Herman Saksono

Indonesia matters

Posts Tagged ‘society’

Politik - April 28th, 2015

Refleksi sebelum eksekusi hukuman mati

Mary Jane Veloso

Tulisan ini telah diupdate. Scroll ke bawah untuk rincinya.

Sebetulnya, sebagai masyarakat, apa yang kita inginkan dari hukuman mati? Apakah karena ingin menunjukkan kedaulatan Indonesia atas bangsa2 lain? Nanti tengah malam, peluru panas akan menembus Mary Jane Veloso dan mengambil nyawanya. Esok harinya, Indonesia mungkin akan sedikit lebih berdaulat daripada kemarin, tapi apakah itu kita mengambil langkah yang tepat untuk menunjukkan kedaulatan?

Hukuman mati itu ekstrim, karena nyawa yang sudah diambil tidak bisa diganti ataupun dikembalikan. Maka ketika mendukung hukuman mati, sebagai masyarakat kita perlu memperimbangkan apakah kita sudah mengambil jalan yang tepat untuk mencapai tujuan kita. Dalam kasus Mary Jane Veloso, kita ingin kejahatan narkoba dibuat jera dengan hukuman mati. Akan tetapi, studi menunjukkan bahwa hukuman mati tidak tentu menurunkan tingkat kejahatan.

Di sini repotnya hukuman mati: hasilnya tidak tentu, tapi eksekusinya tentu akan mengambil nyawa orang untuk selama-lamanya. Apakah kita sedang bereksperimen dengan nyawa?

Lalu kenapa kita masih mendukung hukuman mati? Apakah karena agama mengatakan demikian? Tapi apakah semua umat beragama (yang diakui Indonesia) mendukung hukuman mati? Apakah kita berhak menghilangkan nyawa orang atas keyakinan pribadi kita terhadap penafsiran agama?

Pro-kontra hukuman mati sering terjebak dalam asumsi-asumi tak terverifikasi, padahal dampak hukuman mati itu permanen. Sedihnya, pro-kontra ini justru melupakan masalah nyata yang mendorong terjadinya kriminalitas: kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kemandulan penegak hukum.

 

Update: Eksekusi Mary Jane Veloso telah ditunda.

Indonesiana - July 27th, 2011

Guest Blogger: Liang Kubur Orang Individualis

Spesial hari ini, ada guest blogger yang mengisi blog ini. Perkenalkan Noor Rahmani, ibu saya, yang menulis soal individualis. :D

***

Pagi ini sambil menyapu, Si Mbak pembantu rumah ngobrol dengan saya. Dia bertanya, kalau hubungan dengan tetangga kurang akrab, nanti kalau meninggal siapa yang menggali liang kubur?

Saya jawab: kita bayar orang.

“Oooo.. kalau di desa saya, tetangga desalah yang menggali,” jawab si Mbak.

Dalam hati saya geli, membayangkan tetangga RT saya Pak Bambang Sudibyo, dr. Sunarto, Pak Zaki Baridwan dan Pak Samsubar menggali liang kubur saya.

Kemudian si Mbak bertanya lagi: “Kalau tidak dekat dengan tetangga, siapa yang layat?”

Dalam masyarakat kolektif, kehidupan sangat tergantung pada pertolongan dan bantuan dari orang2 yang tinggal disekeliling kita, yaitu tetangga. Bagaimana dengan masyarakat individualis? Orang sering salah persepsi, mengatakan bahwa masyarakat individualis itu asosial.

Bagaimana mungkin? Bukankah manusia itu makhluk sosial?

Sebenarnya tidak ada perbedaan antara masyarakat individualis dengan masyarakat kolektif, tetap sama2 makhluk sosial. Hanya bedanya, pada masyarakat kolektif, hubungan sosial default dengan tetangga.

Kondisi ini berasal dari kehidupan jaman dahulu, ketika manusia masih hidup di tengah hutan yang penuh dengan mara bahaya. Manusia harus bersatu agar bisa selamat bahu membahu menghadapi kekerasan alam. Mereka menciptakan norma-norma bermasyarakat dalam suku, yang harus dipatuhi agar suku menjadi solid dan kuat menghadapi mara bahaya. Hubungan baik, kedekatan dan interaksi intensif harus dilakukan oleh anggota suku untuk memaintain eksistensinya di dalam suku. Kalau melanggar norma-norma suku, seseorang bisa dibenci dan dibuang dari suku, ujung-ujungnya harus hidup sendiri berhadapan dengan singa, ular, dan marabahaya alam lainnya.

Semakin maju suatu masyarakat, terjadi pembagian tugas. Ada yang bercocok tanam, ada yang menjaga keamanan yang diberi bagian dari hasil bercocok tanam. Muncullah tata kehidupan baru yakni membayar pajak dan mendapat fasilitas keamanan dan kenyamanan. Kita tidak perlu bersatu lagi menghadapi mara bahaya. Kita sudah membayar pajak untuk menggaji polisi dan tentara guna mengamankan lingkungan kita.

Kemajuan teknologi sangat besar pengaruhnya pada interaksi sosial.

Ketika kita punya kendaraan, kita bisa berteman dengan mereka yang ada dalam jangkauan kendaraan kita. Munculnya layanan transportasi umum semakin mendekatkan kita dengan sahabat-sahabat yang jauh. HP dan internet, lebih-lebih lagi. Bisa terjadi sambil nongkrong di toilet, kita bisa ngobrol dengan teman yang lagi sekolah di Inggris. :)

Di sinilah bedanya, masyarakat kolektif tidak bisa memilih komunitas mereka sesuai dengan keinginan mereka. Mau tidak mau, ya hanya tetangga kita. Masyarakat individualis tetap bergaul dan bermasyarakat, tapi kita bisa memilih sendiri komunitas kita.

Jadi bapak ibu tidak usah merasa rikuh kalau tidak akrab dengan tetangga, karena teman-teman kita tersebar baik di kantor, milis teman alumni kuliah, BBM Group alumni SMA, alumni SMP, alumni SD, kelompok diskusi penggemar tas, penggemar kucing, grup keluarga, grup keluarga mertua, dlsb dlsb.

Kalau meninggal, siapa yang layat? Yah kalau Bapak Ibu populer dan baik perilakunya dalam kelompok-kelompok yang bapak ibu ikuti, bisa saja pelayat membludag dan membuat tetangga melongo.

Jangan merasa bersalah jika bapak ibu individualis, karena kolektif-individualis itu bukan dikotomi tapi kontinum. Semua masyarakat, akibat kemajuan sosial dan teknologi, pada akhirnya akan menjadi individualis, sooner or later :)

Life - August 13th, 2010

Penipuan Dengan Kapal Api

Penipuan berkedok Kapal Api

Pagi-pagi Mbak Ami, PRT keluarga saya heboh. Wajahnya berbinar-binar sambil menunjukkan selipat kupon dari bungkus kopi Kapal Api. Tertulis kalau ia memenangkan satu buah mobil Mazda.

Kupon itu dicetak menggunakan printer inkjet, kelihatan dari tinta yang tidak rata. Juga tertulis kalau pemenang harus membayar pajak hadiah sebesar 20%. Sukar mengakui kalau itu bukan penipuan. Tetapi siapapun yang melihat keriangan Mbak Ami menceritakan kemenangannya, pasti tidak punya hati untuk mengatakan yang sebenarnya. Kita cuma bisa mewanti-wanti kalau itu bisa saja cuma penipuan. Continue reading …

Opinion - August 11th, 2010

Pemblokiran Situs Porno

Jumpa Pers Kominfo PemblokiranMulai kemarin hari, beberapa ISP telah memblokir situs-situs porno. Bulan Ramadan memang bulan yang tepat bagi pemerintah untuk melakukan sesuatu yang kontroversial, karena secara otomatis rakyat menahan diri untuk tidak bikin ribut. (Tapi sebetulnya kita bisa kan berdiskusi dan protes tanpa menjadi panas?)

Tapi apa mau dikata, masyarakat kita masih tergolong paguyuban, dalam artian “Masalahmu adalah masalah kami, dan masalah kami adalah masalahmu”. Maka saya tidak heran jika pendukung pemblokiran pornografi memakai argumen bahwa pornografi merusak anak-anak.

Argumen ini benar, tetapi tidak utuh. Continue reading …

IndonesianaOpinion - May 19th, 2010

Lomba Menggambar Nabi Muhammad Sekaligus Mempermainkan Umat Islam

Lengkap sudah upaya mengolok-olok umat Islam ketika KAMMI menuntut pemerintah mencekal event blasphemy di Facebook. Judul event-nya memang seperti berniat mempermainkan umat islam: “Everybody Draw Mohammed Day”, tetapi tujuan mempermainkan benar-benar tercapai setelah umat Islam bereaksi ekstrim menanggapinya. Ketika pemangsa memasang umpan jebakan, kita tidak malah menyantapnya bukan?

Yang terjadi justru KAMMI melahap umpan itu bulat-bulat. Saya berusaha maklum karena M pertama di “KAMMI” berarti “mahasiswa”, dan mahasiswa memang mentalnya belum stabil. Tetapi jika M itu melekat di M pada MUI, maka saya serba salah kalau mau menempelkan “labil” di sebelah majelis yang terhormat itu.

Bagi saya ini bukan medan pertempuran yang musti dihajar dengan tangan besi. Ini adalah pertempuran opini meraih simpati dan kepercayaan masyarakat Internasional, karena faktanya sudah mulai muncul generalisasi bahwa umat Islam adalah umat yang harus diperlakukan seperti balita. Dalam pertempuran sepert ini, kemenangan yang sebenarnya adalah ketika umat kita meraih kepercayaan penduduk dunia sebagai umat yang memeluk kebaikan.

Life - April 30th, 2010

Es Teh Tawar Dua

Salah satu cara memperoleh kenyang tanpa menimbun nasi di piring adalah minum yang banyak. Saya, kalau makan, biasanya lebih banyak minumnya daripada makannya. Bukankah banyak minum es bikin gemuk? Ah siapa bilang. Yang bener minum es yang diberi gula itu bikin gemuk. Penggemuk ada di kimiawi gula (yak, bahkan gula itu termasuk kimia), bukan di suhu.

Tapi tentu ada orang-orang yang merasa tidak nyaman melihat saya banyak minum. Ekspresi yang paling wajar itu kaget sambil teriak “Dua Mon?”. Nah untuk ini saya sudah punya jawaban yang manjur: “Mampu kok”, tentu dengan memasang ekspresi kalem. Biasanya manjur, mereka yang reseh itu langsung gondok.

Belakangan ungkapan “mampu kok” jadi populer di CahAndong untuk menunjukkan kejumawaan dalam kebercandaan. Padahal aslinya ungkapan itu untuk membuat orang reseh lekas diam.

Tetapi hobi minum banyak ini lebih sering membawa mudharat. Kemarin lusa di Nanamia, gara-gara pesan Aqua dua, pelayannya lupa tidak membikinkan Strawberry Lassi. Lantaran di meja sudah ada dua minuman, pelayannya berasumsi kalau pesanan sudah lengkap jika jumlah gelas di meja sama dengan jumlah orang yang duduk di meja itu.

Dan kemarin ke Nanamia lagi, hal yang serupa terulang lagi. Betul, saya jadi meragukan maksud dan tujuan menulis pesanan di kertas.

Yang paling menyebalkan tentu saja hari ini di kantin Perpustakaan UGM (jika tidak begitu menyebalkan, tentu saya tidak akan menulisnya di sini bukan?). Di kantin itu, sudah lumrah saya pesan “soto tanpa nasi ples es teh tawar dua”. Tentu saja pesanan itu sempat membuat ibu-ibu pengelola kantin tertegun, tapi setelah makan di sana berbulan-bulan mereka mulai agak terbiasa.

Hari ini nyaris sempurna. Tidak ada lagi tatapan aneh ketika memesan “soto tanpa nasi dengan es teh tawar dua”. Sotopun terasa segar dan gurih. Tak lama kemudian “es teh tawar dua” saya mendarat di dekat mangkuk soto yang gurih itu. Dan—dengan inosennya—orang yang duduk di sebelah saya mengambil satu dari dua gelas es teh tawar itu. Dan langsung menyeruputnya. Dan langsung celingukan mengeluarkan ekspresi aneh.

“Tawar ya mas? Itu punya saya,” saya bilang.

Saya belajar banyak hari ini. Lain kali saya pesan “es teh tawar tiga”. Mampu kok.

Foto dari Swastika Rahmadani.