hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Posts Tagged ‘diary’

Uncategorized - February 22nd, 2007

Teka teki laknat

Pembaca blog yang budiman dan budiwati, apakah anda sudah bermain tktq.net? Sudah sampai level berapa?

Sebetulnya, saya itu menghindari segala jenis game, karena membikin ketagihan. Tapi gara-gara perempuan laknat ini, saya jadi ikut-ikutan. Lha gimana lagi, dia sampai tidak tidur gara-gara mencari clue game laknat ini. Wajar kan kalau saya jadi penasaran.

Saya melihat. Saya mencoba. Saya ketagihan.

Saya terhenti di level 28 .

Uncategorized - February 19th, 2007

Testimoni seorang geek tentang angin puting beliung

Kemarin, Toni dan Alvons teman saya (yang geek tulen) menyaksikan langsung angin puting beliung yang membuat daerah sekitar Baciro, Jogja, berantakan. Selangkapnya ada di laporan pandangan matanya Alvons. Continue reading …

Uncategorized - February 16th, 2007

Ada Uang Pas Enggak?

Tadi malam beli empat gelas rootbeer dan tiga kotak popcorn dengan adik saya. Habisnya 52 ribu, padahal duit tersisa di dompet pas 50 ribu. Kalau dikembaliin malu, karena sebagian popcorn dan rootbeer sudah dicicil (baca: dimakan). Akhirnya kocek dirogoh, dompet diricek, dan tas diubrek-ubrek, tapi hasilnya tetap nihil. Untunglah di sudut terdalam saku saya ada uang 50 ribu nylempit. Yes sip! Lantas saya mengulungkan dua lembar uang limapuluh ribuan ke mas penjaga cafetaria bioskop yang dari tadi telah menunggu. “Ini mas,” ujar saya.

“Nggak ada uang pas mas?” tanya mas penjaga.

Masnya ini nggak sensitif atau tanya semacam itu memang SOP ya?

Uncategorized - January 31st, 2007

3 Bunga Merah Besar

Tiga Bunga MerahDulu, waktu main ke Singapura, saya beli tiga kuntum bunga plastik yang besar buat ibu saya. Bentuknya bagus, kayak bunga betulan, warnanya merah. Repotnya, sepanjang Orchard Road saya terpaksa menenteng tiga bunga feminim yang panjangnya 70 senti itu. Memang bikin penat, tapi minimal tidak serasa orang sinting, karena tidak ada tatapan aneh ataupun lirikan menghakimi dari para singapurawan maupun singapurawati. Tidak seperti kalau di tempat kelahiran saya. Lagipula, udara Singapura segar dan trotoarnya luas bersih. Nyaman sekali buat pejalan kaki yang menenteng 3 bunga merah besar seperti saya.

Sepulangnya di bandara Semarang, lagi-lagi saya harus menenteng tiga bunga yang mencolok mata tadi, walaupun kali ini lebih repot karena bawaan saya ditambah sebuah koper yang berat. Suasananya juga beda, airport Ahmad Yani tentu saja bertolak belakang dengan Changi. Sudut-sudut yang kumuh disesaki wajah prihatin—plus bau-bau anehnya—rupanya mengingatkan halus kalau saya sudah kembali ke dunia nyata.

Dalam perjalanan menuju parkiran, ada tiga orang bapak sopir taksi yang sedang bersandar di pagar. Dengan gerakan tiba-tiba, salah satu bapak itu dengan lancang menyentuh bunga plastik saya. Lho apa ini, pikir saya. Kemudian dia tersenyum, bersandar ke pagar dan bilang ke teman-temannya, “Tenan to! Mung kembang apus-apusan kok.” Artinya, “Benar kan! Cuma bunga palsu kok.”

Oalah, bapak ini cuma mau memastikan itu bunga palsu, bukan bunga betulan.

Entah kenapa, tapi saya malah senang bapak tadi tidak enggan memastikan bunga itu bukan betulan. Mungkin, si bapak merasa kalau saya dan dia itu cuma saudara jauh. Kalau saudara buat apa enggan?

Dalam hati saya tersenyum simpul dan berpikir, “I am home

Uncategorized - January 3rd, 2007

Terima Kasih Untuk Inspirasinya

1 Januari 2007 lalu saya menerima hadiah istimewa dari mas Arief Budiman. Pada awalnya, saya merasa tidak pantas untuk menjawabnya dengan posting balasan di blog, karena seperti orang Jawa yang wajar, hadiah atau prestasi bukanlah sesuatu yang sopan untuk dikoar-koarkan.

Tetapi penghargaan ini sangat istimewa, karena diberikan secara pribadi oleh seseorang yang menghargai kreativitas dan kerja keras. Seseorang yang agency iklannya saya kagumi karena sangat kreatif dan berani. Jauh lebih tidak sopan jika saya tidak mengucapkan sebuah terima kasih dalam blog ini.

Untuk itu, saya matur nuwun atas award sebagai blogger yang paling inspiratif tahun 2006. Dan kalau saya boleh jujur, saya jadi sangat terbebani, karena artinya saya harus terus menulis dengan standar seperti itu. Tidak boleh lebih rendah. Moga-moga saya tidak bernasib seperti Bryan Singer.

Akan tetapi saya ingat Mas Arief pernah bilang: kalau kita tidak pernah menyiksa diri dengan melalui beban-beban yang berat, kita cuma jadi nothing. Saya jadi ingat lagi kalau obstacle is a good thing.

Walaupun saya mendapat award paling inspiratif, tapi sejujurnya, saya telah terinspirasi oleh mas Arief :)

Uncategorized - January 23rd, 2006

Disleksia

Tadi malam pas lagi baca Harry Potter 6, kok saya merasakan ada kelainan pada diri saya: saya kesulitan memahami tulisan di buku tersebut. Paragraf-paragraf itu sepertinya… tidak ada artinya. Tiba-tiba suster tersebut mengajak saya untuk masuk ruangan. Perawat itu melayani saya layaknya seorang pasien yang akan operasi, Baju saya dibuka dan rambut kaki saya dicukur habis…. kok jadi kayak sHa gini ya :P

Tapi ini beneran lho, kemarin saya mengalami kesulitan memahami blok-blok tulisan di buku itu. Jangan jangan:

a. Saya ternyata pengidap disleksia
b. Mbak Listiana Srisanti nerjemahinnya memang bikin pusing
c. Saya kebanyakan baca blog

Semoga bukan yang disleksia :(

Uncategorized - December 30th, 2005

Beberapa catatan selama di Jakarta

Busway
Walaupun seharusnya dipanggil dengan nama bis Transjakarta, banyak orang lebih memilih menyebutnya sebagai Busway, yang sejujurnya membuat saya sedikit risih :P . Tapi terlepas dari itu, setelah dua tahun beroperasi ternyata AC bus Transjakarta masih sangat dingin, hingga membuat saya bersin-bersin. Sepertinya, Busway…. errr… Transjakarta… tidak sejelek yang dibilang orang.

Pegawai Giordano
Pegawai perempuan Giordano di Pondok Indah Mall tidak semenarik pegawai Giordano Jogja. Tetapi pendekatan pegawai Giordano Jakarta lebih liar dan impulsif dibanding Jogja. Ketika masuk ke dalam gerai Giordano, pegawai Giordano langsung menguntiti saya seperti singa menguntit seekor antelop yang malang.

Polisi
Polisi lalu lintas Jakarta pada umumnya gemuk-gemuk dan pakaiannya tidak serapi polisi Jogja. Muncul kesan kalau polisi Jakarta itu lebih slebor, tidak memperhatikan kesehatan, dan jarang olahraga.