Hari kemarin, Ibu saya bertandang ke Solo dan pulang membawa tengkleng. Seperti wong Solo selalu bilang, makanan Sala enak-enak, termasuk diantaranya: tengkleng.
Suapan pertama terasa enak. Bumbunya enteng dan santannya ringan. Dagingnya empuk penuh rasa, tapi tetap liat dan tidak sepo. Cocok banget dimakan pake nasi pulen. Di sudut mangkok ada bulat-bulat, ah mungkin ini torpedo kambing. Saya coba ulik daging itu…
Dan ternyata itu adalah bola mata kambing!
OMG. Dan setelah tengkleng itu diaduk-aduk lagi, ternyata yang saya makan adalah rahang kambing beserta gigi-giginya (yang semestinya tidak pernah gosok gigi).
Bener, saya tidak masalah memakan organ. Tapi makan wajah kambing? Ewwww. Priceless?
Gambar pinjam dari postingan di Wikimu. Tengkleng yang saya makan bukan tengkleng yang dibahas di Wikimu.
Seorang teman yang datang dari jauh menyebabkan saya, Tika, dan Alvonsius menonton film di kala tidak ada film yang bagus. Pilihan pertama jatuh kepada filmnya Andy Lau yang desas-desusnya keceng banget: Three Kingdoms.
Tapi, menurut Tika—yang udah nonton—Three Kingdoms itu jelek.
Maka pilihan pindah ke Seraphim Falls, karena film satunya lagi—The Game Plan—tidak menarik sama sekali.
Jam 21.00 kami duduk manis di Studio 5 menunggu Seraphim Falls diputar. Dan ternyata film itu jelek banget. Adegan kejar-kejaran over heroik yang episodik terus-menerus mengisi layar, untuk kemudian ditutup dengan ending kontemplatif ala indie. Padahal ritme awalnya Hollywood. Sungguh tidak nyambung.
Alangkah baiknya jika tidak disebut film cerita, karena lebih mendekati film dokumenter tentang “Survival Jika Ditembak dan Terdampar di Daerah Barat Yang Liar.” Saran saya, tonton saja ketika tidak ingin nonton film karena menontonya mengakibatkan efek traumatis yang serius.
•••
Esok harinya saya tanya ke Tika: “Emang Three Kingdoms jelek banget ya Tik?”
“Bagus kok. Lebih bagus dariapda Seraphim Falls,” jawabnya.
“Kemarin kamu bilang jelek!?”
“Iya, soalnya aku males nonton Three Kingdoms lagi,” jawabnya sambil meringis.
Sejak saat itu saya memutuskan membenci Tika hingga hari Kamis.
Kenapa mencari mouse bisa jadi perkara yang sedemikian complicated?
Berburu mouse dari satu toko ke toko lain hasilnya selalu: terlalu kecil—atau terlalu besar. Terlalu ecek-ecek—atau terlalu norak. Desain super-duper ergonomis—atau super-duper maksa. Jika bermerek, mahal.
Tapi merek jreng tidak menjamin fungsionalnya bagus. Ketika akhirnya saya beli mouse besutan Microsoft (yang mahal tapi diskon 50%), sewaktu dipakai… ya tuhaaaaaannnn gerakannya gak akurat banget!
Apakah tidak ada yang menciptakan mouse biasa, ukuran sedang, desain normal, dan berfungsi dengan baik?
Hari Sabtu kemarin teman-teman kantor kumpul di rumah untuk bikin barbecue steak. Berhubung udah lama gak masak, saya rupanya agak grogi juga. Untung roast potato-nya mateng dan gravy-nya cukup coklat (berkat tips drg. Evy. biasanya kalau bikin gravy gak bisa coklat). Yang jadi masalah justru perdebatan antara kami perihal teknik memasak dagingnya. Dalam soal membuat steak, yang masalah bukan bumbunya tapi bagaimana memasaknya.
Bagi kita orang Indonesia, yang namanya daging sapi itu ya harus direbus dulu sampai empuk, atau minimal dimasak sampai sangat matang. Daging sapi lokal yang keras memang mau tidak mau harus direbus. Akibatnya gaya kuliner Indonesia biasanya lebih mengeksplorasi bumbu-bumbunya yang spicy itu. Steak sedikit berbeda karena pusat cita rasa justru pada daging, bukan pada bumbunya.
Untuk kasus steak, karena yang digunakan adalah daging impor yang empuk, merebus justru membuat juice atau sari rasa sapi (yang enak) lenyap. Sementara, kalau digoreng atau dibakar terlalu lama, daging yang terdiri dari protein-protein akan menjadi keras sehingga yang tersisa hanyalah daging berserat. Jadi teknik memasaknya harus pas, panas api harus pas, dan timingnya harus dalam presisi detik. Daging sapi memang lebih menantang dibanding daging kambing karena lebih gampang berserat kalau dimasak kelamaan.
Nah ini ada beberapa catatan saya, setelah bikin steak sapi kemarin (semoga bisa terus diperbaikii):
Steak tidak direbus, kecuali bestik jawa.
Untuk menambah rasa, terutama orang kita yang suka spicy, daging boleh direndam (di-marinade) bumbu2 seperti merica, bawang, minyak zaitun dan daun rosemary. Tapi sebaiknya tidak diberi garam karena akan membuat daging menjadi keras.
Daging yang di-marinade harus disimpan di tempat dingin dan tidak boleh terlalu lama; kalau kelamaan, sari daging akan mengalir keluar sehingga cita rasa sapi akan lenyap.
Dalam hal memasak daging sapi, timing adalah segalanya menurut saya; kalau terlalu cepet daging masih mentah, kalau kelamaan daging jadi hambar dan berserat. Kematangan yang ideal, menurut saya, bagian dalam daging ada cairan kemerahan sedikit. Ini bukan daging yang belum matang tapi sari rasa daging.
Menguji kematangan daging cukup dari keras tidaknya daging. Ini butuh pengalaman memasak yang saya sendiri belum terampil. Yang jelas jangan menyayat daging untuk mengecek kematangan karena akan membuat lubang dan membuat sari rasa daging mengalir keluar.
Memasak steak dengan digoreng lebih mudah daripada dibakar. Dengan digoreng, suhu dan panas bisa lebih merata. Dibakar jelas lebih enak karena daging sedikit terbakar sehingga menambah cita rasa, tetapi mengontrol suhu arang itu susah.
Mengunci sari rasa daging itu penting. Daging yang digoreng dengan mentega atau dibakar, kedua sisinya harus segera dimatangkan supaya sari-rasanya tidak bisa keluar.
Nah mbak Tika ini ngeyel kalau daging steak harus direbus dulu. Lalu, kata dia, sebaiknya dilumuri nanas supaya lebih empuk. Kalau bikin semur dan rendang ya direbus dulu, kalau steak sepertinya tidak lazim ya? Lalu perlukah daging direndam nanas? Dari pengamatan dari beberapa situs ini dan itu, ternyata nanas memang membantu melunakkan daging, tetapi hanya pada bagian luarnya saja. Nanas justru membuat daging menjadi hambar dan berserat.
Oiya hasilnya? Ada yang empuk, ada yang keras kematangan, ada yang mentah alot. Gak konsisten .
Akhir-akhir ini saya gampang bersin. Masalahnya agak ruwet, AC kantor tidak dingin sehingga harus pasang kipas angin. Kalau pakai kipas angin, saya jadi bersin-bersin tidak bisa kerja. Tetapi, kalau tidak pakai kipas, saya gerah sehingga tidak bisa kerja. Saya pilih opsi yang pertama.
Masalahnya, bersin pasti diikuti dengan ingus. Supaya tidak belepotan, ingus harus dilap. Tidak di meja atau di baju teman. Ini repotnya, saya harus memilih mengelap pakai kertas tisu atau bawa kacu.
Kacu (atau sapu tangan) lebih classy, tetapi setiap dicuci saya menambah buangan limbah cucian yang pada akhirnya mempolusi sungai dan air tanah. Sementara kalau saya pakai tisu, berarti saya membunuh pepohonan, merusak ekosistem, membinasakan paru-paru dunia, dan mempercepat laju global warming.
Akhirnya pilih tisu karena pohon lebih mudah diperbaharui.
Kekurangan naik becak itu adalah jarak kepala penumpang dengan kepala abang becak yang terlalu jauh. Apalagi kedua kepala tadi disekat oleh kanopi, sehingga ngobrol dengan si abang itu sulit sekali. Bis sama saja. Pak sopir biasanya sibuk mencari cara menyisipkan bis segede gaban agar bisa menembus kerumuman kendaraan. Sementara keneknya lebih lebih concern pada proses penarikan ongkos penumpang yang jauh dekat sama saja itu.
Nah, enaknya naik taksi itu kita bisa ngobrol dengan leluasa dengan pak sopir taksi, terutama kalau pak sopirnya ramah. Ada banyak hal menarik yang dapat kita ketahui dari mereka. Ada yang menawarkan jasa makelar tanah, ada pula yang menawari PSK. Tetapi pada umumnya mereka bercerita tentang betapa beratnya beban seorang sopir taksi. Continue reading …
I regard that mind is meant to be free and moving mind to mass is a destiny. I can be geeky when it comes to movies, art and culinary, but really, I am simply a man with an irregularity, or many.Continue »