hermansaksono

Patternless thoughts, pointless wisdom

Posts Tagged ‘anectdote’

Anecdotes - September 5th, 2005

Anekdot Rektor UGM

Rektor-rektor UGM, sejalan dengan waktu sayangnya hanya menjadi sebuah nama, rangkaian huruf. Kadang-kadang nama-nama tersebut akan menjadi legenda dan besar, dan mengikis sisi-sisi manusia dari para rektor ini. Tidak ada salahnya kita mengetahu kisah-kisah dibalik masa kepengurusan mereka.

Paling Pendek
Drs. Soepojo Padmodipoetro, M.A. adalah rektor UGM dengan masa jabatan paling pendek, kurang lebih satu tahun. Masa jabatan beliau dimulai tahun 1967 dan selesai tahun 1968.

Paling terkenal dan tidak dikenal
Prof. Dr. M. Sardjito tentunya adalah rektor yang paling dikenal masyarakat Jogja. Sayangnya Pak Sardjito ini lebih dikenal sebagai nama rumah sakit daripada rektor pertama Universitas Gadjah Mada.

Gundukan Sukadji
Polisi tidur mulai dibangun di lingkungan UGM pada masa kepengurusan Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo, M.A. Akibat kebijakan beliau, warga UGM yang merasa tidak nyaman dengan keberadaan polisi-polisi tidur ini menyebut polisi tidur dengan ‘gundukan Sukaji’.

Dituduh Pengkhianat
Pada masa reformasi tahun 1998, rektor UGM masa jabatan 2002-2007, Prof. Dr. Sofian Effendi, MPIA. pernah dituduh sebagai pengkhianat agenda reformasi karena membocorkan pertemuan rahasia antara Amien Rais, Afan Gaffar, Ichlasul Amal, serta sejumlah tokoh reformasi lain. Sofian menulis memo tentang rapat tersebut kepada Habibie, yang waktu itu masih menjabat sebagai wakil presiden. Menurut Sofian, hal tersebut dia lakukan untuk menyelamatkan rekan-rekannya dari tuduhan makar1.

Ramah Rakyat Kecil
Prof. Dr. Koesnadi Hardjosoemantri, S.H., M.I. bisa dibilang salah satu rektor yang paling peduli rakyat kecil. Salah satu kebijakan beliau adalah membangun ‘gubug-gubug’ bakso dan es teler di berbagai sudut UGM. Sebelumnya para pedagang keliling ini berjualan di sembarang tempat, dan alih-alih diusir mereka malah difasilitasi. Sayangnya satu-satunya gubug yang masih tersisa tinggal satu, yaitu yang terletak diantara Fakultas Ilmu Budaya dan parkiran Fakultas Ekonomi.

(Various sources; 1 Pernah Dituduh Pengkianat, Republika)

Anecdotes - March 10th, 2005

Anectdote #0: Tiramisu Quickfacts

After reading Irfan’s blogs on Tiramisu, I myself, have developed a strange infatuation with this unique dessert. Who can resist this light dessert with a hint of creamy whipped cream and subtle aroma of expresso coffee? Well not me. Anyway, thought I’d share a few facts on Tiramisu after doing some googling for a while.

  • This Italian dessert, although sounds like a Japanese food, is in fact an authentic Italian dessert originated from the town of Treviso, north eastern Italy.
  • Tirami-su means ‘pick-me-up.’ Some local legend says that Tiramisu was a popular food among high-class Venice prostitutes, and hence the name.
  • Tiramisu is a relatively new food. According to book written by Giuseppe Maffoli in 1981: “Tiramisu’ was born recently, just 10 years ago in the town of Treviso. It was proposed for the first time in the restaurant Le Beccherie.”
  • What makes this semifreddo—dessert that’s served cold but not frozen—so special is not only the flavor. The ingredients and the cooking process is also unique.
  • The classic Tiramisu, is made of ladyfingers (finger sized chiffon cake) soaked in expresso coffee, layered with zabaglione cream (a mixture of mascarpone cheese, whipping cream, egg yolks, sugar and Madeira wine), layered with the soaked ladyfinger again, sprinkled with cocoa powder and finally chilled.
  • According to Dewi, a full-time Tiramisu analyst residing in Jogja, Tiramisu is an abundance in Jogjakarta. The best tasting Tiramisu can be found in Coklat (Jl Cik Di Tiro), Gajah Wong, Jogjakarta Plaza Hotel, Novotel, and Parsley with price ranging from IDR 12000 to IDR 120.000 (the big one).

Now who wants a bite of Tiramisu?