Herman Saksono

Indonesia matters

Posts Tagged ‘kuliner’

Opinion - December 5th, 2010

Mengenal Jogja

Hidangan Pesta Blogger Jogja 2009 adalah brongkos. Dipuji-puji gudegnya enak banget!

Pesta Blogger Jogja 2010 menyajikan nasi merah Wonosari le vrai viagra. Ada yang komentar menunya nggak khas Jogja.

Haruskah Jogja hanya menjadi sekadar kraton, UGM, dan gudeg?

Opinion - August 21st, 2010

Ada Masalah Apa di Pizza Hut?

Kenapa ya sekarang Pizza Hut jadi nggak enak?

Mungkin penyebabnya adalah krisis global. Pizza Hut yang sekarang seperti kehilangan ruhnya. Tsaaah. Maksudnya sensasinya hilang.

Ini diawali dengan hilangnya crust jenis cream cheese di sekitar tahun 2006. Itu lho, crust yang renyah empuk, isinya keju krim. Walhasil topping favorit saya, Hawaiian Chicken, jadi tidak lengkap ketika crust-nya bukan jenis cream cheese. Ini disusul dengan hilangnya topping Hawaiian Chicken itu sendiri. Saya mencoba buat sendiri pizza dengan topping mengikuti Hawaiian Chicken. Tapi rasanya tetap beda. Continue reading …

Reviews - January 26th, 2010

Pempek di Jogja

Anda di Jogja, dan tiba-tiba ingin makan pempek Palembang! Gawat! Oleh karena itulah tim Tur De Ramen kembali turun ke jalan, mencicipi lima warung pempek, dan menuliskan pengalaman mengenyangkan ini supaya kalau Anda pengen pempek Palembang di Jogja, setidaknya Anda tidak perlu tanya-tanya tukang becak atau dinas pariwisata.

Pempek Mang Pari 19 alias Pempek Tamsis

Kapal Selam, Pempek Tamsis

Pempek Jalan Taman Siswo yang naik daun di pertengahan dekade 2000-an ini sekarang punya cabang di Jalan Kaliurang. Selain menyediakan pempek dan tekwan, warung ini juga menyediakan agar-agar telur (yang walaupun cukup enak, tidak dibahas di sini :D ). Saya kurang mengerti kenapa warung ini ngetop, karena pempeknya agak sepi rasa ikan, walaupun kenyalnya pas. Kalau mau dibilang murah, sebetulnya ada warung-warung lain yang menjual pempek di bawah Rp 8000. Untuk cuka-nya, harum bawangnya nendang, sayang agak terlalu manis.

Tekwan, Pempek Tamsis

Kami juga mencicipi tekwannya. Dan seperti pempeknya, kekenyalannya pas. Namun kuahnya lebih mirip kuah bakso daripada kuah tekwan.

Pempek 26

Jalan Kaliurang

Kapal Selam Topping Ayam, Pempek 26

Pempek ini menambah sentuhan baru dengan membubuhkan topping ayam (atau topping cumi di atas pempeknya—sesuai pesanan). Di sini, yang dimaksud topping adalah suwiran dada ayam rebus dengan rasa Royco atau cumi goreng crispy. Apa mau dikata, toppingnya bukan gimmick yang mengesankan; untungnya pempek kapal selam yang disajikan (Rp 8000) bisa berdiri di atas kelezatannya sendiri berkat cita-rasa ikan tenggiri yang tidak terlalu ditahan-tahan. Tekstur pempeknya yang terlalu kenyal mungkin akan sedikit menganggu para penganut aliran pempek otentik. Lucunya, cuka disajikan dalam vas bunga warna putih, walaupun asamnya pas, tapi terlampau manis buat saya.

Tekwan, Pempek 26

Pempek 26 juga menjual tekwan, sayang bakso tekwannya terlalu kenyal dan bagian luarnya lembek karena dimasak terlalu lama. Kuahnya cukup dekat dengan rasa tekwan, tapi enak kenapa juru masaknya terlalu banyak memasukkan seledri dan udang kurang segar, sehingga rasanya jadi meleset.

(Update: per 19 Juni, warung pempek ini sudah pindah)

Pempek Ulu Bundar

Utara Mirota Kampus

Kapal Selam, Pempek Ulu Bundar

Ini adalah golongan warung pempek murah, dengan harga kapal selam Rp 5000 saja. Dengan harga segitu rasa ikan tenggirinya telah memanjakan lidah saya. Tekstur pempeknya agak terlalu renyah ketika dikunyah, mungkin karena digoreng terlalu lama. Tapi itu termaafkan karena bisa diimbangi rasa dan harga yang as. Cuka-nya lumayan, andaikata tidak terlalu kental asamnya, bisa dibilang enak.

Pempek Ny. Kamto

Bu Kamto mendirikan warungnya tahun 1984, tepat di gang kecil seberang Toko Ramai. Sejak saat itu ia menjadi legenda perpempekan Jogja. Sekarang cabangnya ada di Plaza Ambarrukmo, Jalan Kaliurang, dan Jalan Gejayan; jadi bisa dibilang ini adalah pempek yang paling gampang dicari.

Kapal Selam, Pempek Kamto

Setelah rasa pempeknya sempat kehilangan “kekamtoan” di pertengahan 2000-an, Kamto bangkit lagi dengan citarasa yang mendekati citarasa pempek di tahun-tahun awalnya. Dari kesemuanya, pempek Kamtolah yang ketika selesai dimakan membikin rindu cita rasa tenggiri lagi. Dengan harga bersaing dengan pempek yang lain—Rp 9000—ukurannya sama besar dan teksturnya lumayan empuk. Untuk cukanya, sepertinya memang bukan keistimewaan Kamto: rasanya agak tersaturasi.

Tekwan, Pempek Kamto

Pempek Kamto juga menyediakan tekwan (Rp 9000) yang cita rasa kuahnya persis seperti tekwan bikinan nenek saya. Saya cuman agak menyesalkan bakso-bakso tekwannya tidak seperti bikinan nenek yang kenyal dan tidak putus dalam sekali gigitan. Tapi selebihnya oke.

Pempek Raja Rasa

Jalan Mataram

Kapal Selam, Raja Rasa

Lokasinya di sebelah pusat pariwisata Jogja yang bernama Malioboro, dan sebetulnya agak aneh membuka warung pempek di situ mengingat turis umumnya tidak mencari makanan khas Palembang ketika mereka main ke Jogja. Tapi, dengan harga Rp 5000, pempek ini enak. Tenggirinya harum dan berbekas di lidah, tapi saya sedikit berharap teksturnya lebih kenyal. Cukanya, bisa dibilang terenak dari kelima yang kami coba. Walaupun encer, tapi asem dan manisnya pas.

Manakah yang paling enak?

Walaupun cita-rasa selalu pulang ke selera, tapi saya paling suka Pempek Kamto karena rasa tenggirinya yang paling membekas. Untuk cuka pempek, yang paling enak justru di Warung Raja Rasa karena tidak terlalu sigrak.

Itu soal rasa. Soal harga, saya yang tinggal di daerah utara cenderung ke pempek Ulu Bundar utaranya Mirota Kampus karena dekat dan rasanya lumayan. Akan tetapi, pempek Raja Rasa memang lebih enak untuk pempek dengan rentang harga di bawah Rp 5000.

Untuk tekwan, sayangnya belum ada yang menggantikan cita rasa tekwan masakan almarhum nenek saya. Jika harus memilih, kuah tekwan Pempek Kamto paling enak, walaupun bakso-bakso tekwannya kelewat empuk.

Jangan lupa baca review Choro, Medina (part 2), dan Alle. Jangan baca Sangperi maupun Funkshit, karena mereka ikut makan tapi nggak nulis. Pengecualian untuk Bang Kristupa yang walaupun ikut makan dan tidak ikut menulis tapi sudah mengajari teknik memotret makanan supaya terlihat ledzat.

Reviews - January 18th, 2010

Ramen di Jogja

Setelah demam iga bakar, lalu gandrung bebek goreng, berikutnya Jogja mau mabuk ramen. Tiba-tiba saja ada warung ramen yang berjamuran di kota yang sibuk sendiri ini. Saya mau menceritakan kesan-kesan mencicipi 5 warung ramen di sekitar jalan Kaliurang dalam 7 jam bersama Alle, Choro, Lina, dan Funkshit.

Ramen

Jalan Kaliurang, Depan Superindo

Ramen

Jangan tanya nama warungnya apa, karena papan nama yang terpasang cuma bertuliskan “Ramen” saja, tanpa merek. Diracik oleh mas-mas dengan baju chef Jepang, ramen “Ramen” tergolong otentik Jepang. Mie ramen-nya, walaupun sedikit kematangan, tetap licin dan kenyal di lidah. Sayangnya kuahnya terasa kurang utuh, ada rasa yang hilang di antara kaldu shoyu, ayam, dan ikan. Mungkin kurang garam juga. Dengan harga Rp 10.000 per mangkuk, ramen “Ramen” bisa dibilang lumayan banget, apalagi Anda bisa minta sayurannya dibanyakin.

Samurai Ramen

Jalan Kaliurang, tepat pertigaan Merapi View

Samurai Ramen

Saya agak bingung ini ramen macam apa. Walaupun mereknya “Samurai” tapi rasanya seperti fusi antara ramen, soto, tom yum, dan sop vietnam. Soto karena memakai suwiran ayam goreng, telur puyuh dan bawang goreng; tom yum karena asem, dan sop vietnam karena ada rasa kayu manisnya. Mustinya dinamai ASEAN ramen saja. Saya tidak bilang rasanya nggak enak, cukup layak makan malah, tapi ini bukan ramen. Agak berat melepas Rp 9000 kalau niatnya makan ramen.

Sapporo Ramen

Jalan Kaliurang, seberang kebun buah naga

Sapporo Ramen

Suasananya sederhana sekali, cuma warung tempel biasa. Satu sisi ditutup anyaman, satu sisi dipasang tulisan “tidak buka cabang di tempat lain”. Miso Ramen yang kami pesan rasa kuahnya terlalu asem, tanpa ada kehangatan miso. Dagingya seperti daging rebus saja, dan sayurannya cuma kubis dan parutan wortel. Dengan harga Rp 12000 per mangkok, ramen Sapporo jadi terasa mahal.

Sentana Bistro

Jalan Kaliurang sebelum Ring Road

Ramen Sentana Bistro

Suasana jajan gaya Jepang lekat dengan restoran sepi pengunjung ini. Begitu masuk Anda langsung dikasih gulungan handuk dingin, sencha complimentary, dan salad kentang. Miso ramennya enak. Kentalnya kuah miso cocok banget dimaem anget-anget di saat hujan. Per mangkuk Rp 23.000, lebih mahal daripada yang lain, tapi isinya juga lebih lengkap. Ada bakso ikan merah-putih (kamaboko), cacahan ayam masak teriyaki, dan sayuran standar ramen. Sayangnya seluruh kelezatannya harus turun satu strip karena mie ramennya masih kurang licin di mulut.

Shilla

Ring Road Utara, sekompleks sama Happy Puppy

Ramen Shilla

Porsi shoyu ramennya gede, bisa untuk 2-3 orang. Tidak begitu otentik sebetulnya, karena ada rasa-rasa Indonesia yang bersembunyi di tiap sudut mangkuk. Tetap enak sih, walaupun bisa lebih enak jika rasa Royco-nya tidak membekas di lidah. Dengan harga Rp 23.000 per mangkuk, sebetulnya isinya bisa lebih dari sekedar ayam rebus, bok choi dan taoge. Jika memang diniati menjadi ramen porsi besar, mengapa mie ramennya cuma seperti mie telur biasa ya?

Kesimpulan

Saya jatuh hati dengan miso ramennya Sentana Bistro, kuah misonya yang kental menggenjot stamina badan. Tapi dengan harga 23.000, memang agak kemahalan untuk kelas Jogja. Ramen “Ramen” depan Superindo Jalan Kaliurang bisa menjadi pilihan alternatif yang lebih murah meriah.

Baca juga review Alle dan Choro.

Life - December 7th, 2008

Sate Klathak

Warung Sate Klathak

Coba telusuri jalan dari Terminal Giwangan Jogja ke selatan. Setelah perempatan lampu merah pertama berarti Anda sedang melalui ‘Jalan Sate’. Nama resminya adalah Jalan Imogiri Timur. Panggilan itu dilimpahkan karena ada banyak warung sate kambing di sepanjang jalan itu. Jenis sate yang disajikan bukan sembarang sate, melainkan khas Jogja yang disebut Sate Klathak.

Sate Klathak adalah sate kambing muda dengan bumbu garam dan sedikit merica. Potongan daging-daging itu kemudian ditusuk dengan kawat dari jeruji sepeda, lalu dibakar dengan bara arang yang panasnya sedang. Konon, sate klathak yang ngetop bisa ditemui malam hari, di dalam Pasar Jejeran Wonokromo (juga di Jalan Imogiri Timur).

Di malam hari, Pasar Jejeran memang nyaris gelap gulita. Sumber cahaya cuma berasal dari bara arang sejumlah pedagang dan beberapa lampu redup di ujung pasar. Suasananya tenang, walaupun sesekali terdengar suara percakapan beberapa pengunjung duduk bersila di tikar. Sebagai manusia yang dimanjakan dengan penglihatan superior, ambiens tenang temaram membantu kami mengapresiasi hal-hal kecil yang mudah terlewatkan andaikata pasar itu terang benderang. Hal-hal kecil tapi ‘indah’, seperti suara letupan-letupan lirih bara arang, aroma harum warung bakmi jawa, serta cita rasa teh poci gula batu yang wasgitel sempurna.

Oleh karena antrian pesanan cukup panjang, sate kami baru siap 50 menit kemudian. Tapi penungguan itu tidaklah sia-sia, karena satenya benar-benar enak. Bumbu yang minimalis membantu lidah menikmati cita rasa daging segar yang dibakar hingga matang pas. Dagingya empuk tapi tetap liat. Untuk pemula sate klathak, disedikan kuah gulai untuk membantu menikmati sate bercitarasa polos ini. Tapi saran saya, jauhkan saja gulai berbumbu itu, karena rasa tambahan akan merusak kesempurnaan rasa daging kambing bakar itu. Kalau perlu, jangan dimakan dengan nasi, karena rasa nasi juga mengubur kelezatan Sate Klathak.

Sate Klathak

Proses memasak serba sedehana ini memang bukan barang baru di bidang haute cuisine. Lazim disebut nouvelle cuisine, gerakan kuliner ini menekankan pada proses memasak yang singkat serta penggunaan bahan-bahan yang segar. Terlepas Sate Klathak pantas menyandang gelar itu atau tidak, saya benar-benar menikmati suasana temaram yang nyaman, teh anget yang pas, sate klathak yang lezat, dan teman ngobrol yang seru.

*) Dua foto keren di atas adalah hak cipta Ryansan dan Kaniav.

Life - August 11th, 2007

Starbucks Buka di Jogja


Tadi, di Plaza Ambarrukmo, saya menemukan sebuah sudut yang sebelumnya belum disewa, sekarang sudah ditutup rapat. Saya penasaran, lokasi strategis itu disewa siapa, sehingga saya memberanikan diri untuk bertanya kepada mbak resepsionis yang cantik:

Saya
Mbak! sudut di dekat pintu masuk itu mau dibuat apa! *grogi keringat dingin*
Mbaknya
Starbucks…

Ah ternyata Starbucks buka di Jogja. Tambah lengkap nih khazanah perkopian kota gudeg yang semrawut. Tak lama lagi, kenikmatan kopi joss angkringan tugu akan dilengkapi oleh caramel macchiato Starbucks. Moga-moga Starbucks betah ya.

Foto pinjam dari j.s. wright.