Herman Saksono

Indonesia matters

Opinion


Opinion - June 26th, 2015

Miripnya Libur Idul Fitri New York dan Pernikahan Gay

Gay Marriage and Idul Fitri

Idul Fitri tahun ini spesial bagi umat muslim di New York. Ihwalnya, mulai 2015 walikota DeBlasio meliburkan sekolah pada hari besar umat muslim. Ribuan siswa di kota New York bisa merayakan Idul Fitri dengan khusuk bersama keluarganya dan orang-orang terdekatnya.

“Umat Muslim memang minoritas, tapi keberadaan kami harus diakui,” ujar Ilham Atmani, warga Brooklyn dari Moroko. Siswa juga menyuarakan kegembiraannya. “Ini kemajuan besar,” ujar Helal Chowdhury, siswa SMK di Brooklyn.

Jadi, libur Idul Fitri di New York tidak sekadar anak-anak tidak harus masuk sekolah untuk merayakan hari besar agamanya. Libur ini merupakan pengakuan bahwa umat muslim adalah bagian sah dari masyarakat di kota New York. Mereka bukan warga kelas dua. Mereka adalah umat yang kegiatan beragamanya diakui oleh pemerintah.

Di sinilah pernikahan gay sangat mirip dengan libur Idul Fitri. Pagi ini, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa pernikahan sejenis diakui secara nasional. Negara bagian tidak bisa lagi melarang pernikahan gay. Tidak ada lagi diskriminasi.

Putusan MA AS itu monumental, karena pengakuan terhadap pernikahan gay tidak sekadar urusan remeh-temeh tentang dua laki-laki melangkah bersama ke pelaminan. Legalnya pernikahan gay merupakan pengakuan bahwa masyarakat gay, lesbian, dan transgender juga bagian sah dari masyarakat. Mereka bukan lagi warga kelas dua. Mereka adalah manusia normal yang perferensi berpasangannya diakui oleh pemerintah.

Libur Idul Fitri dapat membantu mengurangi stigma negatif dan diskriminasi terhadap umat muslim di New York, terutama pasca teror 9/11 pada tahun 2001. Stigma negatif bahwa semua muslim adalah teroris dan pendukung aksi yang keji. Dalam hati, umat muslim bisa berkata dengan mantap bahwa “saya muslim, dan ibadah saya diakui oleh pemerintah”.

Sama halnya dengan libur Idul Fitri, legalnya pernikahan gay dapat mengurangi stigma negatif dan diskriminasi terhadap kalangan gay, lesbian, dan transgender. Stigma negatif bahwa homoseksual adalah penyakit menular dan merusak masyarakat. Studi menunjukkan bahwa homoseksualitas hanya sekadar variasi dari preferensi seksual, dan seorang gay/lesbian/transgender bisa berfungsi sosial secara normal di masyarakat.

Ini mirip juga dengan hak memilih untuk kulit hitam. Undang-undang hak memilih 1965 tidak sekadar melindungi ras kulit hitam untuk memilih, tapi juga mengakui bahwa warga kulit hitam derajatnya sama di depan negara. Diskriminasi terhadap kulit hitam memang masih ada dan meluas, tapi tanpa legislasi itu, perjuangan itu akan lebih berat. Perjuangan umat muslim juga masih panjang, tapi libur Idul Fitri adalah kemajuan yang bagus.

Di Indonesia, banyak kelompok yang diperlakukan seolah derajatnya lebih rendah. Kelompok Ahmadiyah dan Syiah misalnya, mereka didiskriminasikan seolah-olah mereka umat yang tidak berhak untuk ada di Indonesia. Bahwa mereka kelompok racun yang harus diubah atau disingkirkan. Padahal mereka lahir di Indonesia, bicara bahasa Indonesia, dan turut membayar pajak untuk membangun jalan dan infrastrukur yang tiap hari kita lewati ketika ke kantor atau sekolah. Saya rasa mereka mencintai negara ini seperti halnya saya mencintai Indonesia.

Kadang-kadang saya bertanya, apakah saya sudah cukup banyak berbuat untuk melindungi orang-orang yang terdiskriminasi.

Opinion - October 14th, 2011

Salahkah Memasang Identitas Akun Twitter

Sebuah artikel di situs Salingsilang menuai kritik lantaran menyebutkan identitas dua akun twitter yang dimaki-maki massa online. Kedua pemilik akun itu (saya pakai inisial AS dan HS) diserang puluhan warga Twitter setelah keduanya menyalahkan perilaku orang di Bali sebagai penyebab gempa 13 Oktober. Akibatnya, beberapa waktu kemudian, kedua twit tersebut dihapus.

Protes untuk Salingsilang yang pertama saya baca muncul dari Pitra:

Statement Pitra

Hal serupa juga dilontarkan oleh Donny BU, yang kemudian dituangkan ke blognya. Walaupun saya tidak setuju kalau kejadian memaki-maki itu masuk ke kategory bullying (baca artikel saya tentang batasan bullying), tetapi penyebutan identitas orang dalam naskah blog adalah diskusi yang musti diperdalam.

Pada dasarnya tweet yang tidak digembok adalah pernyataan di ruang publik. Ini beda dengan melemparstatement di milis atau chatroom. Konsekuensinya, jika tweet tersebut kemudian memunculkan minat publik, maka si pemilik akun menjadi tokoh publik. Tepatnya “tokoh publik terbatas”—sebuah definisi dari AS untuk membedakah tokoh publik yang pejabat atau artis.

Tokoh publik terbatas dijabarkan sebagai “orang yg membawa dirinya ke dalam sebuah kontroversi publik, guna mempengaruhi penyelesaiannya”. Dalam hal ini AS dan HS masuk ke dalam kategori tokoh publik terbatas, sehingga masyarakat berhak mengetahui identitasnya.

Namun, penelitian saya kemudian mendarat di sebuah naskah tentang kode etik jurnalisme dari Finlandia. Walaupun tidak semua blog adalah karya jurnalisme, namun beberapa memenuhi kriterianya. Salah satu butir menarik dalam kode itu adalah:

“Jurnalis harus membedakan antara isu publik, dan isu yang menimbulkan keingintahuan publik.”

Dengan demikian, karena naskah seperti di Salingsilang condong mendiskusikan apa yang terjadi pada AS dan HS (bukan ke isu yang dilempar keduanya), maka saya pikir penyebutan nama adalah tidak bijaksana.

Akan lain soal, andaikata saya menuliskan artikel yang mengkritisi pernyataan AS dan HS di blog.

Opinion - March 22nd, 2011

Pluralisme vs Pluralisme

toleransi pluralisme agama

Mereka yang cas cis cus bahasa Inggris pasti mengerti bahwa pluralisme berasal dari kata plural yang bermakna “jamak”. Jamak di sini tentu tidak semakna dengan sholat jamak, yang menggabungkan dua ibadah sholat menjadi satu waktu. Makna jamak pada kata plural adalah: lebih dari satu.

Dus, kebanyakan orang telah paham bahwa pluralisme bermakna keberagaman, dan bagaimana bertoleransi supaya tetap rukun. Sayangnya, entah bagaimana, muncul definisi pluralisme kedua.

Pluralisme versi garis keras ini memiliki makna bahwa semua agama itu sama. Lebih ekstrim lagi, ada yang memaknai bahwa pluralisme meyakini semua agama itu bisa disamakan, tuhan tiap agama sebetulnya sama, dan pada esensinya semua orang akan ke akhir yang sama.

Maka demo menolak pluralisme tidak selalu aneh. Orang-orang itu bukan menolak ada agama lain di Indonesia, mereka menolak agamanya disatukan. Tidak mengejutkan jika penolak pluralisme bukan cuma HTI. Pada tahun 2005, MUI mengeluarkan fatwa haram pluralisme.

Perbedaan dalam memaknai pluralisme akhirnya membawa kita ke pertengkaran yang sebetulnya tidak perlu. Satu memperjuangkan toleransi, satu membela kemurnian. Padahal, masalah negara ini justru ada pada intoleransi yang menjadi kekerasan karena terlalu banyak pengangguran.

Ulama M. Shiddiq al-Jawi dari HTI rupanya  sudah mengusulkan memecah definisi pluralisme menjadi dua: pluralitas dan pluralisme. Pluralitas bermakna keberagaman, dan pluralisme bermakna “semua agama sama”. Akan tetapi, dua kata baru ini kok kayaknya malah bikin tambah bingung ya?

Opinion - March 15th, 2011

Bom Buku Untuk Ulil Meledak di Markas JIL

Polisi Menyobek Bom Buku Ulil

Sebuah bom berbentuk buku yang dikirim untuk Ulil Abshar Abdalla meledak di kantor JIL, Utan Kayu hari ini (15/3). Bom itu diterima berupa paket oleh aktivis JIL Saidiman. Buku berjudul “Mereka Harus Dibunuh” itu ternyata tidak bisa dibuka, dan ketika diintip berisi kabel, jam, dan batere. Bom itu akhirnya meledak ketika sedang dijinakkan polisi. Tangan Kasat Reskrim Dodi Rahmawan putus.

Sebelum meledak, Polisi menggenangi bom tersebut dengan air atas instruksi lewat handphone. Langkah itu diambil karena tim gegana tidak datang setelah ditunggu 1,5 jam. (video)

Bom Buku Sebelum Meledak

Detik-detik sebelum bom untuk Ulil meledak di tangan perwira polisi Dodi Rahmawan

Menurut detikcom, bom dilaporkan ke polisi pukul 14. Tim gegana terima laporan pukul 15. Setelah bom meledak pukul 16, tim gegana sampai ke TKP pada pukul 17.

Buku itu dikirim atas nama Drs. Sulaiman Azhar, Lc. Ulil diminta untuk memberi kata pengantar untuk buku yang berjudul lengkap “Mereka Harus Dibunuh Karena Dosa-Dosa Mererka Terhadap Islam dan Umat Muslimin”. Salah satu bab dalam buku itu bertajuk “Deretan Nama Tokoh-tokoh Indonesia yang Pantas Dibunuh”. Buku paket tersebut dikirim dari alamat Jalan Bahagia, Gang Panser 29, Ciomas, Bogor.

Ulil memang sering bersuara lantang mengkritik tajam FPI dan HTI. Tokoh JIL ini juga sering menyuarakan pembelaan terhadap masyarakat Ahmadiyah. Dengan sidang terhadap Abu Bakar Baasyir yang juga terus berjalan, mengaitkan kejadian satu dengan yang lain mungkin menjadi pilihan nalar yang masuk akal. Akan tetapi, seperti teror di Indonesia pada umumnya, teror ini tidak jelas pengirimnya. Walaupun targetnya adalah Ulil, tujuannya ini tidak mesti untuk kalangan Ulil. Berbeda dengan FPI yang minimal punya sikap, teror ini “cuma” menciptakan teror demi teror.

Update:

  • Bom buku juga dikirimkan ke BNN dan rumah ketua Pemuda Pancasila Yapto. Bom buku di BNN ditujukan untuk Kalakhar Gories Mere. Polisi berhasil menjinakkan kedua bom sebelum meledak.
  • Ulil beranggapan bom yang dikirim untuknya berkaitan dengan politik.
  • Bom buku juga dikirim ke rumah musisi Ahmad Dhani di Pondok Indah pada hari Selasa (15/3). Bom buku tersebut berjudul “Yahudi Militan” dan disertai surat yang mirip dengan surat untuk Ulil.

Opinion - March 1st, 2011

How FPI’s Threat for Revolution is Not a Threat

FPI Mob Against Ahmadiyya

FPI (Front Pembela Islam, Islam’s Defender Front) must be joking when they threaten to overthow the Indonesian President if the government won’t disband the controversial Ahmadiyya community.

Ahmadiyya, the relatively small community of 400,000 has been a subject of controversy among Islamic groups for their differing interpretation of Islamic teaching.

While the Ahmadiyya have been practicing their belief in Indonesia long before Indonesia even existed, it doesnt mean that the religious bigots wont attack them. After three Indonesian minister signed the joint statute to delegalize Ahmadiyya in 2008, the attack to the Ahamadis has been increasing ever since. The worst came on February 6th, 2011 when a small village of Ahmadiyya in Cikeusik, Banten, Java was attacked by religious thugs. Houses, cars were burned and three Ahmadis were beaten to death. A video documenting the gore incident was documented and available on YouTube.

Then, the usually muted President SBY spoke to the public that his government will dissolve any community organization that causes fear and disorder1. FPI, the group that is associated with fear and disorder were a bit touchy, and apparently felt insulted by the President. FPI leader Habieb Rizieq, dressed in Arabic style, yelled in public that he will overthrow the President if the government wont disband the Ahmadiyya. It’s either Ahamdiyya or Revolution. He was perhaps taking inspirations from the recent revolts in the Arab’s world, as much as he was inspired by arabic fashion.

But here s the thing. Indonesia is not Egypt nor Libya. Rizieq missed that fact badly. Yes the government are not perfect and unemployment are high, but we are improving. It’s true that Indonesians are religious, but remember that most of them are centrist people. They wish for Ahamdis’ welfare, and will definitely seek a peaceful solution of the religious differences.

And most importantly, people were not killed or assaulted for being different with the government. Its FPI who attacks and threatens people who have different view than them. If Rizieq and his FPI gangs wants to overthow something, they really should overthrow themself.

____________________
1Even though disbanding any organization is bad for democracy, many people who just got tired of religious violence supported the idea.

Opinion - February 14th, 2011

Gerakan Koin untuk Sinetron Putri Yang Ditukar

putriyangditukar

Ada semacam kesombongan, ketika kita menuntut sinetron harus mendidik. Karena toh, kita sendiri mungkin tidak tahu mendidik yang baik itu seperti apa.

Saya lebih suka menuntut sinetron harus bermutu. Karena puluhan juta penonton sinetron Indonesia pantas mendapatkan yang terbaik. Apakah kita sudah memberi kesempatan buat sinetron? Sudah sekali! Sejak pemerintah mewajibkan 75% acara tv harus produksi lokal, sinetron menjadi raja di layar kaca.

Hak istimewa ini memang membuat sinetron menjadi besar, tetapi tidak menjadi lebih baik. Putri Yang Ditukar dan Cinta Fitri adalah contoh sinetron yang kualitas cerita, akting, dan penggarapannya sangat rendah. Sinetron-sinetron itu menunjukkan kemalasan sineas televisi untuk membuat karya yang bagus. Kemalasan ini terlihat dari skenario kehidupan sehari-hari yang tidak masuk akal, konsep cerita jiplakan luar, hingga akting yang alakadarnya. Ketika setiap tokoh harus bermonolog atau berbicara sendiri untuk memperlihatkan perasaannya, itu pertanda kuat bahwa para artisnya tidak memiliki kemampuan akting.

Jika kita masih bisa memaafkan akting, cobalah lihat absurditas penggarapannya. Ada adegan si protagonis, Amira terjebak di dalam gedung yang berisi kembang api siap meledak. Amira punya waktu sekitar 5 menit untuk mematikan api sumbu yang kalau diludahi aja mati. Akan tetapi dia justru nangis-nangis nggak jelas, hingga akhirnya Pak Prabu menabrakkan mobilnya ke gedung tempat Amira disekap. Dan terlihat jelas kalau dinding gedung itu hanya terbuat dari gabus …

*moment of silence*

Ini sungguh-sungguh tidak bisa dimengerti, bagaimana mungkin ada orang yang bisa terhibur menonton cerita yang tidak masuk nalar dengan penggarapan yang serba ngawur. Jika mereka tidak merasa janggal ketika menonton Putri Yang Ditukar atau Cinta Fitri, apakah mereka juga tidak merasa aneh ketika diperalat oleh politikus busuk dan dicekoki oleh doktrin-doktrin intoleransi?

Bagi saya, ini menggambarkan betapa parahnya kondisi kepala orang Indonesia. Dan masalah ini tidak bisa selesai dengan mematikan televisi atau pindah ke saluran televisi asing. Puluhan juta kepala akan tetap terhibur oleh pertunjukan yang serampangan. Baik cerita maupun penggarapannya.

Saya tidak tahu harus berbuat apa supaya hiburan orang Indonesia bisa sedikit lebih layak, karena sudah jelas sinetron medioker bernilai milyaran rupiah itu dianggap cukup baik oleh pemirsanya. Berhenti menonton sinetron juga tidak membantu, karena saya tidak mencerminkan konsumen sinetron pada umumnya acheter du viagra prix. Saya cuma bisa bergabung dengan Gerakan Koin untuk Artis Putri Yang Ditukar di Facebook.

Gerakan online ini mau mengumpulkan koin recehan untuk disumbangkan para artis Putri Yang Ditukar supaya mereka tidak harus bermain di sinetron bodoh 3 jam sehari, 7 hari seminggu. Begitu kata adminnya. Tentu saja ini sarkas yang maksudnya menyindir. Akan tetapi saya tidak sendirian, sudah ada seribu lebih orang yang ikut merasa prihatin dengan sinetron kita.

Bagaimana dengan Anda?

Baca juga:

  1. Absurditas di Putri yang Ditukar – Nonadita
  2. Yang Putri Yang Ditukar – Choro
  3. Barang Yang Sudah Terlanjur Dibeli Tidak Dapat Ditukarkan – Joesatch
  4. Masygul – Aris
  5. Masih Mau Nonton Sinetron? – Leksa
  6. Belajar dari Nodame – Suprie
  7. Kualitas Buruk yang Terus Dipertahankan – Aankun
  8. Homo Sinetronosus – Pak Guru
  9. #41: Sinetron – Masova
  10. Ikutan Membahas Sinetron – Adhi Pras
  11. Sinetron Indonesia Miskin Cerita – Fudu
  12. Menalar (Polemik) Sinetron – Gentole
  13. Balada Argumentasi Sinetron yang Tertukar-tukar – Amed
  14. Putri yang Ditukar – Mamski
  15. Pilih Sinetron atau si Bolang? – Memethmeong
  16. Jangan Tukar Isu Putri Yang Ditukar – Nonadita
  17. Sinetron Harus Mendidik – Mimit