hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Posts Tagged ‘art’

Reviews - April 3rd, 2011

The Lion King Musical, Singapura

Lion King Musical-Circle of Life

Hentakan nyanyian Afrika mengawali musikal The Lion King. Matahari terbit dari ufuknya. Diiringi “Circle of Life”;  jerapah, leopard, antelop muncul satu per satu; dan disusul hingga yang terbesar, badak dan gajah. Ini bukan Lion King versi animasi, bukan juga pengejawantahan animasinya. Ini adalah the Lion King yang diterjemahkan ulang dalam medium teater.

Alur ceritanya masih sama. Tentang Simba, anak singa yang kelak mewarisi tahta ayahnya, Mufasa. Juga tentang Scar, sang paman yang bersekongkol dengan gerombolan hyena untuk membunuh Mufasa demi merebut tahta. Masih juga tentang tanggung jawab, dan juga kisah cinta Simba dengan Nala.

Musikal arahan Julie Taymor ini bertahan sepuluh tahun lebih di Broadway karena kemerdekaannya memaknai ulang satwa, serengeti, dan Afrika. Taymor memindahkan luasnya serengeti ke dalam panggung teater (yang tidak begitu luas) cukup dengan menangkap esensinya. Esensi seekor gajah Afrika ditampilkan seperti boneka kerajinan tangan suku Afrika dalam ukuran gajah. Demikian juga para singa, mereka bukan manusia dalam kostum bintang. Topeng singa yang ditaruh di atas kepala pemain sudah cukup menjelaskan esensi bahwa si aktor membawakan karakter Mufasa.

Dan kesederhanaan ini dikemas dengan detail yang remit, mendetail, dan cantik. Taymor, selain menjadi sutradara, juga merangkap sebagai desainer kostum dan boneka. Ia pernah tinggal di Jogja selama satu tahun, kemudian terpikat oleh wayang Jawa yang begitu kuat, bertenaga, dan teatrikal. Julie yang semestinya menyelesaikan observasinya di Indonesia selama setahun, akhirnya pulang ke Amerika empat tahun kemudian. Di Indonesia, Taymor sempat berguru dengan Rendra, dan memperluas wawasannya sampai ke Bali. Continue reading …