hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Misc - October 28th, 2011

Penuturan Ibu Seorang Anak Gay Umur 6 Tahun

“Mama, Kurt dan Blaine kayak aku,” ujar seorang anak laki 6 tahun ke ibunya.

Si ibu (yang menulis anonim di blog getstooobsessed.tumblr.com) menceritakan betapa anaknya menyukai tokoh homoseksual Blaine, di serial tv Glee. Katanya, ini bukan “suka” seperti “Blaine itu keren”, melainkan “suka” yang berlama-lama menatap foto Blaine sambil mengagumi ketampanannya.

Adegan yang disukai anaknya adalah ketika Kurt dan Blaine berciuman. Dia memanggil seisi rumah untuk menonton rekaman adegan itu. Perlu diingat, di Amerika Serikat, berciuman bukanlah sesuatu yang tabu.

Yang mengagumkan adalah bagaimana kedua orang tuanya menyikapi ini. Kemungkinan bahwa anaknya gay tidak menganggu mereka.

“Anak kami akan menjadi dirinya apa adanya, dan tugas kami adalah menyayanginya” ujar si ibu.

Si ibu justru berkelakar jika kelak di umur 16 si anak membuat “pengumuman besar” bahwa dirinya gaydi makan malam keluarga, mereka akan menjawab “Nak, kamu sudah mengatakannya waktu umur 6 tahun. Tolong ambilkan sayurnya.”

Mereka berdua sebetulnya juga masih terbuka andaikata anaknya tidak homoseksual. Menurut si ibu, anak kecil memang sering terobsesi pada berbagai macam hal.

“Hanya waktu yang akan membuktikan apakah anak saya gay, tapi saya bersyukur dia adalah anak saya. Saya bersyukur dia lahir di keluarga kami. Keluarga yang akan menyayanginya, dan menerimanya apa adanya. Keluarga yang tidak mengingkankan dia berubah. Dengan ayah ibu yang tidak sabar untuk berdansa di pernikahannya.”

67 Comments

  • cK

    tambahan, dan mereka (orang tuanya) berpikir Blaine itu cukup tampan untuk jadi menantu. :mrgreen:

    sungguh suatu keterbukaan yang sangat jarang di masa sekarang. kalau di Indonesia, belum tentu ada orang tua yang bisa menerima hal ini apa adanya. makanya sampai sekarang banyak gay yang memilih tidak menikah, demi ketenangan orang tua dan pandangan dari lingkungan mereka.

    • adam

      betul itu saya setuju dengan anda,indonesia tdk menerima suatu perubahan budaya dari luar,padahal gay itu juga manusia,lalu kenapa di harus di usik,diganggu,di benci malah,aneh ni negara

  • cK

    sial, emot mrgreen gak nongol di sini :|

  • ketika kita melihat hal-hal seperti ini sebagai sesuatu yang “luar biasa”, artinya kita memang masih belum siap :)

  • KDJ

    Thumbs up for the parents!

    Pastinya susah untuk bisa menerima semua nya dgn ikhlas, tp dengan kasih sayang semua itu pasti bisa dilewati. Insyaallah sang anak bisa tumbuh dewasa menjadi seseorang yang hebat, krn memiliki orang tua yang hebat.

  • Saya setuju dengan lantip

  • sabar ya nak, blaine emang keren. tapi, om duluan dong!!

  • DRM

    Udah gak aneh sih, lah gue juga dari TK kok :))

  • cara pandang dan persepsi yang berbeda tidak harus menjadi musuh.

  • hidup memang masalah pilihan

  • Saya satu pendapat sama om Rony..

  • miioung

    jadi … dengan kata lain, ini pengakuanmu ya mon, kalo dirimu sebenarnya jg gay sejak kecil kwkwkwkw …

  • Salut dengan orang tuanya :)
    Pernah seorang teman saya yang gay bertanya: Nath, kalau anak kamu cowok dan ternyata gay, bakal boleh gak pacaran sama gua?
    Terus terang, susah menjawabnya. :D

  • nia

    parah..dan komen2nya lbh parah -_-”

  • cak hot

    perilaku gak normal kok didukung. apa kalo si anak jadi psikopat jg di dukung?
    kebanyakan kemasukan budaya gak bener. gak normal para komentator yang mendukung. gak beragama juga kali..

    • Homoseksual kan tidak seperti psikopat yang merupakan kelainan jiwa Cak :)

      Menurut saya budaya Anda yang gak bener Cak :)

      • Saya… sedikit bs paham ttg cara pandang ini.
        Tapi, yuk disimulasikan ke keluargamu sendiri : “Kenapa enggak mencari contoh yang incest sekalian?”

        Can you handle that?
        Isn’t that a very open minded example of “our modernized culture”? More than acceptance of Gay Boy?

        Looking forward for your ans…

  • masak sih homoseksual bukan kelainan jiwa mon?

    • Kriteria kelainan jiwa itu, pengidapnya tidak dapat berfungsi di masyarakat. Karena setelah diamati banyak homoseksual yang dapat menjadi bagian dari masyarakat, maka para psikolog menghapus homoseksual dari kategori kelainan jiwa.

      Yang akan masuk dalam kelainan jiwa adalah obsesi seks yang berlebihan. Nah ini gay atau straight bisa masuk.

  • Rin

    gw dukung cak hot deh,
    apa bedanya psiko sama gay… kan sama2 gak normal..
    ga usah nyangkut agama bro, pake akal sehat aja juga terbukti kalo salah

    • adinda

      Saya setuju dengan anda. Homoseksual adalah kelainan yang harus disembuhkan, dan tidak sesuai fitrah.
      Kita jangan ngebully atau menjauhkan, apalagi mendukung. Dukunglah supaya berobat dan sembuh.

    • Rin dan Adinda salah. Homoseksual itu bukan kelainan juga bukan penyakit, jadi tidak perlu disembuhkan. Begitu ;)

      • adinda

        Setahu saya Mas Momon ini berpaham liberal. Dalam kacamata liberal kan semua serba relatif. Jadi saya belum tentu salah dan Anda belum tentu benar.
        Nah, dari sini aja udah kelihatan logika ini membingungkan.
        Bagaimana Anda bisa yakin Anda benar?

        Kalau saya sih yakin saya benar. Maklum, berpegang pada agama yang saya yakini kesempurnaan dan kebenarannya.

      • Nggak membingungkan sih. Karena dalam pola pikir liberal itu kebenaran bukan relatif, itu kesalahan persepsi Anda. Kebenaran adalah sesuatu yang harus terus menerus dibuktikan dengan logika yang sahih.

        Jadi pola pikir liberal bukan berpegangan kuat pada sebuah penetapan, melainkan ikhtiar untuk terus menerus mencari kebenaran.

  • Well, di jaman dulu, mungkin ini dianggap tabu. Tapi jaman sekarang, jaman di mana hal paling buruk pun sudah dianggap normal, saya jadi merasa itu “biasa”. :(

    Saya hanya gak habis pikir, tidakkah ortu anak itu menganggap bahwa “gay itu suatu ke-abnormal-an”? Astaga… saya tak melihat sesuatu yang pantas “disalutkan” untuk sang ibu tersebut. :( Menyedihkan, malah. :(

    • Ah nggak juga. Membunuh, memperkosa, dan melecehkan secara seksual belum dan tidak dianggap normal. Kecuali di Arab Saudi mungkin XD

      Saya rasa, si Ibu justru mengerti kalau gay bukan keabnormalan; melainkan preferensi seksual. Saya salut, karena si ibu (dan bapaknya) mengerti bahwa yang terbaik adalah anaknya menjadi sosok dirinya sendiri, bukan sosok yang dituntut oleh masyarakat.

      • Oh God…
        Catatan sejarah Al-Qur’an ttg Nabi Luth dikemanakan Mon? Dongeng? … sigh
        Atau, coba tegaskan cara pandangmu dengan sebelumnya membaca ayat ini, … atau komenku akan didelete??? That’s not a liberal way of handling this kind of thing. Isn’t?

        ===
        Allah berfirman: “Dan Luth ketika berkata kepada kaumnya: mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” [QS Al-A’raf:80-84].
        ===

        Tapi, dirimu tidak membutuhkan suatu argumentasi yang bernada brilian u/ mendukung cara pandang ini, karena seseorang yang sangat rendah hati, sudah menyatakan, kurang lebih, “di akhir zaman, perilaku homoseksual akan merajalela”

        jadi.. kalau itu terjadi di sekitarmu atau justru di dirimu, kau ga akan merasa aneh aja. Justru kau bs bangga lho. Mungkin spt kebanggaan Ibu ini kepada anaknya…

        * sigh…

      • Policy-ku cuma akan menghapus komentar yang memakai kata-kata kasar Mas :) Jadi tuduhan Mas Eko itu salah.

        Untuk diskusi ke arah agama, saya no komen, karena konteks diskusi saya ada pada negara.

      • adinda

        Kenapa hanya menyebut Arab Saudi? pembunuhan, pemerkosaan, dan pelecehan seksual terjadi di mana pun lho Mas. Di negara Barat juga banyak.

        Dalam hal ini ngga perlulah statistik, informasi terbuka di mana2, dan saya yakin Mas Momon pun cukup cerdas untuk mengetahui hal itu.

        Jadi kenapa tendensius begitu terhadap Arab Saudi?

  • Sptnya ada yg kurang dr terjemahanmu di sini mon. Penekanan pada tugas dan kewajiban orang tua utk menerima dan mencintai anaknya, apa adanya.

    Kedua, bahwa si anak tumbuh dlm keluarga yg fully support dan mau menerimanya apa adanya.

    Orang2 yg komen bahwa orang tua si bocah adl orang tua yg patut dikecam, salah, keblinger, gagal etc, aku ga ngerti hrs komen apa.
    Aku jd bertanya2 aja, apa arti mencintai bagi mrk, apa artinya mjd orang tua bagi mrk.
    Syukur terucap, aku bkn anak dr orang2 ini. Ga kebayang, how hard my life could be, diasuh oleh orang tua tipe2 yg kebalikan dr ortu si bocah gay.

    • pastinya sangat “hard life”, kebayang di beberapa pilm manca semacam life is beautiful or all kids are allrights. meskipun disana terliat happy ending, tp kita tidak tau betapa beratnya hal2 yg akan dihadapi..

  • ungkapan “menjadi seperti apa adanya” di atas seperti sebuah kondisi menyerah dalam keterpurukan. yg bener adalah menjadi yang semestinya, kalo misal saat ini jadi pemalas apa trus dibiarkan apa adanya ??
    gay ato lesbi bukan kelainan jiwa tapi PENYAKIT JIWA kronis, krn dia tidak bisa menerima kondisi fisiknya yg sebenarnya (laki ato perempuan). akan banyak bencana kalo ini dibiarkan merasuk dalam bangsa indonesia yg dah ga karuan…

    • Tapi begini, menjadi homoseksual kan bukan keterpurukan. Jadi pernyataan Anda mentah semua. :)

    • W

      Saya tidak setuju dengan pernyataan Anda bahwa “gay atau lesbi tidak bisa menerima kondisi fisiknya yg sebenarnya”. Dalam sebagian kasus, pernyataan anda cukup relevan, memang ada dan banyak dari mereka yg memilih utk menjalani operasi ganti kelamin (transeksual). Contohnya, Dorce. Tapi mayoritas gay menerima bahwa mereka adalah pria atau wanita dan sangat nyaman dengan kenyataan tersebut. Artinya banyak kok kaum gay wanita yg bangga dan senang jadi wanita, dan begitu pula dengan kaum gay pria. Sama aja seperti kita yg tentunya menurut anda “normal” karena kita secara seksual tertarik kepada lawan jenis. Satu satunya perbedaannya adalah bahwa kaum gay memiliki ketertarikan seksual kepada sesama jenis. Tidak berarti mereka secara diam-diam berhasrat utk terlahir sebagai lawan jenis.

      Kudos utk mas Herman untuk keberanian Anda menulis tentang topik ini. Saya kagum. Semoga di Indonesia akan lebih banyak orang2 berpikiran progresif seperti Anda. Maybe then our country will truly have hope for the change we’ve been promised about for way too long.

  • jarod

    setuju buat ortunya ! xD
    . apakah kalian ga tau ? di india ad seorah gay yg nikah sama cewek. karena ga mau ngecewain ortunya. eh pas bulan madu, si cewek dibunuh. karena si cowok ngerasa bahwa kebebasannya direnggut. coba kalo gtu gmana ? karena gay ato enggak it adalah pilihan.

  • john

    that’s comment is not only wrong, it is absurd….
    since born that child never want to be like that
    that coming with it selt…
    moreover the one of you said the gay is same as psychopaths….that’s really misunderstood
    when you commented, make sure you find it the truth
    Do not just write something that is not proof

  • Overall,
    * sigh,
    kalau agama enggak dijadikan patokan, sembarang apapun bisa dijustifikasi, asalkan by logic it has a strongth foundation.

    Saya bukan orang yang suci, nor bebas dari kemaksiatan. Tapi saya tau apa itu hati nurani, dan naluri yang sehat. Sangat tidak sehat punya syahwat ke sesama jenis.

    Hal tersebut bisa dihindari : orang tua harus berperan disini. Jangan berjarak dengan anak-anak. Ikuti perkembangannya. Andaikan anak cowok suka main2 dengan lipstik, rebut. Jauhkan. Itu kecil saja, tapi itu sudah bs memulai suatu proses.

    Ajak anak ke hal-hal yang maskulin bagi laki-laki, dan feminim bagi perempuan. Ajarkan mereka apa perbedaan signifikan antara laki-laki dan wanita. Saya punya anak wanita, 4 tahun, yang sedari kecil, mungkin 2 tahun, sudah saya ajari u/ membedakan pria/wanita, jantan/betina dari manusia dan hewan. Asyik sekali melihat dia mengklasifikan banyak entitas yang dia temui!

    Ibu ini tidak memiliki pandangan agama. Mungkin secara lahir dia Kristian (asumsi dunia barat), namun dia tidak memegang itu sebagai kepercayaan yang diyakini. Kalau iya, tentu dia akan tahu kisah Luth dengan Sodom dan Gomorrahnya.

    I am very ashamed and truly sad by this kind of perspective that you had. A moral decadent in plain sight…

    • adinda

      Setuju, patokannya ngga jelas. Kalau patokannya sekedar pendapat manusia, apapun bisa bergeser dan dianggap “wajar”. Memprihatinkan.

      • Patokan memang selalu berkembang dan menyesuaikan pengetahuan manusia. Tepatnya, patokan itu mencerminkan pemahaman manusia atas fenomena-fenomena di sekelilingnya. Ini wajar dan selalu terjadi.

  • Masahi

    Yg nganggap gay itu normal dah GILA. Dah jelas itu orientasi seksual yg salah dan bukannya malah dibenerin.
    Saya tanya kepada para orang tua yg normal (straight)
    Kepada para Bapak : bayangkan anda sedang oral sex dengan Bapaknya temen anak anda yg gay.
    Kepada para Ibu : bayangkan suami anda berhubungan sex dengan pak RT tetangga sebelah.

    Segitu menjijikkan lah sebenarnya gay itu.
    Orientasi sex, gay atau lesbi pasti bermuara ke sexual intercourse jadi jangan anggap pandangan saya terlalu jauh.

  • didi

    Baru jadi banci aja dah nuntut macem2! dipikirnya kita yang normal2 ini sudah diperlakukan adil apa?yang normal juga rawan dibunuh, rawan ketidakadilan,rawan kekerasan, rawan dilecehkan. gak usah cengeng minta diistimewakan segala lah!!

  • ks'ti

    hiiy paling serem ama gay.
    nggak kebayang waktu mrk sexual intercourse. nonton film brokeback mountain aja pingin muntah…

    prilaku nggak normal gini kok dianggap normal dan didukung. aneh banget. ntar kalo orang incest karna suka ama suka lama2 juga bisa dianggap wajar. karna dianggap nggak ada pihak lain yg dirugikan…

    terbaliklah dunia!

    • adinda

      setuju, patokannya ngga jelas. kalau patokannya ngga jelas apapun bisa bergeser dan dianggap “wajar”. memprihatinkan.

  • Menarik. Memang ini pertanyaan terhadap diri kita masing-masing. Bisa saja kita mendua, menenggang orientasi seksual tetapi tak siap jika orang-orang tersayang di lingkungan dalam berbeda dari kita.

  • inge

    apa kalau seseorang itu heteroseksual maka dia pasti lebih baik daripada yg homoseksual? Apa Imam Samudra masih lebih baik daripada Ricky Martin? Seseorang itu harus dinilai “baik/buruk” dari karakter dan perbuatannya, bukan preferensi seksualnya.

  • DV

    Di sini, kuyakin kamu tahu, hal seperti ini juga biasa. Malah per tahun 2009 silam, pemerintah mengakui pasangan homoseksual sebagai de-facto artinya bisa disejajarkan dengan pasangan ‘normal’ lainnya.

    Tapi karena aku orang agama, melihat hal seperti ini aku merasa harus tetap berprinsip “Tidak” dan “Tak setuju”.. urusan hasil akhirnya gimana, bukan urusanku yang penting aku bersikap…

  • Sebagai orang tua, saya meyakini saya selalu memutuskan pilihan-pilihan bagi anak saya. Apa-apa yang boleh ditonton/tidak, mulai memperkenalkan aurat, memilihkan baju-baju yang baik, memperkenalkan mana-mana perilaku yang santun dan tidak santun, dan seterusnya. Simply ya karena anak-anak itu belum tahu apa2. Karena itu peran ortu-lah yang mengarahkan.

    Dan ketika orang tua membiarkan perilaku seorang anak, itu berarti orang tua sudah memutuskan (u/ memperbolehkannya). Anak2 adalah pengingat yang hebat, dan merekam cepat atas apapun yang dilihat dan dirasakan. Saya berpendapat, bukan salah si anak ketika dia mendapati Blaine di tontonan tv-nya, karena memang si ibu membiarkan si anak menonton Glee (atau barangkali malah mengajak anaknya menonton bersama serial itu). Nah, ketika Blaine berakting (berperilaku) homoseksual, ya jangan salahkan si anak ketika perilaku itu ditiru. Anak2 itu tidak pernah salah, mereka hanyalah peniru yang sangat hebat.

    • Sebagai anak yang tinggal di AS, saya rasa dia tidak cuma terpapar pada adegan homoseksual, tapi heteroseksual saja. Bahkan aku yakin adegan mesra hetero lebih banyak muncul di televisi.

      Jika si anak dia meniru yang homoseksual, itu adalah indikator kalau dia condong untuk kompatibel dengan preferensi gay. Tapi seperti apa yang dikatakan ibunya, “its too early to tell”. Si Ibu tidak memaksakan anaknya jadi gay atau straight. Hanya waktu yang akan membuktikan, katanya.

      • dewi2

        pas banget. pak awaludin ini tampaknya cuma melihat dari satu sudut pandang saja. padahal dimana-mana juga pasti media lebih banyak menampilkan hubungan cinta/seks heteroseksual ketimbang homoseksual.

        apa tidak pernah berpikir bahwa di kacamata org homo/lesbi adegan bercinta pasangan heteroseksual tampak menjijikkan? ini cuma masalah sudut pandang dan perbedaan orientasi seksual. jadi, tidak perlu membawanya jauh kepada kelainan jiwa, agama, dsb.

  • perbun

    Masih ada waktu untuk anak kecil itu agar kembali ke jalan yang benar. Gay itu konotasinya pasti sampai sexual intercourse dan dilakukan kebanyakan tidak menggunakan payung lembaga perkawinan jadi kurang elok

  • as

    saya GAY !
    Dan anda anda tahu kenapa? Itu bukan pilihan saya, saya sekalipun tidak pernah memilih mau jadi gay. Tapi yang saya tau itu saya rasakan tiba tiba. Saya pernah belajar mencintai lawan jenis, tapi tidak bisa, saya merasa bersalah membohongi hati saya dan hati wanita itu. Apa saya salah terlahir abnormal? Kenapa tuhan menciptakan keabnormalan itu kepada saya, lalu dia juga menyalahkan saya?

  • KS

    Hmm, jangan ambil persepsi dan komentar sendiri.

    Sayangnya, dunia psikologi menyatakan kalau homoseksualitas itu bukan kelainan jiwa dan dari dunia kedokteran menyatakan kalau homoseksualitas itu bukan penyakit.

    Disini saya netral aja, tapi emang kedua belah pihak udah menyatakan hal tersebut, dan udah lama banget.

    Memang sih kalau dipikir dengan nalar, agak membingungkan. Tapi yo wes lah, itu-lah mengapa Negara Barat jauh lebih menerima banyak hal yang kita–sebagai orang Indonesia anggap salah karena kita tidak terbiasa dan menganggap hal macam ini sebagai “negatif”.

    Sebenernya kita menganggap hal macam ini ruwet kayak kabel listrik kebelit-belit. Padahal sederhana, homoseksualitas itu cuma memiliki perbedaan di perasaan mereka. Sisanya? Mereka 100% manusia yang hidup diantara kita, bekerja, cari makan, punya emosi, dll.

    Dan pertanyaan penting,
    Apakah sesuatu yang tidak normal itu berarti salah? Perbedaan itu salah? Apa kita, manusia, dari dulu cuma hidup di satu jalur yang itu-itu-itu terus? Apa karena mereka tidak di jalur kita, maka mereka salah? Ladies and gentleman.. Dunia itu luas, jauh lebih luas dari yang kalian pikir.

    Dunia sudah berkembang sangat pesat, dan bahkan masih begitu banyak proses yang bakal terjadi.

    Terakhir, kalau kalian menentang dengan nama agama. Saya punya 1 pertanyaan, yang seharusnya kalian dari awal pertama kali belajar agama udah mengerti. “Kasihilah sesamamu.” –Ya kan?

    dan “Tuhan itu maha adil.” –Lalu

    Apa hanya dengan kekurangan itu, maka orang tersebut akan ditinggal begitu aja? Tidak. Kalian gak pernah punya hak untuk menjudge hidup mereka. But HE did. Siapa yang tau? Ada? Dunia ini penuh keajaiban. Sebenarnya semua hal ini kalian sudah tau, tapi ketika menghadapi permasalahan yang tidak biasa ini. Kalian secara tidak sadar “melawan”. Itulah perilaku masyarakat kita. Tidak biasa, maka salah.

    Kita merasa jijik dan geli karena kita tidak melihat dari MATA mereka.

    Sekarang coba, pikir. Ketika suatu saat, kalian terlahir terbalik dari apa yang kalian hina sekarang. Kalian lahir sebagai mereka. Kalian pikir gampang seperti saat kalian ngomong sekarang? Obatin woi, berubah aja susah amat, yee tinggal suka ama cewe juga, dll.

    Teman2x sekalian.
    Ini.
    Pe – ra – sa – an.

    Kita balik lagi. Kalian normal (Ya kalau memang itu kata yang kalian banggakan, normal.) Disuruh untuk mencium sesama jenis, kalian merasa apa? Jijik kan? Kalian pernah bayangkan terpaksa menikah, hidup betahun2x tanpa cinta, kasih sayang. Keterpaksaan? Dibalik ke mereka, para homoseksualitas.

    Disini saya ga ada tujuan membela mereka. Tapi saya memandang dari segi mereka, saya berusaha menjadi mereka dan melihat dari mata mereka itu seperti apa. Oh begini yang mereka rasakan. Saya seringkali meneliti banyak hal dari dunia psikologi karena memang saya sendiri sangat tertarik dengan hal seperti ini.

    Dari kepribadian ganda, psikopat, dan sebagainya. Saya hanya merasa sedih (Bukan kasihan) terhadap mereka, hanya karena masalah yang seharusrnya sepele (Dimana memang kebanyakan hanya Negara Timur yang kurang bisa menerima) malah diperumit.

    Dan pada akhirnya, semua ini kembali ke pada diri masing2x. Pikiran masing2x, pernyataan masing2x.

  • Rey

    Saya gay…tak pernah tertarik pada wanita…saya tidak menginginkan seeprti ini…tapi terjadi begitu saja…dunia terasa runtuh saat saya sadar..saya merasa kecil tak berdaya….pernah beberapa kali mau bunuh diri….tapi gagal…Saya berada di lingkungan yang menolak menghina mencibir…mengancam….saya hidup penuh kekuatiran….dan saya tidak sendiri…ternyata banyak teman yang menderita seperti ini…mengapa saya terlahir seperti ini…di dunia ini seperti …dunia ini memang bukan tempat saya…saya sering marah sama Tuhan yang membuat saya seperti ini,,,,saya tak pernah minta untuk dilahirkan seperti ini…
    Tapi itu dulu….kini saya berbahagia….karena sudah berproses untuk menerima diri sendiri dan menerima “semua ancaman” diluar sana…. semua akan berakhir…saya sudah mendapatkan hidup baru dalam kekekalan yang lebih indah…

  • dari beberapa pengalaman saya dengan sering melakukan perbincangan dengan orang2,pengalaman sayas sendiri,dan membaca kisah orang2 sukses,tuhan itu memang hampir memberi kehidupan yang sebaliknya daripada kelebihan atau keinginan seseorang,jadi jangan pernah menyalahkan tuhan atas semua kejadian hidup,toh kita adalah makhluknya,jadi jangan pernah mempersalahkan tuhan atas yang kita alami,

    sementara untuk masalah gay,saya juga pernah hampir terjerumus,namun menurut saya gay itu bukanlah sebuah kefitrahan namun lebih kepada nafsu berlebih atau godaan syetan,sehingga saya berusaha untuk menjauhi,memang sangat sulit,namun ini juga masalah keinginan,jadi jadi gay-kah anada atau straight itu tergantung keinginan anda atau kelemahan anda terhadap godaan iblis bukan karena tuhan menakdirkan anda sudah menjadi seorang ay karena gay bukanlah fitahnya manusia ciptan-NYA

  • dewi

    homo/lesbi bukan bawaan lahir, bukan juga kelainan jiwa yg bisa mengganggu keamanan org lain. contoh di sini psikopat.
    homo/lesbi cuma tentang orientasi seksual.

    dan, kalaupun anda tetap berkaca pd agama, berpikirlah bahwa tidak semua org tertarik utk beragama. atau memiliki agama serupa anda. ada banyak agama di dunia ini. tidak perlu juga anda merasa menjadi orang paling benar.

    saya berharap anak anda nantinya adalah homo/lesbi. saya sangat ingin tahu bagaimana cara anda mengatasi anak anda tsb.

    sesuatu yang baik bagi orgtua tidak selalu baik untuk anak. banyak orgtua yg mengarahkan anaknya jadi dokter atau sejenisnya padahal hati nurani si anak jadi seniman. orgtua tetap maksa, akhirnya si anak kabur meninggalkan ortu. atau si anak jd dokter, namun krn sgt terpaksa dan selalu memendam benci pd si orgtua.

  • apasi yg di masalah kan gay jga manusia coba kamusemu berpikir udah benarkah hidup kamu biarlah orang mau jdi gay ke mau jadi apa ke natijuga yg bertanggung jawab ama pencipta dia sendiri kalu kamu mau merasa benar sukurlah biarkan org jdi gay dari pada jdi koluptor penjilat hihup merugikan buat apa kamu semu jgn memendang sisi negatip nya gay jga banyak sisi positrip nya daripada normal kawin ceray2 menelantarkan kaum wanita kamu kaga pikir kamu semua dikeluarkan dari rahim perempun kenapa kaum tapi normal selalu memperlakukan seenaknya aja sama aja kamu nyakiti ibumu

  • begini, menurut gue, setiap orientasi tidak mengganggu cara berpikir logika seseorang. Memang seorang gay di gambarkan di media sebagai pembunuh.
    Karena ke abnormalan sebuah peristiwa.
    Sedangkan yang normal saja, membunuh tidak seheboh orang yang gay. Karena apa? Karena gay masih tabu. Dan belum di terima.
    Gue pacaran ama sesama sejak SD, sekrang dia SMP. Bukan berarti terus melakukan Hubungan badan dll.
    jadi gay itu tidak semuanya berfikir bahwa seks bebas dan membunuh adalah hal yang benar.

    Gue juga merasa jijik kalo lihat sesama berciuman. Tp gue sendiri pernah melakukannya. dan tidak bisa menolaknya. Karena ini seperti kalian yang normal. Suatu kebutuhan biologis. Karena semua manusia berhak mencintai dan di cintai.

  • Rendy

    Klo homo 100% suka laki2…..
    Tpi klo Gay 50% suka Laki2 50%x Jg suka Perempuan…………

    Hey semuanya…………..

    Aku memang bukan gay……..

    tpi aku skrng mulai menjadi seorang gay…

    Tpi juga Aku mau mengahapus kedidupan gay……
    tpi aku tak bisa :(
    Tak bisa menatang napsu ku :(…….

    aku gay tpi mau jdi normal lgi……. tpi ngk bisa :(

    Napsu adalah suka………..

    Terima lah hidup sendiri dan jalani hidup walaupun aNeh ……….. >_M


Leave a Reply