Tujuh hal tentang LGBT yang sebaiknya Anda tahu

Apakah seorang homoseks atau LGBT menderita penyakit atau kelainan? Bagaimana kita menempatkan kelompok LGBT di masyarakat Indonesia?

1. Apakah seorang homoseks atau LGBT menderita penyakit atau kelainan?

WHO menyatakan bahwa “orientasi seksual bukanlah penyimpangan” sejak tahun 1990. Ini bukan pernyataan sembarangan, karena berbagai lembaga ahli telah menyatakan hal yang sama. Contohnya, Asosiasi Psikiater Amerika (APA) telah mencabut homoseksualitas dari daftar kelainan jiwa sejak tahun 1973. Pemerintah RI juga mengadopsi kriteria WHO sejak 1998. Baru-baru ini, tepatnya Februari 2014, Asosiasi Psikiater India menyatakan bahwa “homoseksualitas bukanlah kelainan jiwa”. Bahkan, PPDGJ III, buku textbook diagnosis gangguan jiwa yang dipakai psikiater Indonesia juga mengatakan bahwa:

“Orientasi seksual sendiri jangan dianggap sebagai gangguan”

Selain itu, homoseksualitas adalah orientasi seksual. Orang yang berorientasi homoseksual, tidak serta merta melakukan hubungan seks dengan sesama jenis.

2. Mengapa homoseksualitas bukan kelainan?

Penelitian oleh Evelyn Hooker membandingkan hasil tes psikologi antara 30 pria gay and 30 pria hetero. Ternyata, pakar-pakar tes kelainan jiwa tidak bisa membedakan mana hasil tes pria gay atau hetero. Kemudian Evelyn menyimpulkan bahwa tidak terbukti ada hubungan antara homoseksual dengan kelainan jiwa. Penelitian ini telah diulang oleh berbagai ilmuwan, dan hasilnya menunjukkan hal yang sama: tidak ada hubungan antara homoseksual dengan kelainan jiwa.

Saat ini, pakar psikologi pada umumnya sepakat bahwa ketertarikan dengan sesama jenis adalah variasi normal dari seksualitas manusia dan bukan indikator kelainan jiwa atau kelainan pertumbuhan. Manusia tidak bisa menentukan orientasi seksualnya dan orang gay bisa befungsi normal di masyarakat.

Selain itu, pasangan LGBT juga mengalami ikatan emosi, romantis, dan seksual seperti layaknya pasangan hetero. Contohnya, dua penelitian tahun 2008 menemukan bahwa pasangan LGBT dan pasangan hetero mengalami kepuasan dan memiliki komitmen yang setara.

3. Apakah seseorang bisa disembuhkan dari homoseksualitas?

83 penelitian antara 1960-2007 tidak membuktikan keberhasilan terapi konversi orientasi seksual. Dari kesekian banyak penelitian itu, hanya satu penelitian yang benar-benar sahih. Terapi-terapi tersebut malah terbukti tidak aman karena berefek samping hilangnya gairah seks, depresi, kecemasan, dan keinginan bunuh diri.

Sejumlah agama memang melarang tindakan homoseksual, maka terapi-terapi tersebut hanya layak ditempuh jika terbukti efek sampingnya tidak parah.

Akan tetapi, sebelum kita sibuk soal terapi, ada pertanyaan yang lebih mendasar: jika LGBT bukan penyakit atau kelainan, mengapa harus disembuhkan?

4. Lalu bagaimana dengan cerita-cerita tentang terapi yang membantu LGBT “kembali normal”?

Pertama, seseorang bisa dilahirkan biseksual dengan kecenderungan ke sesama jenis. Dengan demikian terapi ini sebetulnya tidak banyak membantu. Kedua, kalau kita bilang sebuah terapi itu sukses, maka kita harus membandingkan sekelompok orang LGBT yang diberi terapi dan sekelompok orang LGBT yang tidak diberi terapi. Kemudian, setelah selang beberapa waktu, kedua kelompok tersebut dicek secara menyeluruh apakah benar mereka hanya tertarik ke lawan jenis.

Jika langkah-langkah dilalui, kita baru bisa mengatakan bahwa terapi tersebut berhasil.

5. Apa penyebab orang menjadi homoseksual?

Penyebab homoseksualitas telah diteliti sejak 1989, namun ilmuwan belum bisa menyimpulkan mengapa seseorang dilahirkan LGBT. Kesimpulan sementara, ketertarikan dengan sesama jenis adalah kombinasi antara faktor bawaan genetik, hormonal dalam kandungan, dan lingkungan. Misalnya, penelitian tahun 2010 pada semua orang kembar di Swedia (7625 orang responden) menemukan bahwa orientasi seksual banyak terpengaruh oleh faktor genetik dan lingkungan. Penelitian genetika tahun 2014 menguatkan adanya faktor genetik dalam orientasi homoseksual.

Riset tahun 2014 menemukan bahwa ketertarikan terhadap sesama jenis tidak dipengaruhi oleh lingkungan sosial remaja. Riset itu hanya menemukan bahwa lingkungan sosial mempengaruhi hasrat pacaran dan hasrat seks.

6. Apakah legalnya LGBT membuka jalan bagi pedofilia?

LGBT dan pedofilia itu tidak sama, sehingga diterimanya LGBT tidak membuka jalan untuk pedofilia. Hubungan pasangan LGBT adalah hubungan manusia dewasa yang bisa memutuskan sendiri pilihannya. Hubungan pedofilia melibatkan orang dewasa dan anak-anak yang dianggap belum bisa membuat keputusan sendiri. Hubungan pedofilia juga masalah hukum, dan di Indonesia dilarang oleh UU Perlindungan Anak.

7. Apakah homoseks menyebarkan penyakit?

Penyakit infeksi seksual seperti HIV/AIDS menyebar melalui hubungan seksual yang tidak aman. Umpama ada dua orang A dan B. A dilahirkan gay dan berperilaku seks aman, sementara B seorang yang hetero dan berperilaku seks tidak aman. Maka B lebih beresiko menyebarkan HIV/AIDS daripada A yang homoseksual.

Perilaku seks aman meliputi berpantang hubungan seks, tidak gonta-ganti pasangan, atau memakai kondom. Selain itu, resiko penularan HIV bisa ditekan dengan mengkonsumsi Truvada.

***

Penolakan terhadap LGBT adalah konstuksi sosial, mengingat ada banyak masyarakat yang menerima LGBT. Kita diajari untuk membenci LGBT. Memang ada beberapa agama yang mengutuk hubungan seks homoseksual. Tapi Indonesia bukan negara agama. Melarang dan mengatur hubungan LGBT adalah tindakan yang tidak pada tempatnya. Saya setuju dengan pendapat Menristekdikti, Mohamad Nasir, bahwa menjadi lesbian atau gay itu hak individu:


Akan tetapi, konsensus komunitas riset sudah mengakui bahwa LGBT bukanlah penyakit atau kelainan jiwa. Maka, menteri yang mengatur riset dan pendidikan tinggi seharusnya justru melindungi kelompok minoritas LGBT di perguruan tinggi. Bukan malah mendiskriminasi mereka.

Same Love

Baca juga:

32 thoughts on “Tujuh hal tentang LGBT yang sebaiknya Anda tahu”

  1. I always admire your braveness and courageous to say what you need to say (I wish I could do that!). You rock man! Keep up the good work \m/

  2. Padahal kalau melihat budaya asli Indonesia, homoseksual itu ada di beberapa budaya lokal seperti Gemblak dan Warok di Ponorogo. Justru dari cerita budaya tersebut, keduanya mendapat perlakuan khusus – bukan diskriminasi, melainkan perlakuan yang lebih tinggi dari masyarakat umum.

    Jika Amerika baru tahun lalu berhasil melegalkan pernikahan LGBT, sepertinya Indonesia butuh waktu yang jauh lebih lama untuk mencapai level itu dengan kompleksitas norma agama yang membaur nyaris sempurna dengan norma hukum.

    Anyway, udah lama ga ke blognya momon. Tetep konsisten layoutnya :D

  3. <<>

    Heh heh heh,…. lucu

    1 awalnya LGBT dianggap kelainan jiwa
    2 para psikiater gagal menerapi pasien LGBT
    3 Tes psikologi tak bisa bedakan LGBT vs Normal
    4 disimpulkan LGBT bukan penyakit Jiwa
    5 kesimpulan lanjutannya LGBT tak perlu diobati

    heh heh,… bilang aja,… gak mampu mengobati
    gak perlu bikin teori aneh aneh
    lalu nanya sama ahlinya
    LGBT sembuh menjadi common human being as created

    1. kalau gak kelaianan jiwa ya kelainan otak/ idiot gak bisa membedakan antara vagina dg dubur
      Tolong ibu guru bapak guru dan ibu bapak dirumah ceritakan bahwa adik laki2 kelamin nya ini,adik perempuan kelaminnya ini . jangan setelah puber negara disuruh melegalkan lgbt capek deh ………..

      1. Sekali lagi, anda sama sekali tidak memberi argumen atau bukti yang sahih bahwa memakai dubur untuk berhubungan seks itu gila/gangguan jiwa/idiot. Kalau tidak ada argumen/bukti bagaimana kita bisa tahu benar salahnya argumen Anda?

  4. Pelaku LGBT memang tidak ada keinginan untuk sembuh kok.
    Malah bangga dg perilaku menyimpangnya.

    Laki2 ketemu laki2, ngesex
    Prempuan ketemu prempuan, ngesex
    Ituu aja kerjaanya.

  5. Mon, yg mendeklasifikasikan homoseksualitas pada tahun 1973 itu American Psychiatric Association dan bukan American Psychological Association (APA). APA mengikutinya pada tahun 1975. Lalu WHO pada tahun 1990.

    Deklasifikasi itu termuat dalam DSM, yg merupakan terbitan American Psychiatric Association.

  6. Saya suka banget artikelnya :) akhirnya ada orang Indonesia yang mau mengubah sudut pandang dan berpikir bahwa LGBT bukan penyakit
    apalagi saya lomba debat, ini membantu banget dan memang isu seperti ini ada hitam dan putihnya
    penyakit iya, bukan penyakit juga iya :)

  7. LGBT penyakit mematikan…
    Banyak korban yang sudah kecanduan khususnya di Indonesia
    Ini harus segera di hentikan jangan sampai terjadi musibah di negeri yang kita cintai ini..
    Lebih baik memusnahkan daripada dimusnahkan Allah..

    1. Jika “mematikan” yang Anda maksud adalah HIV/AIDS maka Anda salah. Yang mematikan adalah hubungan seks tanpa pengamanan. Orientasi seksual pada prinsipnya tidak berkaitan langsung dengan kematian.

  8. Saya tetap setuju mengatakan LGBT adalah kelainan, sebagaimana orang yang berkelainan suka memakan binatang menjijikan seperti kecoa, kodok, cacing dll. Meskipun secara psikologis dia waras tapi kecenderungannya melenceng.

  9. Intinya pelaku LGBT itu mnyalahi aturan islam.. Krna dlm islam Di haramkan bagi umatnya yng mnyukai sesama jenis.. Untuk ama kaum sodom di beri azab oleh allah.. Nggak usah pakek teori yang goblok deh. Kita jga tau kalo lgbt itu gila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *