hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Posts Tagged ‘society’

June 17th, 2008

Luthfi Dikeroyok Karena Blog

Gara-gara mengkritik Ospek Jurusan melalui blognya, Luthfi—mahasiswa IPB—dikeroyok kakak angkatannya. Selain dipukul kepalanya, Luthfi dituduh telah melakukan pencemaran nama baik IPB hingga ada mahasiswa baru yang mengundurkan diri.

Kejadiannya bermula ketika Luthfi melihat Ospek departemen ITK IPB, lalu menuliskannya di situs bloggeripb.wordpress.com (tulisan asli sudah dihapus) pada 17 Februari 2007:

Tadi malem (hampir jam setengah 9) keluar dari lab mau pulang, eh gak taunya… di depan A1C lagi ada ospek anak ITK (Ilmu dan Teknologi Kelautan).

Payah nih, hare gene masih ospek *timpuk anak ITK pake batu* …. sori gak ada screenshoot, daripada gw digebukin anak-anak 40, mending gw pergi ke warteg aja buat makan.

Tulisan tersebut mendapat komentar kritis dari sejumlah pengunjung yang mengaku alumni ITK. Belakangan diketahui kalau tulisan dan komen-komennya telah beredar dari satu milis ke milis IPB yang lain.

Pada tanggal 28 Mei 2008, seorang mahasiswa departemen ITK menghubungi Luthfi untuk mengajak diskusi soal tulisan tersebut. Sebagai syarat, Luthfi meminta perwakilan dari ITK dua orang saja.

Continue reading …

March 26th, 2008

Betis Ken Dedes

Adalah betis Ken Dedes di senja hari itu, yang membuat Ken Arok mabuk cinta. Libidonya tidak salah. Betis—di zaman Tumapel—masihlah rahasia para wanita, sehingga ia menjadi simbol erotisme masa itu. Entah berapa banyak Tunggul Ametung yang akan dibunuh Ken Arok jika ia melihat bedinde-bedinde muda bercelana pendek yang tiap sore ngerumpi di depan rumah tetangga.

Kemudian waktu memaksa betis untuk tidak lagi sensasional. Sedikit sensasional mungkin, tapi tidak sangat sensasional. Wanita berkemben dengan belahan yang mengintip, lebih ‘berani’ untuk standar masa kini. Padahal pemandangan semacam itu adalah sajian umum di zaman Ken Arok.

fight for valuesItu karena kesusilaan, moral, dan nilai juga terpaut sistem dan waktu. Ia bukan sesuatu yang kekal, tetapi zat yang terus menerus berevolusi. Dan ketika suatu masa dipakai bersama-sama oleh 2-3 generasi hasil evolusi, maka nilai tidak akan pernah seragam.

Ketidakseragaman inilah yang membuat hal bernama sensor tidak pernah mudah. Bahkan dalam konteks internet, sangat sulit. Tetapi bukan berarti kalau sulit, lantas tidak bisa. Ya bisa. Tapi perlu kehati-hatian dan pemahaman yang mendalam.

UU yang diketok palu kemarin memang membawa hawa positif, terutama kepastian hukum penduduk dunia maya. Di lain sisi, satu-dua pasal menunjukkan ketidakhati-hatian. Multitafsir dan karet. Kalau begini, namanya bukan memberi kepastian hukum, tapi justru membuka lahan yang rawan dikeruk oknum-oknum.

Gambar dari sini.

March 18th, 2008

Maria Ozawa vs. SBY

Saya membandingkan popularitas Maria Ozawa dan SBY di Google. Dengan menggunakan Google Trends kita memang bisa membandingkan popularitas sebuah tokoh (atau topik) berdasar seberapa sering dia dicari dengan Google.

Ternyata keyword ‘SBY’ kalah telak dengan ‘Maria Ozawa’. Memang sih, sesekali ‘SBY’ unggul, tetapi nama bintang film porno Jepang itu menunjukkan tren yang stabil dan tinggi.

Lantas apa artinya ini?

Apakah berarti bangsa ini sedemikian negatif sehingga pemerintah harus turun tangan? Saya coba bandingkan pencarian ‘Maria Ozawa’ dan ‘Shinzo Abe‘ di Jepang, dan ternyata kedua tokoh itu bersaing ketat di pencarian Google. Kalau begini, apa lantas orang Jepang lebih bermoral?

Atau mungkin, demand Maria Ozawa yang tinggi di Indonesia bukan karena kita bejat, tapi karena dilarang pemerintah. Mungkin. Kurang tahu juga. Tidak ada yang paling benar di dunia ini.

March 14th, 2008

Semua Salah Mayangsari


Saya kasihan sama Mayangsari dan mayang-mayang yang lain. Kalau sebuah rumah tangga tidak beres, apakah lantas yang disalahkan selalu orang ketiga. Bisa aja yang nakal justru sang suami (atau istri); atau suami (atau istri) dan selingkuhan.

Bapak office-boy di kantor saya juga pernah mengutuk Mayang. Lalu saya mendebat dia (kurang kerjaan bgt): Apakah jika ada suami selingkuh maka itu salah si selingkuhan? Bisa aja si selingkuhan itu cuma pasif, dan si suami yang aktif merayu dan menggombal. Tidak etis kalau yang disalahkan cuma Mayang.

“Tapi laki-laki itu anjing, pasti mau kalau digoda,” tangkis Pak Office-boy.

“Lho, berarti Bambang juga anjing!?” tanya saya.

“Ya … iya … ” gerutu Pak Office-boy.

February 15th, 2008

Pentingnya Deodoran Bagi Hillary Clinton

Andaikata iklan model begini ini ditayangkan pada saat pemilu Indonesia, dijamin, kantor Axe akan digerbek massa.


Kenapa begitu? Karena Indonesia kebanyakan pengangguran.

February 13th, 2008

Jalan Panjang Soeharto

Jalan Panjang
Dengan tujuan mendidik masyarakat supaya tidak menghujat Pak Harto, Bupati Sleman Yogyakarta Ibnu Subiyanto hendak mengubah nama Jalan Godean menjadi Jalan Soeharto. Tanpa berniat menambah kontroversi, Ibnu menjelaskan kalau nantinya di jalan itu ada patungnya Pak Harto.

Pak Harto itu tokoh kontroversial. Prestasinya segudang, tapi itu kerap disanggah dan dipertanyakan. Lagipula pujian-pujian kepada beliau sebenarnya cuma mengulang pujian-pujian dari jaman saat Orde Baru masih sangat berkuasa, dengan mesin propagandanya tentu saja.

Selain prestasi, mantan presiden RI ini juga dianggap memiliki dosa-dosa yang ekstrem. Pembantaian dan korupsi yang paling menonjol. Sayangnya dosa-dosa lama itu sulit dibuktikan karena kurangnya bukti dan menyusutnya saksi. Lagipula sang terdakwa sudah semeleh di liang lahat.

Dengan situasi informasi yang serba tidak jelas ini cara yang paling aman adalah memang tidak terlalu gegabah dalam mengutuk ataupun memuji. Bahkan politikus sekelas SBY pun cenderung memilih jalan yang aman-aman saja. Oleh karena itu agak aneh melihat Ibnu Subiyanto tiba-tiba memeluk sebuah kubu.

Memang bukan kali ini saja Pak Ibnu menuai kontroversi. Pada Agustus 2007 beliau menjadi tersangka dalam kasus korupsi proyek pengadaan buku teks wajib Dinas Pendidikan. Kelanjutan kasusnya hingga saat ini… saya juga bingung, dulu panas, sekarang kok nggak ada berita lagi.

Lalu? Apakah urusan nama jalan ini penting? Apakah urusan nama jalan, maaf, atau mempahlawankan seorang almarhum itu penting untuk diributkan?

Saya rasa penting, karena sikap saya dan sampean-sampean mencerminkan wajah Indonesia sebagai negara hukum. Negara hukum, sesuatu yang jelas gagal dicapai Pak Harto selama memerintah selama 32 tahun.

January 15th, 2008

Memaafkan Hitler


Sudikah anda memaafkan Hitler? Mungkin saya tidak terlalu keberatan, secara Hitler juga tidak pernah salah sama saya, anda, atau tetangganya tetangga anda.

Tapi, bagi jutaan keluarga yang tercerai-berai dan dibantai selama holocaust, urusannya tidak semudah itu. Kediktatoran semacam Hitler tidak cuma menyebabkan kerugian jiwa dan materi, tapi juga trauma yang sangat besar dan mendalam. Kediktatoran lain, seperti di Indonesia, juga meninggalkan negara dalam keadaan bobrok dan korup.

Oleh karena itu, seperti Mbak Yati bilang, mari kita serahkan saja urusan maaf-memaafkan kepada orang yang pernah dizholimi. Bukan yang lain.

Perkara ada orang-orang yang dizholimi, tapi tidak merasa dizholimi, itu memang sebuah ketidakwajaran.
(Jadi, sudikah saya memaafkan Hitler? Walaupun Hitler tidak pernah melukai saya secara langsung, tetapi bagaimanapun juga yang namanya tanggung jawab moral kepada jutaan orang tak bersalah yang telah dia binasakan, selalu ada.)