Herman Saksono

Indonesia matters

Posts Tagged ‘shopping’

Life - August 11th, 2007

Starbucks Buka di Jogja


Tadi, di Plaza Ambarrukmo, saya menemukan sebuah sudut yang sebelumnya belum disewa, sekarang sudah ditutup rapat. Saya penasaran, lokasi strategis itu disewa siapa, sehingga saya memberanikan diri untuk bertanya kepada mbak resepsionis yang cantik:

Saya
Mbak! sudut di dekat pintu masuk itu mau dibuat apa! *grogi keringat dingin*
Mbaknya
Starbucks…

Ah ternyata Starbucks buka di Jogja. Tambah lengkap nih khazanah perkopian kota gudeg yang semrawut. Tak lama lagi, kenikmatan kopi joss angkringan tugu akan dilengkapi oleh caramel macchiato Starbucks. Moga-moga Starbucks betah ya.

Foto pinjam dari j.s. wright.

Opinion - April 23rd, 2006

Jeans Distressed

Pengalaman pertama membeli kaos di Guess, mas penjaga toko bilang:

“Cuma kaos mas? Nggak nambah lagi? Nanti bisa dapat gift voucher Rp 250.000 lho”

“Saya harus nambah berapa?”

“Mmmm, belanja minimal 1,5 juta”

Hohohoho, kok banyak? Sempat kepikiran… 1,5 juta itu beli baju berapa banyak ya? Tapi, ternyata di toko itu, menghabiskan 1,5 juta cukup mudah. Satu celana jeans yang paling simpel harganya sudah 1 juta.

Tapi itu ternyata belum apa-apa. Di toko lain, celana jeans Juicy Couture dibandrol mulai dari 1,7 juta, sementara jens distressed merek dSquared (lengkap dengan saku belakang yang belum dijahit) malah bisa 5,4 juta satu potong.

Padahal kalau diperhatikan, celana-celana mahal ini terlihat seperti rongsokan. Sudah belel, birunya pudar, ada lubang dimana-mana pula. Kalau disumbangkan kepada Yayasan Bencana Aceh, jeans-jeans ini mungkin akan langsung dibuang karena tidak layak pakai.

Aneh ya? Malah biasanya, kisah tadi akan diserempetkan sebagai ‘pertanda kiamat’.

Tidak juga ;)

Setiap benda itu harus memberikan manfaat kepada penggunanya. Jeans distressed yang sobek-sobek memberikan manfaat membuat penggunanya terlihat mahal dan trendy. Otomatis yang beli pun cuma orang yang mampu dan yang mengikuti mode. Sementara itu, saudara kita di Aceh lebih memerlukan pakaian yang bersih, rapih dan sukur-sukur melindungi badan dari cuaca yang tidak ramah manusia. Jelas-jelas jeans distressed tidak memenuhi kriteria tadi.

Terlihat kalau dua kelompok tadi memang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, dan barang yang cocok buat kelompok pertama belum tentu cocok bagi kelompok kedua. Dan demikian juga sebaliknya.

Jadi dunia belum mau kiamat. Eh maksudnya: harga jeans distressed yang selangit belum menunjukkan korelasinya sebagai sebuah pertanda kiamat.

Life - March 6th, 2006

Plaza Ambarrukmo


Setelah mengalami masalah perijinan dan pembukaannya ditunda-tunda, akhirnya Plaza Ambarrukmo dibuka pertama kali untuk masyarakat Jogja tanggal 5 Maret kemarin. Berbeda dengan rencana semula, acara tanggal 5 Maret ini bukan soft-opening, melainkan hanya pre-opening untuk memfasilitasi anchor tennant Carrefour—perusahaan ritel terbesar kedua di dunia—yang sudah tidak bisa menunggu untuk segera menjalankan operasinya di Jogja. Acara soft-opening sendiri direncanakan akan diadakan pada bulan Juni 2006, bergeser dari rencana awal yaitu bulan Desember 2005.


Dan seperti yang diduga semua orang, pembukaan Plaza Ambarrukmo tanggal 5 Maret kemarin menyedot ratusan orang Jogja untuk tumplek blek di satu tempat. Sayangnya, walaupun tingkat okupansi sudah mencapai 86%, toko yang benar-benar buka bisa dihitung dengan jari. Bahkan, beberapa space belum di-fitting-out sama sekali oleh tenant-nya. Dari lima anchor tenant, hanya Carrefour yang sudah buka. Aneh juga ya para tenant ini, udah bayar sewa, tapi kok gak dipakai buat jualan?


Dan Carrefour kemarin ramainya minta ampun. Apa mungkin karena barangnya memang sangat murah ya? Soalnya semua orang sangat bernafsu untuk membeli, sampai rela antri panjaang banget. Bahkan ada segerombol orang yang berebut buah pear. Kayak jaman perdjoeangan aja :P Bedanya kalau dulu bayarnya pake kupon, sekarang bayarnya pake duit.


Terlepas dari interior mall yang nggak kalah dengan Plaza Senayan, layout tenant-nya menurut saya agak sedikit janggal. Misalnya, atrium utama ground-floor diisi oleh toko sepatu dan pakaian eksklusif dan mahal. Nah, lazimnya, lantai diatasnya diisi oleh produk busana yang tidak semahal ground-floor tapi masih eksklusif. Tapi di Plaza, lantai 1 malah diisi dengan Timezone dan pakaian anak, yang pasti bikin ribut dan jauh dari citra eksklusif ground-floor. Untuk tetap merasa eksklusif, pengunjung harus berjalan melalui atrium panjang disebelah utara, kemudian naik ke lantai 1 untuk menuju Centro (yang sedikit lebih eksklusif daripada Matahari) , tapi sebelumnya pengunjung harus melalui Carrefour (yang jualan barang murah dan jelas-jelas tidak eksklusif). Perubahan zoning yang terlalu sering ini kurang nyaman buat pengunjung dan tenant.


Booming pusat perbelanjaan di Jogja bukannya tanpa alasan. Sektor ritel Jogja kebanyakan masih terpusat di Malioboro dan sekitarnya sehingga diperlukan pusat perekonomian baru untuk memindahkan polarisasi perdagangan. Selain itu, memang sepertinya diperlukan katalis baru untuk menggairahkan sektor ritel untuk menyokong perekonomian Jogja yang diutamakan untuk pendidikan, pariwisata, dan UKM. Tidak heran dalam tiga tahun terakhir telah muncul 2 mall dan sebuah pusat grosir.

Pertanyaannya, apakah Jogja harus mengandalkan konsumsi untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi lokal. Kenapa ya tidak bisa seperti Jepang yang pertumbuhan ekonomi tahun 2005-nya dibangun oleh investasi. Ini tanggung jawab bersama kan?

Indonesiana - January 10th, 2006

Mall kelas tinggi Jakarta


Kalau tidak terjadi inflasi 80% atau kerusuhan nasional, bulan April depan, pertokoan baru Senayan City akan menghembuskan nafas pertamanya di industri ritel Indonesia. Kompleks perkantoran, apartemen, hotel dan mal yang dikembangkan oleh Grup Agung Podomoro ini akan bersaing dengan mal-mal kelas tinggi Jakarta seperti Plaza Senayan, Plaza Indonesia dan mungkin Pondok Indah Mall 2. Tidak tanggung-tanggung, mal ini menjadi tuan rumah untuk merek high-end seperti Ermenegildo Zegna dan Salvatore Ferragamo yang saya sendiri belum bisa membayangkan mampu membelinya.

Tapi booming mall kelas tinggi tidak berhenti disini: hanya beberapa kilo dari Senayan City juga telah berdiri kokoh Sudirman Place. Beberapa kilometer setelah itu, di dekat Bunderan HI, tengah dibangun Grand Hotel Indonesia yang lengkap dengan Shopping Town-nya, yang juga dikonsep elit. Di seberang GHI tengah direncanakan pengembangan Plaza Indonesia Extension. Masih tetangga, di areal SCBD, Grup Tan Kian tengah membangun Pacific Place, sebuah mal oval yang perimeternya lebih panjang daripada Orchard Rd., Singapura. Whew!

Lucunya, semua mal ini mengaku sebagai mal high-end yang menjual barang-barang mahal dan mewah. Tidak ada yang mengklaim sebagai pusat grosir murah atau supplier kaos distro.

Walaupun sangat menyenangkan jika kita memiliki butik-butik mewah berjejeran di jalan protokol ibukota, tetapi sepertinya lahan yang ditawarkan untuk butik-butik mewah dan eksklusif ini menjadi terlalu banyak. Padahal butik mewah sendiri sebenarnya tidak terlalu banyak. Nah, lalu mal-mal malang ini mau diisi apa? Apakah menjadi seperti saat ini dimana Jakarta memiliki tiga toko Gucci, Hugo Boss, Aigner, Versace, dll yang terletak di jalan yang sama. Hmmm, sepertinya ini malah melawan konsep eksklusif.

Dan jika membuat beberapa cabang butik di jalan yang sama adalah opsi yang dipilih, apakah warga Jakarta sanggup menyerap semua benda-benda mewah ini mengingat populasi cream society kita sedikit sekali?

Life - March 30th, 2005

The scandalous fitting rooms

Even though distro t-shirt has become the latest hip, I rarely find good distro t-shirts. Even at good distros.

Some of you might blame my taste for underground designs, but it is infact not about the design. Most of distro t-shirts are fabulously designed. It is the way it fits into my challenged (i.e. not slim) body…… simply doesn’t look good. Should I blame my body or distro’s ridiculously sized t-shirts?

I prefer to blame distros’ fitting rooms. They are so small that I can barely breath, and poorly lit. In turn it reduces my desire to buy the t-shirt, even though is 1/3 less expensive than say Rip Curl t-shirts. So I tought I share a few tips for effective fitting room for anyone thinking to open a new distro (or boutique), which in turn should improve your sales because your costumers feels good about their body and the clothing they put on:

Tips for Money Making Fitting Room

  1. Your fitting room should be spacious. I’m not saying that it should big enough to fit an olympic sized swimming pool, but your costumer should be able able to see her/his entire body in the fitting room mirror. Distance between fitting room mirror and your customer should be no less than 80 centimeters. Any less than that will only make your costumer crosseyed (i.e. juling).
  2. Your fitting room should be well lit. This is an age old problem. Why? Because during art class everybody (including your teacher) are concerned more about color and shape. But no one cares about lighting. Good lighting makes your costumer looks more attractive and sublimally suggested to buy your product, which a super bright flourescent lamp won’t help. A prime example of well lit fitting room is at Giordano.
  3. Your fitting room should be a personal space for your customer. I’ve seen many fitting room uses a cheap fabric as door. Some are tightly spaced that you can overheard the conversation next door. These are problems because it makes your customer feels uncomfortable to try on clothes at your distro, which is a bad thing because the more time they spend to try on clothes the more they feel good about themself.
  4. Your fitting room should be enough for your costumer. Don’t be cheap, if you have many customer maybe its a good time to invest on more fitting rooms, because fitting room is where purchases start.
  5. Your fitting room should be well ventilated. Ok, this one might sound ridiculous, but its true, because putting on clothes can be a big calorie intensive activity. Nothing help than a fresh supplies of Oxygen.
  6. Your fitting room’s mirror shouldn’t lie. Your mirror shouldn’t make your costumer looks like an Abercrombie & Fitch model, but it also shouldn’t make your costumer looks like Quasimodo. Use good and flat mirror. They should see what they should see.

Uncategorized - March 23rd, 2005

Quo vadis consumerism?

The urban culture is noted for its consumerism. But is it that bad?

Yes it makes people buy thing even though they might not need it and makes people work harder than they should be. Extreme consumerism often leads to natural resources depletion.

On the other hand, it drives national economy, helps reducing the ever growing unemployment rate, and improves overall public welfare. Remember that the massive growth of US’s economic in the 50s is due to consumerism, so is Japan. If Indonesia wants to improve is economic, it might have to rely on consumerism.

I, personally find it short-sighted if people said that consumerism is an evil thing. Like everything in the world, everything has it pros and cons. If I have to choose, I’d rather eat bakery-made bread, ready-to-wear clothes, and off-the-shelf soaps & detergents