hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Indonesiana - November 21st, 2011

Tentang Acara Charity Settingan di TVOne

Bagi saya yang wajib menjadi sorotan dalam kasus Charity Settingan yang dialami Mbak Silly adalah TVOne.

Dalam acara Apa Kabar Indonesia Malam dan juga VivaNews, TVOne selalu menegaskan bahwa tidak terlibat dalam acara charity tersebut. Stasiun TV merah itu mengklaim hanya di sana untuk meliput.

Namun dari skrinsut percakapan BBM antara Silly dengan pihak TVOne (sumber dari blog mbak Silly), terlihat kalau pihak TVOne sudah tahu bahwa acara charity settingan itu adalah penipuan. Pertanyaannya adalah: jika sudah tahu kalau penipuan, mengapa TVOne tetap menayangkan charity itu?

TVOne akui charity settingan adalah penipuan

Preseden seperti ini kan membuat kita berpikir, jangan-jangan TVOne juga menayangkan penipuan yang lain?

Blogging - November 21st, 2011

Deklarasi ASEAN Blogger 2011

“Suara itu tak didengar sama sekali. Dua moderator di depan tak mendengarnya. Mereka sibuk mengubah beberapa kata yang terlihat di layar tanpa mengacuhkan apa yang aku sampaikan. Pendapatku diabaikan.”—Anton Muhajir, soal penyusunan naskah deklarasi blogger ASEAN.

Bagi yang belum tahu, satu dari dua moderator itu adalah saya. Dan satunya lagi adalah Nona Dita, yang berlaku sebagai notulen rapat sidang deklarasi ASEAN Blogger di Bali.

Saya bisa membayangkan kekecewaan Anton, karena saya juga kecewa tidak bisa memfasilitasi keinginan semua peserta sidang.

Sebelumnya, perlu saya jelaskan bahwa ketika Anton mengangkat tangan untuk berbicara, wakil dari Kamboja, Anirudh, sudah lebih dulu mengangkat tangan. Saya harus mendahulukan Anirudh. Harapan saya, Anton bisa mengutarakan pendapatnya setelah itu. Namun beberapa saat kemudian, saya lihat Anton sudah tidak di tempatnya.

Pada kali kedua Anton mengangkat tangan untuk bicara, waktu sudah habis. Namun karena Anton memaksa, saya merasa bahwa apa yang akan disampaikan sangat penting, sehingga saya persilahkan. Dan memang penting. Namun usulan Anton untuk mengganti deklarasi dari “Deklarasi Blogger ASEAN” menjadi “Deklarasi Blogger Asia Tenggara” menurut saya tidak tepat. Tentu saja masih terbuka untuk diskusi ini, tapi karena saya sendiri dikejar-kejar panitia agar sidangnya segera diselesaikan, maka dengan sangat terpaksa gagasan dari Anton tidak dapat dimasukkan.

Peserta ASEAN Blogger Conference

Proses Deklarasi

Memang dari proses yang tidak sempurna menghasilkan deklarasi yang tidak memuaskan. Sewajarnya, draf naskah deklarasi memang sudah diterima peserta minimal sehari  sebelum konferensi. Dengan demikian, para wakil bisa mengkonsultasikan butir-butir deklarasi dengan kelompoknya. Namun, di lapangan, naskah draf baru disusun oleh Pak Haz Pohan setelah diskusi kelompok peserta konferensi. Rencananya, naskah itu kemudian akan diplenokan bersama seluruh peserta konferensi. Continue reading …

Reviews - November 20th, 2011

Twilight: Breaking Dawn

Twilight Breaking Dawn Part 1

Bella Swan masih ragu-ragu ketika digandeng ayahnya menuju pelaminan. Tapi di ujung sana ada Edward Cullen yang pucat. Dan cemberut di wajah Bella berkurang sedikit, lalu langkahnya menjadi semakin pasti. Bella tahu, Edward adalah lelaki yang akan menemaninya sepanjang hidupnya. Atau sepanjang masa, jika Bella akhirnya menjadi vampir.

Tentu adalah impian kebanyakan gadis belia untuk menemukan lelakinya, di mana kebahagiaan dan kegusaran akan selalu dijalani berdua dan bersama-sama. Dan tak lupa, pesta pernikahan yang indah dan sempurna. Resep inilah yang nampaknya rahasia kenapa seri Twilight—romansa segitiga antara manusia, vampir, dan serigala jadi-jadian—sukses membius jutaan ABG di seluruh dunia, melalui buku dan film. Stephanie Mayer, sang pengarang, tahu betul apa yang diinginkan seorang gadis yang baru gede.

Akan tetapi, menikah dengan Bella tidak ada kebahagiaan. Bella lebih banyak bersedih, termenung, dan merengut; dan Edward tetap bisa mengerti dan memahami. Saya tidak mengerti, kenapa Edward begitu tahan? Ini misteri yang tidak terjawab sampai akhir film.

Pada dasarnya sudah tidak ada yang baru di seri ke-4 Twilight ini, karena Bella, Edward, dan Jacob sang manusia serigala, masih sama seperti dulu. Jika ada yang berbeda, tentu karena akhirnya Bella dan Edward melakukan hubungan suami-istri setelah menikah. Ini poin moral yang pertama. Poin moral kedua adalah Bella tidak mau mengaborsi janin yang dikandungnya, walaupun bayi itu berpotensi melahirkan monster yang lebih berbahaya daripada vampir.

Dan disinilah alur cerita menjadi mirip horor kacangan Indonesia. Adegan Bella minum darah segar supaya bayinya tetap sehat mengingatkan adegan Diperkosa Setan, di mana ada sang ibu kalap makan daging mentah.

Untunglah sinematografinya bagus, alurnya bernalar, dan aktingnya bolehlah. Jika tidak, selesai nonton saya pasti akan berpikir: “Lho sekarang Nayato Fio Nuala bikin film bahasa Inggris??”

Reviews - November 12th, 2011

The Adventures of Tintin: Secrets of the Unicorn

Ada sensasi menyenangkan ketika panel-panel komik Tintin menjadi hidup di layar bioskop. Adegan-adegan awal di Secret of the Unicorn yang diterjemahkan ulang dengan detail-detail baru—layak membuat adaptasi layar lebar ini sah sebagai reinterpretasi Tintin. Bukan memfilmkan komik Tintin.

Adalah miniatur kapal Unicorn yang menggiring Tintin dalam perburuan lintas benua. Wartawan muda itu tidak menyadari kalau Unicorn menyimpan rahasia yang telah turun temurun sejak abad ke 17. Setelah mendapati seorang laki-laki ditembak mati di depan pintu rumahnya, keesokan harinya Tintin dibius klorofor, diperangkap, dan digotong dengan kapal Karaboudjan menuju gurun Sahara.

Reninterpretasi ini menggabungkan tiga komik (Kepiting Bercapit Emas, Rahasia Kapal Unicorn, dan Harta Karun Rackham Merah). Unicorn sebagai cerita intinya dan Kepiting Bercapit Emas sebagai plot bertemunya Tintin dengan Haddock, sahabat petualangannya. Karena Tintin tanpa Haddock, ibarat sayur tanpa garam.

Dan selebihnya adalah komik petualangan yang konyol, seringkali mustahil, tapi menghibur. Adegan Thomson dan Thompson mengejar pencopet dompet dari Unicorn dipertahankan plek seratus persen. Namun adegan Haddock dan Tintin (dan Snowy) mengendalikan pesawat amphibi di gurun Sahara dirombak sepenuhnya, dan tetap komikal. Senafas dengan komik Hergé.

Nuansa Hergé untungnya masih muncul di mana-mana. Mulai dari nama-nama yang konyol sampai deus-ex-machina yang nyata-nyata mustahil.

Animasinya sendiri sempurna. Memakai teknologi animasi yang sama dengan Avatar, guratan-guratan tinta Hergé menjadi hidup dan likeable. Jamie Bell memerankan Tintin yang optimis dan penuh semangat. Tapi bintangnya adalah Andy Serkis yang perankan Kapten Haddock, pelaut putus asa yang hanya sadar jika minum whiski. Jika Anda lupa, Serkis adalah pemeran Gollum dalam Lord of the Rings.

Sayangnya, pengalamanan saya nonton Tintin versi 3D tidak menyenangkan. 3D memaksa mata untuk fokus pada efek 3D-nya dan menjauhkan dari ekspresi karakternya.

Walaupun saya mengharapkan film yang lebih perfect, namun The Adventures of Tintin adalah pembuka yang baik untuk trilogi Tintin. Jika pendapatan box-officenya bagus, mungkin 2013 atau 2014 kita boleh mengharapkan sequel Tintin (mungkin dari Tujuh Bola Kristal), seperti yang dijanjikan Spielberg dan Jackson. Nyawa trilogi ada di seri ke-dua. Ujian terbesar dua sutradara mahsyur itu tertuju pada sequel Tintin.

Misc - October 28th, 2011

Penuturan Ibu Seorang Anak Gay Umur 6 Tahun

“Mama, Kurt dan Blaine kayak aku,” ujar seorang anak laki 6 tahun ke ibunya.

Si ibu (yang menulis anonim di blog getstooobsessed.tumblr.com) menceritakan betapa anaknya menyukai tokoh homoseksual Blaine, di serial tv Glee. Katanya, ini bukan “suka” seperti “Blaine itu keren”, melainkan “suka” yang berlama-lama menatap foto Blaine sambil mengagumi ketampanannya.

Adegan yang disukai anaknya adalah ketika Kurt dan Blaine berciuman. Dia memanggil seisi rumah untuk menonton rekaman adegan itu. Perlu diingat, di Amerika Serikat, berciuman bukanlah sesuatu yang tabu.

Yang mengagumkan adalah bagaimana kedua orang tuanya menyikapi ini. Kemungkinan bahwa anaknya gay tidak menganggu mereka.

“Anak kami akan menjadi dirinya apa adanya, dan tugas kami adalah menyayanginya” ujar si ibu.

Si ibu justru berkelakar jika kelak di umur 16 si anak membuat “pengumuman besar” bahwa dirinya gay, mereka akan menjawab “Nak, kamu sudah mengatakannya waktu umur 6 tahun. Tolong ambilkan sayurnya.”

Mereka berdua sebetulnya juga masih terbuka andaikata anaknya tidak gay. Menurut si ibu, anak kecil memang sering terobsesi pada berbagai macam hal.

“Hanya waktu yang akan membuktikan apakah anak saya gay, tapi saya bersyukur dia adalah anak saya. Saya bersyukur dia lahir di keluarga kami. Keluarga yang akan menyayanginya, dan menerimanya apa adanya. Keluarga yang tidak mengingkankan dia berubah. Dengan ayah ibu yang tidak sabar untuk berdansa di pernikahannya.”

Opinion - October 14th, 2011

Salahkah Memasang Identitas Akun Twitter

Sebuah artikel di situs Salingsilang menuai kritik lantaran menyebutkan identitas dua akun twitter yang dimaki-maki massa online. Kedua pemilik akun itu (saya pakai inisial AS dan HS) diserang puluhan warga Twitter setelah keduanya menyalahkan perilaku orang di Bali sebagai penyebab gempa 13 Oktober. Akibatnya, beberapa waktu kemudian, kedua twit tersebut dihapus.

Protes untuk Salingsilang yang pertama saya baca muncul dari Pitra:

Statement Pitra

Hal serupa juga dilontarkan oleh Donny BU, yang kemudian dituangkan ke blognya. Walaupun saya tidak setuju kalau kejadian memaki-maki itu masuk ke kategory bullying (baca artikel saya tentang batasan bullying), tetapi penyebutan identitas orang dalam naskah blog adalah diskusi yang musti diperdalam.

Pada dasarnya tweet yang tidak digembok adalah pernyataan di ruang publik. Ini beda dengan melemparstatement di milis atau chatroom. Konsekuensinya, jika tweet tersebut kemudian memunculkan minat publik, maka si pemilik akun menjadi tokoh publik. Tepatnya “tokoh publik terbatas”—sebuah definisi dari AS untuk membedakah tokoh publik yang pejabat atau artis.

Tokoh publik terbatas dijabarkan sebagai “orang yg membawa dirinya ke dalam sebuah kontroversi publik, guna mempengaruhi penyelesaiannya”. Dalam hal ini AS dan HS masuk ke dalam kategori tokoh publik terbatas, sehingga masyarakat berhak mengetahui identitasnya.

Namun, penelitian saya kemudian mendarat di sebuah naskah tentang kode etik jurnalisme dari Finlandia. Walaupun tidak semua blog adalah karya jurnalisme, namun beberapa memenuhi kriterianya. Salah satu butir menarik dalam kode itu adalah:

“Jurnalis harus membedakan antara isu publik, dan isu yang menimbulkan keingintahuan publik.”

Dengan demikian, karena naskah seperti di Salingsilang condong mendiskusikan apa yang terjadi pada AS dan HS (bukan ke isu yang dilempar keduanya), maka saya pikir penyebutan nama adalah tidak bijaksana.

Akan lain soal, andaikata saya menuliskan artikel yang mengkritisi pernyataan AS dan HS di blog.