hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Posts Tagged ‘serba-serbi’

Travel - September 23rd, 2005

Top Ten Tempat Wisata di Melbourne, Australia

Sejauh pengamatan saya, kok nggak ada ya travel guide yang menyajikan tujuan-tujuan wisata dengan ringan tapi komprehansif; dengan bahasa yang tidak kaku dan bertujuan untuk menginformasikan (bukan menjual) serta memberikan informasi yang tidak umum dan unik. Lalu sempat kepikiran, kenapa tidak buat sendiri? Saya sudah sempat membuat posting pendek tentang Jogja, dan sepertinya Melbourne adalah kota kedua yang cukup menarik untuk diceritakan.

Melbourne, kota kedua terbesar di Australia setelah Sydney memang pantas disebut garden city karena dimana-mana selalu ada taman. Kesan pertama waktu saya disana cukup standar: kota ini hijau sekali. Standar piknik disana biasanya selalu disertai dengan membakar steak, karena BBQ sudah menjadi budaya bangsa Australia. Karena saking segitunya sama BBQ, pemerintah bahkan menyediakan bakaran BBQ yang diperasikan dengan listrik: Anda cukup menekan tombok power dan bakaran akan panas selama beberapa menit. Nah berikut ini adalah sejumlah tempat wisata yang cukup asyik untuk dikunjungi disana:

Soverign Hill, Ballarat

Ini tujuan wisata yang sayang kalau dilewatkan. Soverign Hill adalah sebuah kota penghasil emas di Australia dari pertengahan tahun 1800 yang direka ulang sehingga menjadi obyek wisata yang membawa anda ke masa lalu. Bayangkan rumah-rumah dan toko-toko kuno di jalan tanah yang dilalui orang-orang berbusana model abad 19 dan kereta kuda. Anda bisa mengikuti pelajaran sekolah dari jaman itu (bahkan belajar menulis dengan pena celup), melihat cara kerja mesin uap kuno (yang masih berjalan dengan sempurna), mendulang emas di sungai, bermain boling jaman dulu sampai melihat perkemahan imigran Cina. Jangan lupa untuk mencicipi caramel fudge dan lolipop yang dijual di toko permen di Main Street. Kalau ingin menguji kemampuan anda mendulang emas, sebaiknya anda tidak ke Souverign Hill pada saat musim dingin karena air sungainya sangat membekukan tangan.

Bourke Street Walk

Ini sepertinya tujuan wajib bagi pelancong karena terletak di City (Central Business District-nya Melbourne). Di Bourke Street ada berbagai macam toko dan pusat suvenir 2 dolar-an yang cocok untuk oleh-oleh. Bagi yang gila belanja, dua departement store besar: Myer dan David Jones juga terletak disini.

Akan tetapi yang paling menarik di Bourke Street adalah pengamen jalanan yang memainkan berbagai jenis musik, mulai dari genre Spanish Guitar hingga Jazz. Jangan salah, mereka tidak minta uang receh; melainkan menawarkan CD album mereka. Kalau anda berkunjung ke Melburne pada musim natal, Myer selalu menyulap jendela etalase mereka menjadi rangkaian petunjukan audio-animatronics yang bertema natal seperti Rudolph the Red Nose Reindeer dan How the Grinch Stole Christmas.

South Yarra

South Yarra yang terletak di selatan sungai Yarra adalah kampungnya orang kaya Melbourne. Mentengnya Melbourne lah. Coba lewat sana sewaktu musim gugur, nanti rumah-rumah megah yang kebanyakan ber-arsitektur kolonial akan nampak romantis dihiasi dengan guguran daun yang merah kecoklatan.

Sehabis itu Anda bisa mencari barbeque spot di tepi sungai Yarra, lalu memasak BBQ steak yang lezat menggunakan panggangan yang sudah disediakan gratis di sepanjang tepi sungai tersebut. Cukup beli daging sapi (atau kambing) di supermarket terdekat, bakar dengan mentega dan irisan bawang bombay; beri bumbu garam + merica dan makan bersama saus BBQ (gak usah pake nasi!). Daging sapi dan kambing Australia itu sudah cukup lezat, sehingga tidak perlu diberi bermacam-macam bumbu.

Old Melbourne Gaol

Bukan favorit saya, tapi menurut adik saya cukup pantas untuk dikunjungi. Old Melbourne Gaol adalah penjara pertama di Australia. Di tempat ini, Robin Hood Australia Ned Kelly dipenjara dan akhirnya dihukum gantung. Yang tidak saya suka… tempatnya menyeramkan sekali. Sel-selnya yang singup dan lembab… sepertinya hantu-hantu para narapidana dari akhir abad 19 masih berkeliaran disitu.

Disana ada juga cambuk (yang telah direndam dengan air garam supaya lebih sakit kalau dipakai buat mencambuk), alat-alat hukuman bahkan cetakan kepala dari narapidana yang telah dihukum mati yang terbuat dari gips. Cetakan itu digunakan untuk penelitian perilaku kriminal yang diduga berhubungan dengan bentuk kepala.

Phillip Island Pinguin Parade


Cocok buat pecinta binatang. Setiap sore, burung pinguin yang seharian berada di laut pulang kembali ke daratan. Di Phillip Island, Anda bisa melihat langsung burung-burung inosen ini berbaris menuju daratan dan menerobos melewati kaki Anda. Ada yang masih single, ada yang bawa anaknya. Kalau Anda ingin melihat pingun dari jarak yang paling dekat, datanglah paling awal dan ambil tempat duduk yang dekat dengan tepi pantai dan dekat dengan jalur para pinguin itu.

Melbourne Festival

Diadakan tiap Oktober hingga November, gabungan festival pertanian, seni dan perdagangan. Ada kontes anjing shepherd, kontes domba, kontes kucing berbagai ras, tumpek blek jadi satu. Ada ratusan stand-stand yang menjual pernak-pernik sampai makanan. Saya dulu saya mborong peralatan sulap Mr Magic disana. Jangan pegang bulu domba yang akan naik ke pentas karena kemungkinan domba tersebut sudah disisir berjam-jam (adik saya pernah dimarahi karena pegang bulu domba).

Healesville Sanctuary

Ingin lihat Koala dalam jarak dekat atau bersalaman dengan Kangguru? Wah anda harus coba ke Healesville Sanctuary. Berbeda dengan Melbourne Zoo, di tempat ini para binatang dibiarkan hidup bebas alias tidak dikandang, sehingga anda dapat berinteraksi langsung dengan para binatang (kecuali dengan Koala karena mereka tidur 20 jam perhari).

Jangan memberi makan binatang yang ada disitu karena mereka pada umumnya memiliki diet tertentu (kakak sepupu saya pernah panik luar biasa karena memberi roti tawar kepada segerombolan burung Ibis, untungya burung tersebut tidak apa-apa). Disini juga disediakan panggangan BBQ, jadi anda bisa menutup wisata flora dan fauna dengan menyantap… fauna lain.

Nonton Teater

Melbourne dicanangkan untuk menjadi pusat hiburan teater di belahan bumi bagian selatan. Kurang lebih ekivalennya Broadway di New York dan West-End di London. Oleh karena itu disana sering ada production musical yang ngetop seperti The Phantom of The Opera, Sunset Blvd., dan Beauty and the Beast.

Nah, nonton musical adalah alternatif kegiatan malam yang menarik, mengingat sejumlah biasanya toko sudah tutup. Coba cari brosur pertunjukan yang sedang berjalan di Regent Theatre atau Princess Theatre; lalu anda bisa mulai reservasi tiket. Musical sedikit lebih casual (dan mudah lebih dicerna) daripada Opera sehingga anda tidak perlu mengenakan gaun malam atau jas pinguin. Cukup busana yang rapih dan kasual. Yang jelas matikan hp anda (dan semua benda yang mengeluarkan suara), jangan ke wc selama pertunjukan (anda dapat ke wc pada saat istirahat), serta jangan berbicara selama pertunjukan kalau tidak ingin didamprat penonton yang lain.

Jalan Tuhan

Apakah anda sudah di Jalan Tuhan? Saya pernah. Tapi yang saya maksud adalah Tuhan Street yang terletak di suburban Melbourne. Lucu buat cerita-cerita kalau anda berfoto di depan sign jalan itu, teruatam akalau anda punya terlalu banyak waktu luang. Setelah itu Anda bisa main dulu ke Chadstone Mall yang merupakan mall terbesar di Victoria. Di area foodcourtnya ada warung souvlaki (semacam kebab khas Yunani) yang enak.

Como House

Melbourne punya banyak mansion yang dulu ditinggali oleh tuan tanah kaya raya. Mengunjungi rumah-rumah megah itu Anda bisa membayangkan kemegahan gaya hidup cream society Melbourne di masa itu. Ada Rippon Lea yang pernah ditinggali  janda tua pecinta film Hollywood, sampai Werribee Park yang pemiliknya bunuh diri di dapur. Tapi favorit saya adalah Como House yang berlanggam Italia. Walaupun tidak semegah Rippon Lea, tapi Como terasa lebih hidup. Tidak terasa seperti museum.

Mansion yang terdiri dari dua lantai ini hanya menghabiskan sebagian kecil areal yang luas ini. Sisanya adalah kebun, kolam, pepohonan rindang, dan lapangan luas yang ditinggali sepasang sapi. Menurut si guide, Como diambil dari Lake Como di Italia, tempat dimana si pemilik rumah, Edward Williams, melamar istrinya.

Life - September 21st, 2005

Surga Dunia

Surga Dunia

Dimanakah surga dunia itu? Bukan! bukan! Surga dunia bukan di pantai Ipanema yang dipenuhi gadis-gadis eksotik Brazil yang mandi sinar matahari. Bukan juga di Fifth Avenue, New York yang dihiasi dengan butik-butik top dunia menjajakan busana prêt-á-porter paling berkelas yang harganya selangit. Dan kalau anda menyebutkan salah satu tempat di Pulau Dewata, anda juga salah.

Dik Vina, putri tercinta Pak Ripto, penjaga malam tercinta kantor saya tercinta (berarti dik Vina adalah 3rd degree tercinta saya) menanyakan hal itu kepada Toni dan saya. Sebagai warga internet yang baik, kami mulai mencarikan jawaban atas PR IPS Pak Dharma (gurunya dek Vina) dengan bantuan Google dan Wikipedia.

Keyword ‘surga dunia’, ternyata tidak membuahkan banyak hasil. Tapi yang jelas, ada clue kalau surga dunia terletak di India.

Bollywood?

Bukan…

Calcutta?

Surga Lepra mungkin…

Ternyata… setelah googling beberapa lama, kita menemukan artikel yang bilang kalau surga dunia terletak di Kashmir. Perumpamaan ini diungkapkan oleh Jawaharlal Nehru (PM India jaman dulu) karena hampir semua penduduknya penganut islam.

Saya tidak tahu apakah Nehru sudah menjadi authority untuk menentukan ekivalen dunia atas zat-zat ethereal yang lain. Jangan-jangan Neraka dunia adalah WC umum di terminal Umbulharjo yang pesingnya minta ampun dan Padang Mahsyar-nya dunia itu di buah dadanya Dolly Parton karena besar sekali. (j/k)

Tapi setidaknya hari ini kita belajar kalau ada orang tanya surga dunia itu dimana, jawabannya adalah: di Kashmir. Mari kita ucapkan terima kasih kepada Dik Vina dan pak gurunya yang telah menambah wawasan kita hari ini.

Indonesiana - September 13th, 2005

Lagu Nasional Menjiplak Rusia

Kalau anda mengeluh kenapa mayoritas orang Indonesia suka serba ikut-ikutan alias menjiplak (mulai dari sinetron sampai logo), bisa dibilang anda terlambat puluhan tahun.

Percaya atau tidak, lagu ‘Dari Sabang sampai Merauke’ karya R. Surarjo adalah hasil jiplakan komposisi Tchaikovsky—seorang komposer Rusia—yang berjudul 1812 Overture. Perhatikan intronya yang nyaris sama persis, kecuali sewaktu bagian akhir yang agak dibelokkan sedikit.

Tchaikovsky sendiri adalah komposer yang cukup ternama, cuplikan dari komposisinya seperti dari Nutracracker Suite, Sleeping Beauty, dan Swan Lake cukup sering diputar dimana-mana. Bahkan yang terakhir sering dipakai untuk music box. Overture 1812 dibuat tahun 1812 untuk merayakan kemenangan Rusia dalan perang Napoleon, dan termasuk karyanya yang cukup populer. Walaupun begitu, konon komposisi ini bukan karya favorit si Tchaikovsky.

Sayangnya tidak ada catatan resmi kapan R. Surarjo menggubah lagu wajib Dari Sabang Sampai Merauke, tapi kemungkinan setelah Presiden Sukarno melakukan pidato tentang pembebasan Irian Barat dari Belanda di Palembang pada tanggal 10 April 1962.

Uncategorized - August 26th, 2005

Perangkap Tikus

Kalau anda penggemar Agatha Christie, mungkin anda pernah dengar play (pertunjukan teater) Agatha Christie yang berjudul Mousetrap.

Saya pertama kali mendengar play ini dari pegawai perpustakaan saya sewaktu SMA. Saya sendiri sudah lupa nama pegawai perpustakaan itu, tapi judul play tersebut masih terngiang di telinga saya. Kenapa? Karena menurut si ibu pegawai perpustakaan itu Mousetrap adalah pertunjukan yang memegang rekor sebagai play yang paling lama dipentaskan di West End, London sejak 1952. Waktu itu adalah tahun 1997.

Pertunjukan ini memang sangat misterius (terutama bagi kita-kita yang tinggal di belahan selatan), karena Agatha sendiri meminta dalam surat wasiatnya agar script pertunjukan ini tidak dibukukan, hingga pertunjukan Mousetrap di West End selesai.

Dan hingga saat ini, Moustrap masih di pentaskan di teater St Martin’s, West End, London. Dengan kata lain sudah dimainkan setengah abad lebih. Sebuah angka yang fantastis karena mengalahkan show musical yang lebih glamor seperti: The Phantom of The Opera, Cats, dan Les Miserables.

Saya sendiri belum pernah melihat play ini sih, tapi tentunya saya akan nonton pertunjukan ini kalau saya melancong ke London.

Misc - April 28th, 2005

The Flat Earth Society

flat earth society

When you need a good laugh and a blunter logic (and bored with roysuryowatch.com) you should visit the Flat Earth Society. And don’t forget to check out their arguments why the earth isn’t round. I guarantee this will challenge your belief to a higher level.

But really, this website is hillarius. It says that they hired schoolteachers to spread their propaganda:

In the small town of Grass Roots, MO, one of our members has successfully infiltrated the public education system. By being hired on as a teacher in the district, he was able to gain a foothold that has allowed us to “replace” nearly every lower grade teacher in the entire town with loyal Flat Earthers. The students are now undergoing deprogramming measures and are expected to be released when they reach their mid-thirties.

Their target is not only innocent schoolchilds, but also not-so-innocent convicts at Winconsin state prison:

Over a period of several months, over half of the workers in the Wisconsin state prison system were “relocated”, their positions filled by our associates. The list of replacements includes 7 guards, 957 cafeteria workers, 3716 Pepsi machine repairmen and 14 members of the clergy. With our operatives strategically emplaced, the convicts and felons are being given a healthy dose of “pro-Flat Earth” propaganda.

ROTFLMAO!

Anecdotes - March 2nd, 2005

Top Ten Must Taste Food in Jogja

Like other cities, Jogja, my hometown, has one of the most unique selection of culinary with its distinct sweet and slightly spicy flavor. I’ve decided to compile top ten ‘Must Taste’ food if you are going to visit Jogja.

1. Nasi Gudeg
This is probably one of the most popular dish in Jogja. A plate of warm rice is served with a variety of dishes (including chicken, boiled egg, tofu, tempe) cooked in thick coconut sauce, very sweet and slightly spicy. Very Jogja and must taste. For added flavor, gudeg rice is served with Sambel Goreng Krecek, which is very spicy and hot.

2. Nasi Langgi
Another unique food. This dish is basically a serving of warm rice with Empal (Fried Beef), Abon (Preserved & Sweetened Beef), Perkedel (Potato Cake), Rolled Omelette and Sambal. Wrapped with banana leaves using special type of wrapping method, this dish gives you the ultimate culinary experience.

3. Mie Goreng Jawa (Javanese Fried Noodles)
Tired of Chinese style Fried Noodles? Give Javanese Soft-Fried Noodles a try. Unlike Chinese Fried Noodles with its fish and pork flavor, Javanese Fried Noodles is lighter but sweeter with dominant shallot flavor.

4. Ayam Goreng Kalasan (Kalasan Fried Chicken)
This popular dish is also known as Ayam Goreng Mbok Berek (Mbok Berek’s Fried Chicken). Garlic and coriander flavored and served with the crunchy kremes-kremes. Another must taste food if you visit Jogja.

5. Soto
Light and and apetiting, this type of soup is perfect as breakfast. Often served with Tempe, Perkedel (Potato Cake), and Liver Satay. Add a few drops of lime juice for extra flavor.

6. Kipo Kotagede
This infamous snack can only found in Kotagede, the original capital of Ancient Mataram Kingdom. This bite-size delicacy is made of grated coconut, sweetened with coconut sugar, wrapped with pandan-green colored tapioca dough and baked under warm coals.

7. Bakpia Pathuk
Another popular delicacy. Originated by chinese settlers, Bakpia is basically a baked sweet green bean wrapped with special wrapping. There are another variant of this snack where the green bean is substitued with black bean. Both are very tasty.

8. Jadah Kaliurang
Don’t miss this if you are visiting Kaliurang. A sweet and spicy flavored Tempe, sandwiched with cake made of rice and ketan. Unique and filling!

9. Wedang Ronde
Often served at night, this warm ginger flavored drink is mixed with peanuts, tapioca cake, and kolang-kaling. Great for extra warmth at night.

10. Wedang Bajigur
Although bajigur is a Javanese swear word, don’t let this stop you from tasting this warm drink. This unusual drink is made of sweet coconut milk with mild ginger flavor mixed with breads and preserved fruit.