Pengalaman pertama membeli kaos di Guess, mas penjaga toko bilang:
“Cuma kaos mas? Nggak nambah lagi? Nanti bisa dapat gift voucher Rp 250.000 lho”
“Saya harus nambah berapa?”
“Mmmm, belanja minimal 1,5 juta”
Hohohoho, kok banyak? Sempat kepikiran… 1,5 juta itu beli baju berapa banyak ya? Tapi, ternyata di toko itu, menghabiskan 1,5 juta cukup mudah. Satu celana jeans yang paling simpel harganya sudah 1 juta.
Tapi itu ternyata belum apa-apa. Di toko lain, celana jeans Juicy Couture dibandrol mulai dari 1,7 juta, sementara jens distressed merek dSquared (lengkap dengan saku belakang yang belum dijahit) malah bisa 5,4 juta satu potong.
Padahal kalau diperhatikan, celana-celana mahal ini terlihat seperti rongsokan. Sudah belel, birunya pudar, ada lubang dimana-mana pula. Kalau disumbangkan kepada Yayasan Bencana Aceh, jeans-jeans ini mungkin akan langsung dibuang karena tidak layak pakai.
Aneh ya? Malah biasanya, kisah tadi akan diserempetkan sebagai ‘pertanda kiamat’.
Tidak juga 
Setiap benda itu harus memberikan manfaat kepada penggunanya. Jeans distressed yang sobek-sobek memberikan manfaat membuat penggunanya terlihat mahal dan trendy. Otomatis yang beli pun cuma orang yang mampu dan yang mengikuti mode. Sementara itu, saudara kita di Aceh lebih memerlukan pakaian yang bersih, rapih dan sukur-sukur melindungi badan dari cuaca yang tidak ramah manusia. Jelas-jelas jeans distressed tidak memenuhi kriteria tadi.
Terlihat kalau dua kelompok tadi memang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, dan barang yang cocok buat kelompok pertama belum tentu cocok bagi kelompok kedua. Dan demikian juga sebaliknya.
Jadi dunia belum mau kiamat. Eh maksudnya: harga jeans distressed yang selangit belum menunjukkan korelasinya sebagai sebuah pertanda kiamat.