selalu menulis diari, proposal, dan surat menggunakan komputer, khusus untuk surat ijin sakit ibu saya tidak pernah menggunakan komputer! Makanya udah saya cari pake instant search Google Desktop tapi nggak keluar. Padahal adik saya termasuk sering ijin.

Dengan hormat,
bersama surat ini saya memberitahukan bahwa Dian Paramita, siswa kelas III IPS…

Oiya, seharusnya kelas III IPS ditulis kelas 3 IPS, karena kalau ditulis dengan angka romawi berarti diucapkan: ‘kelas ke-tiga IPS’.

Dengan hormat,
bersama ini saya memberitahukan bahwa Dian Paramita, siswa kelas 3 IPS tidak dapat mengikuti pelajaran pada Kamis, 15 September 2005 karena sakit..

Hmmm… kok sepertinya nada yang saya gunakan menyebalkan sekali ya? Lagipula adik saya terkesan seperti obyek. Untunglah adik saya yang tertatih-tatih memberi surat ijin buatan ibu saya:

Dengan hormat,

bersama ini saya, orang tua dari Dian Paramita, siswa kelas III IIS, memohonkan ijin untuk tidak dapat mengikuti pelajaran pada hari Kamis, 15 September 2005 karena sakit.

Hahahaha, ternyata Ibu saya melakukan kesalahan standar menggunakan angka romawi untuk menunjukkan kelas. Tapi yang parah tentunya penggunaan kata ‘memohonkan’, yang terdengar tidak baku. Mungkin seharusnya seperti ini:

Dengan hormat,

bersama ini saya, wali dari Dian Paramita, siswa kelas 12 IIS, bermaksud mengajukan permohonan ijin untuk tidak dapat mengikuti pelajaran pada hari Kamis, 15 September 2005 karena sakit.

Wah sempurna! Tapi tentunya saya tidak cukup berpuas diri, sehingga saya mulai menjelaskan kepada adik saya bawha suart ini dibuat dengan tata bahasa yang lebih baik dan tipografi yang lebih berkelas.

Sayangnya adik saya tidak begitu tertarik dan malah terlihat bosan ketika saya mulai menjelaskan penggunaan angka romawi yang tepat.

Sialan.

17 Comments


Leave a Reply