hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Posts Tagged ‘movies’

January 22nd, 2010

Up in the Air

Up in the Air

Malam ini, ribuan orang akan pulang ke rumah, disambut anjing yang meloncat-loncat gembira dan riuhnya putra-putri mereka. Ribuan orang akan tidur nyenyak di samping pasangannya ketika bintang-bintang telah menggelinding maju dari peraduannya. Dan satu dari bintang-bintang itu, yang sedikit lebih terang, adalah lampu sayapku.

Ryan Bingham tinggal di udara. Kabin kelas satu adalah rumahnya, lounge bandara tempat ia sarapan, dan kamar Hilton adalah tempat ia kencan. Tujuan hidupnya mengumpulkan satu juta mil poin frequent flyer, dan—sejujurnya—Bingham menikmati gaya hidup itu. Jika ada satu tempat yang susah ia nikmati, adalah satu: apartemen sesak di alamat suratnya.

Pekerjaan Bingham (George Clooney) adalah berkeliling Amerika membantu bos-bos yang terlalu pengecut untuk memecat bawahannya. Dengan kata lain: juru pecat—profesi yang di era resesi melejit tajam. Tapi gaya hidupnya yang terisolasi terancam berubah total ketika anak kemarin sore lulusan Cornell merancang ulang aturan main kantornya. Pemecatan tidak lagi dilakukan melalui tatap muka, tetapi lewat webcam, melalui internet. Tidak ada lagi yang namanya hidup di udara.

Anak kemarin sore itu adalah Natalie Kenner (Anna Kendrick). Dan bosnya menyuruh Bingham mementori Natalie supaya ngelotok benar dengan industri pemecatan. Tentu saja hubungan mereka tidak gampang. Natalie yang naif dan meyakini cinta, pernikahan, dan membesarkan anak, adalah antitesis dari Bingham. Permasalahannya bukan apakah mereka akan cocok, tapi bagaimana mereka dapat saling mengubah, apalagi dengan munculnya sosok Alex (Vera Farmiga), seorang eksekutif wanita yang seperti replika Bingham tetapi punya vagina.

Di sini George Clooney memang memerankan tokoh keahilannya, suave, parlente, keren. Dan walaupun topik PHK memang tema yang sangat aktual, film adaptasi novel ini tidak meninggalkan cabikan yang mendalam. Setidaknya tidak meninggalkan cabikan yang mendalam bagi juri Golden Globe.

January 7th, 2010

Departures (Okuribito)

departures

Orang Jepang mengenal ritual nōkan. Mensucikan jenazah di hadapan keluarga yang ditinggalkan sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi ia yang mangkat.

Diago Kobayashi (Masahiro Motoki) tidak pernah bercita-cita menjadi juru nōkan. Cita-citanya adalah menjadi pemain cello. Dia terpaksa melamar menjadi nōkan di desa tempat ia besar setelah kelompok simponinya di Tokyo bubar. Itupun tanpa sengaja lantaran koran salah mencetak lowongan kerja di agen “Departures” (keberangkatan) di mana mustinya dicetak “Departed” (kemangkatan). Diago mengira dia melamar ke agen travel, bukan agen nōkan.

Tetapi penghormatan kepada jenazah tidak jauh berbeda dengan musik klasik yang musti diperlakukan dengan hormat dan lembut. Semakin lama seni baru itu ia geluti, Diago menemukan detak hidup baru dan menguak potongan hidup yang selama ini telah ia tinggalkan. Dan seperti kehidupan, Departures tidak melulu soal hal-hal pahit, dalam beberapa saat selalu ada kekonyolan yang membuat ceritanya utuh.

Maka sudah pada tempatnya jika film Yōjirō Takita memenangkan Oscar untuk film bahasa asing terbaik dan Academy Awards Jepang, juga untuk film terbaik. Kepiawaian Masahiro Motoki memainkan perannya mendorong alur cerita mengalir dengan penuh hati-hati, menyelami kerapuhan hidup.

Ini adalah salah satu film bagus yang pernah saya tonton dan akan nangkring dalam rak ingatan di mana film favorit dijajarkan dengan rapih.

January 5th, 2010

The Princess and the Frog

frog_official_poster_500

Tahun 2004, di antara hiruk-pikuk film-film animasi 3D yang terus bersemai, CEO Walt Disney Company memutuskan untuk stop membuat film animasi 2D, dan selanjutnya hanya membuat film 3D. Tidak ada lagi film-film animasi gambaran tangan sekelas Pinnochio, Beauty and the Beast, Lion King.

Tapi itu 2004.

Tahun 2005 Micheal Eisner, si CEO, mundur dari jabatannya setelah ditekan oleh kampanye Save Disney yang dibidani oleh kemenakan mendiang Walt Disney, Roy Disney. Tahun 2006, Disney mengakuisisi Pixar. Dan di tahun yang sama, Disney dengan lantang dan mengejutkan menyatakan kalau studio animasi itu akan kembali membuat film animasi 2D berjudul The Princess and the Frog.

Jadi musti dimengerti bahwa Princess bukan sekedar film, tetapi juga taruhan. Juga bukan sekadar taruhan di box office, tapi juga taruhan apakah animasi gambaran tangan masih bisa bertarung dengan animasi 3D, atau sudah waktunya pensiun dari pangkat seni komersil dan menyelinap pelan untuk disimpan di museum.

Sayangnya animasi hanyalah medium, pada esensinya ia “cuma” film yang tetap mengadalkan karakter, visual, suara dan alur cerita yang pas. Walaupun animasi Princess sangat halus lentur, dan visualnya sangat cantik, tapi ceritanya terasa baru digarap sebulan yang lalu.

Padahal premisnya sudah sangat menjanjikan. Tahun 1912. Musik jazz. New Orleans yang romantis. Tokoh gadis kulit hitam workaholic di era presiden kulit hitam. Dongeng anak-anak yang diputarbalikkan.

Tiana, princess Disney kulit hitam pertama ini, bercita-cita membuka restoran sendiri. Alih-alih punya restoran, gedung restorannya diserobot oleh orang lain, dan ia justru disihir menjadi katak karena mencium katak. Katak yang ia cium sebetulnya adalah pangeran Naveen yang disihir oleh Doctor Pacifier, dukun voodoo tukang tipu.

Rasanya mustahil kalau Princess bisa disandingkan dengan Lion King atau Beauty and The Beast. Tapi bisa jadi ini adalah film animasi gambaran tangan Disney yang terakhir dalam beberapa tahun ke depan, tidak ada salahnya ditonton sebelum benar-benar punah.

December 18th, 2009

Avatar

avatar-teaser-poster

Tahun 2154, eks marinir Jake Sully (Sam Worthington) dikirim ke planet Pandora untuk meneliti penduduk pribumi yang disebut Na’vi. Mereka adalah humanoid jangkung warna biru yang tinggal di sebuah pohon raksasa keramat. Di sekitar pohon keramat ini banyak terdapat unsur langka bernama Unobtainium yang ingin diekplorasi perusahaan Jake.

Untuk mempermudah penelitian, ilmuwan membuat avatar Na’vi yang bisa diatur manusia. Sully yang kakinya lumpuh dimasukkan ke dalam alat yang bisa mengendalikan avatar Na’vinya (yang tidak lumpuh). Dalam ekspedisinya, Sully bertemu dengan gadis Na’vi bernama Neytiri (Zoe Saldaña) putri si bapak kepala suku.

avatarx-topper-medium
Tema film besutan James Cameron (Terminator, Titanic) ini mirip ketika bangsa Eropa mengkoloni benua Amerika. Seperti bangsa Indian, penduduk asli Pandora memiliki ikatan yang kuat dengan alamnya, yang sekaligus kritik bagi manusia yang sudah habis-habisan memperkosa bumi. Misi utama Sully untuk bernegosiasi dengan suku Na’vi supaya bersedia relokasi ke tempat lain jadi terlupakan karena ia terlanjur jatuh cinta dengan alam, budaya, dan gadis Na’vi.

Tidak ada dobrakan baru dari segi cerita film 3 jam ini. Bisa dibilang ceritanya sangat taat dengan tatacara Hollywood. Cuma saja, film tidak hanya sekadar cerita. Film adalah dialog, visual, suara, ekspresi, musik, dan cerita yang bekerja bersama-sama. Dan Avatar membuat unsur-unsur itu terjalin dengan dahsyat dan luar biasa.

Anda akan menyukai gambar-gambar yang indah dan alur film yang seru. Dan pada akhirnya Anda akan lebih sayang bumi.

December 18th, 2009

Sang Pemimpi

sang_pemimpi_film

Indonesia bukan negara yang dibangun atas mimpi, karena di sini, mimpi pupus adalah sesuatu yang rutin dan wajar. Sang Pemimpi mencoba menularkan semangat bahwa kita masih boleh bermimpi, semustahil apapun itu.

Mimpi Ikal adalah sekolah di Paris, demikian juga Arai. Repotnya mereka hanya anak-anak miskin yang sekolah di SMA kecil Bangka yang ketika lulus mentoknya cuma jadi buruh. Ikal yang secara alami condong mengikuti arus, bersama-sama Arai berusaha mewujudkan cita-cita besar mereka dalam berbagai keterbatasan.

Jika Laskar Pelangi jadi jawara karena gambarnya indah dan permainannya bagus, maka Sang Pemimpi justru menjadi antitesanya. Sinematografinya seperti mentah karena tidak ada lagi gambar-gambar yang membelai ataupun mencabik . Akting-aktingnya Ikal dan Arai remaja juga tidak meyakinkan, apalagi Lukman Sardi dan Nugie.

Hambarnya dua itu, membuat Sang Pemimpi terjebak untuk bertutur dalam alur dan narasi saja. Sayangnya narasi Lukman Sardi datar, dan alurnya juga pelan. Iya sayang sekali, materi dengan sangat kaya potensi ini tidak maksimal digarap Mira Lesmana dan Riri Riza.

Tapi tentu saja Sang Pemimpi seratus kali lebih baik daripada Air Terjun Pengantin.

Review lain:

December 14th, 2009

Air Terjun Pengantin

air_terjun_pengantin

Film dibuka dengan gambar Tamara Blesynski bermadu asmara dengan pacarnya, lalu disambung adegan Tamara, Tyas Miarsih, Jenny Cortez dan kawan-kawannya berbikini di pantai sambil main-main air.

Mereka memang sedang berlibur, di Pulau Pengantin tepatnya. Ini bukan pulau sembarangan karena selain dulunya adalah perkampungan (yang sekarang sudah ditinggalkan), Pulau Pengantin juga bekas pabrik pengalengan ikan, benteng VOC, dan kuburan Belanda. Lengkap sekali.

Setelah puas menggeliat ke kiri kanan pasir pantai, gerombolan muda-mudi liberal itu menuju air terjun pengantin. Di sana mereka melihat bangunan tua yang rupanya bekas pabrik pengalengan ikan. Walaupun sudah lama ditinggalkan, tetapi shower kamar mandinya masih berfungsi sehingga memancing gadis-gadis itu untuk mandi karena kepanasan. Siapa yang tidak sih?

Tapi pulau itu menyimpan ancaman maut. Salah seorang dari gadis-gadis itu diculik oleh orang aneh bertopeng petruk. Orang itu memotong kaki dan jari gadis itu hidup-hidup. Sangat menjijikan (bukan mengerikan). Akan tetapi, alih-alih menjerit kesakitan, si gadis malah melenguh keenakan (yang saya yakin ini cuma akting yang buruk, bukan menggenjot aspek erotika film ini).

Pada titik ini saya menyimpulkan kalau film ini jelek dan tidak worthy untuk ditonton. Tanpa menyia-nyiakan waktu saya langsung keluar bioskop dan memesan Ca Baby Kailan. Jadi jangan tanya endingnya seperti apa. Ok?

November 30th, 2009

Ninja Assassin

200px-ninja_assassin_poster

Dalam tahun-tahun ini penonton dimanjakan dengan film-film gebrakan. Film tidak lagi sekadar laga saja, efek saja, atau cerita saja, tetapi kombinasi yang keren antara ketiganya. Saya tidak mengerti mengapa Wachowsky bersaudara—mereka yang bikin The Matrix—membuat film Ninja Assassin yang biasa-biasa saja.

Ceritanya tidak baru. Raizo (dimainkan  oleh Rain) adalah seorang ninja paling top yang memberontak dari klan-nya, lalu mau balas dendam. Setiap beberapa menit ada adegan kelahi yang oke, tapi saya pernah nonton yang lebih mengigit. Akting? Rain sama sekali tidak akting di film ini.

Tidak disarankan untuk mereka yang membayangkan The Matrix atau Kill Bill.