Tadi, di Plaza Ambarrukmo, saya menemukan sebuah sudut yang sebelumnya belum disewa, sekarang sudah ditutup rapat. Saya penasaran, lokasi strategis itu disewa siapa, sehingga saya memberanikan diri untuk bertanya kepada mbak resepsionis yang cantik:
Saya
Mbak! sudut di dekat pintu masuk itu mau dibuat apa! *grogi keringat dingin*
Mbaknya
Starbucks…
Ah ternyata Starbucks buka di Jogja. Tambah lengkap nih khazanah perkopian kota gudeg yang semrawut. Tak lama lagi, kenikmatan kopi joss angkringan tugu akan dilengkapi oleh caramel macchiato Starbucks. Moga-moga Starbucks betah ya.
Seperti yang telah kita ketahui bersama, pizza adalah oleh-oleh khas Italia. Kalau dibandingkan dengan Pizza Hut, pizza asli italia itu pakemnya agak berbeda. Yang paling khas adalah bagian roti/crust yang biasanya lebih tipis dan lebih renyah. Kali ini saya hendak membuat pizza homemade yang sebisa mungkin mendekati pizza italia.
Untuk membuat adonan, saya pakai breadmaker sehingga tidak perlu repot-repot menguleni adonan. Bahannya tidak neko-neko; cuma air, tepung terigu, gula, garam, susu bubuk, minyak zaitun, dan ragi. Tepungnya diayak dulu biar adonannya lebih alus.
Roast Chicken alias ayam panggang itu masakan yang gampang tapi repot. Bumbu marinade dan isinya (stuffing) gampang dibuat, tapi persiapannya panjang.
Nah bapak-bapak dan ibu-ibu, saya ingin mengajak and melihat proses pembuatan Roast Chicken dengan English Stuffing.
Stuffing yang saya pake konon dinamai english stuffing, entah etimologinya seperti apa, tapi biarlah, tidak apa, tetap kita sebut english stuffing saja. Saya suka stuffing seperti ini karena rasanya manis gurih dengan aroma herb yang subtil. Bahan dasarnya adalah roti tawar yang digiling dan telur. Walaupun terkesan dari Inggris tapi bumbunya mudah didapat di toko.
Setelah kecewa dengan Spiderman 3, ngantuk nonton Shrek 3, pusing bersama Ocean 13, dan kekurangan adrenalin waktu liat Pirates of Caribbean 3, harapan saya untuk bisa nonton flm summer yang bagus tersisa pada Ratatouille dan The Simpsons Movie.
The Simpsons, menurut peserta test-screening, katanya bagus dan snappy. Begitu juga dengan Ratatouille. Film ini bercerita tentang seekor tikus bernama Remy yang bercita-cita menjadi koki di sebuah restoran top Prancis. Masalahnya, tikus itu identik dengan sampah dan penyakit, sehingga impiannya adalah sebuah hil yang mustahal, walaupun dia sangat pandai memasak.
Tapi sepertinya ada yang salah dalam gambar diatas. Dapatkah anda menemukannya? Jawabannya ada di bawah sini dan saya warnai putih :
Remy menggunakan spatula besi untuk menggoreng dadar telur pada sebuah wajan Teflon!
Dalam semangat membuat anda lapar, saya ingin berbagi beberapa blog tentang makanan di negeri maya ini. Yang pertama adalah blognya Mbak Jenz:
Di dalam blognya, Mbak Jenz ini sering cerita pengalamannya mencicipi berbagai warung di Jakarta, lengkap dengan foto-fotonya dan informasi kehalalan-nya.
Yang kedua adalah flickr-nya Blueaubrey. Sama dengan Jenz, flickr ini adalah catatan bergambar seputar makanan-makanan enak, tapi fotonya Blueubrey bikin lidah berair…
Selain dua tadi, favorit saya adalah blog yang berjudul Delicious! Delicious!, isinya bukan catatan wisata kuliner, melainkan resep-resep masakan beserta foto hasil jadinya. Kayaknya sih orang luar, karena selain pake bahasa enggres, menunya juga menu barat. Foto-fotonya yang aduhai itu bikin saya ngiler…
Nah, kalau anda punya blog favorit tentang makanan tidak? Kalau ada sharing juga dong!
Hari Sabtu kemarin teman-teman kantor kumpul di rumah untuk bikin barbecue steak. Berhubung udah lama gak masak, saya rupanya agak grogi juga. Untung roast potato-nya mateng dan gravy-nya cukup coklat (berkat tips drg. Evy. biasanya kalau bikin gravy gak bisa coklat). Yang jadi masalah justru perdebatan antara kami perihal teknik memasak dagingnya. Dalam soal membuat steak, yang masalah bukan bumbunya tapi bagaimana memasaknya.
Bagi kita orang Indonesia, yang namanya daging sapi itu ya harus direbus dulu sampai empuk, atau minimal dimasak sampai sangat matang. Daging sapi lokal yang keras memang mau tidak mau harus direbus. Akibatnya gaya kuliner Indonesia biasanya lebih mengeksplorasi bumbu-bumbunya yang spicy itu. Steak sedikit berbeda karena pusat cita rasa justru pada daging, bukan pada bumbunya.
Untuk kasus steak, karena yang digunakan adalah daging impor yang empuk, merebus justru membuat juice atau sari rasa sapi (yang enak) lenyap. Sementara, kalau digoreng atau dibakar terlalu lama, daging yang terdiri dari protein-protein akan menjadi keras sehingga yang tersisa hanyalah daging berserat. Jadi teknik memasaknya harus pas, panas api harus pas, dan timingnya harus dalam presisi detik. Daging sapi memang lebih menantang dibanding daging kambing karena lebih gampang berserat kalau dimasak kelamaan.
Nah ini ada beberapa catatan saya, setelah bikin steak sapi kemarin (semoga bisa terus diperbaikii):
Steak tidak direbus, kecuali bestik jawa.
Untuk menambah rasa, terutama orang kita yang suka spicy, daging boleh direndam (di-marinade) bumbu2 seperti merica, bawang, minyak zaitun dan daun rosemary. Tapi sebaiknya tidak diberi garam karena akan membuat daging menjadi keras.
Daging yang di-marinade harus disimpan di tempat dingin dan tidak boleh terlalu lama; kalau kelamaan, sari daging akan mengalir keluar sehingga cita rasa sapi akan lenyap.
Dalam hal memasak daging sapi, timing adalah segalanya menurut saya; kalau terlalu cepet daging masih mentah, kalau kelamaan daging jadi hambar dan berserat. Kematangan yang ideal, menurut saya, bagian dalam daging ada cairan kemerahan sedikit. Ini bukan daging yang belum matang tapi sari rasa daging.
Menguji kematangan daging cukup dari keras tidaknya daging. Ini butuh pengalaman memasak yang saya sendiri belum terampil. Yang jelas jangan menyayat daging untuk mengecek kematangan karena akan membuat lubang dan membuat sari rasa daging mengalir keluar.
Memasak steak dengan digoreng lebih mudah daripada dibakar. Dengan digoreng, suhu dan panas bisa lebih merata. Dibakar jelas lebih enak karena daging sedikit terbakar sehingga menambah cita rasa, tetapi mengontrol suhu arang itu susah.
Mengunci sari rasa daging itu penting. Daging yang digoreng dengan mentega atau dibakar, kedua sisinya harus segera dimatangkan supaya sari-rasanya tidak bisa keluar.
Nah mbak Tika ini ngeyel kalau daging steak harus direbus dulu. Lalu, kata dia, sebaiknya dilumuri nanas supaya lebih empuk. Kalau bikin semur dan rendang ya direbus dulu, kalau steak sepertinya tidak lazim ya? Lalu perlukah daging direndam nanas? Dari pengamatan dari beberapa situs ini dan itu, ternyata nanas memang membantu melunakkan daging, tetapi hanya pada bagian luarnya saja. Nanas justru membuat daging menjadi hambar dan berserat.
Oiya hasilnya? Ada yang empuk, ada yang keras kematangan, ada yang mentah alot. Gak konsisten .
Andi teman saya yang dari Malang, pernah bingung ketika beli rujak di Jogja. Dia pesan rujak untuk dibawa pulang, sampai rumah kok isinya bukan rujak. Setelah diusut, ternyata, yang namanya rujak di Jogja tidak sama dengan rujak di Jawa Timur. Agar anda tidak terjebak dalam skandal rujak, saya dan Andi membuat tabel ekivalensi rujak. Khusus untuk anda. Semoga membantu.
Jogja
Jawa Timur
Ciri-ciri
Rujak
Lotis
buah-buahan dipotong kecil-kecil, dicampur dengan saus rujak
Lotis
Rujak Buah
buah-buahan dipotong besar, dimakan dengan saus rujak.
Rujak Cingur
Rujak Cingur
sayuran dan bibir sapi dimakan dengan saus rujak campur petis
I regard that mind is meant to be free and moving mind to mass is a destiny. I can be geeky when it comes to movies, art and culinary, but really, I am simply a man with an irregularity, or many.Continue ยป