Buy Soma Online Without Prescription

Patternless thoughts, pointless wisdom

Posts Tagged ‘diary’

Uncategorized - December 25th, 2005

Sabbatical

Dalam beberapa hari yang akan datang, saya akan ke Jakarta bersama keluarga. Mohon maaf kalau tidak ada hal baru disini selama saya pergi :)


Herman

Uncategorized - November 1st, 2005

Petualangan Pasar Tiban Kauman

Kauman adalah salah satu daerah di downtown Jogja, tepatnya di sebelah barat Kraton Sultan. Tempat yang dikenal sebagai kampungnya kaum santri ini memiliki sejarah yang panjang. Gerakan Muhammadiyah misalnya, didirikan di tempat ini pada tahun 1912. Pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan juga tumbuh dan berkembang di daerah ini.

Setiap bulan puasa, warga daerah Kauman mengadakan pasar tiban yang menjual berbagai makanan untuk berbuka puasa. Disini, sebuah gang kecil sederhana disulap menjadi sebuah surga makanan yang panjang.

Setelah rencana kesana tertunda berkali-kali, akhirnya hari Sabtu kemarin saya dan rekan-rekan saya dapat mengunjungi tempat ini. Tapi perjalanan kesana bukannya tanpa perjuangan, pengorbanan dan tunggu menunggu.

Tunggu menunggu

Pertama, Tika harus menunggu saya dan Chori mengantri tukang cukur karena hari Sabtu adalah kesempatan terkahir untuk potong rambut sebelum lebaran. Setelah itu Antok harus menunggu Chori yang ada urusan ke rumah temannya. Setelah Chori sampai, kami harus menunggu Tika bersiap (yang selalu lama). Sesampainya di Kauman kami harus menunggu Chori sholat Ashar. Menunggu Chori sholat-pun ternyata cukup lama, karena masjid terdekat adalah Masjid Agung yang sebenernya cukup jauh. 30 Menit kemudian kami baru bisa masuk ke gang tersebut.

Di Kauman

Makanan yang ditawarkan disitu, walupun tidak semuanya fantastis, tapi memang membuat bingung karena pilihan yang ditawarkan ternyata banyak sekali. Ada kue-kue, iso goreng, sambel goreng jengkol, sambel goreng teri, tengkleng, buntil dll. Semuanya nampak lezat dan menggiurkan, terutama karena kami kelaparan puasa.

Akhirnya saya membeli martabak manis rasa kacang coklat (itupun harus melalui berbagai perseteruan karena teman-teman saya yang lain kepingin rasa keju). Untuk lauk saya memilih sate usus (yang enak sekali), pepes tongkol dan buntil. Teman saya, Antok memilih wader goreng sementara Chori yang sedikit konservatif memilih sate ayam (yang setelah dimakan rasanya agak basi).

Miskomunikasi

Tapi miskomunikasi kembali terjadi tatkala kami berusaha menentukan lokasi berbuka puasa. Kubu Antok-Tika mengira kami akan makan di depan Benteng Vredeburg, sementara kubu Herman-Chori mengira akan makan di Soceitet. Untungnya miskomunikasi dapat diatasi.

Akhirnya kami berbuka puasa di depan Gedung Agung. Disana Chori kembali kecewa, selain karena satenya rasanya sudah tidak wajar, di tempat kami makan ternyata juga ada yang jualan sate :P

Akhirnya makan selesai. Rencana semula kita mau langsung ke Malioboro Mall dengan dua agenda: 1) Menukarkan baju kerja Atika di outlet The Executive 2) Ngecengi SPG The Executive yang cool dan smart. Tapi ternyata baju yang akan ditukarkan oleh Atika ketinggalan. Otomatis kami terpaksa bergegas kembali ke Gamatechno untuk mengambil baju yang akan ditukarkan.

Di tengah perjalanan, saya sadar kalau helm saya ketinggalan di tempat kami makan! Dengan kata lain selama perjalanan ke Gamatechno saya tidak pakai helm. Untung tidak ada polisi! Coba kalau ditilang polisi... bisa jadi ini menjadi malam minggu yang mahal (Potong Rambut 15rb, Kauman 15rb, ditilang 50rb, helm baru 50rb). Siyal, padahal itu helm baru, helm saya sebelumnya ketinggalan di taksi.

Helm saya akhirnya memang tidak selamat. Dan percayalah, masih ada banyak kejadian menyebalkan setelah itu, yang sepertinya tidak begitu pantas diceritakan.

Life - October 27th, 2005

Menyinggung Maya

Beberapa minggu terakhir saya dipermalukan berkali-kali oleh...saya sendiri... gara-gara nama rekan kantor baru saya Maya, sama persis dengan banyak hal di dunia ini.

Kejadian #1
Ketika Alias, perusahaan software aplikasi 3D ternama dibeli oleh Autodesk, saya langsung berteriak ke rekan kantor saya Thomas:
Mas! Maya dibeli sama Autodesk!
Maya yang duduknya disebelah Thomas langsung nengok kaget.
Oh bukan Maya kamu, Maya... aplikasi 3D...


Kejadian #2
Lagu favorit teman-teman di ruangan adalah Dragoste Din Tei yang populer karena Numa-Numa Dance. Beberapa hari yang lalu, rekan kantor saya, Andi, memutar lagu tersebut. Kebetulan liriknya seperti ini:
Ma-i-a Hi, Ma-i-a Hu
Ma-i-a Ho, Ma-i-a Ha-Ha
Kebetulan saya ikut menyanyikan lagu tersebut. Dan kebetulan Maya teman kantor saya dengar... dan nengok.
Duh...errrrr...aku nyanyi Dragoste Din Tei lho. Bukan manggil kamu... :D



Kejadian #3
Saya menggunakan jingle Indonesian Idol untuk ringtone HP saya. Nah, saya dan rekan kantor saya, Andi dan Thomas, punya kebiasaan ketika ringtone ini bunyi, salah satu dari kami meneriakkan:
Dan Indonesia memilih!
Lalu salah satu dari kita, biasanya secara spontan bergiliran meneriakkan: "Mike!" atau "Firman" atau finalis Indonesian Idol yang lain. Nah pada hari itu, HP saya bunyi lagi mengeluarkan jingle Indonesian Idol, dan secara spontan saya meneriakkan:
Maya!
Otomatis Maya sang teman kantor langsung menoleh kaget. Haloo Maya :D



Kejadian #4
Kemarin saya browsing di Friendster, dan menemukan teman lama di SMA yang baru saja terdaftar di Friendster. Saking excited-nya saya pun langsung berteriak:
Eh, Maya!
Maya staf baru Gamatecho-pun menoleh. Duh... maaf... maksudnya Maya teman saya di Friendster :D



Kejadian #5
Waktu itu Andi saya lagi muter lagunya Ratu yang baru pasca keluarnya Pinkan Mambo. Nah spontan saya langsung tanya ke Andi:
Ini lagunya yang nyanyi Maya ya?
Ups... Maya pun nengok..
Maksudku, lagunya yang nyanyi Mulan...? :D

Duh..

Life - October 26th, 2005

Diselamatkan Google Desktop

Google Desktop sang penyelamat Pagi tadi saya juengkel setengah mati. Lha gimana tidak, file html dan css desain web yang saya buat semalaman untuk teman saya, lenyap tanpa bekas. Dugaan saya sih, kemarin malam komputer saya mati mendadak dan kebetulan file html dan css tersebut masih terbuka di dreamweaver. Jadi ketika komputernya mati, kedua file tsb hilang begitu saja. Siyal, keja sampe jam 1 malam sia-sia. Padahal, desain tsb harus diserahkan pagi ini... Tapi untung saya sempat ingat kalau Google Desktop membuat salinan file-file saya. Dan ternyata benar, setelah searching sebentar, index.html masih ada salinannya di database Google. Yang bikin susah... file CSS yang bikinnya lama banget, ternyata tidak terselamatkan. Yah, setidaknya file html-nya masih utuh, jadi teman saya bisa kerja duluan. Mungkin inilah indahnya filosofi xHTML 1.0 strict: Data dan Presentation (HTML dan CSS) terpisah mutlak, sehingga developer bisa bekerja paralel.

Life - October 21st, 2005

Google dari Hong Kong?

Google Hong Kong Entah kenapa, setiap kali buka Google saya selalu dikira nyambung dari Hong Kong. Apakah Google punya teknologi biometri untuk mengenal pengguna berdasar kesipitan matanya? Hmmmm. Kalau ada yang bisa membantu saya, supaya saya tidak dikira orang Hong Kong sama Google (artinya: bagimana supaya tawaran switching menjadi bahasa Hong Kong bisa hilang, atau setidaknya tawaran switchingnya menjadi bhs Indonesia) please drop me a line.

Life - September 15th, 2005

Petulangan Surat Ijin

Amplop surat ijin tidak masuk sekolahMenulis surat ijin ternyata lebih susah dari yang saya kira. Tadi pagi, adik saya mengeluh pusing-pusing dan mual sehingga tidak dapat masuk sekolah. Kebetulan Ibu saya sedang ke luar kota dan Bapak saya sudah berangkat, sehingga saya terpaksa membuatkan surat ijin sakit untuk wali kelas adik saya. Dengan time-constraint yang cukup ketat pula: harus sampai di sekolah sebelum jam 10.00 karena guru yang mengajar jam 10 sangat galak. Sungguh sebuah timing yang sangat tepat. Sudah jam 8.00 dan kuliah saya mulai 1 jam yang lalu. Berarti telatnya nambah 30-40 menit. Ok.... Sebelum mulai menulis ada beberapa goal yang ingin saya capai dalam surat tersebut: 1. Surat ijin harus singkat dan padat. Kalau perlu impersonal dan tidak terlalu banyak menggunakan kata-kata pemanis supaya terkesan profesional dan... impesonal. Saya tidak ingin terkesan seperti wali kelas dari tahun 70-an. 2. Surat ijin harus sebisa mungkin menggunakan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi harus tetap mudah dipahami. Hal pertama yang saya lakukan tentunya mengganti font dari Times New Roman menjadi Myriad supaya nampak lebih menarik tapi tetap terkesan profesional. Dan tidak seperti aturan menulis surat klasik yang diajarkan sewaktu SD, semua tulisan saya buat rata kanan, termasuk tanggal dan tanda tangan. Oiya, semua paragraf tidak saya justify. Setelah itu saya mulai memikirkan hal yang paling penting. Isi surat. Wakz! Walaupun ibu say selalu menulis diari, proposal, dan surat menggunakan komputer, khusus untuk surat ijin sakit ibu saya tidak pernah menggunakan komputer! Makanya udah saya cari pake instant search Google Desktop tapi nggak keluar. Padahal adik saya termasuk sering ijin.
Dengan hormat, bersama surat ini saya memberitahukan bahwa Dian Paramita, siswa kelas III IPS...
Oiya, seharusnya kelas III IPS ditulis kelas 3 IPS, karena kalau ditulis dengan angka romawi berarti diucapkan: 'kelas ke-tiga IPS'.
Dengan hormat, bersama ini saya memberitahukan bahwa Dian Paramita, siswa kelas 3 IPS tidak dapat mengikuti pelajaran pada Kamis, 15 September 2005 karena sakit..
Hmmm... kok sepertinya nada yang saya gunakan menyebalkan sekali ya? Lagipula adik saya terkesan seperti obyek. Untunglah adik saya yang tertatih-tatih memberi surat ijin buatan ibu saya:
Dengan hormat, bersama ini saya, orang tua dari Dian Paramita, siswa kelas III IIS, memohonkan ijin untuk tidak dapat mengikuti pelajaran pada hari Kamis, 15 September 2005 karena sakit.
Hahahaha, ternyata Ibu saya melakukan kesalahan standar menggunakan angka romawi untuk menunjukkan kelas. Tapi yang parah tentunya penggunaan kata 'memohonkan', yang terdengar tidak baku. Mungkin seharusnya seperti ini:
Dengan hormat, bersama ini saya, wali dari Dian Paramita, siswa kelas 12 IIS, bermaksud mengajukan permohonan ijin untuk tidak dapat mengikuti pelajaran pada hari Kamis, 15 September 2005 karena sakit.
Wah sempurna! Tapi tentunya saya tidak cukup berpuas diri, sehingga saya mulai menjelaskan kepada adik saya bawha suart ini dibuat dengan tata bahasa yang lebih baik dan tipografi yang lebih berkelas. Sayangnya adik saya tidak begitu tertarik dan malah terlihat bosan ketika saya mulai menjelaskan penggunaan angka romawi yang tepat. Sialan.

Life - September 12th, 2005

The Eleventh Day

iPod Mini warna pink Today marks the 11th day since I bought iPod mini. Yeah baby! iPod as in expensive fashionable almost-unecessary mp3-player. iPod as in Steve Job's favorite cash cow. The verdict? Well the 3,7Gb hard disk space (its not 4Gb as advertised) seems to be more than enough even though my music collection is 6,7 Gb (Yeah not exactly big, but need to remind you that it is very well organized?). The click wheel is slick as it always be. And of course there's the signature white earphone, which is really uber cool. But unlike Paris Hilton, it's beauty is skin deep, because not only the sound is natural & laid back, I also noticed that this little sucker's frequency response is pretty flat (which is good). For non-audiophile geek out there: flat response means the earphone is capable to reproduce even sound in the frequency range every single detail of the sound, which means your musics will sound great in high volume, low volume, mid volume, or whatever volume it is. With bad speakers you are often forced to crank the volume to a ridiculous level just because the sound doesn't sound right on low volume. Interestingly, while most of my music collections sounds great on it, I noticed that the songs from Phantom of the Opera seems to lose its magic. Gerard Butler's rendition of Music of the Night, for example, doesn't sound as lush as it were on my Xda. Or maybe it's just my feeling. Still a great gadget though. Anyway, just 7 days since I purchased this gadget, Apple decided to discontinue iPod mini and replace it with its evil newborn sibling: iPod nano, the sleek varient equipped with colour display, smaller size, and the exact same price tag as iPod mini! Damn you Steve Jobs! Go to hell! Steve Jobs and his iPod mini