Batik Tulis Pekalongan

Ini bukan euforia, tetapi rasa puas ketika komoditas kita “dilindungi” oleh organisasi sedunia. Dalam kancah ekonomi kreatif, semua aset (apalagi yang abstrak) wajib dilindungi. Termasuk batik. Negara-negara Eropa sudah lebih dulu melindungi aset-aset mereka.

Pernah dengan PDO alias Protected Designation of Origin? Ini adalah aturan main negara-negara Uni Eropa, di mana sebuah produk yang memakai “merek” tertentu, harus diproduksi dari daerah tertentu. Misalnya sampanye, minuman alkohol yang bersoda itu, hanya boleh diproduksi di desa Champagne, Perancis. Yang lain? Namanya sampanye bajakan.

Aturan yang sama berlaku untuk keju Cheddar, keju Parmesan, minuman Cognac, dan masih banyak lagi. Artinya, UKM pengrajin di daerah tersebut bisa memanfaatkan nilai ekonomi produk mereka tanpa diganggu oleh orang luar, karena diakui saja, mereka telah mengembangkan produk tersebut berpuluh-puluh tahun (atau malah beratus-ratus tahun). Tidak berlebihan kan?

Walaupun PDO hanya berlaku di Uni Eropa, saat ini tengah dilancarkan sejumlah kerjasama bilateral untuk mengenforce PDO di negara-negara luar UE. Wah :D

Pengakuan batik oleh UNESCO adalah langkah awal untuk melindungi kekayaan kita, dan semoga menginspirasi daerah-daerah lain untuk ikut memproteksi kebudayaan mereka (kabarnya angklung sedang dalam proses). Di saat muncul penelitian kalau pengrajin batik tulis akan punah dalam 5 tahun, hal termudah yang kita bisa lakukan adalah sedikit lebih sering memakai batik (tulis).

Foto pinjam dari Saeful Anwar.

(Maaf judulnya ndak nyambung :D)

Maaf Lahir Batik!

19 thoughts on “Maaf Lahir Batik!

  • October 2, 2009 at 2:02 pm
    Permalink

    Ayo jaga warisan budaya sendiri meskipun hanya dengan pakaian dan tulisan.
    Batik memang asli Indonesia, Betul???

    Reply
  • October 2, 2009 at 4:33 pm
    Permalink

    diakui ato tidak oleh UNESCO, aku tetep suka batik sejak dulu.

    Reply
  • October 3, 2009 at 4:40 am
    Permalink

    Saya ndak terlalu suka batik, tapi baiklah.. Selamat untuk kita semua!

    Reply
  • October 3, 2009 at 7:00 am
    Permalink

    setahun belakangan aku rajin pake batik ke kantor, ga terbatas hari jumat aja. temenku sampek nyebut aku terobsesi…kacau :D

    Reply
  • October 3, 2009 at 11:43 am
    Permalink

    walo tinggal di salah satu sentra batik, saya toh malas pake batik. he2.

    Reply
  • October 3, 2009 at 3:45 pm
    Permalink

    Tambahan Mon. POD berlaku untuk produk makanan dan minuman.

    Reply
  • October 5, 2009 at 11:09 am
    Permalink

    batik cap agak murah dan masih diakui … asal bukan batik printing setauku …

    hayuh … saya pakai batik yang dilindungi tiap hari jumat … kamu gimana Mon? heheheheh … agak berasa Badak Bercula Satu …

    Reply
  • October 5, 2009 at 11:12 am
    Permalink

    Yap, batik printing itu bencana menurutku. Mestinya yang printing itu tidak boleh memakai nama batik, tapi kain motif (parangrusak, kawung, madura, dll). Kalau dibiarkan bisa merusak pasar.

    Kalau aku pake batik setiap kepengen pake batik Ka :D

    Reply
  • October 7, 2009 at 11:06 pm
    Permalink

    lahir di Cirebon, sekarang cari duit (dan otak, soalnya saya ga ada otaknya.. =)) ) di Cirebon. batik, cuma tau Mega Mendung dan Wadasan :-( padahal, ada segambreng :-(

    di Cirebon, setahu saya pas Wisata ke Trusmi (Surganya Batik Cirebon) : batik kami dibuat dalam helaian lembaran kain. ada batik cap, ada yang masi orijinal. saya simpan di Poto-Mblog saya noh :P *saya masi hina kok, inpo ttg batik saya minim sangat, hiks..*

    durhaka lah para orangtua yang membiarkan anaknya tidak tau asal-usul daerahnya sendiri. dan durjana lah orang yang ikut ribut sok bela negara padahal kagag ngatri apa nyang dibela (maap, ikut esmosi eh saya ;) )

    Reply
  • October 7, 2009 at 11:13 pm
    Permalink

    eh, sapa itu bilang koteka? /:)
    nyindir orang papua pedalaman ya?
    tapi, ada kawan PezBuk (Bang Ucoki) yang bangga dengan Tatto dan Mentawai memamerkan Poto hari cawat Nasional =))
    Viva Pluralisme di Indonesia, yeah!! :-X

    Reply
  • October 8, 2009 at 9:35 am
    Permalink

    semoga dengan pengukuhan Unesco ini, masyarakat semakin paham dengan batik, jangan-jangan baju yang anda pakai selama ini bukan kain “batik”, tapi kain “motif batik” atau batik printing yang parahnya lagi made in China bukan made in Indonesia, jgn sampai pengakuan ini tidak membawa manfaat ekonomi bagi bangsa ini. i love batik “beneran” indonesia !!!

    Reply
  • October 9, 2009 at 2:21 am
    Permalink

    gosipnya koteka mau diakui juga sama unesco sebagai warisan budaya asli indonesia…bener ga sih…?
    diakui ato enggak…yg ini malingsiang kayanya ogah deh ngaku2…takut mentrinya disuruh mendemokan cara make-nya dihadapan turis2 yg dateng ke sana…qiqiqiqiqi….

    Reply
  • October 28, 2009 at 1:06 pm
    Permalink

    klo bicara batik, kita bicara laweyan juga tentunya. karna batik di laweyan sudah ada sejak sebelum kerajaan pajang tahun 1500 an. Jd kl ke solo gak ke laweyan berarti klo ke jkt gak ke monas

    Reply
  • November 14, 2009 at 1:06 pm
    Permalink

    mas..
    mau tanya,kalo PDO itu bukannya cuma tentang makanan y!?
    kalo batik apa bisa termasuk PDO??
    mohon masukannya,,karena saya sedang mengerjakan tugas akhir mngenai PDO,
    mohon balas k e-mail saya mas..
    trimakasi..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *