hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Posts Tagged ‘kuliner’

Uncategorized - June 15th, 2007

Blog Wisata Kuliner

Dalam semangat membuat anda lapar, saya ingin berbagi beberapa blog tentang makanan di negeri maya ini. Yang pertama adalah blognya Mbak Jenz:


Di dalam blognya, Mbak Jenz ini sering cerita pengalamannya mencicipi berbagai warung di Jakarta, lengkap dengan foto-fotonya dan informasi kehalalan-nya.

Yang kedua adalah flickr-nya Blueaubrey. Sama dengan Jenz, flickr ini adalah catatan bergambar seputar makanan-makanan enak, tapi fotonya Blueubrey bikin lidah berair…


Selain dua tadi, favorit saya adalah blog yang berjudul Delicious! Delicious!, isinya bukan catatan wisata kuliner, melainkan resep-resep masakan beserta foto hasil jadinya. Kayaknya sih orang luar, karena selain pake bahasa enggres, menunya juga menu barat. Foto-fotonya yang aduhai itu bikin saya ngiler…


Nah, kalau anda punya blog favorit tentang makanan tidak? Kalau ada sharing juga dong!

Uncategorized - June 11th, 2007

Memasak Steak Sapi

Image Hosted by ImageShack.us

Hari Sabtu kemarin teman-teman kantor kumpul di rumah untuk bikin barbecue steak. Berhubung udah lama gak masak, saya rupanya agak grogi juga. Untung roast potato-nya mateng dan gravy-nya cukup coklat (berkat tips drg. Evy. biasanya kalau bikin gravy gak bisa coklat). Yang jadi masalah justru perdebatan antara kami perihal teknik memasak dagingnya. Dalam soal membuat steak, yang masalah bukan bumbunya tapi bagaimana memasaknya.

Ini potret steak yang kemarin!Bagi kita orang Indonesia, yang namanya daging sapi itu ya harus direbus dulu sampai empuk, atau minimal dimasak sampai sangat matang. Daging sapi lokal yang keras memang mau tidak mau harus direbus. Akibatnya gaya kuliner Indonesia biasanya lebih mengeksplorasi bumbu-bumbunya yang spicy itu. Steak sedikit berbeda karena pusat cita rasa justru pada daging, bukan pada bumbunya.

Untuk kasus steak, karena yang digunakan adalah daging impor yang empuk, merebus justru membuat juice atau sari rasa sapi (yang enak) lenyap. Sementara, kalau digoreng atau dibakar terlalu lama, daging yang terdiri dari protein-protein akan menjadi keras sehingga yang tersisa hanyalah daging berserat. Jadi teknik memasaknya harus pas, panas api harus pas, dan timingnya harus dalam presisi detik. Daging sapi memang lebih menantang dibanding daging kambing karena lebih gampang berserat kalau dimasak kelamaan.

Nah ini ada beberapa catatan saya, setelah bikin steak sapi kemarin (semoga bisa terus diperbaikii):

  1. Steak tidak direbus, kecuali bestik jawa.
  2. Untuk menambah rasa, terutama orang kita yang suka spicy, daging boleh direndam (di-marinade) bumbu2 seperti merica, bawang, minyak zaitun dan daun rosemary. Tapi sebaiknya tidak diberi garam karena akan membuat daging menjadi keras.
  3. Daging yang di-marinade harus disimpan di tempat dingin dan tidak boleh terlalu lama; kalau kelamaan, sari daging akan mengalir keluar sehingga cita rasa sapi akan lenyap.
  4. Dalam hal memasak daging sapi, timing adalah segalanya menurut saya; kalau terlalu cepet daging masih mentah, kalau kelamaan daging jadi hambar dan berserat. Kematangan yang ideal, menurut saya, bagian dalam daging ada cairan kemerahan sedikit. Ini bukan daging yang belum matang tapi sari rasa daging.
  5. Menguji kematangan daging cukup dari keras tidaknya daging. Ini butuh pengalaman memasak yang saya sendiri belum terampil. Yang jelas jangan menyayat daging untuk mengecek kematangan karena akan membuat lubang dan membuat sari rasa daging mengalir keluar.
  6. Memasak steak dengan digoreng lebih mudah daripada dibakar. Dengan digoreng, suhu dan panas bisa lebih merata. Dibakar jelas lebih enak karena daging sedikit terbakar sehingga menambah cita rasa, tetapi mengontrol suhu arang itu susah.
  7. Mengunci sari rasa daging itu penting. Daging yang digoreng dengan mentega atau dibakar, kedua sisinya harus segera dimatangkan supaya sari-rasanya tidak bisa keluar.

Nah mbak Tika ini ngeyel kalau daging steak harus direbus dulu. Lalu, kata dia, sebaiknya dilumuri nanas supaya lebih empuk. Kalau bikin semur dan rendang ya direbus dulu, kalau steak sepertinya tidak lazim ya? Lalu perlukah daging direndam nanas? Dari pengamatan dari beberapa situs ini dan itu, ternyata nanas memang membantu melunakkan daging, tetapi hanya pada bagian luarnya saja. Nanas justru membuat daging menjadi hambar dan berserat.

Oiya hasilnya? Ada yang empuk, ada yang keras kematangan, ada yang mentah alot. Gak konsisten .

NB: Yang jepret foto si Pindo.Baca terusannya »

Uncategorized - May 4th, 2007

Tabel Ekivalensi Rujak


Andi teman saya yang dari Malang, pernah bingung ketika beli rujak di Jogja. Dia pesan rujak untuk dibawa pulang, sampai rumah kok isinya bukan rujak. Setelah diusut, ternyata, yang namanya rujak di Jogja tidak sama dengan rujak di Jawa Timur. Agar anda tidak terjebak dalam skandal rujak, saya dan Andi membuat tabel ekivalensi rujak. Khusus untuk anda. Semoga membantu.

Jogja Jawa Timur Ciri-ciri
Rujak Lotis buah-buahan dipotong kecil-kecil, dicampur dengan saus rujak
Lotis Rujak Buah buah-buahan dipotong besar, dimakan dengan saus rujak.
Rujak Cingur Rujak Cingur sayuran dan bibir sapi dimakan dengan saus rujak campur petis
Rujak Cingur tanpa Cingur Rujak sayuran dimakan dengan saus rujak campur petis

Uncategorized - February 7th, 2007

Liberalisme Roti Bandung

Kalau anda penduduk Jogja berhati nyaman, mungkin pernah dengar roti yang cukup ngetop namanya Roti Bandung. Warungnya dekat Gereja Kotabaru, dekat juga dengan stadion Kridosono, tapi agak jauh sedikit dari teteg Lempuyangan.

Roti ini sebetulnya cuma martabak terang bulan biasa. Tetapi cita-rasanya yang manis itu mengandung banyak kenangan bagi saya, karena sejak kecil saya sudah biasa menggelontor roti ini.

Baru-baru ini saya beli roti ini lagi. Kali ini saya perhatikan teknik pembuatannya, dan betapa terkejutnya saya mendapati betapa liberalnya bapak pembuat roti itu menambahkan susu, gula dan mentega. Sebagai gambaran, satu porsi roti terang bulan dengan diameter 30cm ini berisi:

  • 1 mangkuk margarin Blue Band (250 gr)
  • 1 centong gula
  • 1/3 kaleng susu manis kentall cap Enak
  • 1/2 centong kacang tanah giling

Bisa dibayangkan bukan kandungan lemak dan kalori roti itu? Itu belum termasuk adonan rotinya yang sudah sarat enersi. Kalau Big Mac itu disebut junk food, maka roti terang bulan Bandung ini bisa saya sebut nuclear-waste food.

Lucunya, di kotak roti ini ada tulisan ‘Bergizi Tinggi’ Dasar, dengan bahan dasar sebanyak itu, roti ini lebih tepat kalau dinamai ‘Berkalori Tinggi’.

Uncategorized - November 1st, 2005

Petualangan Pasar Tiban Kauman

Kauman adalah salah satu daerah di downtown Jogja, tepatnya di sebelah barat Kraton Sultan. Tempat yang dikenal sebagai kampungnya kaum santri ini memiliki sejarah yang panjang. Gerakan Muhammadiyah misalnya, didirikan di tempat ini pada tahun 1912. Pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan juga tumbuh dan berkembang di daerah ini.

Setiap bulan puasa, warga daerah Kauman mengadakan pasar tiban yang menjual berbagai makanan untuk berbuka puasa. Disini, sebuah gang kecil sederhana disulap menjadi sebuah surga makanan yang panjang.

Setelah rencana kesana tertunda berkali-kali, akhirnya hari Sabtu kemarin saya dan rekan-rekan saya dapat mengunjungi tempat ini. Tapi perjalanan kesana bukannya tanpa perjuangan, pengorbanan dan tunggu menunggu.

Tunggu menunggu

Pertama, Tika harus menunggu saya dan Chori mengantri tukang cukur karena hari Sabtu adalah kesempatan terkahir untuk potong rambut sebelum lebaran. Setelah itu Antok harus menunggu Chori yang ada urusan ke rumah temannya. Setelah Chori sampai, kami harus menunggu Tika bersiap (yang selalu lama). Sesampainya di Kauman kami harus menunggu Chori sholat Ashar. Menunggu Chori sholat-pun ternyata cukup lama, karena masjid terdekat adalah Masjid Agung yang sebenernya cukup jauh. 30 Menit kemudian kami baru bisa masuk ke gang tersebut.

Di Kauman

Makanan yang ditawarkan disitu, walupun tidak semuanya fantastis, tapi memang membuat bingung karena pilihan yang ditawarkan ternyata banyak sekali. Ada kue-kue, iso goreng, sambel goreng jengkol, sambel goreng teri, tengkleng, buntil dll. Semuanya nampak lezat dan menggiurkan, terutama karena kami kelaparan puasa.

Akhirnya saya membeli martabak manis rasa kacang coklat (itupun harus melalui berbagai perseteruan karena teman-teman saya yang lain kepingin rasa keju). Untuk lauk saya memilih sate usus (yang enak sekali), pepes tongkol dan buntil. Teman saya, Antok memilih wader goreng sementara Chori yang sedikit konservatif memilih sate ayam (yang setelah dimakan rasanya agak basi).

Miskomunikasi

Tapi miskomunikasi kembali terjadi tatkala kami berusaha menentukan lokasi berbuka puasa. Kubu Antok-Tika mengira kami akan makan di depan Benteng Vredeburg, sementara kubu Herman-Chori mengira akan makan di Soceitet. Untungnya miskomunikasi dapat diatasi.

Akhirnya kami berbuka puasa di depan Gedung Agung. Disana Chori kembali kecewa, selain karena satenya rasanya sudah tidak wajar, di tempat kami makan ternyata juga ada yang jualan sate :P

Akhirnya makan selesai. Rencana semula kita mau langsung ke Malioboro Mall dengan dua agenda: 1) Menukarkan baju kerja Atika di outlet The Executive 2) Ngecengi SPG The Executive yang cool dan smart. Tapi ternyata baju yang akan ditukarkan oleh Atika ketinggalan. Otomatis kami terpaksa bergegas kembali ke Gamatechno untuk mengambil baju yang akan ditukarkan.

Di tengah perjalanan, saya sadar kalau helm saya ketinggalan di tempat kami makan! Dengan kata lain selama perjalanan ke Gamatechno saya tidak pakai helm. Untung tidak ada polisi! Coba kalau ditilang polisi… bisa jadi ini menjadi malam minggu yang mahal (Potong Rambut 15rb, Kauman 15rb, ditilang 50rb, helm baru 50rb). Siyal, padahal itu helm baru, helm saya sebelumnya ketinggalan di taksi.

Helm saya akhirnya memang tidak selamat. Dan percayalah, masih ada banyak kejadian menyebalkan setelah itu, yang sepertinya tidak begitu pantas diceritakan.

Uncategorized - March 2nd, 2005

Top Ten Must Taste Food in Jogja

Like other cities, Jogja, my hometown, has one of the most unique selection of culinary with its distinct sweet and slightly spicy flavor. I’ve decided to compile top ten ‘Must Taste’ food if you are going to visit Jogja.

1. Nasi Gudeg
This is probably one of the most popular dish in Jogja. A plate of warm rice is served with a variety of dishes (including chicken, boiled egg, tofu, tempe) cooked in thick coconut sauce, very sweet and slightly spicy. Very Jogja and must taste. For added flavor, gudeg rice is served with Sambel Goreng Krecek, which is very spicy and hot.

2. Nasi Langgi
Another unique food. This dish is basically a serving of warm rice with Empal (Fried Beef), Abon (Preserved & Sweetened Beef), Perkedel (Potato Cake), Rolled Omelette and Sambal. Wrapped with banana leaves using special type of wrapping method, this dish gives you the ultimate culinary experience.

3. Mie Goreng Jawa (Javanese Fried Noodles)
Tired of Chinese style Fried Noodles? Give Javanese Soft-Fried Noodles a try. Unlike Chinese Fried Noodles with its fish and pork flavor, Javanese Fried Noodles is lighter but sweeter with dominant shallot flavor.

4. Ayam Goreng Kalasan (Kalasan Fried Chicken)
This popular dish is also known as Ayam Goreng Mbok Berek (Mbok Berek’s Fried Chicken). Garlic and coriander flavored and served with the crunchy kremes-kremes. Another must taste food if you visit Jogja.

5. Soto
Light and and apetiting, this type of soup is perfect as breakfast. Often served with Tempe, Perkedel (Potato Cake), and Liver Satay. Add a few drops of lime juice for extra flavor.

6. Kipo Kotagede
This infamous snack can only found in Kotagede, the original capital of Ancient Mataram Kingdom. This bite-size delicacy is made of grated coconut, sweetened with coconut sugar, wrapped with pandan-green colored tapioca dough and baked under warm coals.

7. Bakpia Pathuk
Another popular delicacy. Originated by chinese settlers, Bakpia is basically a baked sweet green bean wrapped with special wrapping. There are another variant of this snack where the green bean is substitued with black bean. Both are very tasty.

8. Jadah Kaliurang
Don’t miss this if you are visiting Kaliurang. A sweet and spicy flavored Tempe, sandwiched with cake made of rice and ketan. Unique and filling!

9. Wedang Ronde
Often served at night, this warm ginger flavored drink is mixed with peanuts, tapioca cake, and kolang-kaling. Great for extra warmth at night.

10. Wedang Bajigur
Although bajigur is a Javanese swear word, don’t let this stop you from tasting this warm drink. This unusual drink is made of sweet coconut milk with mild ginger flavor mixed with breads and preserved fruit.

Uncategorized - February 18th, 2005

A Taste of Duck

Finally I got the opportunity to taste the Chinese dish known as Peking Duck.

My Mother, went to Surabaya the other day, and I asked her to buy Peking Duck, which at that time I tought it was the same thing as Chinese Roast Duck, which I really fond of. Well, it turns out that Peking Duck and Roast Duck is a completely different thing.

Roast duck is basically a simple roasted duck, but beforehand it was marinated with a mixture of honey, malt sugar, hoisin sauce and anise seed powder for 12 hours or so. This results in a very crispy skin and pungent flavor.

Peking Duck, on the other hand, looks like a stir fried mix of beef, onions and paprika, served with roasted duck skin wrapped with a thin bread.

One question remained, does it taste good? If you have a fling with chinese culinary, it is very deliciuos.