December 13th, 2007
“Saya persilakan anda untuk mati…”
Pembaca yang budiman dan budiwati, hari ini ada guest blogger yang akan mengisi blog yang tidak masuk 100 besar ini. Dia juga dokter, tapi bukan semacam dr. Monika yang sintal tapi identitasnya tidak jelas, tapi seorang dokter tidak sintal yang identitasnya jelas (halah), dan teman baik saya sejak SMA. Saya perkenalkan, Robertus Arian:
Death is a final destination. Tidak ada jalan kembali. Dan karena itulah kematian diasosiasikan dengan kehilangan, duka cita, dan ratapan. Semua makhluk hidup mati, pilihannya adalah bagaimana anda akan mati.
Saya dibekali dengan tiga karakter di depan nama saya: karakter ‘d’, ‘r’, dan ‘.’. Ketiga karakter ini membawa konsekuensi yang menyesakkan: berada di antara kematian dan kehidupan. Kadang hanya dipisahkan tiga menit pemeriksaan fisik. Percayalah, ini bukan pengalaman yang menyenangkan!
Ada beberapa premis yang akan kita gunakan untuk meneruskan bacaan ini:
- Semua orang berharap orang sakit yang masuk rumah sakit keluar dalam keadaan sembuh
- Dokter berharap semua pasien yang masuk rumah sakit keluar dalam keadaan sembuh
- Beberapa penyakit menyebabkan kematian
- Harapan tidak sama dengan usaha
I regard that mind is meant to be free and moving mind to mass is a destiny. I can be geeky when it comes to movies, art and culinary, but really, I am simply a man with an irregularity, or many.