hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Posts Tagged ‘anectdote’

January 18th, 2008

Anekdot Gelar Raja-Raja Kita

Panembahan SenopatiMari kita membahas penguasa-penguasa lain negeri ini. Rupanya orang kerajaan Mataram punya cara lucu untuk memberi gelar post-mortem bagi raja yang sudah mangkat.

Contohnya adalah Panembahan Hanyakrawati—penerus Panembahan Senopati—yang meninggal dalam sebuah kecelakaan ketika berburu di daerah Krapyak. Sebagai gelar kehormatan, beliau dijuluki Panembahan Sedo Krapyak (panembahan yang mati di Krapyak).

Sri Sultan Hamengkubuwono IV, raja Kraton Yogyakarta, meninggal ketika sedang bertamasya. Kemudian, cucu-buyutnya cucu-buyut Panembahan Hanyakrawati ini mendapat gelar Sultan Seda Ing Pesiyar (sultan yang tewas ketika sedang tamasya).

Entah kenapa Panembahan Senopati tidak mendapat gelar post-mortem. Beliau justru mendapat gelar abadi karena sering nongkrong di sebelah utara Pasar Kotagede. Gelarnya adalah Ngabehi Loring Pasar (tuan yang di sebelah utara pasar).

October 14th, 2007

Anekdot Opening Film

Kalau nonton film, pastikan anda sudah masuk ke bioskop sebelum opening logonya dimulai, karena nuansa sebuah film biasanya sudah dimulai sejak opening logo diputar. Omong-omong, tahukah anda kalau logo-logo punya banyak cerita?


Logo Columbia Pictures yang berbentuk perempuan memegang obor (alias ‘the torch lady’) ternyata sudah sering digonta-ganti, walaupun bentuknya kurang lebih begitu-begitu saja. Gambar yang kini kita lihat di bioskop ternyata buatan tahun ‘93. Perhatikan pada logo terkini, si pemegang obor nampak lebih jangkung dan lebih langsing, mungkin untuk menyesuaikan definisi seksi masa kini.


Pernah ada selentingan kalau wanita yang menjadi inspirasi Columbia Pictures adalah Anette Bening. Tetapi rumor tersebut disanggah oleh pelukis ‘torch lady’ itu sendiri, Michael J. Deas. Alih-alih Anette Bening, sang torch lady itu rupanya seorang ibu rumah tangga dua anak bernama Jenny Joseph yang tinggal di Houston.


Logo Walt Disney Pictures yang terbaru muncul pertama kali pada tahun 2006 bareng dengan rilis Pirates of Caribbean 2. Logo yang lama sebetulnya cukup berumur karena sudah dipakai sejak 1985. Bentuknya sederhana, warna latar biru, gambar kastil Sleeping Beauty, dan tanda tangan sang maestro yang terkenal itu.


Logo yang baru terasa lebih magis karena menggunakan animasi 3D dengan efek yang serba ajaib. Sekadar info, animasi sekian detik ini dibikin olah Weta Digital, yang juga membuat efek khusus untuk trilogi Lord of the Rings dan King Kong.

Yang lucu, kalau logo yang lama jelas-jelas merupakan siluet kastil Sleeping Beauty-nya Disneyland, maka logo baru adalah perkawinan antara kastil Sleeping Beauty California dan kastil Cinderella-nya Walt Disney World Florida.

Cinderella lebih ramping dan jangkung, sementara Sleeping Beauty lebih bongsor dan gendut.

Logo Paramount yang bentuknya gunung itu dirancang pada secarik serbet oleh William W. Hodkinson ketika sedang rapat dengan Adolph Zukor, 93 tahun yang lalu.


Konon bentuk gunung itu terinpirasi oleh gunung Ben Lomond, Utah, tempat Hodkinson dibesarkan. Itu katanya tour guide-nya Ben Lomond lho.

Paramount kini berada di bawah Viacom yang juga membawahi stasion televisi CBS dan MTV. Ada mitos kalau Viacom didirikan oleh sekte rahasia freemason, karena jika logo Paramount dan CBS digabung maka akan menjadi gambar mata-dalam-piramida (eye of providence) yang merupakan simbol freemason.


Mitos ini tentunya tidak benar karena Paramount dan CBS adalah dua perusahaan terpisah yang kemudian hari diakuisisi oleh Viacom. Selain itu, eye of providence-nya freemason tidak pakai piramida kok.

November 29th, 2006

Anekdot #3: Font & Typeface

Tidak enak tidak berarti tidak disukai…
Courier adalah huruf monospace1, yang kurang enak dibaca dibandingkan huruf semacam Arial yang jarak antar hurufnya proposional. Akan tetapi, Courier sudah terlanjur menjadi standar resmi untuk dokumen-dokumen tertentu. Screenplay (skenario film) contohnya, harus ditulis dengan font Courier 12 pt. 12 pt Courier New juga merupakan font resmi dokumen diplomatik Deplu AS, hingga tahun 2004, yang kemudian diganti menjadi Times New Roman 14pt.


terbaik tidak berarti terkenal….

Itu nasib Helvetica. Dirancang tahun 1957, Helvetica adalah typeface yang sangat populer hingga digunakan untuk logo perusahaan ngetop semacam Nestle, BASF, Panasonic dkk; dan juga disertakan dengan Apple MacOS. Tetapi pada tahun 1992, Microsoft ingin menyertakan font jenis sans-serif2 bersama Windows 3.1. Waktu itu, Windows baru saja punya fitur untuk menampilkan font True Type. Dengan alasan ekonomis, pilihan jatuh ke Arial yang mirip dengan Helvetica, dan lebih murah. Popularitas Windows akhirnya mengantar Arial menjadi ngetop. Jauh lebih ngetop daripada Helvetica, walaupun menurut para designer Helvetica lebih cantik. Apple pun akhirnya juga ikut mengikut-sertakan Arial dengan MacOS.


dan menjadi terkenal tidak berarti harus kreatif.
Pernah tahu bagaimana Times New Roman bisa dinamai Times New Roman? Tahun 1931 surat kabar Inggris The Times ingin mengganti huruf yang selama ini mereka pakai untuk mencetak koran. The Times menunjuk Stanley Morrison untuk merancang typeface baru. Hasilnya adalah typeface baru, jenis roman, untuk surat kabar The Times, yang kemudian diberi nama: Times New Roman. Huh, tidak kreatif sama sekali.


1 Typeface monospace yaitu jenis typeface yang jarak antar hurufnya sama. Misalnya huruf ‘i’, walaupun lebarnya lebih kecil daripada huruf ‘m’, tapi ruangnya sama dengan huruf ‘m’. Konsensus umum biasanya setuju kalau mata manusia merasa lebih nyaman melihat tulisan yang jarak tiap hurufnya proporsional
2 Typeface sans-serif adalah jenis typeface yang bagian ujungnya tidak ada lancip-lancipnya. Contoh: Arial, Tahoma, Verdana dkk. Sodaranya sans-serif adalah serif, seperti Times New Roman, Georgia dan Garamond, yang ada lancip-lancipnya di ujungnya gitu deeeh!

September 14th, 2005

Anekdot #2: French Fries

French Fries

Asal-muasal
Walaupun namanya french fries alias ‘Gorengan Perancis’, orang Belgia mengklaim kalau makanan ini berasal Belgia. Tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa tidak diberi nama belgian fries.

Membingungkan
Dalam bahasa Perancis, french fries dikenal dengan nama pommes frites. Frites berarti potongan-potongan kecil, tapi pommes berarti apel. Walaupun begitu tetap saja pommes frites di Perancis dibuat dari kentang.

Standar nama
Di Inggris dan negara-negara persemakmuran french fries lebih dikenal dengan nama chips. Di Amerika, chips berarti keripik kentang. Keripik kentang disebut crisps di Inggris dan negara bekas jajahannya.

Dituntut
Sejak tahun 1990 McDonald’s tidak lagi menggunakan campuran minyak nabati dan lemak sapi untuk menggoreng french fries-nya. Untuk mengganti rasa lemak sapi, McDonald’s menambahkan sari rasa sapi, walaupun tidak pernah mempublikasikannya ke publik. Ketika ‘rahasia’ mereka terbongkar pada tahun 2002, aktivis Hindu dan vegetarian menuntut McDonalds.

Berlemak
Satu sajian french fries mengandung 21 gram lemak, lebih dari 2/3 batas asupan lemak per hari.

Aroma Energi Alternatif
Pada tahun 1997, Veggie Van, sebuah karavan dengan bahan bakar minyak goreng bekas menyelesaikan perjalanan sepanjang 16.000 km. Dengan kecepatan 105 km/h, Veggie Van–yang kurang lebih berarti mobil sayuran–membutuhkan 1 liter minyak goreng untuk tiap 10,5 km. Karena menggunakan minyak goreng bekas dari restoran, asap knalpot kendaraan ini mengeluarkan aroma french fries.

Politis
Karena Perancis menentang invasi ke Irak pada tahun 2003, kafetaria Parlemen Amerika Serikat–House of Representative–mengganti French Fries pada menu menjadi Freedom Fries. Menanggapi kontroversi ini, juru bicara kedutaan besar Perancis di Washington, Nathalie Liosau mengingatkan bahwa french fries adalah makanan Belgia. Dia menambahkan, ‘Saat ini kita sedang melalui masa serius untuk mengelola masalah yang serius dan kami tidak ingin terfokus pada nama yang tepat untuk kentang.’

September 5th, 2005

Anekdot Rektor UGM

Rektor-rektor UGM, sejalan dengan waktu sayangnya hanya menjadi sebuah nama, rangkaian huruf. Kadang-kadang nama-nama tersebut akan menjadi legenda dan besar, dan mengikis sisi-sisi manusia dari para rektor ini. Tidak ada salahnya kita mengetahu kisah-kisah dibalik masa kepengurusan mereka.

Paling Pendek
Drs. Soepojo Padmodipoetro, M.A. adalah rektor UGM dengan masa jabatan paling pendek, kurang lebih satu tahun. Masa jabatan beliau dimulai tahun 1967 dan selesai tahun 1968.

Paling terkenal dan tidak dikenal
Prof. Dr. M. Sardjito tentunya adalah rektor yang paling dikenal masyarakat Jogja. Sayangnya Pak Sardjito ini lebih dikenal sebagai nama rumah sakit daripada rektor pertama Universitas Gadjah Mada.

Gundukan Sukadji
Polisi tidur mulai dibangun di lingkungan UGM pada masa kepengurusan Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo, M.A. Akibat kebijakan beliau, warga UGM yang merasa tidak nyaman dengan keberadaan polisi-polisi tidur ini menyebut polisi tidur dengan ‘gundukan Sukaji’.

Dituduh Pengkhianat
Pada masa reformasi tahun 1998, rektor UGM masa jabatan 2002-2007, Prof. Dr. Sofian Effendi, MPIA. pernah dituduh sebagai pengkhianat agenda reformasi karena membocorkan pertemuan rahasia antara Amien Rais, Afan Gaffar, Ichlasul Amal, serta sejumlah tokoh reformasi lain. Sofian menulis memo tentang rapat tersebut kepada Habibie, yang waktu itu masih menjabat sebagai wakil presiden. Menurut Sofian, hal tersebut dia lakukan untuk menyelamatkan rekan-rekannya dari tuduhan makar1.

Ramah Rakyat Kecil
Prof. Dr. Koesnadi Hardjosoemantri, S.H., M.I. bisa dibilang salah satu rektor yang paling peduli rakyat kecil. Salah satu kebijakan beliau adalah membangun ‘gubug-gubug’ bakso dan es teler di berbagai sudut UGM. Sebelumnya para pedagang keliling ini berjualan di sembarang tempat, dan alih-alih diusir mereka malah difasilitasi. Sayangnya satu-satunya gubug yang masih tersisa tinggal satu, yaitu yang terletak diantara Fakultas Ilmu Budaya dan parkiran Fakultas Ekonomi.

(Various sources; 1 Pernah Dituduh Pengkianat, Republika)

March 10th, 2005

Anectdote #0: Tiramisu Quickfacts

After reading Irfan’s blogs on Tiramisu, I myself, have developed a strange infatuation with this unique dessert. Who can resist this light dessert with a hint of creamy whipped cream and subtle aroma of expresso coffee? Well not me. Anyway, thought I’d share a few facts on Tiramisu after doing some googling for a while.

  • This Italian dessert, although sounds like a Japanese food, is in fact an authentic Italian dessert originated from the town of Treviso, north eastern Italy.
  • Tirami-su means ‘pick-me-up.’ Some local legend says that Tiramisu was a popular food among high-class Venice prostitutes, and hence the name.
  • Tiramisu is a relatively new food. According to book written by Giuseppe Maffoli in 1981: “Tiramisu’ was born recently, just 10 years ago in the town of Treviso. It was proposed for the first time in the restaurant Le Beccherie.”
  • What makes this semifreddo—dessert that’s served cold but not frozen—so special is not only the flavor. The ingredients and the cooking process is also unique.
  • The classic Tiramisu, is made of ladyfingers (finger sized chiffon cake) soaked in expresso coffee, layered with zabaglione cream (a mixture of mascarpone cheese, whipping cream, egg yolks, sugar and Madeira wine), layered with the soaked ladyfinger again, sprinkled with cocoa powder and finally chilled.
  • According to Dewi, a full-time Tiramisu analyst residing in Jogja, Tiramisu is an abundance in Jogjakarta. The best tasting Tiramisu can be found in Coklat (Jl Cik Di Tiro), Gajah Wong, Jogjakarta Plaza Hotel, Novotel, and Parsley with price ranging from IDR 12000 to IDR 120.000 (the big one).

Now who wants a bite of Tiramisu?