hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Life - July 6th, 2012

Shortfall

Bulan Februari adalah bulan baik. Saat itu pukul 10 pagi, ketika matahari sedang hangat-hangatnya, email dari AMINEF muncul di inbox menyampaikan kabar baik pertama: status kandidat saya sudah diangkat menjadi principal candidate. Saya pasti akan berangkat sekolah ke Amerika.

Hal pertama yang saya lakukan adalah menelpon Ibu, sebuah pilihan yang sedikit saya sesali di kemudian hari. Andai saya mengatakannya langsung, saya bisa menyaksikan langsung wajah beliau menjadi gembira.

Akan tetapi, bulan Maret adalah bulan yang lebih baik saat berita kedua hadir. Saya diterima di Carnegie Mellon. Universitas terbaik di bidang software engineering. Siangnya, saya pergi ke kantor Ibu. Di teras kantor Ibu yang teduh, saya ceritakan berita Carnegie Mellon. Hal terbaik yang dapat dialami seorang anak adalah melihat senyum orangtuanya menjadi ketawa bahagia.

***

Malam harinya saya memenuhi undangan telepon direktur program Carnegie Mellon University (CMU) untuk berbincang-bincang tentang calon sekolah dan suasana belajarnya. Setelah berbicara 15 menit dan telepon ditutup, muncul rasa was-was, bagaimana jika beasiswa Fulbright tidak cukup untuk sekolah di Carnegie Mellon?

Selang beberapa hari kemudian, rasa was-was itu ternyata benar: AMINEF memberitahu bahwa Carnegie Mellon belum menyediakan keringanan biaya sekolah untuk saat ini. Artinya, ada kekurangan dana atau shortfall yang cukup banyak, dan saya harus mencari dana sendiri untuk menutup shortfall itu.

Tiba-tiba, bulan Maret menjadi bulan yang mendung.

***

Sebetulnya shortfall adalah sesuatu yang lazim terjadi. Teman saya ada yang mengalami shortfall, namun bisa ditutup dengan satu-dua bulan gaji. Beberapa lagi shortfallnya harus ditutup dengan merogoh tabungan senilai mobil atau sepetak tanah kecil. Dalam kasus Carnegie Mellon, semua itu masih tidak cukup.

Untunglah, saya kerja di kantor yang merasa sekolah itu penting. Sedetik saya selesai bercerita soal shortfall CMU ke Pak Djoko atasan saya, beliau langsung tersenyum selebar-lebarnya, kemudian—dengan dua-tiga gerakan sigap—seketika beliau menelpon mencari info beasiswa tambahan dari temannya di Dikti. Pak Djoko juga menghubungkan saya dengan Pak Rektor, yang kemudian menyarankan saya untuk menemui Pak Rachmat.

Pak Rachmat adalah pejabat rektorat yang sering membantu mencari beasiswa. Beliau menyarankan untuk menyusun proposal beasiswa tambahan untuk diusulkan ke Kemendikbud.

***

Proposal itu saya siapkan sebagus-bagusnya dengan sampul warna hijau cerah supaya menarik perhatian tim seleksi beasiswa Kemendikbud. Nampaknya jalan saya sudah ke CMU. Apalagi dari info seorang teman, Kemendikbud memiliki dana beasiswa yang banyak.

Empat belas hari menuju batas akhir yang ditetapkan CMU, proposal beasiswa tambahan masuk ke Kemendikbud. Waktu yang disediakan CMU memang tidak banyak, dan menyiapkan proposal butuh waktu untuk mengumpulkan data dan surat rekomendasi. Akan tetapi, saya harus optimis, karena ini adalah sekolah terbaik. Saya tidak boleh menyerah tanpa berusaha.

Namun, proses aplikasi beasiswa Kemendikbud memang membutuhkan waktu yang tidak cepat.

Setiap sore pukul 5, saat jam kantor Kemendikbud usai dan masih belum ada kepastian, hati saya retak sedikit. Kadang, jika satu hari ada sedikit kepastian, maka hari berikutnya akan disusul dengan berita ketidakpastian. Pak Rachmat sering membantu mengontak Kemendikbud, namun sore demi sore tetap berlalu meninggalkan saya terbenam. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika CMU lepas, karena universitas pilihan saya yang satunya—Northeastern University—juga tak kunjung memberi kabar.

Sore selalu diikuti dengan malam. Malamnya, saya hampir selalu mengecek thegradcafe.com, mencari tahu apakah ada mahasiswa lain yang sudah diterima di Northeastern. Akan tetapi, malam sudah seperti sore yang selalu tidak memberi kepastian: tidak ada info mahasiswa yang diterima di Northeastern. Dan pagipun tidak lebih baik, inbox hanya dipenuhi oleh email yang bukan tentang sekolah maupun beasiswa.

Pada sore terakhir, Pak Rachmat menelpon. Saya sedang di Jakarta. Beliau mengabarkan bahwa masih belum ada kepastian hingga saat itu. Saya berusaha untuk tidak kecewa. Di depan gerai Chanel Grand Indonesia saya duduk, kemudian mulai mengetik email untuk AMINEF.

“Dengan sangat menyesal, saya harus melepas kesempatan belajar di Carnegie Mellon University, karena belum mendapat kepastian beasiswa tambahan.”

Tombol Send ditekan. Saya merasa kosong. Suasana Grand Indonesia tetap ceria.

***

Email soal beasiswa itu datang tengah malam. Setelah sore sebelumnya saya kecewa luar biasa, keberanian untuk menerima berita bagus menjadi nyaris tidak ada. Di kamar gelap, saya membaca email itu sepelan mungkin. Saya masih belum siap membaca berita buruk. Namun, ketika sampai pada paragraf dua, saya merasa tidak yakin. Paragraf dua membawa berita bagus. Saya diterima di Northeastern University di Boston dan University of Minnesota.

Saya ulangi email itu dari atas. Saya tidak salah baca. Bahkan Northeastern memberikan pembebasan SPP, sehingga saya tidak perlu lagi memikirkan shortfall.

Seharusnya, malam itu saya bisa tidur lega. Akan tetapi saya terlalu senang untuk tertidur. Saya akan ke Boston.

***

Perjalanan mencari beasiswa adalah perjalanan yang sejauh-jauhnya berlabuh, hanya mengantar kita ke gerbang. Perjalanan yang sebenar-benarnya akan dimulai ketika kuliah sampai jam 9 malam, hidup berjam-jam di perpustakaan, dan tertidur di antara tumpukan buku-buku, tentu saja jika tidak bergadang mengerjakan tugas sampai subuh.

Namun, dalam perjalanan ini saya tidak berangkat sendirian. Semua dukungan dan motivasi, yang selama perjalanan ini telah disematkan oleh orang-orang terdekat, merupakan pengingat bahwa saya berangkat sekolah bersama dengan semangat-semangat mereka.

Saya rasa, kami yakin bahwa pendidikan akan membawa hal-hal baik menjadi lebih dekat dengan masyarakat.

Disclaimer: semua pernyataan dan informasi yang ditulis dalam posting ini merupakan pandangan saya pribadi, dan tidak mencerminkan pandangan organisasi lain. Pengalaman seleksi Fulbright adalah pengalaman saya pribadi, dan oleh karena tidak mencerminkan kebijakan AMINEF maupun Fulbright, setiap orang dapat melalui pengalaman yang berbeda.

Life - June 29th, 2012

Berita Baik Beasiswa di Inbox

Inbox adalah sesuatu yang membuat pelamar beasiswa merasa dag-dig-dug. Di masa surat menyurat lewat pos masih beken, pelamar akan pulang ke rumah dengan perasaan setengah antusias mengharapkan surat pengumuman beasiswa telah tiba. Setengahnya lagi adalah perasaan was-was andai surat itu membawa berita buruk. Setelah internet maju, tugas membuat deg-degan digantikan oleh email.

***

Setelah wawancara Fulbright yang tidak memuaskan saya, tiba-tiba pada bulan September sebuah email pengumuman mendarat di inbox. Tim seleksi Fulbright telah menjadikan saya sebagai alternate candidate. Email itu juga menerangkan bahwa kandidat alternate akan diberangkatkan jika telah tersedia dana dari pemerintah AS. Artinya, berbeda dengan principal candidate yang pasti berangkat, seorang alternate bisa berangkat dan bisa juga tidak.

Namun seorang alternate tetap harus mengikuti tes akademik (GRE) dan tes bahasa inggris (TOEFL iBT) untuk didaftarkan ke universitas di AS, sama seperti principal candidate.

***

Di bulan Oktober saya diemail AMINEF untuk bersiap-siap mengikuti GRE dan TOEFL dalam satu bulan. Tes bernama GRE itu terkenal sulit, bahkan orang Amerika gentar ketika mendengarnya. Anda akan menjadi orang yang berbeda setelah menyelesaikan GRE, kelakar seorang teman bule.

Dalam kondisi saya, tidak ada pilihan selain harus punya nilai GRE yang mumpuni. Akan sia-sia jika di kemudian hari status saya naik tingkat jadi kandidat principal, tapi tidak diterima di universitas gara-gara GRE yang seadanya.

Satu bulan saya mengulang lagi soal-soal artimatika SMA, menghafalkan kata-kata ajaib yang ternyata ada di bahasa Inggris, dan berlatih menulis esai demi esai argumentasi yang selogis-logisnya dalam bahasa Inggris. Setiap ada waktu kosong saya membaca-baca flashcard, berharap bisa mengusai kosakata baru dalam bahasa Inggris, hingga akhirnya tes itu diadakan tanggal 11 Oktober di Jakarta.

Tes GRE saya diadakan di gedung pencakar langit Jakarta yang kemilau. Interiornya seperti standar kantor Jakarta dengan sekat-sekatnya. Akan tetapi dinding dan pintunya yang berjajar rapi dengan cat warna krem monoton seperti menjamin bahwa tes ini akan dijalankan secara kaku dan keras. Beserta para kandidat Fulbright lainnya, kami duduk berjajar menunggu dipanggil masuk ke ruang ujian.

Semenit menjelang dipanggil, saya menelpon Ibu di Jogja. Saya minta didoakan, tapi sebenarnya saya cuma ingin mendengar suara keluarga di rumah, karena membayangkan senyum-senyum mereka adalah doa yang menenangkan.

***

Akhirnya 3 jam 45 menit kemudian GRE selesai. Tes itu terdiri dari 2 bagian soal bahasa, 3 bagian soal matematika, 1 tugas menulis sanggahan untuk sebuah esai, dan satu lagi menulis esai menyikapi sebuah permasalahan. Itu adalah tes yang melelahkan, tapi nampaknya pekerjaan saya tidak buruk-buruk amat.

***

Hasil GRE dan TOEFL diumumkan melalui email, kemudian, selang beberapa hari AMINEF menyambungkan saya dengan IIE. Ini adalah lembaga di AS yang bertugas mendaftarkan para kandidat S2 Fulbright ke 4 universitas yang paling sesuai dengan kemampuan akademiknya, sekaligus juga sesuai dengan dana yang tersedia. Pasalnya, jika biayanya terlampau mahal dari batas maksimal Fulbright, maka seorang kandidat harus mencari dana tambahan sendiri.

Kepada IIE, saya mengajukan dua univeristas yang menurut saya bagus dan cocok: Carnegie Mellon University di Pittsburgh dan Northeastern University di Boston. Saya memilih Carnegie Mellon karena programnya sangat fokus di bidang software engineering, sangat pas dengan minat saya. Sementara Northeastern memiliki fokus software engineering yang bagus, dan terletak di Boston, kota pelajarnya AS. Konon, nguping di Boston sangat mencerdaskan, karena orang-orangnya membahas hal-hal dengan ilmiah.

Pilihan saya direstui IIE. Berbekal nilai GRE, TOEFL, study objective, personal statement, dan CV, saya resmi didaftarkan di dua universitas itu, plus dua pilihan IIE. Otomatis, saya telah masuk ke tahap berikutnya yaitu menunggu jawaban dari universitas-universitas itu.

***

Menunggu adalah bagian paling rutin dalam perburuan sekolah dan beasiswa. Setelah menunggu undangan wawancara, menunggu hasil seleksi, dan menunggu nilai tes, maka berikutnya adalah saya menunggu pengumuman penerimaan. Pada bulan Februari hingga Mei, para pelamar sekolah menanti dan sekaligus cemas apakah diterima atau ditolak universitasnya. Mengecek email dari handphone selalu menjadi hal yang pertama saya lakukan setelah bangun pagi.

Untunglah pada bulan Februari 2012, sebuah berita baik berhenti pada inbox saya.

***

Dilanjutkan di Shortfall.

Disclaimer: semua pernyataan dan informasi yang ditulis dalam posting ini merupakan pandangan saya pribadi, dan tidak mencerminkan pandangan organisasi lain. Pengalaman seleksi Fulbright adalah pengalaman saya pribadi, dan oleh karena tidak mencerminkan kebijakan AMINEF maupun Fulbright, setiap orang dapat melalui pengalaman yang berbeda.

Life - June 22nd, 2012

Mencari Beasiswa

Email soal beasiswa itu datang malam-malam. Setelah sore sebelumnya saya kecewa luar biasa, keberanian untuk menerima berita bagus menjadi nyaris tidak ada. Adalah tidak tepat jika mengira mencari beasiswa dan sekolah adalah petualangan yang gemilang. Ini adalah sebuah perjalanan naik-turun yang sejauh-jauhnya berlabuh, tidak jauh dari mengantar Anda ke gerbang.

***

Sekitar setahun sebelum menerima email itu, tepatnya awal Mei 2011, saya mengirim pendaftaran beasiswa Fulbright ke AMINEF. Ini bukan kali pertama saya mendaftar Fulbright. Tahun 2009 dan 2010 saya tidak mendapat jawaban dari Fulbright maupun Chevening, dan diumumkan tidak lolos oleh Erasmus Mundus. Akan tetapi bagi saya tidak ada pilihan untuk terus mencoba, walaupun kepercayaan diri saya turun satu demi satu strip. Tahun 2011, saya mencoba lagi, kali ini menyempurnakan lagi surat lamaran saya (disebut study objective) sambil tentu memohon mantan dosen pemimbing saya untuk menulis surat rekomendasi lagi.

Meneruskan sekolah adalah jalur yang secara alami menarik saya mencari beasiswa. Selain tradisi keluarga, belajar di luar negeri adalah pengalaman hidup yang tidak cuma melengkapi secara intelektual, tetapi memperluas pandangan tentang dunia.

Dan mendekati tenggat dari Fulbright, melalui Fedex paket permohonan beasiswa dikirim ke AMINEF. Saya menyadari, setelah itu perjuangan mencari beasiswa sudah lepas dari bawah kendali. Sebesar apapun saya ingin belajar software engineering di Amerika Serikat, perjuangan saya berhenti di situ. Jika pegawai kurir lalai menghilangkan lamaran, maka saya berhenti di situ. Jika panel reviewer tidak terkesan oleh lamaran saya, maka saya juga berhenti di situ. Pada titik ini susah untuk optimis, apalagi Fulbright adalah beasiswa yang diincar ribuan orang Indonesia.

Bulan Juli tepat di hari ultah saya, sebuah email mendarat di inbox. Judul email itu undangan wawancara. Isinya, AMINEF mengundang saya untuk mengikuti wawancara seleksi beasiswa Fulbright yang akan diadakan 5 hari hari. Optimisme yang saya sembunyikan rapat-rapat itu akhirnya lepas. Saya tersenyum dalam hati sepanjang hari.

***

Wawancara itu diadakan di Hotel Phoenix tepat pukul setengah empat sore. Beberapa hari sebelumnya saya berlatih menjelaskan tujuan belajar saya dalam bahasa Inggris sambil melengkapi diri dengan data dan referensi untuk meyakinkan para panelis pewawancara.

Saya berangkat ke Hotel Phoenix naik becak, karena hari itu, entah kenapa, taksi menjadi susah didapat. Saya ingat suasana sore itu. Sore yang sangat biasa di Jogja. Cahaya kuning matahari agak panas, tidak spesial. Dari ribuan orang yang berada di Jogja detik itu, yang menganggap sore itu spesial mungkin cuma saya.

***

Dari balik jendela kaca ruang wawancara Hotel Phoenix terlihat seorang Mbak yang nampak cas-cis-cus berbicara bahasa Inggris kepada para panelis. Dari balik jendela kaca yang sama, tangan dan lengan para pewawancara terlihat banyak diam, sementara wajah dan ekspresi mereka sama sekali tidak terlihat.

Tak lama kemudian, setelah si Mbak keluar dari ruang wawancara dengan wajah biasa, Pak Piet dari AMINEF keluar dan menjelaskan mekanisme wawancara. Saya diberi waktu 5 menit untuk memperkenalkan diri. Padahal saya menyiapkan perkenalan 10 menit.

Dengan waktu yang terbatas itu, maka saya mengepras narasi perkenalan saya dengan kepanikan bahwa apa yang mustinya tersampaikan justru terlewatkan. Mungkin kelima panelis itu melihat wajah saya menjadi cemas, karena saya yakin denyut nadi saya sedikit lebih dingin.

Setelah perkenalan singkat itu usai, satu persatu para panelis menanyai saya. Dua panelis adalah periset dari UGM dan UNY, dan dua adalah cendekia Fulbright dari Amerika Serikat. Pertanyaan mereka tidak mengada-ada, namun bukan jenis pertanyaan yang bisa dijawab berbusa-busa tanpa berpikir panjang, karena setiap jawaban selalu bisa dikejar dengan pertanyaan lanjutan. Saya berusaha memberi jawaban dan jawaban lanjutan.

Di akhir wawancara, kepala saya sudah panas. Saya tidak yakin akan mendapat beasiswa Fulbright.

Bersambung ke sini.

Disclaimer: semua pernyataan dan informasi yang ditulis dalam posting ini merupakan pandangan saya pribadi, dan tidak mencerminkan pandangan organisasi lain.

Travel - June 1st, 2012

18 Jam di Tokyo

Herman, Tokyo, Japan

Dari balik kaca-kaca bandara Narita, langit pukul 3 sore nampak cerah dan sejuk. Setelah melalui antrian imigrasi yang cepat (memakai visa transit), saya akhirnya resmi menjejakkan kaki di Tokyo! Metropolitan terpadat di dunia, dengan 36 juta penduduk, teknologi termutakhir, dan tradisi budaya Jepang yang selalu muncul di sudut-sudutnya.

Saya sudah janjian bertemu dengan Toni dan Sofi, istrinya, di stasiun Shinjuku. Ada banyak cara untuk mencapai pusat kota Tokyo, bisa naik Narita Express, Keisei Sky Access, maupun Limousine Bus. Atas saran Toni, saya memilih bis. Tiketnya bisa dibeli dengan mudah di areal kedatangan sebelah kanan. Ada loket bertuliskan “Limousine Bus” yang cukup besar, dan saya tinggal mengatakan “Do you have any bus to Shinjuku station?” kepada mbak petugasnya. Mbak Jepang yang fasih berbahasa Inggris itu kemudian menuliskan dua jam keberangkatan. Saya menunjuk jam 15.55. Dia menyebutkan biaya tiketnya 3000 Yen. Setelah saya membayar, Mbak petugas memberikan tiket sambil menunjuk halte 11 tempat saya harus mengantri.

Walaupun tidak banyak orang Jepang yang bisa berbahasa Inggris, namun tidak ada yang misterius di Narita, dan juga di Tokyo. Semua rambu ditulis jelas dan rinci dalam bahasa inggris. Halte nomer 11 menunjukkan nomor bus saya, daerah yang akan dituju (Shinjuku), dan jam keberangkatan. Setelah mengantri dengan teratur, bus saya akhirnya datang. Anda tidak akan naik ke bus yang salah, karena petugas halte akan mengecek tiket sebelum Anda naik. Mereka juga akan mengurusi bagasi Anda.

***

Perjalanan sudah menyenangkan sejak bus berangkat. Estetika serba teratur khas Jepang sudah terlihat dari pinggiran kota sampai ketika bus sampai di Shinjuku. Lagi-lagi tidak ada misteri kapan harus turun dari bus: layar LCD akan menuliskan “Shinjuku Station” pertanda saya harus segera turun.

Shinjuku, Tokyo, Japan

Toni tidak nampak disitu seperti kesepakatan kami. Ternyata bus saya datang 30 menit lebih cepat daripada 100 menit yang dijadwalkan. Toni rupanya sedang asik menyantap ramen, jadi menyuruh saya untuk foto-foto dulu. Memotret tempat baru selalu menyenangkan, karena cahaya matahari jatuh dari kemiringan yang berbeda sehingga warna dan bayangan nampak seratus persen baru.

Toni dan Sofi datang 15 menit kemudian. Dia mengajak saya melihat Harajuku. Dari west exit stasiun Shinjuku, saya menuju ke lantai bawah untuk membeli tiket kereta JR Yamanote Line. Tiketnya ¥120 untuk perjalanan dari Shinjuku ke Harajuku, dan saya ditraktir Toni. Lagi-lagi, penunjuk jalan di stasiun itu dapat dimengerti dengan mudah.

Kereta jalur Yamanote berhenti dua setopan berikutnya di Harajuku. Keluar dari stasiun, saya langsung menuju jalan Takeshita. Gang kecil ini sudah sesak dengan muda-mudi yang berbelanja baju dan pernak-pernik busana, atau sekadar ingin eksis. Dengan latar toko pakaian lolita gotik hingga punk, ratusan anak muda Jepang berdandan dengan selera terunik yang pernah saya lihat. Keunikan fashion ini melengkapi jamuan visual yang disajikan oleh arsitektur kota Tokyo sejak saya meninggalkan Narita.

Harajuku, Tokyo, Japan

Berjalan santai bersama Toni dan Sofi di sepanjang gang kecil itu, akhirnya membawa saya ke Omotesando. Sebuah kawasan pertokoan juga, namun tokonya lebih mahal-mahal. Berbeda dengan Takeshita yang acak dan naik turun, Omotesando ditata rapih dengan pohon-pohon Zelkova rindang berjajar teratur di sepanjang jalan.

***

Tujuan berikutnya adalah Shibuya, ikon metropolitan Tokyo tempat Scarlett Johannsen hilang dalam terjemahan, dan Rinko Kikuchi hilang dalam kesendirian di film Babel. Dari ujung jalan Omotesando, saya, Toni, dan Sofi berjalan kembali menuju stasiun Harajuku untuk menuju Shibuya. Sebelumnya, Toni memaksa saya untuk mencicipi crepe khas Harajuku. Dengan harga ¥520, saya memesan crepé rasa caramel cheesecake yang ternyata sangat enak.

Stasiun Shibuya hanya terpaut 1 stasiun dari Harajuku. Sampai di pintu keluar stasiun, saya berjalan pelan-pelan menikmati pengalaman pertama di Shibuya, hingga akhirnya jajaran lampu-lampu dan neon gedung-gedung pencakar langit mewarnai wajah saya.

Di antara ratusan orang lainnya yang lalu-lalang, saya telah berada di tengah perputaran dunia.

Ini bukan tempat wisata yang terasa lebih kecil dan lebih biasa ketika Anda sampai di sana. Ini lebih besar, lebih nyata, namun susah dipercaya. Saya di Shibuya! Saya setara dengan Scarlett Johannsen.

Saya tentu mencoba menyeberang ke ujung lain untuk merasakan bergerak diantara lautan manusia. Ini adalah scramble crossing di mana pada menit tertentu, lampu merah pada kedua jalan akan menyala, semua mobil akan berhenti, dan para pejalan kaki akan menyeberang ke segala arah. Dari atas pergerakan manusia-manusia itu nampak seperti pola fraktal yang kaotik namun menemukan sebuah keteraturan.

Itinerary terakhir di Shibuya adalah berfoto bersama patung Hachiko, anjing jenis Akita yang setia menanti almarhum majikannya di stasiun Shinjuku selama 12 tahun. Bagi orang Jepang, Hachiko adalah simbol kesetiaan dan ketangguhan.

 ***

Setelah melakukan hal-hal wajib lain di Tokyo, seperti membelikan oleh-oleh Sanrio buat Mimit dan menjelajahi deretan jajanan unik di food section department store. Akhirnya saya pulang ke rumah Toni untuk nebeng tidur semalam.

Jalan-jalan di kampung Tokyo, walaupun tanpa sorotan cahaya dan pakaian nyentrik muda-mudinya, tetap menjamu mata dengan bentuk kotak-kotak yang diatur rapih dan bersih. Di dekat rumah Toni ada supermarket menjelang pukul 9 malam mendiskon makanan siap saji mereka. Saya kalap membeli sekotak bento seafood, yakitori, dan sushi unagi.

***

Saya sudah harus bangun pagi jam 4 untuk bersiap menuju Shinjuku diantar oleh Toni.

Saat tiba di bandara Narita sehari sebelumnya, saya sudah mengambil tiket Narita Express di lantai basement B1F Narita terminal 1. Kereta menuju bandara ini memang disarankan untuk dipesan melalui web (harus memakai kartu kredit) jauh-jauh hari sebelumnya, walaupun bisa juga dibeli pada hari H. Harga tiket menuju Narita dari Shinjuku adalah ¥3110. Jika Anda memesan tiket online, tiket harus diambil sehari sebelumnya.

Saya sampai di stasiun Shinjuku pukul 5.00 pagi. Kereta Narita Express atau N’EX datang tepat satu-dua menit sebelum jadwal pukul 6.34, dan meninggalkan stasiun satu-dua menit sesudahnya. Anda tidak perlu berebut kursi, karena nomor kursi sudah tercantum pada tiket.

Sekitar pukul 7.57 Narita Express sampai di bandara Narita. Butuh waktu sekitar 35 menit untuk berjalan melewati security check kereta, security check bandara, dan imigrasi dengan antrian sedang. Jadi untuk penerbangan pagi, Anda harus menyiapkan waktu yang cukup untuk itu, selain waktu untuk check-in dan jalan menuju gate (bisa 15 menit).

***

Pukul 9.15, ANA sudah memanggil-manggil sehingga orang-orang di boarding gate segera membentuk antrian rapi. Saya sudah siap meninggalkan Jepang, dan siap untuk mendatanginya lagi. Dan tentu saja mencicipi Tokyo Banana.

NB: Terima kasih untuk Toni dan Sofi yang telah menjadi host yang menyenangkan dan menjadi teman saya mengalami hal-hal menarik di Tokyo.

Politik - May 31st, 2012

Haruskan Internet Tetap Merdeka?

Pertanyaan ini berusaha dijawab dalam konferensi Internet At Liberty, minggu lalu di Washington DC. Merdeka yang dimaksud adalah memberi kebebasan bagi masyarakat dari kendali kekuasaan sehingga dapat berekspresi dengan luas. Kebangkitan Arab yang dimulai akhir 2010 dan awal 2011, menunjukkan bagaimana internet yang merdeka mempermudah rakyat untuk saling tersambung dan bergerak bersama-sama menyelamatkan negaranya dari kekuasaan Ben Ali di Tunisia dan Hosni Mubarak di Mesir.

Dalam debat sesi pertama tentang “Haruskah peraturan internet memihak warga, atau negara?”, John Kevner (advisor untuk Google) menunjukkan keprihatinannya tentang banyaknya pemerintahan yang memberangus hak berekspresi warganya dengan dalih keamanan dan keharmonisan. Kevner juga mempertanyakan mengapa banyak masyarakat yang rela melepaskan kemerdekaan berekspresinya, dengan harapan sebuah keamanan dan keteraturan umum?

Stewart Baker (ahli hukum bidang TI), berpendapat sebaliknya. Dia mengatakan bahwa peraturan internet harus memihak negara. Menurut Baker, UU lalu-lintas, UU pornografi anak, UU perpajakan tidak bisa memihak individu, demikian juga UU yang mengatur Internet.

Pendapat Baker dibantah oleh Renata Avilla, seorang pengacara HAM dari Guatemala. Perempuan berlogat Spanyol itu memberi contoh pada tahun 80-an, pemerintah Guatemala mengawasi, menganiaya, dan menghilangkan warganya dengan dalih melindungi negara.

Anggota tim konstitusi Tunisia, Nooman Fehri sependapat dengan Baker bahwa peraturan harus memihak negara, tapi tidak boleh memihak pemerintah. Negara adalah cerminan masyarakat, menurut Fehri.

Terlihat bahwa perdebatan terdiri dari kubu kiri, yang menuntut kemerdekaan berekspresi di internet tidak diatur karena memberi ruang bagi pemerintah untuk menganiaya rakyatnya; dan kubu tengah yang yakin bahwa aturan itu harus ada.

Kevner mengatakan bahwa dengan mengihklaskan negara untuk membatasi hak berekspresi, maka kita memberi hak bagi negara untuk melakukan apa yang tidak bisa dia lakukan.

Baker tidak setuju dengan pernyataan Kevner itu. “Anda tidak bisa memiliki masyarakat tanpa adanya peraturan.” Walaupun begitu, Beker mengaku sebagai rombongan pertama yang menolak UU SOPA dan PIPA yang membatasi internet di AS.

Kemudian Fehri melengkapi perdebatan bahwa kemerdekaan di internet harus pada norma-norma yang disepakati bersama. Namun, pria Tunisia menjelaskan bahwa kita belum menemukan kesepakatan itu.

Avilla yang banyak tidak sepaham dengan Fehri, nampak sepaham bahwa perdebatan peraturan internet perlu menemukan equilibrium. Wanita itu yakin bahwa pendidikan adalah kuncinya, orang dengan pendidikan tinggi lebih dapat menerima perbedaan, sementara yang berpendidikan rendah tidak.

Baker kemudian menyerang Kevner yang sebelumnya mengatakan bahwa aspek kehandalan/reliability dan bertanggung-jawab/responsibility sering dipakai dalih pemerintah untuk memojokkan kemerdekaan berekspresi di Internet. “Bagaimana caranya kita dapat menjamin informasi di internet handal dan bertanggung jawab pada forum yang crowdsourced?” tanya Baker.

Kevner menjawab dengan enteng, “Internet punya reliability dan responsibility yang crowdsourced.”

Fehri juga menyerang Kevner dengan menanyakan “Kalau bukan pemerintah, siapa yang akan menangani penjahat?”

“Penjahat suatu pemerintahan, adalah pejuang kemerdekaan dari pemerintah itu,” tukas Kevner kalem.

***

Walaupun diskusi hanya melibatkan kubu kanan dan tengah, namun banyaknya perbedaan selama perdebatan adalah tanda bahwa peraturan di internet masih harus lebih spesifik dan melibatkan perdebatan publik yang tuntas. Dan yang lebih penting lagi, peraturan harus dibuat dengan tujuan melindungi hak individu, bukan pemerintah, kelompok, budaya, agama, dan penguasa. UU ITE adalah contoh UU cacat buatan parlemen yang abai.

Sebagai catatan akhir, di saat banyak negara berusaha menyusun peraturan untuk membatasi internet, prestasi Chile menggolkan Undang-Undang Netralitas Internet adalah terobosan maju bagi dunia. UU ini (1) melarang ISP memblokir dan mendiskriminasi konten, (2) mewajibkan ISP menjamin semua pengguna dapat mengakses semua jenis informasi yang tersedia, dan (3) mengharuskan ISP menyediakan layanan parental-control.

Indonesia harus mencoba menjadi Chile.

Indonesiana - May 28th, 2012

Batalnya Konser Lady Gaga dan Apa Yang Bisa Dipetik

Tentu saja ini bukan masalah Lady Gaga. Saya bukan penggemarnya. Saya tidak rugi.

Indonesia yang rugi, karena kejadian akhir-akhir ini menunjukkan sikap konservatisme agama sudah terlalu banyak mencampuri  urusan pribadi masyarakat, hingga seolah-olah Indonesia itu negara Islam. Tentu tidak ada yang salah menjadi relijius yang konservatif. Yang menjadi masalah adalah ketika kelompok relijius konservatif meyakini bahwa yang tidak sama dengan mereka harus tidak ada. Adalah salah jika mereka yakin bahwa Indonesia adalah milik mereka sendiri.

Kejadian akhir-akhir ini membuat orang-orang yang tidak sepaham dengan kelompok-kelompok itu merasa tersingkir dari negaranya sendiri. Awalnya cuma yang cukup mendasar seperti Ahmadiyah yang disisihkan, lalu kemudian Syiah. Saya tidak tahu umat seperti apa lagi yang akan disingkirkan. Mungkin muslim yang membaca bukunya Irshad Manji, muslim yang suka Lady Gaga, atau muslimah yang tidak memakai kerudung? Itu baru dari kalangan muslim, belum dari agama lain. Penyingkiran seperti ini susah berhenti jika sudah keterusan.

Saya dan teman-teman yang berpikir merdeka meyakini bahwa kita bisa coexist. Hidup bersama-sama, dengan tidak mencampuri perbedaan-perbedaan di urusan pribadi seperti urusan pakaian dan musik, hingga orientasi seksual dan agama. Indonesia dimulai dari perbedaan-perbedaan, dan semua gerakan untuk menolak perbedaan adalah pengkhianatan.

Akan tetapi pendulum masih bergoyang. Berubahnya hasil akhir kasus-kasus yang menyangkut urusan pribadi ini adalah pertanda bahwa Indonesia masih bisa menjadi lebih baik.

Konser Lady Gaga adalah bentuk lain dari urusan pribadi. Konser itu sedianya akan diadakan di tempat tertutup dari umum. Jika Anda merasa konsernya tidak patut, jangan ditonton. Sesederhana itu.

***

Ada banyak yang bisa kita lakukan. Sebagai masyarakat merdeka, kita harus menghargai bahwa adalah hak FPI dkk. untuk menolak Lady Gaga, Irshad Manji, diskusi agama, dan lain sebagainya. FPI dkk. menjadi salah karena mereka sudah mengancam akan membuat kerusuhan. Segala bentuk ancaman adalah pelanggaran pidana, dan keabaian Polri membiarkan FPI main ancam sana-sini menunjukkan bahwa ada yang tidak beres di lembaga itu. Dalih Polri bahwa suatu acara harus batal karena ada ancaman menunjukkan kemalasan Polri untuk melindungi rakyat.

Teman-teman dari Indonesia Tanpa FPI sedang dalam proses menuntut Kapolri karena melakukan pembiaran terhadap FPI dan ormas sebangsanya. Jika Anda peduli dengan masalah ini, Anda bisa ikut menuntut/mensomasi Kapolri karena lembaga itulah yang paling bersalah terhadap perkembangan akhir-akhir ini. Sudah ada 2507 orang yang ikut dalam somasi ini, termasuk saya. Menolak kekerasan FPI bukan tindakan anti islam, karena kita hanya menolak kekerasan dan ancaman yang mereka lakukan.

Yang kedua, kita harus berhenti memilih partai politik yang akhir-akhir ini tidak menunjukkan itikad untuk melindungi perbedaan. Dengan suara mereka yang relatif kecil, kebijakan publik sudah tidak memihak terhadap perbedaan. Apalagi jika partai-partai tersebut memiliki suara mayoritas. Tidak memilih partai, tidak sama dengan jadi golput. Dengan tidak ikut mencontreng, kita justru membiarkan nasib Indonesia diputuskan orang lain.

Saya rasa masih ada harapan untuk berbagai macam orang Indonesia bisa hidup rukun berdampingan, tanpa ada satu kelompok mengalahkan yang lain. Saat ini rasanya memang lebih sulit daripada 5 tahun yang lalu, tapi saya memilih tidak pesimis, karena pesimis itu menular.