hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Archive for April, 2006

April 27th, 2006

Majority Rule & Majority Right

Gara-gara blognya Toni jadi loncat ke blog tausiyah dan menemukan artikel tentang sikap kaum Hindu terhadap Islam. Membaca dua kubu agama saling melontarkan tuduhan dan kebencian saja sudah cukup menyedihkan, apalagi membaca ini:

Tetapi, seyogyanya, kaum Hindu yang minoritas juga menghormati umat Islam yang mayoritas untuk menjalankan ajaran agamanya, termasuk dalam soal aurat.

Dalam negara demokrasi kita mengenal konsep ‘Majority Rule and Minority Right’. Kalau diartikan kurang lebih: mayoritas berkuasa tetapi minoritas tidak kehilangan hak-haknya. Upaya memaksakan nilai kelompok mayoritas ke semua orang seperti di Indramayu tentunya tidak benar, apalagi kalau menggunakan dalih ‘kami adalah mayoritas’.

Mendengar berita-berita semacam di Indramayu, Padang, Tangerang, Perancis, Amerika S erikat membuat saya ketakutan. Apakah semua orang akan terus menerus berseteru hanya karena berbeda melihat suatu hal?

Ada tiga orang buta yang memegang gajah. Si buta pertama berkata:
“Gajah itu lebar dan pipih”
“Gajah itu panjang dan meliuk-liuk,”ujar si buta kedua.
“Gajah itu besar dan kokoh,” ujar si buta kedua sambil memegang kaki gajah.

April 26th, 2006

Who needs brains when you have these?

Bukan Abercrombie and Fitch kalau tidak membuat kontroversi. Peritel pakaian asal Amerika ini memang sering meresahkan warga Amerika (yang dikira orang Indonesia sangat liberal). Dimulai dari katalog quarterly-nya yang lebih mendekati soft-porn daripada katalog baju, hingga kasusnya yang menjual celana bikini untuk anak-anak.

Tapi akhir tahun lalu, Abercrombie & Fitch kembali diprotes, kali ini oleh remaja perempuan Pittsburgh, gara-gara kaos yang bertuliskan: “Who Need Brains When You Have These?”

Para cewek ini akan meng-girlcott (lawan dari boycott) Abercrombie & Fitch karena kaos ini mereka nilai mendegradasi perempuan dan mendorong perempuan untuk mengandalkan fisiknya.

Sebenernya yang mendegradasi perempuan ini Abercrombie and Fitch, atau justru para siswa yang meng-girlcott tadi sih?

Ada banyak penafsiran atas makna emansipasi ini. Tapi, bukankah emansipasi berarti memberi kesempatan sama bagi perempuan? Yang otomatis berarti menganggap perempuan itu mampu dan kompeten untuk membuat pilihan sendiri berdasar kesadaran dan kearifannya sendiri. Mau cari duit jadi centerfold atau jadi aktivis lingkungan hidup, saya rasa para perempuan-perempuan cukup pintar untuk memilih yang paling tepat bagi mereka.

Mengasumsikan perempuan tidak dapat memilih saya rasa justru merupakan pelecehan bagi upaya emansipasi itu sendiri. Mengasumsikan manusia tidak dapat membuat pilihannya sendiri, for that matter, adalah pelecehan bagi manusia.

Jika sebuah perusahaan dinilai mempromosikan nilai yang tidak disukai masyarakat tertentu, seharusnya tidak dicounter dengan menuntut perusahaan tersebut untuk mundur. Hal-hal demikian justru merupakan bentuk represi. Cara yang paling arif tentunya dengan dengan mengimbanginya melalui pendidikan dan agama (yang tentunya harus didukung oleh negara, termasuk dari sisi finansialnya).

Atau adik saya sering bilang: “Orang jangan diberi tameng untuk bersembunyi dari ancaman, tapi diberi senjata untuk melawan ancaman tadi.”

April 23rd, 2006

Djokdja Skyline Video

Jogja dilihat dari atas Plaza Ambarrukmo. Nampak terlihat Saphir Square, pembangunan UIN (IAIN), dan Apartemen Sejahtera (tapi nggak jelas). Nothing special sih, lha wong yang dominan terlihat cuma rumah penduduk doang. Niatnya emang nyoba youtube kok.

April 23rd, 2006

Jeans Distressed

Pengalaman pertama membeli kaos di Guess, mas penjaga toko bilang:

“Cuma kaos mas? Nggak nambah lagi? Nanti bisa dapat gift voucher Rp 250.000 lho”

“Saya harus nambah berapa?”

“Mmmm, belanja minimal 1,5 juta”

Hohohoho, kok banyak? Sempat kepikiran… 1,5 juta itu beli baju berapa banyak ya? Tapi, ternyata di toko itu, menghabiskan 1,5 juta cukup mudah. Satu celana jeans yang paling simpel harganya sudah 1 juta.

Tapi itu ternyata belum apa-apa. Di toko lain, celana jeans Juicy Couture dibandrol mulai dari 1,7 juta, sementara jens distressed merek dSquared (lengkap dengan saku belakang yang belum dijahit) malah bisa 5,4 juta satu potong.

Padahal kalau diperhatikan, celana-celana mahal ini terlihat seperti rongsokan. Sudah belel, birunya pudar, ada lubang dimana-mana pula. Kalau disumbangkan kepada Yayasan Bencana Aceh, jeans-jeans ini mungkin akan langsung dibuang karena tidak layak pakai.

Aneh ya? Malah biasanya, kisah tadi akan diserempetkan sebagai ‘pertanda kiamat’.

Tidak juga ;)

Setiap benda itu harus memberikan manfaat kepada penggunanya. Jeans distressed yang sobek-sobek memberikan manfaat membuat penggunanya terlihat mahal dan trendy. Otomatis yang beli pun cuma orang yang mampu dan yang mengikuti mode. Sementara itu, saudara kita di Aceh lebih memerlukan pakaian yang bersih, rapih dan sukur-sukur melindungi badan dari cuaca yang tidak ramah manusia. Jelas-jelas jeans distressed tidak memenuhi kriteria tadi.

Terlihat kalau dua kelompok tadi memang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, dan barang yang cocok buat kelompok pertama belum tentu cocok bagi kelompok kedua. Dan demikian juga sebaliknya.

Jadi dunia belum mau kiamat. Eh maksudnya: harga jeans distressed yang selangit belum menunjukkan korelasinya sebagai sebuah pertanda kiamat.

April 21st, 2006

Fear Factor Senior Citizen Edition

We’all seen Fear Factor Twin Edition, Miss USA Edition, Models Edition and so on. But this one will shock America::

Fear Factor: Senior Citizen Edition.

Possible challenges includes:

  • Jumping on a puddle
  • Eating a raw carrot
  • etc

April 20th, 2006

Pictorial Perdana

Redaksi Playboy menawarkan hadiah Nokia N1600 kalau anda bisa menemukan 5 rabbit head pada cover Playboy Indonesia edisi perdana.

Tapi, saya menantang anda untuk menemukan 3 buah selulit pada foto Andhara Early dalam pictorial Playboy:

April 12th, 2006

Kink O’ The Week: Sweeping Balita

Tenang, kali ini postingan saya bukan soal FPI. Tapi yang jelas, ada unsur sweeping-men-sweeping dan melibatkan detikcom:


Apakah di-sweeping adalah istilah yang tepat? Hanya J.S. Badudu dan Polisi EYD yang tahu.