Tendangan Satpam Untuk Suster Ngesot

Saya mengira kasus sekonyol ini akan berakhir damai. Ternyata tidak. Ayah suster ngesot akan perkarakan satpam Sunarya yang telah menendang anaknya.

Lihatlah video heroik satpam yang menendang suster ngesot ini. Tenang, ini bukan suster ngesot beneran, melainkan Mega, gadis 20 tahun yang berdandan seperti hantu untuk memberi kejutan ultah temannya. Sang teman memang terkejut. Demikian juga pak satpam Sunarya yang kemudian secara sigap menendang suster ngesot palsu itu.

Saya mengira kasus sekonyol ini akan berakhir damai. Ternyata tidak. Ayah Mega, Mahfud Djabir akan tempuh jalur hukum untuk pidanakan Sunarya.

Walaupun ini adalah perselisihan antara otoritas (Satpam Sunarya) dan perempuan lemah (Mega), susah bagi saya untuk bersimpati kepada Mega. Sunarya menendang Mega karena refleks ada ancaman. Pada malam itu, Mega bukan gadis berpakaian biasa, ia berpakaian suster ngesot dan ngesot di lantai. Mengingat kebanyakan orang Indonesia masih percaya takhayul, refleks Sunarya menendang Mega adalah keberanian, bukan penindasan.

Akan tetapi yang membuat saya paling kecewa adalah ketika membaca tulisan Mega di blognya:

“Saya baru satu kali melakukan hal tersebut dan saya melakukan itu karena sebuah settingan saya dan teman–teman saya.”

“Mengapa satpam tidak datang kepada saya sampai saat ini, salah atau tidak bersalah pun sudah seharusnya Satpam itu datang kepada saya. Hanya sekedar berbicara tidak ada salahnya kan?”

“MORAL DUTY REQUIRES ME TO CALL THE ATTENTION OF PUBLIC. Mengapa? Karena etika dan moral itu mencerminkan bangsa yang baik. Jangan sampai dengan kejadian seperti ini mencoreng hal tersebut. Pertanggung jawaban itu penting, dan kepatuhan hukum ialah salah satu syarat utama.”

Bagaimana mungkin seorang remaja berusia 20 tahun, yang semestinya pikirannya membawa kebaruan dan anti-feodal, justru mempidanakan satpam Sunarya dan menuntut untuk dikunjungi di rumah sakit, setelah semua kekacauan yang ia ciptakan sendiri?

Belakangan saya baca di berita kalau ayah Mega, ternyata sesepuh Pemuda Pancasila, sebuah ormas yang identik dengan preman.

Lihat juga:

19 thoughts on “Tendangan Satpam Untuk Suster Ngesot”

  1. Heh? Lapor ke polisi? Aneh2 aja. Saya sih tidak menyalahkan satpamnya, Pak Sunarya. Menurut saya tindakan beliau menendang itu pasti refleks, bukan disengaja. Kenapa juga Mega pakai pakaian suster ngesot segala? Kenapa bukan Mega yang mendatangi Pak Sunarya dan meminta maaf karena dia yang menciptakan kekacauan?

    1. PP itu Pengunjung Pembaca jadi kalo gak baca disarankan gak komen….

      Yang saya sorot bukan si belia tukang ngeyel itu tapi kekonyolan orang tuanya itu lho….gak malah nyontoin sikap yang bener. Tapi ya pantes lha wong mbahnya preman….

  2. Aku memandang dalam perspektif yang kurang lebih sama denganmu, Mon.

    Kalau aku jadi satpam, aku akan terima pengusutan hukum ini, tapi begitu selesai, si Mega kutuntut ganti :)

    Idealnya sih sistem kayak gitu jalan kecuali sistem hukumnya yg invalid… :)

  3. ada beberapa orang yang menyebut klo mega tuh “anak mami”.
    tapi klo menurut saya, mega tuh “anak emak”
    soalnya nama emaknya “titin”

  4. kabar terbaru mengatakan twit nya decemaga dibajak. mengenai “keberanian” statement gadis 20 tahun itu, menurut saya, juga takkan begitu saja terlepas dr siapa orang tua dan keluarganya, *normatif*

  5. Ya bukan salah satpamnya donk?
    Bagus donk satpamnya? Berarti satpamnya itu bukan cuma tampang doank, tapi juga punya kekuatan untuk melindungi? Lucu banget kalo sampe ke polisi?

  6. Selamat malam , Bapak2 Ibu2 dan semua orang2 pinter disini , sedikit punya usulan nih , bagaimana kalau kita mencoba untuk menjadi orang lain ditempat yang lain misalnya , mungkin akan berbeda pendapat kita , dengan hati sabar dan jangan pakai emosi .. Terima Kasih .

  7. Hihi,
    akhire nemu postingan ini dari Kang Momon juga…

    Ya senada dnegan journal sampean ini, tapi ngliat perkembangan sebagaimana yang ditulis oleh si “Suster Mega Ngesot” pada blognya ini kok jadi nambah geli aja yakk..

    Berasa dikelitik gitu…
    Thanks Kang…

  8. Jangan karena sang penendang adalah seorang satpam outsourcing, lalu menjadi benar. Juga karena korban penendangan adalah anak dari sesepuh suatu organisasi tertentu, lantas langsung menjadi salah. Cara berpikir begini, bahwa orang kaya selalu salah dan orang miskin selalu benar, sungguh memprihatinkan

    Tetapi mestilah dipahami bahwa satpam tersebut melakukan tindakan tersebut karena dalam rangka tugasnya mengamankan area jagaannya. Menurut saya, tindakan satpam tersebut heroik! Menyelamatkan orang-orang di sekelilingnya dari suatu ancaman.

    Sementara sang korban yang ditendang, salah, karena tidak berkoordinasi atau melaporkan dulu kegiatan tidak wajar di area publik kepada pihak sekuriti yang bertugas. Hal ini tentu saja mengganggu ketertiban umum, menyebabkan orang lain merasa tidak aman, terancam dan merasakan situasi yang tidak menyenangkan. Bayangkan ketika Anda malam-malam di sebuah hotel, baru keluar lift, Anda bertemu penampakan makhluk halus, apa reaksi Anda. Diperlukan suatu keberanian luar biasa dari seorang Sunarya untuk menerjang maju, melindungi orang-orang di belakangnya berhadapan dengan makhluk seperti itu….

    Jika sampai satpam tersebut dihukum atas perbuatan heroik ini, maka ini akan jadi preseden buruk bagi dunia persatpaman. Bayangkan di lingkungan Anda, anak Anda, istri Anda, kakak Anda, adik Anda ketika mendapat suatu ancaman, dan satpam di situ ragu-ragu bertindak, hanya karena “jangan-jangan ini settingan; jangan-jangan pelaku adalah dari organisasi tertentu”….

  9. Ya sudah kalau harus lewat jalur hukum, ditempuh saja, Pak Satpam, cari lawyer yang baik, mungkin dari LBH.

    PP sok-sokan jalur hukum, biasanya juga main gebug. Gebug dulu, alasan belakangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *