Pagi Pemilu Itu di Boston

Suhu udara menunjukkan -2º Celcius saat puluhan orang mengantri di luar SMA Chatedral, Boston. Lapangan basket sekolah swasta telah disulap menjadi TPS pemilu. Pagi hari itu, Amerika memilih.

Vote in Boston

Queue to Voting Booth US Election Boston

Suhu udara menunjukkan -2º Celcius saat puluhan orang mengantri di luar SMA Chatedral, Boston. Lapangan basket sekolah swasta telah disulap menjadi TPS pemilu. Pagi hari itu, Amerika memilih.

Di antara antrian itu petugas TPS membagikan gelas-gelas kopi panas. Seorang ibu tersenyum saat segelas kopi susu datang menghangatkan tangannya. Dia mengatakan terima kasih. Selain itu, tidak nampak kegembiraan yang meluap-luap. Tidak nampak juga keterpaksaan ikut pemilu. Mereka ikut pemilu karena nasib negaranya ditentukan hari ini.

Banyak hal tentang masa depan Amerika yang akan ditentukan. Jika Romney menang, misalnya, UU jaminan kesehatan universal alias “Obamacare” terancam akan dicabut tahun 2013. Kubu konservatif juga khawatir, karena jika Obama menang maka defisit anggaran negara akan semakin berlarut-larut. Saat ini defisit anggaran mencapai 72% GDPnya.

Vote in Boston

Beberapa pertarungan juga condong ke ideologis. Aborsi, KB, pernikahan sesama jenis, perubahan iklim, adalah isu-isu yang memainkan suara pemilu. Partai Republikan yang condong konservatif, dua bulan terakhir mendapat sorotan karena calegnya mengatakan wanita korban pemerkosaan memiliki mekanisme alamiah untuk mencegah kehamilan. Caleg tersebut pada saat ini menduduki Komisi Sains Senat AS.

Perebutan Senator

Di seberang TPS, sekelompok orang berdiri mengangkat papan-papan kampanye. Seorang ibu paruh baya mengangkat papan bertuliskan “Elizabeth Warren for Senate”. Saya mendekati beliau dan bertanya apakah boleh saya ambil gambarnya. Dengan senyum lebar dia menjawab, “Tentu!”. Ia mengangkat papannya tinggi-tinggi sambil tersenyum lebar ketika kamera menjepretnya.

Elizabeth Warren Senate Election Boston

Pertarungan tidak cuma di tingkat presiden. Setelah dominasinya di DPR tergerus pada pemilihan paruh tahun 2010, Partai Demokrat harus mempertahankan mayoritas di Senat. Elizabeth Warren yang profesor Harvard adalah bidak Partai Demokrat AS untuk tugas penting ini.

Andai Partai Republik merebut dominasi Senat, maka pemerintahan Obama harus berhadapan dengan oposisi dari kedua kamar yang akan mengkritisi semua kebijakannya. Itu jika Obama memenangkan pilpres ini. Jika ternyata pemenangnya adalah Romney, maka ia akan menikmati pemerintahan yang dibacking oleh DPR dan Senat.

Lawan Elizabeth Warren adalah senator Scott Brown yang papan balihonya tidak nampak di TPS Ward 3 Boston.

Kotak Suara

Suhu udara di dalam gedung SMA Katedral lebih hangat 20 derajat, melegakan badan-badan kedinginan yang mengantri di luar. Para pemilih mengantri di depan meja administrasi hingga mendapat giliran masuk ke bilik suara. Bilik suara itu berupa meja aluminium ukuran sedang yang disekat empat. Pemilih menentukan suaranya memakai bolpen.

Voting Booths US Election Boston

Usai memilih, panitia membagian stiker lonjong bertuliskan “I Voted” di samping gambar bendera Amerika yang berkibar. Stiker itu untuk ditempelkan di dada, dan para pemilih mensegerakan diri menyematkan stiker itu pada dada mereka. Mungkin untuk merasa patriotik telah menunaikan tugasnya. Ketika ditanya siapa yang mereka pilih, semua menjawab “Tentu saja Obama” atau “Tentu saja Elizabeth Warren”. Boston memang kotanya partai Demokrat.

Di ujung timur kota Boston, Mitt Romney sedang mempersiapkan panggung besar untuk merayakan kemenangannya. Atau untuk membacakan pidato kekalahannya. TPS baru akan ditutup pukul 7 malam, dan hasil suara nasional baru terkapitulasi pukul 1 pagi waktu timur. Besok pagi, musim kampanye akhirnya usai, dan Amerika harus mengendalikan presidennya siapapun itu yang terpilih.

11 thoughts on “Pagi Pemilu Itu di Boston”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *