Maskot Olimpiade London 2012

London mengumumkan dua maskotnya untuk Olimpiade 2012.

Maskot Olimpiade London 2012

Agak-agak bingung dengan maunya London. Setelah membuat logo Olimpiade yang bentuknya seperti Lisa Simpson mengoral sesuatu dan stadium Olimpiade berdinding kain, kali ini LOCOG mengumumkan maskotnya, Wenlock dan Mandeville. Mereka tidak berkelamin dan lahir dari percikan besi tukang las.

Menurut saya mereka terlihat galak dan tidak ramah. Menurut Anda?

Anekdot Coldplay dan Marianne

Viva La Vida

Avatar Adit tempo hari membuat saya terpancing. Lukisan wanita muda yang mengusung bendera Perancis itu rupanya sampul album Coldplay. Saya tidak tahu itu. Tapi saya ingat kalau wanita itu bernama Marianne. Siapakah Marianne?

Marianne adalah personifikasi atas negeri Perancis. Ia biasa digambarkan sebagai wanita muda dengan tubuh sehat dan kulit cerah. Siluetnya juga dipake sebagai lambang negara. Untuk negara yang memuja wanita dan ibu negaranya mantan model, Marianne sangatlah Perancis sekali.

Tapi Perancis bukanlah satu-satunya negara yang punya personfikasi. Amerika Serikat dikenal dengan Columbia, wanita muda yang berpakaian jubah. Columbia mungkin personifikasi yang paling sering dilihat karena ia muncul pada tiap film produksi Columbia Pictures.

Columbia Pictures

Inggris juga punya personifikasi, dikenal dengan Britania. Dalam sebuah lukisan dari abad 19, Britania digambarkan sebagai wanita bertubuh subur yang memegang trisula Poseidon. Figur ini mengingatkan kepada Ratu Victoria yang subur dan pemerintahannya kuat di bidang kelautan.

Britania & Queen Victoria

Bagaimana dengan Indonesia? Kita punya Ibu Pertiwi, yang sepertinya belum pernah ada lukisannya. Tapi ketika mendengar nama itu, saya membayangkan ibu muda bergelung dan berbatik yang berdiri diantara hamparan sawah yang siap panen. Tapi itu imajinasi saya, bagaimana dengan Anda?

Logo Olimpiade London 2012

Logo Olimpiade London 2012

Hati-hati kalau bikin logo. Ketika logo Olimpiade London 2012 ditayangkan perdana di televisi 4 Juni kemarin, sejumlah penderita ayan langsung kumat. Kambing hitamnya? Warnanya terlalu kontras.

Padahal biaya desainnya mahil juga, £400.000 atau sekitar Rp 7M. Banyak kan? Tapi yang nggak suka juga banyak. Ada yang bilang bentuknya kuno gak jelas. Ada pula yang bilang bentuknya seperti Lisa Simpson sedang mengoral sesuatu. Kalau saya seperti liat seorang atlit judo yang lututnya lecet keseleo.

Tapi saya salut dengan keberanian LOCOG dan Wolff Olins yang mendobrak pakem perlogoan.

 

Logo Olimpiade Barcelona, Atlanta, Sydney, Athena, Beijing

Update: Iran mau memboikot Olimpiade London karena bentuk logonya menyerupai tulisan “zion”.

Visual World Cup 2006

Saya termasuk yang tidak suka logo Piala Dunia Jerman? Kenapa? Karena untuk sebuah event olahraga yang mengegerkan dunia , logo ini rasanya hambar. Tidak menggairahkan. Desainer logo nampak telah berusaha memasukkan excitement dalam desainnya, tapi masih terasa kurang. Coba bandingkan dengan logo Piala Eropa 2004 yang begitu seksi dan menggairahkan:


Saya tidak sendiri. Logo-design guru Jerman Erik Spiekermann (yang membuat logo VW, Apple, Audi, dan Nike), malu melihat logo World Cup 2006.

Saya juga tidak suka maskot singa Jerman tak bercelana, Si Goleo. Bentuknya itu lho, tidak proporsional. Lehernya terlalu panjang:


Walaupun Goleo adalah karikatur singa, tetapi karikatur-pun harus tetap proporsional. Coba perhatikan tokoh2 binatang pada film-film Disney atau Pixar. Walaupun mereka nyaris tidak mirip dengan binatang aslinya, tetapi desain karakternya proporsional sehingga tetap sedap dilihat.

Presskit yang disediakan di website piala dunia rasanya juga sangat minimalis. Jangankan ada artwork pendukung desain, logo saja tidak ada download-nya. Wallpaper-nya juga terasa hambar dan terkesan effortless. Lagi-lagi saya membandingkan dengan Viveo 2004: Panitia Piala Eropa Portugal sangat murah hati karena menyedikan download artwork (dengan format vektor), wallpaper-wallpaper yagn cantik, dan logo Piala Eropa tentunya.

Mungkin, Komite Piala Dunia Jerman sibuk membuat stadion yang ‘wah’, sehingga lupa membuat desain visual yang menarik.