Salahkah Memasang Identitas Akun Twitter

Kapankan identitas akun twitter boleh ditayangkan, dan kapan sebaiknya tidak ditayangkan. Apakah mencantumkan nama akun twitter adalah penganiayaan?

Sebuah artikel di situs Salingsilang menuai kritik lantaran menyebutkan identitas dua akun twitter yang dimaki-maki massa online. Kedua pemilik akun itu (saya pakai inisial AS dan HS) diserang puluhan warga Twitter setelah keduanya menyalahkan perilaku orang di Bali sebagai penyebab gempa 13 Oktober. Akibatnya, beberapa waktu kemudian, kedua twit tersebut dihapus.

Protes untuk Salingsilang yang pertama saya baca muncul dari Pitra:

Statement Pitra

Hal serupa juga dilontarkan oleh Donny BU, yang kemudian dituangkan ke blognya. Walaupun saya tidak setuju kalau kejadian memaki-maki itu masuk ke kategory bullying (baca artikel saya tentang batasan bullying), tetapi penyebutan identitas orang dalam naskah blog adalah diskusi yang musti diperdalam.

Pada dasarnya tweet yang tidak digembok adalah pernyataan di ruang publik. Ini beda dengan melemparstatement di milis atau chatroom. Konsekuensinya, jika tweet tersebut kemudian memunculkan minat publik, maka si pemilik akun menjadi tokoh publik. Tepatnya “tokoh publik terbatas”—sebuah definisi dari AS untuk membedakah tokoh publik yang pejabat atau artis.

Tokoh publik terbatas dijabarkan sebagai “orang yg membawa dirinya ke dalam sebuah kontroversi publik, guna mempengaruhi penyelesaiannya”. Dalam hal ini AS dan HS masuk ke dalam kategori tokoh publik terbatas, sehingga masyarakat berhak mengetahui identitasnya.

Namun, penelitian saya kemudian mendarat di sebuah naskah tentang kode etik jurnalisme dari Finlandia. Walaupun tidak semua blog adalah karya jurnalisme, namun beberapa memenuhi kriterianya. Salah satu butir menarik dalam kode itu adalah:

“Jurnalis harus membedakan antara isu publik, dan isu yang menimbulkan keingintahuan publik.”

Dengan demikian, karena naskah seperti di Salingsilang condong mendiskusikan apa yang terjadi pada AS dan HS (bukan ke isu yang dilempar keduanya), maka saya pikir penyebutan nama adalah tidak bijaksana.

Akan lain soal, andaikata saya menuliskan artikel yang mengkritisi pernyataan AS dan HS di blog.

Kemerdekaan Berekspresi di ASEAN

“Di Malaysia memang ada kebebasan berekspresi, tapi tidak ada kebebasan SETELAH berekspresi,” kelakar Irwan Abdul.

ASEAN Bloggers
ASEAN Bloggers

Mendengarkan setiap delegasi konferensi blogger ASEAN menceritakan perkembangan blog dan social media di negaranya masing-masing, mengingatkan bahwa perjuangan untuk kemerdekaan berpendapat di kawasan ini masih panjang. Brunei Darussalam, walaupun masyarakat onlinenya meriah, tetapi tidak ada yang namanya blog politik. Reeda Malik, blogger Brunei, menjelaskan bahwa mengkritik pemerintah dilarang oleh hukum.

Hal yang serupa juga terjadi di Thailand. Di negeri gajah putih itu, ketika kita mengkritik pemerintah, secara tidak langsung kita juga mengkritik monarki. Dan ini selalu menjadi masalah, ujar Chandler Vandergrift, reporter Kanada yang telah berada di Thailand selama 7 tahun. Menurut Chandler, blogger Thailand (yang kebanyakan anonim) terjepit oleh jaringan monarki yang terdiri dari elit, militer, dan pengabdi-buta.

ASEAN Bloggers
Blogger dari Sarawak, Vietnam, Indonesia, Kamboja, Malaysia.

Akan tetapi acara di Kuala Lumpur ini bukanlah konferensi kelam tentang suka duka masyarakat sipil. Beberapa presentasi menggambarkan perkembangan social media di negaranya dengan meriah. Mbak Sopheap Chak dari Kamboja dengan bangga menyebut dirinya “Clogger” alias “Cambodian Blogger”—langsung mengundang tawa dan tepuk tangan hadirin. Dalam bahasa inggris, “Clogger” juga berarti penghambat.

Demikian juga dengan Vietnam dan dua wakilnya, Hy Huynh and Anh Minh Do. Dua bujangan ini—dengan gaya celelekan—menceritakan bahwa blogger Vietnam menulis berputar-putar, dengan kiasan dan sindiran, supaya tidak diciduk yang berwenang. Vietnam mengatur blog dengan standar yang lentur. Blog-blog yang mengancam keamanan nasional atau memuat informasi yang tidak akurat akan diblokir.

Mengikuti jejak China dengan Baidu-nya, kini Vietnam sedang membuat Facebook sendiri.

Sayangnya blogger Laos dan Myanmar tidak hadir. Menurut panitia, tidak ada tanggapan dari kedua negara tersebut.

Herman Saksono's presentation at ASEAN Blogger Conference
Saya memberikan overview tentang peran blog dan social media di Indonesia.

Indonesia dan Filipina bisa dibilang lebih beruntung daripada negara-negara ASEAN yang lainnya (paper dan presentasi Indonesia dapat didownload di sini). Blogger di kedua negara tersebut lebih bebas berbicara. Walaupun pencemaran nama baik diatur oleh kitab hukum pidana dan diperkuat oleh UU ITE, dalam prakteknya pasal-pasal ini jarang dipakai pemerintah untuk menjerat blogger. Kemewahan ini bukannya tanpa ancaman, saat ini DPR sedang menyusun RUU Tindak Pidana TI. Tonyo Cruz juga bercerita kalau parlemen Filipina sedang menyiapkan RUU Kejahatan Online dan RUU Sensor Internet.

Di Malaysia, walaupun menganut sistem hukum Anglo-Saxon [Britania Raya] (Indonesia menganut hukum Continental [Eropa]), sejumlah blogger seperti Rocky Bru, Zakhir Mohamad, Firdaus Abdullah dan Irwan Abdul sempat berurusan dengan aparat gara-gara tulisannya di internet. Irwan Abdul dituntut setelah menulis berita parodi yang mengkritik perusahaan listrik Malaysia. Tuduhan tersebut akhirnya dicabut setelah Irwan meminta maaf dan mencabut tulisan tentang “PLN Malaysia menuntut Earth Hour”.

“Di Malaysia memang ada kebebasan berekspresi, tapi tidak ada kebebasan SETELAH berekspresi,” kelakar Irwan.

Anirudh Bhati, lawyer dari dari India, berpendapat bahwa dalam praktiknya tuduhan pencemaran nama baik sering dipakai pemerintah untuk menekan rakyatnya. Ketika seorang blogger dituntut atas tuduhan pencemaran nama baik, maka otomatis dia tertimpa beban untuk membuktikan tidak bersalah; sementara penuntut tidak terbebani apa-apa.

Kadang-kadang represi pemerintah memang tidak dalam bentuk hukum pidana. Mendekati pemilu awal Mei besok, pemerintah Singapura secara sepihak mengukuhkan situs politik The Online Citizen sebagai perkumpulan politik. Status baru ini membawa banyak konsekuensi. Gerak-gerik The Online Citizen diatur secara ketat, harus mempublikasikan nama ketua dan bendahara, tidak boleh memperoleh dana dari luar negeri, tidak boleh melibatkan orang asing, dan tidak boleh membahas politik pada hari tenang sebelum pemilu.

Walaupun begitu, media konvensional seperti televisi dan radio Singapura (yang sahamnya dimiliki pemerintah) masih diperkenankan untuk membahas politik dan pemilu.

Konferensi blogger regional di Kuala Lumpur ini memang pengalaman yang membuka mata, dan mengingatkan kita bahwa masalah yang dihadapi negara sekawasan adalah masalah kita juga. Insiatif Bloghouse Malaysia untuk memulai dialog ini harus diacungi jempol.

Bloghouse Malaysia adalah asosiasi blogger Malaysia, terutama untuk blogger dengan topik sosial dan politik. Asosiasi yang baru saja berdiri ini memiliki pelindung mantan perdana menteri Tun Dr. Mahatir Mohammad. Dengan suhu politik yang pasti akan semakin memanas mendekati pemilu Malaysia tahun depan, semoga asosiasi ini dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

English Version: Freedom of Speech in ASEAN

Observing the ASEAN delegates share the latest development of blogging and social media scene in their nation will reminds you that the road to freedom of expression in the region is a long way ahead. In Brunei, while having a large and vibrant online community, doesn’t have any political blog. According to Reeda Malik, blogger from Brunei, criticizing the government is against the law. Continue reading “Kemerdekaan Berekspresi di ASEAN”

Tren Sesaatnya Blog

Adalah Roy Suryo yang pertama kali bilang kalau blog adalah tren sesaat. Hari ini Ndoro Kakung sepertinya mengamini prostulat “tren sesaat” tersebut. Benarkah begitu?

Adalah Roy Suryo yang pertama kali bilang kalau blog adalah tren sesaat. Hari ini Ndoro Kakung sepertinya mengamini postulat “tren sesaat” tersebut. (Eh iya kan Ndoro? :P )

“Blog” tiga tahun yang lalu berbeda dengan “blog” detik ini. Beberapa blogger sudah lama tidak nulis, blogwalking jarang, rss reader sepi. Itu fakta. Tapi kemanakah mereka?

Siapapun yang sering main ke Plurk atau Twitter; atau Facebook; pasti tahu kalau sebagian “keributan” blogosfir pindah ke sana. Apakah mereka ngeblog?

Itu tergantung bagaimana kita melihat “blog”. Jika blog hanyaalah sekedar mesin buku harian yang bisa dikomentari, maka mereka tidak ngeblog.

Tetapi jika kita melihat blog sebagai sebuah semangat untuk mengutarakan pikiran dan menguasai suara publik, maka sebetulnya para Plurk-er, Twitter-er, Facebook-er; sedang dan sangat sibuk ngeblog. Seperti ketika Om Nukman membuka konsultasi bisnis online di twitter, dan seperti ketika Pitra Media Ide membuka sesi tanya jawab tentang blog, juga di Twitter. Pada saat ini juga Sofie kartika sedang membuka sesi tanya jawab tentang isu gender, lagi-lagi di Twitter. Yang saya rasakan, semangat berbagi ini malah lebih masif daripada 2-3 tahun yang lalu.

Mesin blog memang berevolusi, tapi spirit ngeblog telah jauh melesat.

Selamat Hari Blogger dan Pesta Blogger

Walaupun hari-hari ini adalah kali ketiga kita merayakan Pesta Blogger dan memperingati Hari Blogger Nasional, sebetulnya saya masih was-was dengan masa depan para narablog.

Blog di Indonesia sebetulnya sudah lebih dari diary yang bisa ditulis-tulis. Walaupun yang isinya tentang diary tetap banyak, tapi banyak juga yang menggunakan blog untuk menyuarakan perasaannya, baik tentang anggota DPR, menteri, rumah sakit, jalan, toko, tempat makan, operator seluler dan banyak lagi.

Ketika menulis tentang itu, sebetulnya blogger ada dalam posisi terancam. Pertama karena kebanyakan dari kita tidak memiliki beking legal yang mantap; kedua karena pasal-pasal karet di KUHP; dan ketiga karena pasal-pasal di UU yang lain. Jika poin dua dan tiga digabung, maka blogger yang minim dukungan legal bisa dijerat dengan ayat yang berlapis-lapis.

Pasal-pasal apa saja?

Mas Anggara yang saya temui di Pesta Blogger kemarin, sempat cerita kalau selain RUU Rahasia Negara yang bermasalah itu, akan digodok pula RUU CyberCrime, yang diduga juga akan memuat pasal-pasal yang jusru tidak memberikan kepastian hukum bagi orang seperti kita. Gabungkan itu dengan UU Pornografi, UU ITE, dan KUHP; maka blogger akan sulit bergerak.

Oleh karena itu blogger masih harus terus kerja keras supaya “kemerdekaan” ini tidak dirampok. Tidak harus berdemo, teriak, mengumpat, melobi. Sekadar terus menulis, jujur, selalu crosscheck; sudah cukup. Ini memang remeh, tetapi jika keremehan ini dilakukan oleh ratusan ribu blogger bersama-sama, maka yang terjadi adalah agregat citra positif.

Selain itu blogger juga harus terus memperkuat jaringan silaturahim, karena dengan bergerak dalam satu kesatuan, blogger lebih susah diuyel-uyel. Itulah mengapa pertemuan akbar semacam Pesta Blogger sangat penting. Bukan untuk menyatukan atau menyeragamkan, tapi untuk merintis kerjasama. Yap, ini proses yang lama, tidak cukup satu dua tahun.

Saya senang bisa datang ke Pesta Blogger kemarin. Syukurlah 1200 1440 blogger tidak terkecoh dengan istilah “pesta”, karena sejatinya itu adalah konferensi blogger bergagasan besar, yang dikemas dengan istilah ringan; supaya tidak terdengar terlampau berat.

NB: Saya tempelin video di PB2009 tentang keragaman Indonesia: The Promise of One.

Pesta Blogger Jogja 15 Oktober

Apakah sampeyan datang besok Kamis sore, 15 Oktober?

Datang apa?

Apa lagi kalau bukan Pesta Blogger Jogja. Ini semacam Pesta Blogger mini untuk warga Jogja, Solo, Klaten, Magelang dan sekitarnya. Tempatnya di Jogja National Museum. Saya juga baru tahu tempat ini, ternyata gedung eks Institut Seni Indonesia. Tempatnya di belakang SMA 1 Teladan, dan cuma sepelemparan batu dari Pasar Klithikan yang tersohor itu.

pesta-blogger-2009-jogja-03

Perincian acaranya belum diumumkan, mungkin kejutan, tapi bisa jadi ini termasuk kopdar blogger yang paling rame untuk kelas Jogja. Mungkin dedengkot tua seperti Rony Lantip, Thomasarie, Antobilang, Tikabanget, dan Memethmeong bakal datang. Tapi ada tidak ada mereka tetep seru kali ya, kan bisa ketemu sesama blogger yang selama ini cuma kenal nicknamenya doang. Bisa jadi blogger idola kita lebih cantik aslinya daripada avatarnya? :D

Kalau mau datang, 15 Oktober besok, kita dipersilahkan mendaftar dulu dengan menelpon Mas Alan (0274 923.9499) yang murah senyum (atau senyumnya murahan? apapunlah, toh kita gak bisa liat Alan senyum atau tidak di telepon).

Saya mau datang! Sampeyan datang juga tidak?

Update: Kabarnya, seorang dedengkot senior bernama Ndoro Kakung mau datang.