
Setelah mengalami masalah perijinan dan pembukaannya ditunda-tunda, akhirnya Plaza Ambarrukmo dibuka pertama kali untuk masyarakat Jogja tanggal 5 Maret kemarin. Berbeda dengan rencana semula, acara tanggal 5 Maret ini bukan soft-opening, melainkan hanya pre-opening untuk memfasilitasi
anchor tennant Carrefour—perusahaan ritel terbesar kedua di dunia—yang sudah tidak bisa menunggu untuk segera menjalankan operasinya di Jogja. Acara soft-opening sendiri direncanakan akan diadakan pada bulan Juni 2006, bergeser dari rencana awal yaitu bulan Desember 2005.

Dan seperti yang diduga semua orang, pembukaan Plaza Ambarrukmo tanggal 5 Maret kemarin menyedot ratusan orang Jogja untuk tumplek blek di satu tempat. Sayangnya, walaupun tingkat okupansi sudah mencapai 86%, toko yang benar-benar buka bisa dihitung dengan jari. Bahkan, beberapa space belum di-
fitting-out sama sekali oleh
tenant-nya. Dari lima
anchor tenant, hanya Carrefour yang sudah buka. Aneh juga ya para tenant ini, udah bayar sewa, tapi kok gak dipakai buat jualan?

Dan Carrefour kemarin ramainya minta ampun. Apa mungkin karena barangnya memang sangat murah ya? Soalnya semua orang sangat bernafsu untuk membeli, sampai rela antri panjaang banget. Bahkan ada segerombol orang yang berebut buah
pear. Kayak jaman perdjoeangan aja :P Bedanya kalau dulu bayarnya pake kupon, sekarang bayarnya pake duit.

Terlepas dari interior mall yang nggak kalah dengan Plaza Senayan, layout
tenant-nya menurut saya agak sedikit janggal. Misalnya, atrium utama
ground-floor diisi oleh toko sepatu dan pakaian eksklusif dan mahal. Nah, lazimnya, lantai diatasnya diisi oleh produk busana yang tidak semahal
ground-floor tapi masih eksklusif. Tapi di Plaza, lantai 1 malah diisi dengan
Timezone dan pakaian anak, yang pasti bikin ribut dan jauh dari citra eksklusif
ground-floor. Untuk tetap merasa eksklusif, pengunjung harus berjalan melalui atrium panjang disebelah utara, kemudian naik ke lantai 1 untuk menuju Centro (yang sedikit lebih eksklusif daripada Matahari) , tapi sebelumnya pengunjung harus melalui Carrefour (yang jualan barang murah dan jelas-jelas tidak eksklusif). Perubahan
zoning yang terlalu sering ini kurang nyaman buat pengunjung dan tenant.

Booming pusat perbelanjaan di Jogja bukannya tanpa alasan. Sektor ritel Jogja kebanyakan masih terpusat di Malioboro dan sekitarnya sehingga diperlukan pusat perekonomian baru untuk memindahkan polarisasi perdagangan. Selain itu, memang sepertinya diperlukan katalis baru untuk menggairahkan sektor ritel untuk menyokong perekonomian Jogja yang diutamakan untuk pendidikan, pariwisata, dan UKM. Tidak heran dalam tiga tahun terakhir telah muncul 2 mall dan sebuah pusat grosir.
Pertanyaannya, apakah Jogja harus mengandalkan konsumsi untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi lokal. Kenapa ya tidak bisa seperti Jepang yang pertumbuhan ekonomi tahun 2005-nya dibangun oleh investasi. Ini tanggung jawab bersama kan?