Hari ini kemajuan mundur satu langkah. UGM yang semestinya menjadi tempat lahirnya pemikiran-pemikiran baru, harus membatalkan rencana diskusi Irshad Mandji. Perguruan tinggi itu takut, mungkin takut mahasiswanya diserang, atau parah lagi dianiaya. Lagipula, bukan pertama kalinya FPI dan kelompoknya memakai kekerasan.
Saya memang mengharap UGM lebih berani, walaupun kenyataannya tidak. UGM memang institusi yang lebih besar daripada FPI, akan tetapi UGM tidak cukup kuat untuk meminta polisi mengamankan UGM.
Diskusi Manji itu kemudian diadakan juga di LKiS Yogya. Dan belum lama dimulai, gerombolan Majelis Mujahiddin Indonesia menyerbu diskusi itu. Mereka memecahkan kaca perpustakaan dan menginjak-injak makanan sambil meneriakkan “Allah Maha Besar”. Adik saya yang berada di sana tidak bisa keluar karena dikepung.
Di telepon, adik saya menangis sambil mengatakan “Aku sedih banget negaraku dirusak orang-orang kayak gini.”
Malam itu pendopo LKiS, Irshad Manji hanya bisa duduk bersila menundukkan kepalanya, sementara preman-preman bertabir agama itu memaki-maki, merasa bahwa kebenaran adalah milik mereka. Dan malam itu juga, Jogja yang selama ini menjadi oase dari hingar-bingar intoleransi, akhirnya kalah oleh gelombang radikalisme.
***
Kita semua sudah muak dengan ini. Walaupun topik lesbian bukanlah flagship dari pemikiran Irshad Manji, tetapi dalam beberapa hari ini diskusi telah disederhanakan menjadi itu. Pandangan Manji soal ijtihad (atau mungkin yang sedikit lebih kontroversial seperti jilbab) tidak pernah disentuh dalam perdebatan. Manji telah direduksi menjadi seorang lesbian pembawa penyakit.
Tapi apa yang salah dengan lesbian menyuarakan pendapatnya? Ini Indonesia. Menjadi lesbian, banci, straight adalah pilihan, dan pilihan mereka harus dilindungi negara, seperti negara harus melindungi penduduknya yang ingin beribadah di masjid, bekerja dengan upah layak, belajar di sekolah yang terbaik. Kita boleh berargumentasi bahwa pilihan menjadi lesbian adalah salah, tapi tolong pertahankan ketidaksetujuan itu dalam diskusi saja. Memakai ancaman dan kekerasan justru membuat FPI terlihat menyerah, karena tidak memiliki counter-argument yang cerdas.
Dan jangan lupa, argumentasi berdasar penafsiran atas kitab suci selalu bisa salah, seperti Manji yang juga bisa salah memahami Al-Quran. Manusia hanya bisa mencari kebenaran, namun tidak pernah bisa mendapatkan sepenuhnya kebenaran.
***
Bagaimana menghentikan ini?
Pertama kita harus melihat Indonesia sebagai negara hukum, di mana aturan yang berlaku adalah hukum yang memfasilitasi seluruh warganya, bukan agama tertentu. Tindakan yang salah di mata hukum agama, tidak harus salah dalam hukum Indonesia. Kita bukan negara agama.
Kedua, kita harus membiasakan diskusi publik yang sehat, bukan diskusi yang bermain tuduh, serang sisi pribadi, dan main plintir-kiri-dan-kanan seperti yang biasa dilakukan petinggi FPI. Diskusi seperti FPI yang sangat menyederhanakan masalah memang memudahkan orang untuk berpihak, namun justru membuat pilihan yang kita ambil menjadi tidak sustainable karena tidak didasari pemikiran yang mantap dan mendalam.
Ketiga, kita harus menunjukkan bahwa FPI adalah kelompok kecil. Polisi dan pemerintah selalu dalam posisi sulit karena menindak FPI justru beresiko melukai umat islam. Faktanya adalah, FPI tidak mencerminkan umat Islam Indonesia secara keseluruhan. Mereka yang mendukung tujuan FPI juga tidak harus mendukung kekerasan FPI, karena tujuan FPI dan kekerasannya adalah dua hal yang terpisah. Kita boleh mendukung tujuan FPI, tetapi tidak boleh mendukung semua kekerasan yang mereka lakukan.
***
Para ekstermis ini selangkah lebih maju daripada kelompok moderat dalam menguasai pemikiran publik. Tapi masih belum terlambat, masih ada waktu untuk mencegah sebelum terlambat. Jika ancaman masa lalu Indonesia adalah rezim diktator dan ancaman masa kini adalah korupsi, maka ancaman masa depan Indonesia ada pada intoleransi dan radikalisme agama. Dan kita masih bisa mencegah itu benar-benar terjadi dengan mengubah sekeliling kita terlebih dahulu dulu.
Kita tidak berharap FPI dan pendukung loyalnya akan berubah, tapi kita bisa berharap masyarakat moderat menyelamatkan Indonesia dengan mencegah mereka terjebak dalam kesesatan FPI, MMI, dan kawan-kawannya.
Saya yakin setelah ini saya akan dimaki-maki kafir, murtad, pendukung homoseks, zionis, dan seterusnya dan seterusnya. Tapi tidak masalah. Dituduh kafir, murtad, maupun homoseks (yang saya bukan ketiganya) tidak membuat pemikiran saya menjadi salah. Pribadi saya tidak ada hubungannya dengan pendapat saya, dan itu adalah pelajaran pertama tentang diskusi yang sehat.
***
Baca Juga
- Tanggapan Zainal Abidin Baqir, Kepala CRCS UGM, penyelenggara diskusi Irshad Manji di UGM.
- Sulit sekali memahami FPI via Paman Tyo
Редкие и тугоплавкие металлы всегда в наличии или под заказ в короткие сроки, рекомендую.
https://xn--80aeedb0bfzeok.xn--p1ai/catalog/latunnye-vnutrennie-stopornye-koltsa-po-din/latunoe-vnutrennee-stopornoe-pruzhinnoe-koltso-m67-70-2kh2-5-mm-lts25s2-din-472/