hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Posts Tagged ‘movies’

July 19th, 2008

Batman: The Dark Knight

The Dark Knight

Saya harus angkat topi untuk Christopher Nolan dan Heath Ledger atas kerja mereka di sekuel Batman berjudul The Dark Knight. Film ini seperti mengisi kerinduan menonton summer movie yang tidak cuma keren di efek, tapi juga kuat di penuturan.

Nolan memilih ritme thriller untuk sekuel ini, serta menghadirkan Joker sebagai musuh yang tidak cuma jahat, tetapi juga sinting. Bukan sinting lucu, tapi sinting sosiopatik yang anarkis tulen. Hampir semua adegan Joker (diperankan oleh Alm. Ledger) terlalu menarik untuk dilewatkan.

Tetapi Joker bukanlah satu-satunya bintang. Saya benar-benar menikmati penuturannya yang mengalir, serta arahan musik yang benar-benar mencekam. Nampaknya saya bakal nonton ini sekali lagi.

May 30th, 2008

No Country For Old Men

No  Country For Old Men

Tidak salah ketika AMPAS menjatuhkan piala Oscar aktor terbaik untuk Javier Bardem. Dalam ‘No Country For Old Men’ dia memerankan Anton Cigurh; Hannibal Lecter generasi kita: dingin, cerdas, sadis, tapi playful.

Dan saya akan menjadi orang yang panik ketakutan andaikata bertemu Javier Bardem di jalan.

Ada yang mau berkomentar soal endingnya, dan juga maksud film ini?

May 5th, 2008

Juno

Juno
Ketika bicara film tentang kehamilan di luar nikah, maka pikiran akan mengidentikkan dengan tragedi dan drama yang mendayu-dayu.

Tidak demikian dengan Juno, film tentang gadis SMA umur 17 tahun yang hamil di luar nikah. Terbukti bahwa topik semacam ini tidak harus berakhir menjadi drama teater cengeng seperti sinetron. Dengan alur cerita yang alami, Juno tetap menggoda untuk ditonton karena dijalin oleh dialog dan rekonstruksi nilai yang cerdas.

Di akhir cerita, kita belajar bahwa menjadi tidak standar itu bisa baik-baik saja.

April 29th, 2008

Terlalu Banyak Film Indonesia

film indonesia kacangan

Sampai kapankah film Indonesia kacangan harus membanjiri cineplex? Hari ini di Jogja, dari 5 studio, 3 diantaranya adalah film-film Indonesia tidak orisinil yang terasa hendak meraih keuntungan cekak semata. Namaku Dick? Extra Large? Tali Pocong Perawan? Hantu Ambulance?

Permasalahannya bukan pada saya tidak ingin memberi kesempatan film Indonesia. Saya sudah.

Permasalahannya, sudahkah kesempatan yang saya berikan dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku industri ini?

Mendaur ulang cerita horor dan komedi porno dan roman picisan tidak menunjukkan kesungguhan sama sekali.

April 15th, 2008

Seraphim Falls

Seraphim Falls
Seorang teman yang datang dari jauh menyebabkan saya, Tika, dan Alvonsius menonton film di kala tidak ada film yang bagus. Pilihan pertama jatuh kepada filmnya Andy Lau yang desas-desusnya keceng banget: Three Kingdoms.

Tapi, menurut Tika—yang udah nonton—Three Kingdoms itu jelek.

Maka pilihan pindah ke Seraphim Falls, karena film satunya lagi—The Game Plan—tidak menarik sama sekali.

Jam 21.00 kami duduk manis di Studio 5 menunggu Seraphim Falls diputar. Dan ternyata film itu jelek banget. Adegan kejar-kejaran over heroik yang episodik terus-menerus mengisi layar, untuk kemudian ditutup dengan ending kontemplatif ala indie. Padahal ritme awalnya Hollywood. Sungguh tidak nyambung.

Alangkah baiknya jika tidak disebut film cerita, karena lebih mendekati film dokumenter tentang “Survival Jika Ditembak dan Terdampar di Daerah Barat Yang Liar.” Saran saya, tonton saja ketika tidak ingin nonton film karena menontonya mengakibatkan efek traumatis yang serius.

•••

Esok harinya saya tanya ke Tika: “Emang Three Kingdoms jelek banget ya Tik?”

“Bagus kok. Lebih bagus dariapda Seraphim Falls,” jawabnya.

“Kemarin kamu bilang jelek!?”

“Iya, soalnya aku males nonton Three Kingdoms lagi,” jawabnya sambil meringis.

Sejak saat itu saya memutuskan membenci Tika hingga hari Kamis.

December 25th, 2007

Email Joko Anwar Tentang Quickie Express


Elo beruntung kita bukan mafia kayak The Godfather. Kalo iya, elo udah kita sikat di dunia nyata.

Joko Anwar, screenwriter Quickie Express

Email ke milis tersebut dikirim oleh Joko Anwar, menanggapi review Quickie Express oleh mumu di blognya. Entah bercanda atau mengancam; tapi yang jelas: kenapa harus The Godfather?

Mahakarya sekelas The Godfather terlalu njomplang kalau dibandingkan dengan Quickie Express. Lebih pas kalau dibandingkan dengan Deuce Bigalow Male Gigolo, sehingga email tersebut seharusnya berbunyi:

Elo beruntung kita bukan gigolo kayak Deuce Bigalow. Kalo iya, elo udah kita sikat di dunia nyata.

December 19th, 2007

2 Girls 1 Cup

Kalau anda cari-cari soal ‘2 girls 1 cup’, anda mungkin akan mendarat di situs ngetop yang isinya cukup jijay. Terlepas dari perkara sejijay apa situs tadi, disana ada ulasan tentang coprophagia, yaitu semacam kelainan (kalau saya boleh menyebutnya begitu) dimana orang suka makan tahi. Tabu dan menjijikkan . Tetapi, menurut website tersebut, bagi orang jaman sekarang kelainan semacam itu mirip tabunya isu gay pada jaman dahulu.

Secara jaman sekarang ini ada banyak banget film Indonesia yang mengandalkan homoseksualitas sebagai plot-twist, apakah mungkin dimasa datang kita akan menonton plot twist yang berkutat pada coprophagia?